Hukum Shalat Tasbih dan Shalat Hajat

HUKUM SHALAT TASBIH DAN SHALAT HAJAT

 

Dari : +622191610xxx

Pertanyaan : Apa hukum shalat tasbih dan hajat… Ada tuntunannya tidak? Haditsnya shahih tidak?

 

Jawab

Para ulama berbeda pendapat tentang keabsahan hadits tentang shalat tasbih dan hajat

 

SHALAT TASBIH

Diantara shalat yang disyariatkan adalah shalat tasbih, yaitu seperti yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berikut ini.

 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abbas bin Abdil Muththalib :”Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau jika aku memberimu ? Maukah engkau jika aku menyantunimu? Maukah engkau jika aku menghadiahkanmu? Maukah engkau jika aku berbuat sesuatu terhadapmu? Ada sepuluh kriteria, yang jika engkau mengerjakan hal tersebut, maka Allah akan memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosamu, yang pertama dan yang paling terakhir, yang sudah lama maupun yang baru, tidak sengaja maupun yang disengaja, kecil maupun besar, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Sepuluh kriteria itu adalah : Hendaklah engkau mengerjakan shalat empat rakaat ; yang pada setiap rakaat engkau membaca surat al-Fatihah dan satu surat lainnya. Dan jika engkau sudah selesai membaca di rakaat pertama sedang engkau masih dalam keadaan berdiri, hendaklah engkau mengucapkan : subhanallah, walhamdulillah, walailaha illallah, wallahu akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah, dan Allah Maha Besar) sebanyak lima belas kali. Kemudian ruku, lalu engkau membacanya sepuluh kali sedang engkau dalam keadaan ruku. Lalu mengangkat kepalamu dari ruku seraya mengucapkannya sepuluh kali. Selanjutnya, turun bersujud, lalu membacanya sepuluh kali ketika dalam keadaan sujud. Setelah itu, mengangkat kepalamu dari sujud seraya mengucapkannya sepuluh kali. Kemudian bersujud lagi dan mengucapkannnya sepuluh kali. Selanjutnya, mengangkat kepalamu seraya mengucapkannya sepuluh kali. Demikian itulah tujuh puluh lima kali setiap rakaat. Dan engkau melakukan hal tersebut pada empat raka’at, jika engkau mampu mengerjakannya setiap hari satu kali, maka kerjakanlah. Dan jika engkau tidak bisa mengerjakannya setiap hari maka kerjakanlah setiap jum’at satu kali. Dan jika tidak bisa, maka kerjakanlah sekali setiap bulan. Dan jika tidak bisa, maka kerjakanlah satu kali setiap tahun. Dan jika tidak bisa juga, maka kerjakanlah satu kali selama hidupmu” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. [1]

 

Beberapa manfaat yang berkaitan dengan hadits shalat tasbih.

Pertama : Khithab di dalam hadits ini ditujukan kepada Al-Abbas, tetapi hukumnya berlaku umum, bagi setiap orang muslim. Sebab, landasan dasar dalam khithab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umum dan tidak khusus.

 

Kedua ; Sabda beliau di dalam hadits di atas : “Niscaya Allah akan memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosamu, yang pertama dan yang terakhir, lama dan baru, sengaja dan tidak disengaja, kecil maupun besar, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan”, adalah sepuluh kriteria.

 

Jika ada yang mengatakan : “Sabda beliau ; Sengaja maupun tidak sengaja, kata al-khatha’ di sini berarti yang tidak berdosa.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau bersalah” [Al-Baqarah : 286]

 

Lalu bagaimana Allah menjadikannya termasuk ke dalam perbuatan dosa?

Jawabnya : Di dalam kata al-khatha’ itu terkandung kekurangan atau ketidak sempurnaan, sekalipun tidak mengandung dosa. Dan shalat ini memiliki pengaruh tersebut.

