Terjadinya Kiamat Menurut Islam

Terjadinya Kiamat Menurut Islam

disusun oleh : Abdillah Ibnu Syams as-Salafi

Beriman kepada hari qiyamat merupakan unsur pokok keimanan dalam Islam. Tanpa beriman kepada hari qiyamat, iman seseorang tidak akan diterima. Sebagaimana tidak diterima apabila tidak beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan qadha  qadar dariNya.

Allah  berfirman:

“…Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian (qiyamat), maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”(An-Nisaa’:136).

Mengenai kepastian adanya Hari Qiyamat itu sendiri Allah menegaskan dalam firman-firmanNya, diantaranya:

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-sekali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan , kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(At-Taghabun/ 64:7).

Allah  berfirman pula, yang artinya:

“…serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (qiyamat) tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.”  (As-Syura/ 42:7)

Dan firman Allah  yang artinya:

“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (An-Naml/ 27:82).

Firman Allah  yang artinya:

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari qiyamat), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir.” (Al-Anbiyaa’: 96-97).

Firman Allah  yang artinya:

“Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah qiyamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: Ambillah, bacalah kitabmu (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: Wahai alangkah baiknya sekiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku. (Allah berfirman): Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.”(Al-Haaqqah/ 69:13-34).

Masih banyak ayat-ayat lain di dalam Al-Qur’an yang menegaskan tentang hari qiyamat.

 

Tanda-tanda qiyamat

Adapun tanda-tanda qiyamat, Rasulullah  menjelaskan dengan beberapa haditsnya. Diantaranya:

“Sesungguhnya qiyamat itu tidak akan terjadi sebelum adanya sepuluh tanda-tanda qiyamat, yaitu tenggelam di Timur, tenggelam di Barat, tenggelam di Jazirah Arab, adanya asap, datangnya Dajjal, Dabbah (binatang melata yang besar), Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari sebelah barat, keluar api dari ujung Aden yang menggiring manusia, dan turunnya Nabi Isa.”(Hadits Riwayat Muslim).

Penjelasan Nabi  dalam sabdanya yang lain:

“Dajjal datang kepada umatku dan hidup selama 40 tahun, lalu Allah mengutus Isa bin Maryam, kemudian ia mencari Dajjal dan membinasakannya. Kemudian selama 70 tahun manusia hidup aman dan damai, tak ada permusuhan antara siapapun. Sesudah itu Allah meniupkan angin yang dingin dari arah negeri Syam (kini Suriah, pen). Maka setiap orang yang dalam hatinya masih ada kebajikan meskipun sebesar atom, pasti menemui ajalnya. Bahkan jika seandainya seseorang dari kamu masuk ke dalam gunung, pasti angin itu mengejarnya dan mematikannya. Maka sisanya tinggal orang-orang jahat seperti binatang buas (fii khiffatit thoiri wa ahlaamis sibaa’), mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Dan syetan menjelma pada mereka (manusia) lalu berkata: Maukah kamu mengabulkan? Manusia berkata: Apa yang akan kamu perintahkan kepada kami? Syetan lalu memerintahkan kepada mereka agar menyembah berhala, sedang mereka hidup dalam kesenangan. Kemudian ditiuplah sangkakala. Tapi seorangpun tak akan mendengarnya kecuali orang yang tajam pendengarannya. Dan orang yang pertama kali mendengarnya yaitu seorang laki-laki yang mengurusi untanya. Nabi bersabda: Maka matilah semua manusia. Kemudian turunlah hujan  seperti hujan gerimis. Maka keluarlah dari situ jasad manusia (dari kubur-kuburnya). Kemudian ditiup lagi sangkakala, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu. Lalu dikatakan kepada mereka: Wahai manusia, marilah menghadap kepada Tuhanmu dan merekapun berada di Mahsyar karena mereka akan diminta tanggung jawabnya. Kemudian dikatakan kepada mereka, pergilah kamu karena neraka telah dinyalakan, lalu dikatakan lagi: Dari berapakah? Lalu dikatakan lagi: Dari setiap seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang. Begitulah keadaannya pada hari anak dijadikan beruban dan pada hari betis disingkap (hari Qiyamat yang menggambarkan orang sangat ketakutan yang hendak lari karena huru-hara Qiyamat).” (Hadits Riwayat Muslim).

