DOA BUKA PUASA DAN SYARI’AT SHALAT TARAWIH

DOA BUKA PUASA DAN SYARI’AT SHALAT TARAWIH

 

BACAAN DOA BERBUKA PUASA

Hadits Pertama

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (artinya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui)”. [Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir]

Sanad hadits ini sangat Lemah/Dloif

 

Hadits Kedua.

“Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka)”. [Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shagir hal 189 dan Mu’jam Awshath]

Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if

 

Bacaan-bacaan doa di atas tidak dapat diamalkan karena haditsnya lemah, adapun bacaan “Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu birahmatika yaa Arhamaa Raahimiin”, wallohu a’lam karena keterbatasan ilmu saya, saya belum temukan hadits tentang doa puasa dengan lafazh seperti itu. Yang ada haditsnya lemah saja tidak boleh diamalkan apalagi yang tidak ada haditsnya.

 

Lantas apakah yang dilakukan dan dibaca ketika berbuka puasa?

Diantara yang harus diperhatikan ketika berbuka puasa adalah sebagai berikut :

  1. Menyegerakan berbuka sebelum shalat maghrib

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘Anh, Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR. Ibnu Hibban (891) dengan sanad Shahih)

  1. Disunnahkan berbuka dengan kurma, jika tidak maka dengan sesuatu yang berair dan manis

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anh (ia berkata): Adalah Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbuka dengan korma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air” (HR. Ahmad (3/163), Abu Dawud (2/306), Ibnu Khuzaimah (3/277,278),

Tirmidzi 93/70) dengan dua jalan dari Anas, sanadnya shahih.)

  1. Bacaan doa berbuka puasa

Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله

(Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah). [Hadits HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa’i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239]

 

SHALAT TARAWIH

Shalat tarawih disyari’atkan secara berjama’ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyalahu ‘anha.

“Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpulah banyak orang. Ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasululah Shalalalhu ‘alaihi wa salam keluar dan shalat. Ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama’ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian bersabda.

“Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya”

Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat dalam keadaan tidak pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama’ah” (HR. Bukhari 3/220 dan Muslim 761.)

 

Abdurrahman bin Abdin Al-Qoriy beliau berkata:

“Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu ‘Anh suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok. Ada yang shalat sendirian dan ada yang berjama’ah, maka Umar berkata : “Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam, niscaya akan lebih baik”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah dengan imam Ubay bin Ka’ab, setelah itu aku keluar bersamanya pada satu malam, manusia tengah shalat bersama imam mereka, Umar-pun berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, orang yang tidur lebih baik dari yang bangun, ketika itu manusia shalat di awal malam.” (Bukhari 4/218 dan tambahannya dalam riwayat Malik 1/114, Abdurrazaq 7733.)

Jumlah Rakaatnya

Manusia berbeda pendapat tentang batasan raka’atnya, pendapat yang mencocoki petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah delapan raka’at tanpa witir berdasarkan hadits Aisyah Radhiyalahu ‘anha.”Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka’at” (HR. Bukhari 3/16 dan Muslim 736)

 

Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia dengan sebelas raka’at sesuai dengan sunnah shahihah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Malik 1/115 dengan sanad yang shahih dari jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata: “Umar bin Al-Khaththab menyuruh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami manusia dengan sebelas raka’at”.

 

Sebelas rakaat inilah yang lebih kuat/sah menurut sepengetahuan kami, adapun hadits-hadits tentang tarawih 23 rakaat, maka menyelisihi hadits tarawih 11 rakaat yang lebih shahih. Wallohu a’lam.

 

Lantas bagaimana solusi mengatasi perbedaan pendapat ini?

Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat di atas dengan metode al jam’u, bukan metode at tarjih, sebagaimana yang dipilih oleh Syaikh Al Albani. Dasar pertimbangan jumhur adalah:

1. Riwayat 20 (21, 23) raka’at adalah sah.

2. Riwayat 8 (11, 13) raka’at adalah sah.

3. Fakta sejarah menurut penuturan beberapa tabi’in dan ulama salaf.

4. Menggabungkan riwayat-riwayat tersebut adalah mungkin, maka tidak perlu pakai tarjih, yang konsekuensinya adalah menggugurkan salah satu riwayat yang shahih.

