TATA CARA SHALAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM (5) s.d duduk tasyahud

TATA CARA SHALAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM (5)

 

Duduk Antara Dua Sujud

Duduk ini dilakukan antara sujud yang pertama dan sujud yang kedua, pada roka’at pertama sampai terakhir. Ada dua macam cara duduk antara dua sujud, yaitu:

  1. Duduk iftirasy (duduk dengan meletakkan pantat pada telapak kaki kiri dan kaki kanan ditegakkan)

Dari A’isyah Radhiallahu ‘Anha ia berkata:

“Adalah Beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya”. (HR. Muslim no.498, Abu Dawud no.783)

  1. dan duduk iq’a (duduk dengan menegakkan kedua telapak kaki dan duduk diatas tumit).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang duduk iq’a, yakni duduk dengan menegakkan telapak dan tumit kedua kakinya. (Hadits dikeluarkan oleh Muslim)

 

Waktu duduk antara dua sujud ini telapak kaki kanan ditegakkan dan jarinya diarahkan ke kiblat:

Beliau menegakkan kaki kanannya (Al Bukhari)

Menghadapkan jari-jemarinya ke kiblat (An Nasai)

 

Bacaannya

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ.

“Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku, wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.” [HR. Abu Dawud no.874, Ibnu Majah no.897]

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَعَافِنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

“Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku, selamatkan aku (tubuh sehat dan keluarga terhindar dari musibah), tunjukkanlah aku (ke jalan yang benar), berilah aku rezeki (yang halal)” [HR.Abu Dawud no.850]

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

“Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku, cukupkanlah aku, tunjukkanlah aku (ke jalan yang benar), berilah aku rezeki (yang halal)” [HR.Tirmidzi no.284]

 

 

 

Menuju Rokaat Berikutnya

Pada masalah ini ada dua tempat/kondisi, yaitu :

1. Bangkit menuju roka’at berikut dari posisi sujud kedua pada akhir roka’at pertama dan ketiga.

2. Bangkit dari posisi duduk tasyahhud awal pada roka’at kedua.

 

Disela duduk istirahat

Dari Abu Qilabah ia berkata: Telah bercerita kepada kami Malik bin Huwairits al-Laitsi bahwa ia pernah melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat, yaitu apabila beliau selesai dari rakaat ganjil dari shalatnya, tidak langsung bangun sebelum duduk (istirahat) dengan sempurna. (HR. Bukhari no.798, Abu Dawud no.844)

 

Pertama

Bangkit/bangun dari sujud untuk berdiri (dari akhir roka’at pertama dan ketiga) didahului dengan duduk istirahat atau tanpa duduk istirahat, bangkit berdiri seraya bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. Ketika bangkit bisa dengan tangan bertumpu pada lantai atau bisa juga bertumpu pada pahanya.

 

Tangan bertumpu pada satu pahanya

Dari Wail bin Hujr, “Maka tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud dia meletakkan kedua lututnya ke lantai sebelum meletakkan kedua tangannya …..dan apabila bangkit dia bangkit atas kedua lututnya dengan bertumpu pada satu paha.” (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud)

 

Tangan bertumpu pada lantai (tempat sujud)

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertumpu pada lantai ketika bangkit ke roka’at kedua. (Hadits dikeluarkan oleh Bukhari)

 

Dari Malik bin Huwairits ketika menceritakan tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ia berkata:

“Dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud kedua, ia duduk sambil bertekan pada lantai, kemudian bangkit”. (HR.Bukhari no.790)

Kedua

Bangkit dari duduk tasyahhud awwal (dari roka’at kedua) dengan mengangkat kedua tangan seraya bertakbir seperti pada takbiratul ihram.

 

Mengangkat tangan ketika takbir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangkit dari duduknya mengucapkan takbir, kemudian berdiri (Hadits dikeluarkan oleh Abu Ya’la). Setelah itu kemudian shalat dengan gerakan yang sudah disebutkan

 

Duduk Tasyahhud Awwal dan Akhir

Waktu dilakukannya

Duduk tasyahhud awwal terdapat hanya pada shalat yang jumlah roka’atnya sama dengan atau lebih dari dua (2), pada shalat wajib dilakukan pada roka’at yang ke-2. Sedang duduk tasyahhud ahir dilakukan pada roka’at yang terakhir. Masing-masing dilakukan setelah sujud yang kedua.

 

Cara duduk tasyahhud awwal dan tasyahhud akhir

 

 

 

 

Waktu tasyahhud awwal duduknya iftirasy (duduk diatas telapak kaki kiri)

 

 

 

 

 

 

 

sedang pada tasyahhud akhir duduknya tawaruk (duduk dengan kaki kiri dihamparkan kesamping kanan dan duduk diatas lantai)

 

 

Pada masing-masing posisi duduk kaki kanan ditegakkan.