 

Ketiga : Di dalam kitab, At-Tanqiih Limma Jaa-a fii Shalaatit Tasbiih, dia mengatakan : “Ketahuilah, mudah-mudahan Allah merahmatimu, bahwa hadits-hadits yang menyuruh mengerjakan amal-amal yang mencakup pengampunan dosa seperti ini tidak semestinya bagi seorang hamba untuk bersandar kepadanya, lalu membebaskan dirinya untuk mendekati perbuatan dosa. Kemudian dia beranggapan, jika dia melakukan suatu perbuatan, niscaya semua dosanya akan diampuni. Dan ini merupakan puncak dari kebodohan dan kepandiran. Apa yang membuatmu yakin, hai orang yang tertipu, bahwa Allah akan menerima amalmu itu dan selanjutnya akan mengampuni dosa-dosamu? Sedang Allah Azza wa Jalla telah berfirman.

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” [Al-Ma’idah : 27]

 

Perhatikan dan camkanlah hal tersebut. serta ketahuilah bahwa pintu masuk syaitan ke dalam diri manusia itu cukup banyak. Berhati-hatilah, jangan sampai syaitan memasuki dirimu melalui pintu ini

 

Dan Allah telah menyifati hamba-hambaNya yang beriman sebagai orang-orang yang mengerjakan amal shalih serta senantiasa berusaha berbuat taat kepadaNya. Namun demikian, hati mereka masih saja gemetar dan khawatir jika amal mereka tidak diterima sehingga ditimpakan siksaan ke wajah mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” [Al-Mu’minun : 60-61]

 

Dan apa yang kami kisahkan di dalam menafsirkan ayat ini merupakan pendapat mayoritas ahli tafsir

Di dalam kitab Al-Jaami (XII/132) Al-Qurthubi menyebutkan dari Al-Hasan, bahwasanya dia mengatakan : “Kami pernah mengetahui beberapa orang yang takut kebaikan mereka akan ditolak, (merasa) lebih prihatin daripada kalian yang tidak takut diadzab atas perbuatan dosa kalian”

 

Dan ketahuilah bahwa dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak manusia tidak tercakup ke dalam hadits di atas. Namun demikian, suatu keharusan untuk mengembalikan hak kepada pemiliknya, serta bertaubat dari hal tersebut dengan taubat nasuha’ [2]

 

Keempat : Tidak disebutkan penetapan bacaan dalam rakaat-rakaat tersebut dan tidak juga penetapan waktu pelaksanaannya

 

Kelima ; Lahiriyah hadits menyebutkan bahwa shalat tasbih itu dikerjakan dengan satu salam, baik malam hari maupun siang hari, sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Qari di dalam kitab Al-Mirqaat dan Al-Mubarakfuri di dalam kitab At-Tuhfah (I/349).

 

Keenam : Yang tampak adalah bacaan dzikir yang diucapkan sepuluh kali sepuluh kali itu diucapkan setelah dzikir yang ditetapkan di tempatnya masing-masing. Artinya, di dalam ruku’ dzikir-dzikir itu dibaca setelah dzikir ruku yang diucapkan sebanyak sepuluh kali, dan setelah ucapan : Sami’allaahu liman hamidah, Rabbana lakal hamdu, dan juga berdiri dari ruku dibaca sebanyak sepuluh kali. Demikianlah, hal itu dilakukan di setiap tempat masing-masing.

 

Ketujuh : Jika melakukan kelupaan dalam shalat ini, lalu mengerjakan dua sujud sahwi, maka dia tidak perlu lagi mengucapkan tasbih sepuluh kali seperti sujud-sujud shalat lainnya

 

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (II/350) dari Abdul Aziz bin Abi Razmah, dia bercerita, kukatakan kepada Abdullah Ibnul Mubarak :”Jika melakukan kelupaan dalam shalat itu, apakah dia perlu bertasbih sepuluh kali sepuluh kali di dalam dua sujud sahwi?” Dia menjawab :”Tidak, karena ia berjumlah tiga ratus kali tasbih” [3]

 

[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]

__________

Foote Note

[1]. Hadits hasan lighairihi. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Kitaabush Shalaah, bab Shalaatut Tasbiih, (hadits no. 1297), an lafazh di atas adalah miliknya. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam kitab Iqaamatush Shalaah wa Sunnah Fiihaa, bab Maa Jaa-a fii Shalaatit Tasbih, (hadits no. 1386).

