Surga dan Para Penghuninya (2/4)

Penghuni Surga Dapat Saling Memandang Penghuni Tempat yang Tinggi di Atas Surga {Ghuraf}

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ مِنْ الْأُفُقِ مِنْ الْمَشْرِقِ أَوْ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تِلْكَ مَنَازِلُ الْأَنْبِيَاءِ لَا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ قَالَ بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ

1970- Dari Abu Said Al Khudri RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga itu dapat melihat para penghuni ghuraf di atas mereka, sebagaimana kamu melihat bintang yang berkelip di langit yang bergerak dari ufuk timur ke barat. Hal itu disebabkan karena penghuni ghuraf {rumah di Surga} mempunyai kelebihan daripada penghuni surga yang lainnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ghuraf itu hanya khusus dihuni oleh para nabi dan tidak dapat diraih oleh orang selain mereka?” Rasulullah SAW menjawab, ‘Ya tentu. Demi Dzat yang jiwakau di tangan-Nya, {sebenarnya ghura} juga dapat dihuni oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul” {Muslim 8/145, Bukhari no.3016, Tirmidzi no.2556, Abu Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih.”. Shahih: Ar-Raudh An-Nadhir (2/360-361) dan At-Ta’liq Ar-Raghib (4/251), Muttafaq alaih }

 

Suguhan para Penghuni Surga

عن ثَوْبَان مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَهُ قَالَ كُنْتُ قَائِمًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ حِبْرٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ فَدَفَعْتُهُ دَفْعَةً كَادَ يُصْرَعُ مِنْهَا فَقَالَ لِمَ تَدْفَعُنِي فَقُلْتُ أَلَا تَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ الْيَهُودِيُّ إِنَّمَا نَدْعُوهُ بِاسْمِهِ الَّذِي سَمَّاهُ بِهِ أَهْلُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اسْمِي مُحَمَّدٌ الَّذِي سَمَّانِي بِهِ أَهْلِي فَقَالَ الْيَهُودِيُّ جِئْتُ أَسْأَلُكَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَنْفَعُكَ شَيْءٌ إِنْ حَدَّثْتُكَ قَالَ أَسْمَعُ بِأُذُنَيَّ فَنَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعُودٍ مَعَهُ فَقَالَ سَلْ فَقَالَ الْيَهُودِيُّ أَيْنَ يَكُونُ النَّاسُ يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ فِي الظُّلْمَةِ دُونَ الْجِسْرِ قَالَ فَمَنْ أَوَّلُ النَّاسِ إِجَازَةً قَالَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ قَالَ الْيَهُودِيُّ فَمَا تُحْفَتُهُمْ حِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَالَ زِيَادَةُ كَبِدِ النُّونِ قَالَ فَمَا غِذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا قَالَ يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا قَالَ فَمَا شَرَابُهُمْ عَلَيْهِ قَالَ مِنْ عَيْنٍ فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ وَجِئْتُ أَسْأَلُكَ عَنْ شَيْءٍ لَا يَعْلَمُهُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ رَجُلٌ أَوْ رَجُلَانِ قَالَ يَنْفَعُكَ إِنْ حَدَّثْتُكَ قَالَ أَسْمَعُ بِأُذُنَيَّ قَالَ جِئْتُ أَسْأَلُكَ عَنْ الْوَلَدِ قَالَ مَاءُ الرَّجُلِ أَبْيَضُ وَمَاءُ الْمَرْأَةِ أَصْفَرُ فَإِذَا اجْتَمَعَا فَعَلَا مَنِيُّ الرَّجُلِ مَنِيَّ الْمَرْأَةِ أَذْكَرَا بِإِذْنِ اللَّهِ وَإِذَا عَلَا مَنِيُّ الْمَرْأَةِ مَنِيَّ الرَّجُلِ آنَثَا بِإِذْنِ اللَّهِ قَالَ الْيَهُودِيُّ لَقَدْ صَدَقْتَ وَإِنَّكَ لَنَبِيٌّ ثُمَّ انْصَرَفَ فَذَهَبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ سَأَلَنِي هَذَا عَنْ الَّذِي سَأَلَنِي عَنْهُ وَمَا لِي عِلْمٌ بِشَيْءٍ مِنْهُ حَتَّى أَتَانِيَ اللَّهُ بِهِ.

