HAL-HAL YANG BOLEH DILAKUKAN KETIKA SHALAT

HAL-HAL YANG BOLEH DILAKUKAN KETIKA SHALAT

 

Alhamdulillah kali ini kami dikuatkan untuk melakukan pembahasan tentang hal yang boleh dilakukan ketika shalat, walaupun sebagian orang beranggapan beberapa hal ini dapat membatalkan shalat. Kebenaran hanyalah apa yang datang dari Allah dan RasulNya. Beberapa hal yang boleh dilakukan dalam shalat antara lain adalah…

1. Berjalan karena ada keperluan, misalnya membukakan pintu

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي وَالْبَابُ عَلَيْهِ مُغْلَقٌ فَجِئْتُ فَاسْتَفْتَحْتُ فَمَشَى فَفَتَحَ لِيْ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلاَّهِ، وَذِكْرُ أَنَّ الْبَابَ كَانَ فِي الْقِبْلَةِ

Dari A’isyah Radhiallahu ‘Anha ia berkata: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat (sunnah di rumah) sedangkan pintunya ditutup, lalu saya datang, lalu saya minta dibukakan pintu, lalu beliau berjalan lantas membukakan pintu untukku, kemudian kembali lagi ke tempat shalatnya”*. (HR. Abu Dawud no.922)

* Perawi hadits ini dari A’isyah mengira bahwa pintu itu berada di arah kiblat

2. Menggendong anak kecil

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيْعِ، فَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا وَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا

Dari Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan (binti) Abil ‘Ash bin Rabi’. Maka apabila beliau berdiri beliau menggendongnya dan apabila beliau sujud beliau meletakkannya”. (HR.Muslim no.543, Bukhari no.494, Abu Dawud no.917, Nasa-i no.1204)

3. Membunuh makhluk yang berbahaya

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رُسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَمَرَ بِقَتْلِ اْلأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلاَةِ الْعَقْرَبَ وَالْحَيَّةِ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memerintahkan (kami) membunuh dua makhluk hitam ketika shalat, yaitu kalajengking dan ular”. (HR. Ibnu Khuzaimah no.869)

4. Menoleh dan berisyarat karena dianggap sangat penting

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: اِشْتَكَى رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَأَبُوْ بَكْرٍ يَسْمَعُ النَّاسَ تَكْبِيْرُهُ فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَامًا فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah merasa sakit, lalu kami shalat di belakangnya, sedangkan beliau dalam posisi duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan (mengeraskan) kepada orang-orang suara takbir beliau,  kemudian beliau menoleh kepada kami lalu melihat kami dalam keadaan berdiri, kemudian beliau memberi isyarat kepada kami (supaya duduk), maka kemudian kami duduk*”. (HR. Muslim no.413, Nasa-i  no.1200, Abu Dawud no.606)

* Para sahabatpun ikut duduk, maka apabila imam shalat dengan duduk maka makmumpun shalat dengan duduk

5. Meludah pada pakaian atau mengeluarkan sapu tangan yang ada di dalam saku

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَإِنَّ أَحَدُكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلَّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هَكَذَا ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ

“Sesungguhnya apabila seseorang diantara kalian mengerjakan shalat, maka sesungguhnya Allah YangMahaSuci dan MahaTinggi berada dihadapannya, karena itu janganlah sekali-kali meludah ke hadapannya* dan jangan pula ke sebelah kanannya. Dan hendaklah meludah ke sebelah kirinya. Kalau itu terjadi dengan mendadak**, maka tahanlah dengan pakaiannya begini”. Kemudian beliau melipat pakaiannya sebagian atas sebagian yang lain. (HR. Muslim no.3006)

* ke arah kiblat

** terpaksa ingin meludah

6. Menjawab salam dengan isyarat atau dengan dehem untuk mengisyaratkan bahwa ia sedang shalat

عَبْدُ اللهِ بْنِ عُمَرَ يَقُوْلُ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى قُبَاءَ يُصَلِّيْ فِيْهِ قَالَ فَجَاءَتْهُ اْلأَنْصَارُ فَسَلَّمُوْا عَلَيْهِ وََهُوَ يُصَلِّيْ قَالَ: فَقُلْتُ لِبِلاَلٍ كَيْفَ رَأَيْتَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِيْنَ كَانُوْا يُسَلِّمُوْنَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي؟ قَال يَقُوْلُ هَكَذَا وَبَسَطَ كَفَّهُ وَبَسَطَ جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ كَفَّهُ وَجَعَلَ بَطْنَهُ أَسْفَلَ وَجَعَلَ ظَهْرَهُ إِلَى فَوْقٍ

