An-Naba : 1-16

AN-NABA’

 

عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ

1.  Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?

Yakni perkara yang dipertanyakan oleh orang-orang yang mendustakan alQur’an dan selainnya. Kemudian Allah Ta’ala menjawab dengan ayat selanjutnya:

عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ. الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ

2.  Tentang berita yang besar, 3.  Yang mereka perselisihkan tentang ini.

Berita besar yang dimaksud adalah keterangan dan hidayah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, terutama berita tentang hari berbangkit, hari pembalasan, hari kiamat. Orang-orang yang memperselisihkan berita tersebut ada yang mengimani, ada yang mengingkari dan mendustakannya, dan ada pula yang masih ragu dan bimbang. Lalu Allah menjelaskan bahwa mereka yang mendustakannya kelak akan mengetahui dengan seyakin-yakinnya tentang kebenaran berita besar yang dahulu ketika di dunia mereka mendustakannya. Hal tersebut Allah nyatakan pada ayat selanjutnya:

كَلَّا سَيَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ

4.  Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, 5.  Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka Mengetahui.

Ini adalah sanggahan terhadap pendapat orang-orang kafir Mekah yang mengingkari hari berbangkit dan hari kiamat. Ayat kelima merupakan penegasan makna dari ayat keempat. Maksud ‘mereka akan mengetahui’ ialah mereka akan mengetahui dengan pengetahuan yang seyakin-yakinnya dan menyaksikan seperti yang telah diberitakan kepada mereka sebelumnya.

 

Kemudian sampai ayat ke 16 Allah Ta’ala menyebutkan nikmat-nikmatNya kepada semua makhlukNya agar mereka dapat mengetahui sehingga wajib bagi mereka untuk mensyukurinya. Allalh berfirman:

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا

6.  Bukankah kami Telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,

Yakni, AllahTa’ala telah menjadikan bumi ini terhampar bagi makhluk di atasnya. Tidak terlalu keras sehingga bisa digunakan untuk bercocok tanam dan tidak pula terlalu lunak sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Namun Allah menghamparkan bumi ini sesuai dengan kemaslahatan manusia dan kepentingan mereka.

وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا

7.  Dan gunung-gunung sebagai pasak?,

Yakni Allah Ta’ala menjadikan gunung sebagai pasak bagi bumi, seperti pasak yang menyangga kemah sehingga dapat berdiri tegak. Berkenaan dengan hal ini para ahli bumi menyatakan, “Gunung-gunung memiliki akar yang tertancap dalam ke bawah perut bumi, sebagaimana halnya paku yang tertancap ke dalam dinding”.

Karena sebab inilah gunung menjadi keras dan kokoh, tidak dapa digoyahkan dengan tiupan angin.

 

وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا

8.  Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan,

Yakni, berjenis-jenis. Ada laki-laki dan ada perempuan, ada yang besar dan ada yang kecil, ada yang merah dan ada yang hitam, ada yang bahagia dan ada yang celaka. Demikianlah Allah ciptakan menusia memiliki corak ragam yang berbeda satu sama lain, sebagai pelajaran, bahwa Allah mampu menciptakan manusia tanpa ayah dan ibu (Adam), menciptakan manusia ada ayah dan tanpa ibu (hawa), menciptakan manusia tanpa ayah da nada ibu (Isa), dan sudah pasti Allah mudah menciptakan manusia dengan adanya ayah dan ibu. Dan juga agar manusia mengetahui ke-Maha Kuasaan Allah yang mampu menciptakan dari sumber yang satu namun menghasilkan bentuk dan rupa yang berbeda-beda.

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

9.  Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat,

Yakni dengan tidur yang cukup dapat melepaskan kepenatan dan kelelahan yang dirasakan sebelumnya, sehingga tubuh menjadi segar kembali.sebagaimana firman Allah:

وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (QS. Ar Ruum [30]: 23)

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

10.  Dan kami jadikan malam sebagai pakaian,

Malam itu disebut sebagai pakaian Karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai Pakaian menutupi tubuh manusia. Yakni Allah menjadikan malam sebagai pakaian yang menyelimuti bumi, seolah-oleh jilbab yang menutupinya. Hal ini tidak akan dapat diketahui secara sempurna kecuali dengan melihatnya secara langsung dari atas bumi.

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

11.  Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,

Yakni sebagai waktu untuk mencari penghidupan (bekerja mencari nafkah). Manusia mencari rejeki di siang hari sesuai dengan kedudukan dan keadaan mereka masing-masing. Ini merupakan salah satu kenikmatan Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya.

