KETIKA RAMADHAN AKAN TIBA

KETIKA RAMADHAN AKAN TIBA

 

CARA MENETAPKAN AWAL BULAN RAMADHAN

Awal bulan Ramadhan ditetapkan dengan melihat hilal (bulan), namun apabila terhalang/tidak terlihat, maka dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) shaumlah, dan apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah.” Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: “Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari.” Menurut riwayat Bukhari: “Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari.” (lihat Bulughul Maram, bab shiyam no.671)

Menurut riwayatnya dari hadits Abu Hurairah: “Maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban 30 hari.” (lihat Bulughul Maram, bab shiyam no.672)

 

Umat Islam seyogyanya menghitung bulan Sya’ban sebagai persiapan memasuki Ramadhan. Karena satu bulan itu terkadang dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari, maka berpuasa (itu dimulai) ketika melihat hilal bulan Ramdhan.

 

Jika terhalang awan hendaknya menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Karena Allah menciptakan langit-langit dan bumi serta menjadikan tempat-tempat tertentu agar manusia mengetahui jumlah tahun dan hisab. Satu bulan tidak akan lebih dari tiga puluh hari.

 

Melihat hilal untuk Iedul Fitri teranggap kalau ada dua orang saksi yang adil, berdasarkan sabda Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah kalian karena melihatnya, berhajilah kalian karena melihat hilal, jika kalian tertutup awan, maka sempurnakanlah (bilangan bulan Sya’ban menjadi) tiga puluh hari, jika ada dua saksi berpuasalah kalian dan berbukalah”. (HR. An-Nasa’i, Ahmad, Ad-Daruquthni. Lafadz di atas adalah pada riwayat An-Nasa’i, Ahmad menambahkan : “Dua orang muslim”.

 

Tidak diragukan lagi, bahwa diterimanya persaksian dua orang dalam satu kejadian tidak menunjukkan persaksian seorang diri itu ditolak, oleh karena itu persaksian seorang saksi dalam melihat hilal tetap teranggap (sebagai landasan untuk memulai puasa), dalam suatu riwayat yang shahih

 

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Orang-orang melihat bulan sabit, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau shaum dan menyuruh orang-orang agar shaum. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim dan Ibnu Hibban. (lihat Bulughul Maram, bab shiyam no.673)

 

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, ia berkata: “Manusia mencari-cari hilal, maka aku khabarkan kepada Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa aku melihatnya, maka Rasululah pun menyuruh manusia berpuasa”. (HR. Abu Dawud, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

 

Perhatikanlah!!! Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anh sebagai masyarakat melaporkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Pemerintah, kemudian Beliau sebagai pemerintah mengumumkan waktunya Ramadhan, dengan kata lain sebagai masyarakat, kita berpuasa bersamaan dengan waktu yang ditetapkan oleh pemerintah.

 

Barangsiapa yang melihat hilal sendirian atau sekelompok maka tidak diperbolehkan berpuasa sebelum masyarakat berpuasa dan tidak pula berbuka sebelum masyarakat berbuka (iedul fitri), yang ini tentunya hanya terjadi ketika penguasa telah mengumumkan awal Ramadhan dan Syawal.

 

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Puasa adalah pada hari kamu sekalian berpuasa, berbuka (iedul Fitri) adalah pada hari kamu sekalian berbuka, dan hari kurban (iedul Adha) adalah hari kamu sekalian menyembelih binatang kurban”. (HR. Tirmidzi)

 

YANG BOLEH DILAKUKAN OLEH ORANG YANG PUASA

Seorang hamba yang taat serta paham Al-Qur’an dan Sunnah tidak akan ragu bahwa Allah menginginkan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya dan tidak menginginkan kesulitan. Allah dan Rasul-Nya telah membolehkan beberapa hal bagi orang yang puasa, dan tidak menganggapnya suatu kesalahan jika mengamalkannya. Inilah perbuatan-pebuatan tersebut beserta dalil-dalilnya.

 

[1]. Memasuki Waktu Subuh Dalam Keadaan Junub

Di antara perbuatan Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah masuk fajar dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, beliau mandi setelah fajar kemudian shalat.

 

Dari Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anhuma.

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, kemudian ia mandi dan berpuasa” [HR. Bukhari dan Muslim]

 

[2]. Bersiwak

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudlu” [HR.Bukhari, Muslim, dll]

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkhususkan bersiwak untuk orang yang puasa ataupun yang lainnya, hal ini sebagai dalil bahwa bersiwak itu diperuntukkan bagi orang yang puasa dan selainnya ketika wudlu dan shalat. [Inilah pendapat Bukhari Rahimahullah, demikian pula Ibnu Khuzaimah dan selain keduanya. Lihat Fathul Bari 4/158, Shahih Ibnu Khuzaimah 3/247, Syarhus Sunnah 6/298]

 

[3]. Berkumur Dan Istinsyaq

Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam keadan puasa, tetapi melarang orang yang berpuasa berlebihan ketika beristinsyaq.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“…Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa” [HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Majah, An-Nasaai]

 

[4]. Bercengkrama Dan Mencium Isteri

Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah berkata.