Sabda Nabi  ketika berkhutbah:

“Wahai manusia, bahwasanya kamu nanti akan dihimpun Allah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang bulat, dalam keadaan kulup (tidak dikhitan). Ingatlah bahwa orang yang mula-mula diberi pakaian adalah Ibrahim AS. Ingatlah bahwa nanti ada di antara umatku yang didudukkan di sebelah kiri. Ketika itu aku berkata: Ya Tuhan, (mereka itu adalah) sahabatku. Lalu Tuhan berkata: Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sesudah kamu (wafat).”(HR Muslim).

Pertanggung jawaban

Mengenai pertanggungan jawab perbuatan, Nabi Muhammad  bersabda:

“Pada hari Qiyamat, setiap hamba tak akan melangkah sebelum ditanya empat hal, yaitu tentang umur untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan, dan (kesehatan) badannya untuk apa ia pergunakan.”(HR Tirmidzi, hadits hasan shahih, dan teks ini menurut riwayat Muslim).

Tentang dahsyatnya keadaan Qiyamat sampai manusia tak ingat pada lainnya, adapun penjelasannya:

“Dari Aisyah , Bahwa ia teringat Neraka lalu menangis, maka Rasulullah ` bertanya: Apa yang menyebabkan engkau menangis? Aisyah menjawab: Aku teringat pada Neraka, hingga aku menangis. Apakah pada hari Qiyamat kamu akan ingat pada keluargamu? Jawab Nabi : Adapun di tiga tempat, orang tidak teringat pada yang lainnya, yaitu ketika ditimbang amalnya sebelum dia mengetahui berat ringannya amal kebaikannya. Ketika buku catatan amalnya beterbangan sebelum dia mengetahui di mana hinggapnya buku itu, di sebelah kanan, kiri, atau di belakangnya. Dan ketika meniti titian/jembatan (shirath) yang terbentang di punggung neraka Jahannam sebelum dia melaluinya.”(HR Abu Daud, hadits hasan).

Itulah peristiwa Qiyamat yang wajib kita yakini beserta tanda-tandanya. Semuanya itu merupakan hal yang ghaib, hanya Allah yang mengetahui, sedang Nabi  mengkhabarkan itu dari wahyu Allah. Maka hal-hal yang tak sesuai dengan penjelasan Allah dan RasulNya mesti kita tolak, meskipun datangnya dari orang yang mengaku intelek, pakar, ataupun mengaku telah menyelidiki bertahun-tahun dengan metode yang disebut ilmiah dan canggih. Sebaliknya, kalau itu datang dari Allah dan RasulNya, maka wajib kita imani. Dan beriman kepada Hari Qiyamat itu merupakan halyangtermasuk pokok di dalamIslam seperti tersebut di atas. Mengingkarinya berarti rusak keimanannya.

 

PETAKA AKHIR ZAMAN

 Suatu ketika Rasulullah  bangun dari tidur dalam keadaan memerah mukanya, beliau lalu berkata, “La ilaha illallah, celaka orang-orang Arab karena keburukan telah dekat, telah terbuka hari ini benteng penghalang Ya’juj dan Ma’juj seperti ini -beliau melingkarkan antara ibu jari dengan telunjuk lalu ditanya-kan, “Apakah kita akan dibinasakan, padahal ada orang-orang shalih di tengah-tengah kita?” Beliau menjawab, “Ya, jika al khabats telah meraja lela.”  (HR. Al-Bukhari-Muslim)

Kata al-khabats dalam hadits ini memiliki makna segala perbuatan yang merupakan bentuk kemaksiatan ter-hadap Allah, serta dilakukan kapan saja dan di mana saja, (banyak dijumpai di setiap waktu dan tempat).

Jika kita mencermati hadits di atas, lalu melihat kenyataan dalam kehidup-an kita sehari-hari, sungguh akan mun-cul kekhawatiran, jangan-jangan apa yang disabdakan Nabi tersebut adalah sesuatu yang akan terjadi pada masa-masa ini. Hadits tersebut menjelaskan, bahwa jika kemaksiatan telah tersebar dan merajalela, maka artinya iman menjadi sesuatu yang sangat mino-ritas, kebaikan dan keberkahan rizki telah lenyap, rasa aman tidak ada lagi, banyak terjadi huru-hara dan wabah penyakit. Sementara itu kesia-siaan menjadi sesuatu yang mendominasi, keadaan masyarakat berubah total, kemungkaran dianggap kebaikan, sedangkan kebaikan menjadi sesuatu yang diingkari. Inilah salah satu tanda akan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj yang merupakan satu di antara sekian per-tanda, bahwa Kiamat telah di ambang pintu.