Hadits ini dinilai kuat oleh sekelompok ulama, yang diantaranya adalah Abu Bakar Al-Ajurri, Abul Hasan Al-Maqdisi, Al-Baihaqi, dan yang sebelum mereka adalah Ibnul Mubarak. Demikian juga dengan Ibnus Sakan, An-Nawawi, At-Taaj As-Subki, Al-Balqini, Ibnu Nashiruddin Ad-Dimsyiqi, Ibnu Hajar, As-Suyuthi, Al-Laknawi, As-Sindi, Az-Zubaidi, Al-Mubarakfuri penulis kitab At-Tuhfah, dan Al-Mubarakfuri penulis kitab Al-Mir’aat dan Al-Allamah Ahmad Syakir serta Al-Albani dari kalangan orang-orang terakhir. Lihat juga kitab Risaalatut Tanqiih Limaa Jaa-a Fii Shaalatit Tasbiih, Jasim Ad-Dausari (hal 64-70)

[2]. At-Tanqiih Limaa Jaa-a Fii Shalaatit Tasbiih (hal.101-102)

[3]. Seluruh manfaat di atas selain yang pertama diambilkan dari risalah At-Tanqiih Limaa Jaa-a Fii Shalaatit Tasbiih (hal.100-107)

 

Alhamdulillah, terdapat hadits marfu’ (yang dirafa’kan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam) berkaitan dengan shalat Tasbih dan dihasankan oleh sebagian Ahlul ‘ilm, akan tetapi banyak diantara para ulama yang mendho’ifkan (melemahkan) hadits tersebut dan menganggapnya tidak masyru’. Dalam hal ini, al-Lajnah ad-Dâimah (semacam MUI-penj) telah ditanyai mengenai shalat Tasbih dan memberikan jawabannya sbb : “Shalat Tasbih adalah bid’ah dan hadits yang berkaitan dengannya tidak tsabit (tidak dapat dipertanggung jawabkan keshahihan sumbernya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam) bahkan (kualitasnya) adalah Munkar [hadits yang termasuk kategori lemah yang diriwayatkan oleh orang yang dha’if (lemah) bertentangan dengan riwayat orang yang dapat dipercayai (tsiqah)], dan sebagian Ahlul ‘ilm menyebutkan hadits tersebut dalam kategori hadits-hadits maudhu’ (palsu).(Lihat : Fatawa al-Lajnah ad-dâimah, jld. VIII, h. 163).

 

Syaikh Ibn ‘Utsaimin berkata : “Shalat Tasbih tidak masyru’ karena haditsnya lemah. Imam Ahmad berkata :'(hadits tentang shalat Tasbih) tidak shahih’, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :'(haditsnya) adalah dusta’. (Syaikh Utsaimin melanjutkan) :”Tidak seorang pun dari para Imam (Aimmah) yang memustahabkannya, dan benarlah (Syaikhul Islam) –rahimaulllah- . Sesungguhnya orang yang merenungkan shalat tersebut niscaya akan mendapatkan kejanggalan-kejanggalan didalamnya baik dalam tata caranya, sifatnya atau pun perbuatannya (prakteknya), ditambah lagi; bila benar ia (shalat Tasbih tsb) masyru’ niscaya termasuk hadits-hadits yang banyak diriwayatkan dan ditransformasikan lantaran banyaknya keutamaan dan pahalanya. Maka, tatkala (realitasnya) tidaklah demikian dan tak seorang pun dari para Imam yang memustahabkannya, disini diketahui bahwa ia (hadits yang berkaitan dengannya) bukanlah hadits yang shahih.

 

Dan diantara aspek kejanggalannya adalah (sebagaimana terdapat dalam teks hadits yang meriwayatkannya) : “(Dia mengerjakannya (shalat Tasbih) sekali dalam sehari atau dalam seminggu atau dalam sebulan atau dalam setahun atau seumur sekali).. Ini merupakan bukti bahwa ia (hadits tentang shalat ini) tidak shahih (sebab) jikalau benar ia masyru’ niscaya shalat tersebut dilakukan secara kontinyu ; tidak (dengan) memberikan pilihan kepada orang berupa pilihan yang amat jauh dan berbelit-belit. Maka berdasarkan hal tersebut, sesungguhnya tidaklah sepatutnya seseorang melakukannya. Wallahu a’lam. ( Fatawa Manaril Islam, I/203).