1972- Dari Tsauban RA, maula Rasulullah SAW, dia berkata, “Suatu ketika, saya pernah berdiri di dekat Rasulullah SAW. Tak lama kemudian, datanglah seorang pendeta Yahudi sambil mengucapkan, ‘Assalaamu alaikum ya Muhammad.’ Mendengar ucapan tersebut, saya {Tsauban} langsung mendorong pendeta Yahudi tersebut hingga ia hampir terjatuh. Lalu pendeta itu berseru kepada saya, “Mengapa kamu mendorong saya?” Saya pun menjawab, “Mengapa kamu tidak mengucapkan ya Rasulullah.” Pendeta Yahudi itu berkata, “Aku hanya memanggil Muhammad sebagaimana nama yang diberikan keluarganya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya namaku adalah Muhammad sesuai dengan nama yang diberikan oleh keluargaku.” Pendeta Yahudi itu berkata, “Ya Muhammad, sebenarnya aku datang ke sini hanya untuk bertanya kepadamu.” Rasulullah SAW balik bertanya, “Apakah ada manfaatnya untukmu apabila aku memberitahukan sesuatu kepadamu?” Pendeta Yahudi tersebut menjawab, “Aku akan mendengarkannya dengan seksama.” Kemudian Rasulullah SAW menggores-goreskan sebatang kayu kecil yang sedang beliau pegang seraya berkata, “Ajukanlah pertanyaanmu sekarang’ Lalu pendeta Yahudi itu berkata, “Baiklah. Ya Muhammad, di manakah umat manusia berada ketika bumi dan langit diganti dengan bumi dan langit yang lain?” Rasulullah SAW menjawab, “Pada saat itu umat manusia sedang berada dalam kegelapan di dekat jembatan {yang melintang di atas neraka}.” Pendeta Yahudi itu bertanya lagi, “Siapakah yang akan melintasi jembatan tersebut pertama kali?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang-orang Muhajirin yang fakirlah yang pertama kali melintas jembatan tersebut” Kembali pendeta Yahudi itu mengajukan pertanyaan lagi, “Apakah hidangan/suguhan mereka ketika mereka masuk ke dalam surga?” Rasulullah SAW menjawab, “Hati ikan pilihan.” Pendeta Yahudi itu bertanya lagi, “Apakah makanan mereka setelah itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Untuk mereka disembelihkan sapi surga yang makan rerumputan terbaik di surga.” Kemudian pendeta Yahudi itu bertanya lagi, “Lalu apakah minuman mereka itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Minuman mereka dari mata air di surga yang disebut salsabil” Pendeta itu berseru, “Kamu benar ya Muhammad.” Selanjutnya pendeta Yahudi itu berkata, “Ya Muhammad, aku datang ke sini juga untuk bertanya kepadamu tentang sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali oleh seorang nabi atau diketahui oleh satu atau dua orang saja.” Rasulullah SAW bertanya, “Apakah ada manfaatnya apabila aku menjawab pertanyaamu?’ Pendeta Yahudi itu menjawab, “Aku akan mendengarkannya dengan seksama.” Tanya pendeta Yahudi itu, “Ya Muhammad, aku datang kepadamu untuk bertanya tentang proses terjadinya anak manusia.” Rasulullah SAW menjwab, “Mani laki-laki {sperma} itu berwarna putih, sedangkan warna mani perempuan {sel telur/ovum} itu agak kuning. Apabila keduanya bertemu, lalu sperma laki-laki mengungguli sel telur perempuan, maka akan muncullah janin laki-laki dengan izin Allah. Sebaliknya, apabila sel telur perempuan mengungguli sperma laki-laki, maka akan muncullah janin perempuan.” Pendeta Yahudi itu berkata, “Sungguh tepat keteranganmu hai Muhammad dan sesungguhnya kamu memang benar-benar seorang nabi {utusan} Allah.” Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sebenarnya ia bertanya tentang sesuatu yang pernah ia tanyakan kepadaku, sedangkan aku sama sekali tidak mengerti tentang hal itu kecuali setelah Allah memberitahukannya kepadaku.” {Muslim 1/173-174}