Dan kenyataan membuktikan -wallahu a’lam-, bahwa yang terjadi di masa ini merupakan sebuah indikasi, bahwa apa yang disabdakan oleh Rasulullah tersebut telah mendekati kenyataan. Beliau telah memberita-hukan kepada kita beberapa tanda dekatnya Hari Kiamat yang terjadi di akhir zaman. Di antaranya yaitu:

1. Orang tidak Memperhatikan Halal dan Haram (Menghalalkan Segala Cara)

Dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah  bersabda, “Sungguh akan datang kepada manusia ini suatu masa, di mana seseorang sudah tidak peduli lagi, bagaimana caranya mendapatkan harta, apakah secara halal ataukah dengan cara haram.”

Termasuk katagori mencari harta secara haram adalah dengan memprak-tekkan riba dan rentenir. Tidak dapat kita pungkiri, bahwa sektor muamalah, ekonomi dan bisnis kini telah didomi-nasi oleh sistem ribawi, yaitu dengan bermunculannya bank-bank dan lem-baga perkreditan yang mempraktek-kan riba atau pun person-person yang berprofesi sebagai rentenir.

2. Waktu Terasa Pendek

Nabi  bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat, sehingga waktu menjadi terasa pendek.”  (HR. Al-Bukhari)

Setahun mejadi terasa sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu bagaikan sehari, sehari terasa sejam dan sejam bagai semenit.

Para ulama berbeda pendapat tentang arti  lafal taqarub az-zaman (waktu menjadi pendek) dalam hadits di atas, di antara pendapat-pendapat tersebut adalah:

   Sedikitnya keberkahan di dalam waktu (umur).

   Cepatnya hari-hari berlalu.

   Ada pula yang mengatakan cepatnya waktu dikarenakan beragamnya sarana transportasi dan komunikasi, sehingga yang jauh menjadi terasa dekat.

3. Pasar-Pasar Berdekatan.

Nabi  bersabda, “Hari Kiamat tidak terjadi sehingga fitnah tersebar, banyak kebohongan dan pasar-pasar saling berdekatan.” (HR. Ahmad)

Makna dari hadits ini-wallahu a’lam– adalah banyaknya pasar yang me-nyebar di mana-mana, atau juga mudah dan cepatnya untuk pergi dari satu pasar ke pasar lain, meskipun jaraknya jauh.

4. Banyak Kekejian, Terputusnya Silaturahim dan Buruknya Berte-tangga.

Rasulullah  bersabda, “Kiamat tidak terjadi, sehingga kekejian dan saling berbuat keji tersebar, silaturahim terputus dan hubungan pertetanggaan menjadi buruk.” (HR. Ahmad)

Al fahsy atau kekejian adalah dosa atau kemaksiatan yang sudah sangat keterlaluan keburukannya.

5. Banyak Gempa Bumi

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata, “Telah bersabda Rasul Allah , “Tidak akan terjadi kiamat, sehingga banyak terjadi gempa bumi.” (HR. Bukhari)

Bencana gempa bumi adalah salah satu kejadian untuk menumbuhkan rasa takut manusia kepada Allah serta merupakan hukuman atas dosa-dosa yang mereka perbuat. Banyaknya gempa bumi merupakan salah satu tanda-tanda akan terjadinya kiamat, dan ketika itu juga tersebar kerusakan dan fitnah di muka bumi.

6. Munculnya Wanita yang Berpakaian Tetapi Telanjang

Nabi menyebut mereka sebagai kasiyat ‘ariyat (berpakaian namun telanjang) karena, meskipun mereka memakai baju, tetapi pada saat yang bersamaan juga telanjang. Ini dikarena-kan pakaian yang dikenakan tidak berfungsi menjadi tutup bagi anggota tubuhnya, bisa karena transparan, pendek dan span atau bisa juga karena ada bagian-bagian tubuh yang terbuka dan sengaja dibuka-buka, sebagaimana banyak kita saksikan pada masa ini.

7. Tersebarnya Musik-Musik

Di dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari Rasulullah  bersabda, “Akan ada kelak dari umatku segolongan kaum yang menghalalkan perzinaan, sutra, minuman keras (khamer) dan alat-alat musik.”

 

KIAT-KIAT MENGHADAPI FITNAH

1. Selalu Bertakwa Kepada Allah

Tidak diragukan lagi, bahwa ketak-waan merupakan senjata paling kuat untuk menghadapi fitnah. Ia ibarat bahtera yang kokoh dan tahan oleh hempasan gelombang. Allah  berfirman,

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada   Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.  Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya  Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. 65: 2, 4)

Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kita semua untuk selalu bertakwa, dan biasanya ia selalu terkait dengan keberuntungan dan kemenangan.