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا

12.  Dan kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,

Yakni tujuh lapis langit. Allah menyebutnya kokoh karena memang tujuh lapis langit tersebut sangat kuat, sebagaimana disebutkan dalam ayat yang lain

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

 “Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa” (QS. Adz Dzaariyat [51]: 47)

 

 

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

13.  Dan kami jadikan Pelita yang amat terang (matahari),

Yaitu matahari sebagai pelita yang bersinar sekaligus memiliki panas yang sangat besar. Kata “wahhaaja” artinya sangat menyala. Panasnya sangat menyengat meski jaraknya sangat jauh dengan bumi, kemudian panasnya yang sangat menyengat pada musim panas berasal dari hembusan api Neraka. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ حَدَّثَنَا الْأَعْرَجُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَغَيْرُهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَنَافِعٌ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُمَا حَدَّثَاهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا عَنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Sulaiman bin Bilal berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar dari Sulaiman berkata, Shalih bin Kaisan telah menceritakan kepada kami Al A’raj ‘Abdurrahman, dan selainnya dari Abu Hurairah dan Nafi’ mantan budak ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa keduanya menceritakan kepadanya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Jika udara sangat panas menyengat maka tundalah shalat, karena panas yang sangat menyengat itu berasal dari hembusan api neraka jahannam.”

(HR. Imam Bukhari, Shahih Bukhari kitab Waktu-Waktu Shalat bab: Menunda Shalat Zhuhur pada Saat Panas Sangat Menyengat Hingga Udara Menjadi Sejuk No.536/502. Dan Imam Muslim meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih Muslim kitab Shalat bab: Menanti Dingin untuk Mengerjakan Shalat Ketika Hari Sangat Panas)

 

     Dalam hadits lain disebutkan:

 حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اشْتَكَتْ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنْ الْحَرِّ وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنْ الزَّمْهَرِيرِ

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata telah bercerita kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Neraka mengadu kepada Rabbnya seraya berkata; “Wahai Tuhanku, sebagianku (api) saling memakan satu sama lain”. Maka neraka diizinkan untuk berhembus dua kali. Satu kali pada saat musim dingin dan satu kali lagi pada saat musim panas. Maka hawa panas yang kamu rasakan merupakan hawa panas dari hembusan api neraka dan hawa dingin yang kamu rasakan merupakan hawa dingin dari zamharir (hawa dingin) jahannam”.

(HR. Imam Bukhari, Shahih Bukhari kitab Permulaan Penciptaan Makhluk bab: Sifat neraka, dan sesungguhnya ia adalah mahluk no.3620/3020)

 

Namun dibalik itu ada manfaatnya bagi makhluk. Cahayanya memenuhi kebutuhan bagi makhluk pada siang hari sehingga mereka tidak perlu lagi menyalakan lampu dan energy panas matahari tersebut banyak dimanfaat oleh makhluk, selain untuk diubah oleh manusia menjadi berbagai energy yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari, dan tidak kalah pentingnya pula adalah bermanfaat untuk fotosintesis bagi tumbuhan dan membuat buah-buahan menjadi matang.

وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا

14.  Dan kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah,

Yaitu air yang membawa kelembaban dan kesejukan, yang menumbuhkan dan menghidupkan bumi. Maka jika digabungkan antara panas matahari dengan air dari langit (hujan), maka akan mematangkan buah-buah, dan akan menumbuhkannya dengan sempurna. Allah menyebutnya mu’shiraat karena seolah-olah awan tersebut memeras air hingga tercurah dari sela-sela awan ke bawah seperti air yang keluar dari baju yang diperas. Firman Allah: Air yang banyak diperas, yakni tercurah dengan sangat lebat dan kuat sehingga mampu menyirami bumi.

لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا

15.  Supaya kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan,

Yakni supaya Allah tumbuhkan dengan air yang turun dari langit itu berbagai biji-bijian seperti gandum, padi, jagung dan lain sebagainya, serta berbagai macam jenis buah-buahan. Kemudian Allah berfirman:

وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا

16.  Dan kebun-kebun yang lebat?

Yakni kebun-kebun yang lebat dan saling bertaut satu sama lain dengan jumlahnya yang banyak, indah dan mengagumkan. Tanaman-tanaman itu tumbuh langsung atau melalui perantaraan air yang diserap dari perut bumi yang berasal dari hujan, sebagaimana disebutkan dalam ayat:

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

Dan kami Telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (QS. Al Hijr [15]: 22)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi Kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, Kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az Zumar [39]: 21)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s