 

Di Surga Ada Sebuah Pohon Di Mana Pengendara Kuda akan Berjalan Seratus Tahun di Bawah Naungan Pohon Tersebut Tanpa Terputus

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا. قَالَ أَبُو حَازِمٍ فَحَدَّثْتُ بِهِ النُّعْمَانَ بْنَ أَبِي عَيَّاشٍ الزُّرَقِيَّ فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ الْجَوَادَ الْمُضَمَّرَ السَّرِيعَ مِائَةَ عَامٍ مَا يَقْطَعُهَا.

1974- Dari Sahal bin Sa’ad RA, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga itu ada sebuah pohon di mana seorang pengendara kuda akan berjalan selama seratus tahun di bawah naungan pohon tersebut tanpa terputus” Abu Hazim berkata, “Kemudian saya ceritakan hadits tersebut kepada An-Nu’man bin Abu Ayyasy Az-Zuraqi. Lalu ia berkata, “Saya pernah diceritakan oleh Abu Said Al Khudri RA dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pohon di mana seorang pengendara kuda yang lincah dan cekatan berjalan di bawah pohon itu selama seratus tahun, maka tidak akan mampu untuk mencapainya {keluar dari naungan pohon itu}.”” {Muslim 8/144}

 

حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا

 

Telah bercerita kepada kami Rauh bin ‘Abdul Mu’min telah bercerita kepada kami Yazid bin Zurai’ telah bercerita kepada kami Sa’id dari Qatadah telah bercerita kepada kami Anas bin Malik radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di surga ada sebuah pohon yang jika para pengendara berjalan di bawah naungannya seratus tahun lamanya tidak akan dapat melewatinya”. (HR. Bukhari no.3012, Tirmidzi no.2523-2524)

 

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ الْفُرَاتِ الْقَزَّازُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ

Abu Sa’id Al Asyaj menceritakan kepada kami, Ziad bin Al Hasan bin Al Furat Al Qazzai mencentakan kepada kami dari ayahnya, dari kakeknya, dari Abu Hazim. dan Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu pun pepohonan yang ada di surga melainkan batangnya dari emas. ” (HR.Tirmidzi no.2525, Abu Isa berkata, “Hadits ini hasan gharib dari hadits Abu Sa’id.”. Shahih: At-Ta’liq Ar-Raghib (4/257).)

 

Bangunan di Surga

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ حَمْزَةَ الزَّيَّاتِ عَنْ زِيَادٍ الطَّائِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا إِذَا كُنَّا عِنْدَكَ رَقَّتْ قُلُوبُنَا وَزَهِدْنَا فِي الدُّنْيَا وَكُنَّا مِنْ أَهْلِ الْآخِرَةِ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ فَآنَسْنَا أَهَالِينَا وَشَمَمْنَا أَوْلَادَنَا أَنْكَرْنَا أَنْفُسَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ إِذَا خَرَجْتُمْ مِنْ عِنْدِي كُنْتُمْ عَلَى حَالِكُمْ ذَلِكَ لَزَارَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ فِي بُيُوتِكُمْ وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ كَيْ يُذْنِبُوا فَيَغْفِرَ لَهُمْ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِمَّ خُلِقَ الْخَلْقُ قَالَ مِنْ الْمَاءِ قُلْنَا الْجَنَّةُ مَا بِنَاؤُهَا قَالَ لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ مَنْ دَخَلَهَا يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ وَيَخْلُدُ لَا يَمُوتُ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ ثُمَّ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

 

