Pernak-Pernik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

PERNAK-PERNIK

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

 

Cincin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu berkata:

Cincin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbuat dari perak, sedangkan permatanya dari Abessinia (Habsy). (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan Nasa-i)

 

Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma pernah berkata:

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuat cincin dari perak. Maka beliau mencap (surat) dengan cincin tersebut dan beliau tidak memakainya. (HR. Tirmidzi)

 

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah “Muhammad” satu baris, “Rasul” satu baris, dan “Allah” satu baris. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa-i)

 

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkata:

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai cincin di jari tangan kanannya(HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Abu Dawud)

 

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

Sesungguhnya apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke jamban (WC), maka ia melepaskan cincinnya. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah, Abu Dawud, Nasa-i, Ibnu Hibban dan Hakim)

 

Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuat cincin dari perak, maka dipakailah di tangannya (jarinya), kemudian cincin itu berpindah tangan ke tangan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, lalu ke tangan ‘Umar Radhiallahu ‘Anhu, setelah itu berpindah pula ke tangan Utsman Radhiallahu ‘Anhu sehingga jatuh di sumur ‘Aris (dekat masjid Quba). Pada cincin itu terukir kalimat “Muhammadun Rasulullah” (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa-i)

 

Pedang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu berkata:

Salut hulu pedang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbuat dari perak. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Abu Dawud, ad-Darimi, dan Nasa-i)

 

Kakek Hud (Mazid bin Malik al-Ashri bin ‘Abdul Qeis Radhiallahu ‘Anhu) bercerita kepada cucunya (Hud) sebagai berikut:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki Kota Mekkah pada Hari Pembebasan Kota Mekkah. Pada pedangnya terdapat emas dan perak.

Thalib berkata: aku bertanya kepadanya (Hud) tentang perak itu.

Ia (Hud) menjawab: Salut hulu pedang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbuat dari perak. (HR. Tirmidzi)

 

Baju Besi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Zubair bin al ‘Awwam Radhiallahu ‘Anhu berkata:

Pada waktu ghazwah Uhud, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai dua baju besi. Beliau bermaksud hendak memanjat sebuah batu besar, namun tak mampu, maka beliau meletakkan (baju besi itu) di bawah, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik hingga berada di atas batu besar itu.

Selanjutnya Jubair berkata: Kudengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sudah semestinya Thalhah masuk Surga. (HR. Tirmidzi)

 

Topi Besi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Topi besi beliau adalah rantai besi yang dijalin rapi, dibuat dengan ukuran kepala, kemudian dipasangkan di dalam kopiah.

 

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

Sewaktu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki kota Mekkah (pada hari pembebasan kota Mekkah), beliau mengenakan topi besi.

Selanjutnya Anas Radhiallahu ‘Anhu berkata: Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melepas topi besi tersebut, datanglah seorang laki-laki seraya berkata kepadanya: ‘Ibnu Khathal* sedang bersembunyi di dinding Ka’bah.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Bunuhlah dia!

Ibnu Syihab** berkata: ‘Dan menurut riwayat yang kuterima, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak berhiram waktu itu. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa-i, dan Ibnu Majah.)

* Ibnu Khathal ialah salah seorang dari empat penjahat yang amat memusihi Islam dan tidak mendapatkan pengampunan umum dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tiga lainnya adalah Huwairits bin Nuqaid, Abdullah bin Abi Sarh, dan Muqais bin Shababah. Namun sebelum eksekusi Abdullah bin Abi Sarh masuk Islam. Dengan demikian Abdullah bin Abi Sarh selamat dari hukuman

** Ibnu Syihab merupakan salah seorang perawi dalam sanad hadits ini

 

 

 

Sorban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Jabir Radhiallahu ‘Anhu berkata:

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki kota Mekkah pada waktu pembebasan kota Mekkah, beliau mengenakan sorban (berwarna) hitam. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Muslim, Abu Dawud, dan Nasa-i)

 

Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai sorban, maka dilepaskannya ujung sorbannya antara kedua bahunya. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa-i, dan Ibnu Majah.)

 

 

Sarung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Ayah Abu Burdah (Musa Al Asy’ari) Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

A’isyah Radhiallahu ‘Anha memperlihatkan kepada kami pakaian yang telah kumal serta sarung yang kasar, seraya berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dicabut ruhnya sewaktu memakai pakaian ini. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Muslim)

 

Asy’ats bin Sulaim Radhiallahu ‘Anhu berkata: Aku mendengar bibiku menceritakan tentang pamannya (‘Ubaid bin Khalid al Muharibi Radhiallahu ‘Anhu) yang bercerita:

Ketika aku berjalan di Madinah, tiba-tiba ada orang di belakangku menegur: Tinggikan sarungmu, agar lebih terpelihara dan kuat bertahan

Ternyata orang tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, akupun bertanya: ‘Wahai Rasulullah, ini hanyalah selimut yang bercorak loreng’.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Apakah tidak ada yang harus kau teladani?

Lalu aku memandangnya, ternyata sarungnya sampai setengah betis. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Baihaqi)

 

Hudzaifah bin al Yaman Radhiallahu ‘Anhu berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memegang otot betis kakiku dan betis kakinya, kemudian bersabda:

Inilah tempat batas sarung, jika kau tidak suka di sini, maka boleh diturunkan lagi, jika kau tidak suka juga, maka tidak ada hak bagi lagi bagi sarung yang menutup kedua mata kaki. (HR. Tirmidzi, dikeluarkan pula oleh Nasa-i, dan Ibnu Majah.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s