 

SHALAT HAJAT

Datanganya masalah ini atas pertanyaan seorang shahabat, tentang shalat hajat yang terdapat dalam kitab pedoman shalat (hal. 503) karangan Al-Ustadz Hasbi.

 

Sesuatu amal ibadah tidak boleh kita kerjakan sebelum mengetahui dua syarat utamanya.

 

Pertama : Dalilnya, baik Qur’an maupun Hadits

 

Kedua :Jika dalilnya itu dari hadits, maka jangan kita amalkan dulu sebelum kita mengetahui derajat hadits itu, sah (shahih dan hasan) datangnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak (dla’if/lemah)

 

Jika kedapatan hadits itu shahih atau hasan, maka bolehlah kita amalkan. Akan tetapi jika ternyata hadits itu dla’if, baik dla’ifnya ringan maupun berat, maka tidak boleh kita amalkan.

 

Tentang shalat hajat itu telah saudara ketahui ada dalilnya dari hadits sebagaimana tersebut di kitab pedoman shalat. Hanya sekarang yang perlu kita ketahui dalilnya itu sah atau tidak? Di bawah ini akan saya bawakan haditsnya sekalian saya terangkan derajatnya.

 

“Artinya : Dari Abdullah bin Abu Aufa, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa yang mempunyai hajat kepada Allah, atau kepada salah seorang dari bani Adam (manusia), maka hendaklah ia berwudlu serta membaguskan wudlu’nya kemudian shalat dua raka’at. Terus (setelah selesai shalat) hendaklah ia menyanjung Allah dan bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia mengucapkan (do’a) : Laa ilaaha illallahul haliimul kariim’ (dan seterusnya sampai) ‘ya arhamar rahimin”. [Riwayat Tirmidzi (dan ini lafadznya), Hakim dan Ibnu Majah]

 

Sanad hadits ini sangat lemah karena di sanadnya ada seorang rawi bernama Faaid bin Abdurrahman Abu Al-Waruqa.

 

Imam Tirmidzi sendiri setelah meriwayatkan hadits ini berkata.

“Hadits ini gahrib (asing), diisnadnya ada pembicaraan (karena) Faaid bin Abdurrahman telah dilemahkan di dalam hadits(nya)”.

 

Di bawah ini keterangan para ulama ahli hadits tentang Faaid bin Abdurahman.

 

[1]. Kata Abdullah bin Ahmad dari bapaknya (Imam Ahmad), “Matrukul hadits (orang yang ditinggalkan haditsnya)”.

[2]. Kata Imam Ibnu Ma’in, “Dla’if, bukan orang yang tsiqat (kepercayaan)”.

[3]. Kata Imam Abu Dawud, “Bukan apa-apa (istilah untuk rawi lemah)”.

[4]. Kata Imam Nasa’i, “Bukan orang yang tsiqat, matrukul hadits”.

[5]. Kata Imam Abu Hatim, “Hadits-haditsnya dari Ibnu Abi Aufa batil-batil (sedng hadits ini Faaid riwayatnya dari Ibnu Abu Aufa)”

[6]. Kata Imam Al-Hakim, “Ia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa hadits-hadits maudlu (palsu)”.

[7]. Kata Imam Ibnu Hibban, “Tidak boleh berhujjah dengan (riwayat)nya”

[8]. Kata Imam Bukhari, “Munkarul hadits (orang yang diingkari haditsnya)”.

 

Imam Bukhari pernah mengatakan, “Setiap rawi yang telah aku katakan padanya munkarul hadits, maka tidak boleh (diterima) riwayatnya” [Lihat Mizanul I’tidal jilid 1 halaman 6]

 

Setelah kita ikuti keterangan-keterangan di atas, maka tahulah kita bahwa derajat hadits shalat hajat sangat lemah yang tidak boleh diamalkan. Jika ada hadits lain dan telah sah riwayatnya, baru boleh kita amalkan.