2526. Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail menceritakan kepada kami dari Hamzah Az-Zayyat. dari Ziyad Ath-Tha’i, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, mengapa jika kami sedang berada di sisimu. hati kami menjadi lembut, kami menjadi zuhud terhadap kehidupan duniawi, dan kami merasa seperti ahli surga. Akan tetapi jika kami meninggalkanmu (pergi dari sisimu). maka hati kami menjadi sayang (condongi terhadap keluarga, sibuk dengan urusan anak-anak kami, dan kami menjadi orang yang mengingkari diri kami sendiri?’ Rasulullah menjawab. ‘Jika kalian pergi dari sisiku (meninggalkanku) dengan keadaan seperti sekarang ini, maka para malaikat akan menghampiri rumah-rumah kalian. Jika kalian tidak melakukan dosa, maka Allah akan mendatangkan makhluk yang baru yang melakukan dosa, namun Allah pasti akan mengampuni mereka’.” Ia berkata, “Aku berkata. ‘Wahai Rasulullah! Makhluk itu diciptakan dari apa?’ Beliau menjawab. ‘Dari air’. Kami bertanya kembali, ‘Apa bahan bangunan surga?’ Beliau menjawab, ‘Surga dibangun dari batu bata yang terbuat dari perak dan emas, sedangkan pelapurnya adalah minyak misik yang sangat harum; kerikilnya adalah mutiara dan yaqut, dan tanahnya adalah zafaran. Siapa saja yang masuk ke dalamnya, maka ia akan merasa nikmat (bahagia) dan tidak merasa sengsara, akan kekal dan tidak akan mati, pakaiannya tidak rusak, dan keremajaannya tidak luntur (punah) ‘. ” Beliau melanjutkan, “Ada tiga orang yang doanya tidak akan tertolak, yaitu: seorang imam (pemimpin) yang adil, orang yang berpuasa —seperti— ketika ia berbuka, dan doa orang yang teraniaya (terzhalimi). Allah akan mengangkat doanya ke atas awan dan membuka pintu-pintu langit bagi (doanya) itu. Lalu Allah berfirman. ‘Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meskipun setelah lewat waktunya ‘.”

(HR.Tirmidzi no.2526, Abu Isa berkata. “Sanad hadits ini tidak sekuat itu. Menurutku sanad hadits tersebut tidak mutashil.'” Hadits ini diriwayatkan dengan sanad yang berbeda. yaitu dari Abu Mudillah dan Abu Hurairah dari Rasulullah. Shahih: Tanpa ada lafazh “Dari apa makhluk itu diciptakan?” Ash-Shahihah (2/692-693) dan Ghayah Al Maram (373).)

 

Kemah di Surga

عَنْ أَبِي موسى: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةٌ مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلًا فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا أَهْلٌ مَا يَرَوْنَ الْآخَرِينَ يَطُوفُ عَلَيْهِمْ الْمُؤْمِنُ.

1975- Dari Abu Musa RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Di dalam surga ada kemah yang terbuat dari permata yang dibentangkan dan lebarnya enam puluh mil. Pada setiap sudut ada penghuninya. Penghuni suatu sudut tidak dapat melihat penghuni di sudut lain dan di situlah orang mukmin berkeliling” {Muslim 8/148, Bukhari no.3243, Tirmidzi no.2528, Abu Isa berkata. “Hadits ini hasan shahih” Nama asli Abu Imran Al- Jauni adalah Abdul Malik bin Habib. Ahmad bin Hanbal berkata tentang Abu Bakar bin Abu Musa. “Namanya tidak dikenal, dan nama asli Abu Musa Al Asy’ari adalah Abdullah bin Qais.” Nama Asli bapak Malik Al Asy’ari adalah Sa’ad bin Thariq bin Asyyam.}

 

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عِمْرَانَ الْجَوْنِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ أَبِيهِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْخَيْمَةُ دُرَّةٌ مُجَوَّفَةٌ طُولُهَا فِي السَّمَاءِ ثَلَاثُونَ مِيلًا فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا لِلْمُؤْمِنِ أَهْلٌ لَا يَرَاهُمْ الْآخَرُونَقَالَ أَبُو عَبْدِ الصَّمَدِ وَالْحَارِثُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ سِتُّونَ مِيلًا