Dari Abi Humaid As-Sa’idiy menceritakan tentang sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata

“Maka apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dalam dua roka’at (-tasyahhud awwal) beliau duduk diatas kaki kirinya dan menancapkan yang kanan, apabila duduk dalam roka’at yang akhir (-tasyahhud akhir) beliau memajukan kaki kirinya dan menancapkan kaki kanannya serta duduk di atas lantai” (HR.Bukhari no.794)

 

Letak tangan ketika duduk

Untuk kedua cara duduk tersebut tangan kanan ditaruh di paha kanan sambil berisyarat dan/atau menggerak-gerakkan jari telunjuk dan penglihatan ditujukan kepadanya, sedang tangan kirinya ditaruh/terhampar di paha kiri

Ibnu ‘Umar menceritakan tentang shalat Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam  “Apabila (beliau) duduk dalam shalat, meletakkan telapak tangannya yang kanan di atas pahanya yang kanan dan memegang seluruh jari-jarinya dan berisyarat dengan jari yang mengiringi ibu jarinya (yaitu jari telunjuk) dan meletakkan telapak tangannya yang kiri di atas pahanya yang kiri”. (HR. Muslim no.580, Nasa-i no.1267, Abu Dawud no.987).

 

Berisyarat dengan telunjuk, boleh digerakkan boleh tidak digerakkan

Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Nasa’i disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melihat seorang sahabat berdoa sambil mengacungkan dua jarinya. Lalu Beliau  Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda sambil mengacungkan telunjuknya kepada orang itu ”Satu saja! Satu saja!.”

Selama melakukan duduk tasyahhud awwal maupun tasyahhud akhir, berisyarat dengan telunjuk kanan, disunnahkan menggerak-gerakkannya. Kadang pada suatu shalat digerakkan pada shalat lain boleh juga tidak digerak-gerakkan.

“Kemudian beliau duduk, maka beliau hamparkan kakinya yang kiri dan menaruh tangannya yang kiri atas pahanya dan lututnya yang kiri dan ujung sikunya diatas paha kanannya, kemudian beliau menggenggam jari-jarinya dan membuat satu lingkaran kemudian mengangkat jari beliau maka aku lihat beliau menggerak- gerakkannya berdo’a dengannya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa-i).

 

Dari Abdullah Bin Zubair bahwasanya ia menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jarinya ketika berdoa dan tidak menggerakannya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud).

 

Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam merenggangkan telapak tangan kiri diatas lutut kirinya. Tetapi Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menggenggam semua jari tangan kanannya dan mengacungkan telunjuknya ke kiblat. Lalu mengarahkan pandangan mata ke telunjuknya.

 

Pada riwayat yang sama disebutkan bahwa ketika Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam mengacungkan telunjuknya ibu jarinya memegang jari tengah. Terkadang ibu jari dan jari tengahnya membentuk lingkaran.

 

Dari Nafi’ ia berkata: “Adalah Ibnu ‘Umar apabila duduk dalam shalat meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya, dan berisyarat dengan jari (telunjuk)nya dan diiringi dengan penglihatannya (ke arah jari tersebut), kemudian berkata: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jari telunjuk ini benar-benar lebih keras bagi syaithan dari pada besi”.” (HR. Ahmad no.6000)

 

Mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud hingga akhir

Madzhab kebanyakan orang-orang Syafiiyyah menyatakan bahwa disunnahkan berisyarat dengan jari telunjuk kemudian diangkat jari telunjuk tersebut ketika mencapai kata hamzah dari kalimat Laa ilaaha illallah. Hal ini disebutkan oleh Imam An Nawawy dalam Al-Majmu’  3/434 dan dalam Minhaj Ath-Tholibin hal.12.

 

Dan hal yang sama disebutkan oleh Imam Ash-Shon’any dalam Subulus Salam 1/362 dan beliau tambahkan bahwa hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqy.

 

Namun tidak ada keraguan bahwa yang disyariatkan dalam hal ini adalah mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud hingga akhir. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih yang sangat banyak jumlahnya yang telah tersebut sebagiannya yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ketika duduk tasyahud beliau menggenggam jari-jari beliau lalu membuat lingkaran kemudian mengangkat telunjuknya, maka dzahir hadits ini menunjukkan beliau mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud sampai akhir.

 

Adapun bantahan terahadap madzhab orang-orang Syafiiyyah maka jawabannya adalah sebagai berikut :

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqy itu adalah hadits Khafaf bin Ima’ dan di dalam sanadnya ada seorang lelaki yang tidak dikenal maka ini secara otomatis menyebabkan hadits ini lemah.

2. Hal yang telah disebutkan bahwa dzohir hadits-hadits yang shohih menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengangkat jari telunjuk dari awal hingga ahir menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqy tersebut sehingga ini semakin mempertegas lemahnya riwayat Al-Baihaqy tersebut.

3. Orang-orang Syafiiyyah sendiri tidak sepakat tentang sunnahnya mengangkat jari telunjuk ketika mencapai huruf hamzah dari kalimat Laa Ilaaha Illallah, karena Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu’ 3/434 menukil dari Ar-Rafi’y (salah seorang Imam besar dikalangan Syafiiyyah) yang menyatakan bahwa tempat mengangkat jari telunjuk adalah pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir.

4. Hal yang disebutkan oleh orang Syafiiyyah ini tidak disebutkan di dalam madzhab para ulama yang lain. Ini menunjukkan bahwa yang dipakai oleh para ulama adalah mengangkat jari telunjuk pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir.

 

Kesimpulan :

Jadi yang benar di dalam masalah ini adalah bahwa jari telunjuk disyariatkan untuk diangkat dari awal tasyahud hingga akhir dan tidak mengangkatnya nanti ketika mencapai huruf hamzah dari kalimat Laa Ilaaha Illallah.

Wallohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s