 

Periksalah kitab-kitab:

Al-Mustadrak Hakim 1/320

Sunan Tirmidzi 1/477

Sunan Ibnu Majah no. 1384

Tahdzibut Tahdzib 8/255

Al-Adzkar halaman 156. [1]

 

[Disalin da kitab Al-Masa’il (Masalah-Masalah Agama) Jilid 2, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam, Jakarta. Cetakan I Th 1423/2002M]

5 Comments

  1. Saya ingin bertanya,saya pemuda umur 21thn saya kerja perantauan saat waktu itu di pagi hari saya niat shalat tasbih setelah shalat duha,,saat shalat tasbih mau selesai tiba” shalat saya terpaksa ditinggalkan karna teman satu kontrakan saya pulang saat baca tasbih teman saya gedor” pintu seakan memeksa masuk,di sisi lain saya blm selesai shalat tasbih di sisi lain kehusuan saya tergaggu,,di sisi lain temen saya tidak mengerti bahwa saya sedang menjalakan shlat ,,mungkin pertanyaanya sepele tapi saya takut dosa dengan meniinggalkan shalat tersebut,,karna saya jauh ingin belajar dan berniat sellalu mendekat kepada allah SWT ..mohon di luruskan?

    • Ahamdulillah, semoga Allah pun mendekat dan senantiasa menjaga keteguhan saudara untuk ingin belajar dan mendekat kepadaNya. yang saudara lakukan insyaAllah tidak mengapa membatalkan shalat sunnah karena hal tersebut. Namun ketika nanti hal serupa kembali terjadi, saudara boleh berjalan membukakan pintu tanpa berbicara kemudian melanjutkan shalat, karena berjalan membukakan pintu ketika sedang shalat tidak membatalkan shalat, selama tidak melakukan pembicaraan, atau saudara bisa berdehem memberikan isyarat bahwa saudara sedang shalat. insyaAllah tentang gerakan yang diperboleh dalam shalat akan kami upload. Semoga bermanfaat… Wallohu a’lam

  2. yang ingin saya tanyakan adalah lalu mengapa banyak para ulama besar yg mengajarkan sholat hajat yang sebagian ulama menyebut hadist ini lemah? di Indonesia masih banyak yg melakukan sholat hajat karena ajaran dari kecil. Kalau saya bertanya pada anda pasti jawabannya hadist lemah tp belum tentu kalo saya tanya ke ulama yg mengatakan hadist ini soheh. saya jadi bingung…siapa yang bisa menentukan hadist ini soheh atau tidak.. kasian ummat…trims

    • Semoga Allah menambahkan semangat saudari, saya dan seluruh ummat untuk menambah keilmuan dalam agama ini. Masalah fiqih adalah masalah yang terdapat pada area diperbolehkan adanya perbedaan, maka barangsiapa yang berkeyakinan/mengambil pendapat bahwa hadits tentang shalat hajat adalah shahih maka silahkan ia shalat hajat, dan barangsiapa yang berkeyakinan/mengambil pendapat bahwa hadits tentang shalat hajat tidak shahih maka ia jangan shalat hajat. Yang bisa menentukan sebuah hadits itu shahih atau tidak adalah para ulama ahli hadits, bukan ditentukan oleh saya dan bukan juga bukan oleh ustadz yang terkenal. Maka hendaknya perbedaan dalam masalah fiqih/ijtihadiyyah tidaklah menimbulkan sebuah perpecahan, sungguh indah akhlak Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, yang mereka berbeda pendapat dalam masalah penentuan Qunut Subuh akan tetapi hal tersebut tidak merenggangkan hubungan mereka sebagai guru dan murid. Poin penting dalam masalah fiqih yang sering saya sampaikan adalah apabila seseorang beramal dan ia mengetahui dalilnya dari al Qur’an dan Sunnah maka insyaAllah ia mendekati kebenaran, namun apabila seseorang beramal tanpa mengetahui dalilnya, atau karena mengikuti ustadznya/gurunya/tradisinya maka sungguh ia telah salah.
      Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Israa: 36)
      Maka wajib bagi kita untuk mengetahui ilmu dari setiap amalan kita, dan wajib pula bagi kita untuk memberi pemahaman kepada saudara-saudara kita bahwa hendaknya perbedaan dalam masalah ini tidak membuat kita saling menghujat, yang akan menyebabkan kita saling berselisih, yang ini akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala. Mohon maaf bila ada kata yang salah, terima kasih atas komentarnya, semoga Allah Ta’ala memberikan balasan yang baik untuk semua ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesuai dengan niat dan amalannya. Wallohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s