Telah bercerita kepada kami Hajjaj bin Minhal telah bercerita kepada kami Hammam berkata aku mendengar Abu ‘Imran Al Iawniy dia bercerita dari Abu Bakr bin ‘Abdullah bin Qais Al Asy’ariy dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “(Di surga) ada kemah bundar melengkung terbuat dari mutiara yang menjulang ke langit sepanjang tiga puluh mil pada setiap sisinya di sediakan untuk orang beriman sebagai penghuninya, orang yang lain tidak dapat melihat mereka”. Abu ‘Abdush Shamad dan Al Harits bin ‘Ubaid berkata dari Abu ‘Imran: “Panjangnya enam puluh mil”. (HR. Bukhari no.3004)

 

Ruang-ruang di Dalam Surga

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَغُرَفًا يُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ إِلَيْهِ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Ali bin Mushir menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Ishaq menceritakan kepada kami dari An-Nu’man bin Sa’d, dari Ali, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di surga ada ruangan-ruangan yang luarnya tampak dari dalam dan dalamnya tampak dari luarnya.” Lalu, ada seorang Arab badui berdiri, ia bertanya, “Bagi siapa kamar-kamar itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ruangan-ruangan itu diperuntukkan bagi orang yang baik ucapannya, memberi makanan (kepada orang lain), selalu berpuasa, dan melakukan shalat malam karena Allah di saat orang lain sedang tidur nyenyak.”.

(HR.Tirmidzi no.2527, Abu Isa berkata, “Hadits ini gharib.” Sebagian ulama mengomentari kemampuan Abdurrahman bin Ishaq dalam menghafal. Ia berasal dari kota Kufah. Abdurrahman bin Ishaq Al Qurasyi berasal dari kota Madinah. Ia lebih tsabit dari Abdurrahman bin Ishaq. Hasan: At-Ta’liq Ar-Raghib (2/46) dan Al Misykah (1233))

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ أَبُو عَبْدِ الصَّمَدِ الْعَمِّيُّ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ جَنَّتَيْنِ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا مِنْ فِضَّةٍ وَجَنَّتَيْنِ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا مِنْ ذَهَبٍ وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ

Muhainmad bin Basyar menceritakan kepada kami. Abdul Aziz bin Abdush-shamad Abu Abdush-Shamad Al Ammi menceritakan kepada kami dan Abu Imran Al Jauni dari Abu Bakar bin Abdullah bin Qais dari ayahnya, dari Rasulullah, beliau bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kemah yang terbuat dari mutiara yang berlubang. Panjang kemah itu enam puluh mil. Pada setiap sudui kemah itu ditempati oleh satu keluarga. Namun, mereka tidak dapai melihat (keluarga) yang lain. Dan, orang-orang mukmin mengelilingi mereka. ” Shahih: Al Bukhari (3243) dan Muslim (8/184).

 

Abu Isa berkata. “Hadits ini hasan shahih” Nama asli Abu Imran Al- Jauni adalah Abdul Malik bin Habib. Ahmad bin Hanbal berkata tentang Abu Bakar bin Abu Musa. “Namanya tidak dikenal, dan nama asli Abu Musa Al Asy’ari adalah Abdullah bin Qais.” Nama Asli bapak Malik Al Asy’ari adalah Sa’ad bin Thariq bin Asyyam.

 


 

Pasar Surga

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَسُوقًا يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالًا فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدْ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالًا فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا فَيَقُولُونَ وَأَنْتُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا.