Abdullah bin ‘Umar berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pergi ke Quba dan shalat di sana. Disaat beliau shalat, datanglah kaum Anshar, lalu mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku bertanya kepada Bilal: ‘Bagaimana engkau melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab salam ketika mereka mengucapkan salam kepada beliau di saat beliau shalat?’. Jawabnya (Bilal): ‘Rasullah berbuat begini’. Bilal membuka telapak tangannya dan Ja’far bin Aun membuka telapak tangannya. Bilal menjadikan bagian bawah telapak tangannya menghadap ke bawah dan menjadikan punggung telapak tangannya mengarah ke atas”. (HR. Abu Dawud no.927)

Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata:

إِذَا أَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي يَتَنَحْنَحَ لِيْ

Maka jika aku mendatanginya ketika beliau sholat beliau akan berdehem buatku. (HR. Nasa’i no.1212 dan Ibnu Majah no.3708)

7. Mengucapkan “Subhanalloh” bagi laki-laki dan menepuk tangan bagi perempuan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَا أَيُّّّهَا النَّاسُ مَا لَكُمْ حِيْنَ نَابَكُمْ شَيْءٌ فِي الصَّلاَةِ أَخَذْتُمْ فِي التَّصْفِيْقُ، إِنَّمَا التَّصْفِيْقُ لِلنِّسَاءِ، مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِيْ صَلاَتِهِ فَلْيَقُلْ “سُبْحَانَ اللهِ” فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ حِيْنَ يَقُوْلُ “سُبْحَانَ اللهِ” إِلاَّ التَّفَتَ

“Wahai segenap manusia, mengapa ketika terjadi sesuatu pada kalian dalam shalat kalian bertepuk tangan, padahal tepuk tangan* itu hanyalah untuk kaum perempuan. Barangsiapa yang menjumpai suatu kejadian dalam shalatnya, maka ucapkanlah “Subhanallah”, karena sesungguhnya tak seorangpun yang mendengar ucapan “Subhanallah” pasti menoleh”. (HR. Bukhari no.1177)

8. Memberitahu imam bila bacaannya keliru

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى صَلاَةً فَقَرَأَ فِيْهَا فَلُبِسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأَبِيٍّ أَصَلَّيْتَ مَعَنَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَمَا مَنَعَكَ

Dari Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengerjakan suatu shalat, lalu membaca (ayat al Qur’an) secara keliru. Ketika selesai shalat beliau bertanya kepada Ubay (bin Ka’ab), “Apakah engkau shalat berjama’ah dengan kami?”. Jawabnya, “Ya”. Beliau bertanya (lagi), “Maka apakah yang menghalangimu*?”. (HR. Abu Dawud no.907)

* yang dimaksud adalah Apakah yang menghalangimu untuk memberitahukan bahwa bacaan al Qur’an yang tadi di bacakan ketika shalat adalah keliru

9. Memukul orang yang memaksa akan lewat di hadapan orang yang shalat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةِ وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ. فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

“Janganlah kamu shalat tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika dia terus memaksa lewat di depanmu, bunuhlah (pukullah) dia karena sesungguhnya bersamanya ada teman (syaithan)” (HR. Ibnu Khuzaimah no.800 dari hadits Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma dengan sanad yang jayyid (baik), Hakim no.921).

فَقَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَْن يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْ فِيْ نَحْرِهِ فَإِنْ أَبَي فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

Abu Sa’id Rahiallahu ‘Anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang diantara kalian sedang (shalat) menghadap sesuatu (sutrah) agar terlindung dari orang-orang (yang akan lewat di depannya), kemudian ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya (diantara dirinya dengan sutrah), maka cegahlah di lehernya. Jika dia memaksa (untuk lewat), maka pukullah, karena sesungguhnya ia adalah syaithan”. (HR. Muslim no.505)

10. Menangis

عَنْ عَلِيَّ رضى الله تعالى عَنَّهُ قَالَ: مَا كَانَ فِيْنَا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا فِيْنَا إِلاَّ نَائِمٌ، إِلاَّ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم تَحْتَ شَجَرَةٍ يُصَلِّيْ وَيَبْكِيْ حَتَّى أَصَبَحَ

Dari Ali Radhiallahu ‘Anhu ia berkata: “Tidak ada prajurit berkuda pada perang Baadar selain al-Miqdad. Sungguh saya melihat kami dan tiada diantara kami melainkan semuanya tidur nyenyak kecuali Rasulullah, ia shalat (malam) di bawah pohon sambil menangis”. (HR.  Ahmad no.1023, Ibnu Khuzaimah no.899)

11. Shalat dengan menggunakan sandal (HR. Abu Dawud no. 650)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرُ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذْرَا أَوْ أَذَى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا

“Apabila seseorang diantara kalian datang ke masjid, maka perhatikanlah (bagian bawah kedua sandalnya – ed), jika ia melihat kotoran atau najis pada kedua sandalnya, maka gosokkanlah (ke bumi/tanah), kemudian shalatlah dengan keduanya”. (HR. Abu Dawud no.650)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s