2. Beristighfar, Merendahkan Diri dan Bersandar kepada Allah

Yaitu dengan menampakkan kehi-naan, kemiskinan, kefakiran, sebagai-mana layaknya seorang hamba serta mengikrarkan taubat kepada-Nya. Allah  telah berfirman mengisahkan Nabi Yunus,

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka, bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya, maka ia menyeru dalam keada-an sangat gelap, “Bahwa tak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim”. (QS. 21: 87)

Dalam ayat lain Dia juga berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsa-raan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitan pun menampakkan kepada mereka baiknya apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 6: 42-43)

Alizberkata, “Tidaklah bencana itu turun, kecuali karena dosa dan tidaklah ia diangkat, kecuali dengan taubat.”

3. Memperbanyak Shalat, Do’a dan Kebaikan

Dari Umu Salamah Radhiallaahu anha dia berkata, “Rasulullah  bangun tidur dalam keadaan tersentak, beliau berkata, “Subhanallah, apa yang telah diturun-kan Allah berupa kekayaan (sebagai cobaan), apa pula yang telah diturunkan Allah dari fitnah? Adakah suami yang membangunkan penghuni-penghuni kamar- Yaitu istri-istrinya– untuk shalat? “Berapa banyak wanita yang berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat.”  (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini menjelaskan, bahwa ketika terjadi fitnah, maka dianjurkan untuk memperbanyak shalat dan do’a, terutama di waktu malam, karena ia merupakan waktu yang mustajab.

Ada beberapa penjelasan tentang maksud dari sabda Nabi  , wanita berpakaian di dunia namun telanjang di akhirat di antaranya yaitu:

–   Berpakaian di dunia dengan menge-nakan berbagai macam baju karena kekayaan yang dimilikinya, namun telanjang di akhirat dalam arti tidak memiliki pahala karena tidak pernah mengerjakan amal kebaikan.

–   Memakai pakaian di dunia, namun tidak menutupi auratnya, sehingga Allah menghukumnya di akhirat dengan keadaan telanjang tanpa busana.

–   Berpakaian di dunia, dalam arti mempunyai suami yang shalih, namun dia tidak mau mengikuti keshalehan suaminya, sehingga tidak memiliki amal kebaikan. Karena di hadapan Allah kelak,  suaminya yang shalih tidak dapat lagi menjadi pembelanya.

 

 

4. Menjauhi Tempat-Tempat Fitnah

Termasuk cara yang sangat efektif, agar terbebas dari fitnah adalah menjauhi tempat-tempat yang di sana banyak terjadi fitnah. Nabi  bersabda,

“Orang yang beruntung adalah yang manjauhi fitnah, orang yang beruntung adalah yang manjauhi fitnah. Sungguh orang yang beruntung adalah yang men-jauhi fitnah.Sedangkan orang orang yang diuji dengannya, lalu mau bersabar, maka itulah kesabaran yang menak-jubkan.” (HR. Abu Dawud)

5. Mencegah Kezhaliman

Allah  berfirman,

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. 8:25)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, “Allah  memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman akan adanya fitnah, yaitu ujian dan cobaan yang  menimpa semua orang, yang jahat maupun yang baik. Allah tidak mengkhususkan fitnah tersebut hanya bagi orang yang melakukan kemaksiatan dan yang terlibat langsung dalam dosa, namun semuanya terkena tanpa bisa menolak dan mencegahnya.”

Sesungguhnya amar ma’ruf nahi mungkar, merupakan salah satu sebab untuk memperoleh kebaikan, keama-nan dan kenikmatan dari Allah. Sebalik-nya, meninggalkannya adalah sebab dari kebinasaan, kerusakan dan kelemahan. Orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar akan mendapatkan keselamatan dari Allah di saat manusia tertimpa bencana dan azab. Kami memo-hon kepada Allah  agar menjauhkan kita semua dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tesem-bunyi dan mudah-mudahan Dia selalu melimpahkan ampunan dan belas kasih-Nya, menjauhkan kita dari segala keburukan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad  , keluarga dan para shahabatnya.

Rujukan:

Minhajul Muslim , oleh Abu Bakr Al-Jazairi, Darul Fikr.

Kutaib, “Mata Na’udu wa Natadhara’u” Asma binti Rasyid Ar Ruwaisyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s