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dalam keadaan berpuasa dan bercengkrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri” [HR. Bukhari dan Muslim]

 

“Kami pernah berada di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, datanglah seorang pemuda seraya berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ?” Beliau menjawab, “Tidak”. Datang pula seorang yang sudah tua dan dia berkata : “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ?”. Beliau menjawab : “Ya” sebagian kami memandang kepada teman-temannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang tua itu (lebih bisa) menahan dirinya”.

[Hadits Riwayat Ahmad 2/185,221 dari jalan Ibnu Lahi’ah dari yazid bin Abu Hubaib dari Qaushar At-Tufibi darinya. Sanadnya dhaif karena dhaifnya Ibnu Lahi’ah, tetapi punya syahid (pendukung) dalam riwayat Thabrani dalam Al-Kabir 11040 dari jalan Habib bin Abi Tsabit dari Mujahid dari Ibnu Abbas, Habib seorang mudallis dan telah ‘an-‘anah, dengan syahid ini haditsnya menjadi hasan, lihat Faqih AL-Mutafaqih 192-193 karena padanya terdapat hadits dari jalan-jalan yang lain]

 

 

 

[5]. Mengeluarkan Darah dan Suntikan Yang Tidak Mengandung Makanan [Lihat Risalatani Mujizatani fiz Zakati washiyami hal.23 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah]

Hal ini bukan termasuk pembatal puasa, hukum asal segala sesuatu adalah boleh hingga datang dalil yang melarangnya. Jika hal tersebut terlarang bagi orang yang berpuasa maka pastilah ada dalil yang melarangnya. “Dan tidaklah Rabbmu lupa”. (QS. Maryam: 64)

 

[6]. Berbekam

Dahulu berbekam merupakan salah satu pembatal puasa, namun kemudian dihapus dan telah ada hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berbekam ketika puasa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam, padahal beliau sedang berpuasa” [HR.Bukhari]

 

[7]. Mencicipi Makanan

Hal ini dibatasi, yaitu selama tidak sampai di tenggorokan berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

“Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaan puasa, selama tidak sampai ke tenggorokan” [Hadits Riwayat Bukhari secara mu’allaq 4/154-Fath, dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah 3/47, Baihaqi 4/261 dari dua jalannya, hadits ini Hasan. Lihat Taghliqut Ta’liq 3/151-152]

 

[8]. Bercelak, Memakai Tetes Mata Dan Lainnya Yang Masuk Ke Mata

Benda-benda ini tidak membatalkan puasa, baik rasanya yang dirasakan di tenggorokan atau tidak. Inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnya yang bermanfaat dengan judul Haqiqatus Shiyam serta murid beliau yaitu Ibnul Qayim dalam kitabnya Zadul Ma’ad, Imam bukhari berkata dalam shahhihnya[4] : “Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakha’i memandang, tidak mengapa bagi yang berpuasa”.

 

[9]. Mengguyurkan Air Ke Atas Kepala Dan Mandi

Bukhari menyatakan dalam kitab Shahihnya Bab : Mandinya Orang Yang Puasa, Umar membasahi  bajunya kemudian dia memakainya ketika dalam keadaan puasa. As-Sya’bi masuk kamar mandi dalam keadaan puasa. Al-Hasan berkata : “Tidak mengapa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa”.

 

Dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ia bertanya: Sungguh saya benar-benar pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di daerah ‘Arj* beliau menuangkan air di atas kepalanya padahal beliau berpuasa karena haus dahaga atau karena suhu sangat panas”. (HR. Abu Dawud)

 

[10]. Meminum Air Pada Gelas Yang Sedang Dipegang Ketika Adzan

Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian mendengar adzan (subuh/fajar shadiq) padahal gelas ada di tangannya, janganlah ia letakkan hingga memenuhi hajatnya (meminum airnya)”. (HR. Abu Dawud, Ibnu Jarir, Al Hakim, Baihaqi, dan Ahmad)

 

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu:

“Telah dikumandangkan iqamah shalat, ketika itu di tangan Umar masih ada gelas, dia berkata : ‘Boleh aku meminumnya ya Rasululah ?’ Rasululah bersabda : “Ya’ minumlah”. (HR

 

Jelaslah bahwa menghentikan makan sebelum terbit Fajar Shadiq dengan dalih hati-hati adalah perbuatan bid’ah yang diada-adakan. Tentang hal ini Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath 4/199: “Termasuk perbuatan bid’ah yang mungkar”

 

Maraji’:

–        Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid)

–        Al Wajiz, Kitab Ash Shiyam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s