1976- Dari Anas bin Malik RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya di surga ada pasar yang selalu dikunjungi para penghuninya setiap hari Jum’at. Tiba-tiba bertiuplah angin dari arah utara yang menerpa wajah dan pakaian mereka hingga rupa mereka akan semakin bertambah cantik. Setelah itu mereka kembali pulang ke keluarga mereka dengan rupa dan penampilan yang semakin cantik. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, kamu semakin bertambah cantik dan menawan.’ Mereka menjawab, “Demi Allah, kamu juga semakin bertambah cantik dan menawan setelah kami tinggal pergi.” {Muslim 8/145}

 

Tingkatan Surga

حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُحَادَةَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْجَنَّةِ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ مِائَةُ عَامٍ

2529. Abbas Al Anbari menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Syarik mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Juhadah, dari Atha’ dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Di surga terdapat seratus derajat (tingkatan). Jarak antara dua derajat adalah seratus tahun. “

(HR.Tirmidzi no.2529, Abu Isa berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Shahih: Ash-Shahihah (922) dan Al Misykah (5632).)

 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ الْبَصْرِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَصَلَّى الصَّلَوَاتِ وَحَجَّ الْبَيْتَ لَا أَدْرِي أَذَكَرَ الزَّكَاةَ أَمْ لَا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ إِنْ هَاجَرَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مَكَثَ بِأَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ بِهَا قَالَ مُعَاذٌ أَلَا أُخْبِرُ بِهَذَا النَّاسَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَرْ النَّاسَ يَعْمَلُونَ فَإِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَالْفِرْدَوْسُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَأَوْسَطُهَا وَفَوْقَ ذَلِكَ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهَا تُفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ

 

2530. Qutaibah dan Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi Al Bashri menceritakan kepada kami, mereka berdua berkata: Abdul Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dari Atha” bin Yasar, dari Mu’adz bin Jabal bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan, melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan haji ke Baitullah —aku tidak mengetahui apakah beliau juga menyebutkan tentang zakat atau tidak— melainkan Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya; baik ia sedang berhijrah dijalan Allah atau sedang berada di negerinya (tempat ia dilahirkan). “ Mu’adz berkata, “Bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada orang-orang?” Rasulullah menjawab, Biarkan orang-orang mengamalkan (itu semua). Sesungguhnya di surga itu terdapat seratus derajat. Jarak antara dua derajat seperti jarak ar:ara langit dan bumi. Surga Firdaus merupakan surga tertinggi dan paling utama, di atasnya terdapat Arsy Ar-Rahman Allah. Darinya (dari surga Firdaus) mengalir (air) sungai-sungai surgawi. Jika kalian ingin memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus kepada-Nya.”

(HR.Tirmidzi no.2530, Abu Isa berkata, “Demikianlah hadits ini diriwayatkan dari Hisyam bin Sa’ad, dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ bin Yasar, dari Mu’adzbin Jabal.” Menurut saya, hadits ini lebih shahih dari hadits Hammam, dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ bin Yasar, dari Ubadah bin Ash-Shamit. Atha’ sebenarnya tidak pernah bertemu dan mengenal Mu’adz bin Jabal, sebab Mu’adz telah lama wafat, yaitu pada masa kekhilafahan Umar. Shahih: Ash-Shahihah (921).)

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْجَنَّةِ مِائَةُ دَرَجَةٍ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ وَالْفِرْدَوْسُ أَعْلَاهَا دَرَجَةً وَمِنْهَا تُفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ الْأَرْبَعَةُ وَمِنْ فَوْقِهَا يَكُونُ الْعَرْشُ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ

2531. Abdullah bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun mengabarkan kepada kami, Hammam mengabarkan kepada kami, Zaid bin Aslam menceritakan kepada kami dari Atha’ bin Yasar, dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Di surga terdapat sepuluh derajat (tingkatan). Jarak antara satu surga dengan surga yang lain seperti jarak antara langit dan bumi. Surga Firdaus adalah surga yang tertinggi. Darinya mengalir empat sungai surgawi. Di atas surga Firdaus terdapat Arsy Allah. Jika kalian hendak memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus kepada-Nya.” (HR.Tirmidzi no.2531, Ahmad bin Mani’ menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hammam menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam … dengan hadits yang sama. Shahih: dengan sumber yang sama dengan hadits sebelum ini.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s