 

Perbedaan tidak sama dengan perpecahan

Imam Syafi’I (150-204H), mengatakan,

“Saya menjumpai orang-orang di Mekkah. Mereka shalat (tarawih) 23 raka’at. Dan saya melihat penduduk Madinah, mereka shalat 39 raka’at, dan tidak ada masalah sedikitpun tentang hal itu.”

“Seandainya mereka memanjangkan bacaan dan menyedikitkan bilangan sujudnya, maka itu bagus. Dan seandainya mereka memperbanyak sujud dan meringankan bacaan, maka itu juga bagus; tetapi yang pertama lebih aku sukai.” (Fathul Bari, 4/23; Sunan Thmidzi, 151; Fath Al Aziz, 4/266)

 

Ibn Taimiyah berkata,

“Ia boleh shalat tarawih 20 raka’at sebagaimana yang mashur dalam madzhab Ahmad dan Sya’i. Boleh shalat 36 raka’at sebagaimana yang ada dalam madzhab Malik. Boleh shalat 11 raka’at, 13 raka’at. Semuanya baik. Jadi banyaknya raka’at atau’ sedikitnya tergantung lamanya bacaan dan pendeknya.”  Beliau juga berkata,

“Yang paling utama itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang shalat. Jika mereka kuat 10 raka’at ditambah witir 3 raka’at sebagaimana yang diperbuat oleh Rasul di Ramadhan dan di luar Ramadhan- maka ini yang lebih utama. Kalau mereka kuat 20 raka’at, maka itu afdhal dan inilah yang dikerjakan oleh kebanyakan kaum muslimin, karena ia adalah pertengahan antara 10 dan 40.  Dan jika ia shalat dengan 40 raka’at, maka boleh, atau yang lainnya juga boleh. Tidak dimaksudkan sedikitpun dari hal itu, maka barangsiapa menyangka, bahwa qiyam Ramadhan itu terdiri dari bilangan tertentu, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, maka ia telah salah.” (Majmu’ Al Fatawa, 23/113; Al Ijabat Al Bahiyyah, 22; Faidh Al Rahim Al Kalman,

132; Durus Ramadhan, 48.

 

 

Tata cara shalat tarawih

Aisyah Radhiallahu ‘Anha ditanya: “Bagaimana shalat Rasul pada bulan Ramadhan?” Dia menjawab, “Beliau tidak pemah menambah -di Ramadhan atau di luarnya- lebih dari 11 raka’at. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan ditanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau shalat 3 raka’at.” (HR Bukhari).

 

Rasululah shalat empat raka’at dengan dua kali salam, kemudian beristirahat. Hal ini berdasarkan keterangan Aisyah, “Adalah Rasululah melakukan shalat pada waktu setelah selesainya shalat Isya’, hingga waktu fajar, sebanyak 11 raka’at, mengucapkan salam pada setiap dua raka’at, dan melakukan witir dengan satu raka’at”. (HR Muslim).

 

Juga berdasarkan keterangan Ibn Umar, bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasululah, bagaimana shalat malam itu?” Beliau menjawab, Yaitu dua raka’at-dua raka’at, maka apabila kamu khawatir shubuh, berwitirlah dengan satu raka’at. (HR. Bukhari).

 

 

 

 

Dinukil dari:

  • Sifat Puasa Nabi, Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly & Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
  • Shalat Tarawih Nabi & Salafushshalih (Disalin dari majalah As-Sunnah 07/VII/1424H hal 26 – 34.), Abu Hamzah Al Sanuwi, Lc, MAg.
  • Al Masaail, Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
  • E-kitab Sunan Abu Dawud

E-kitab Al Mustadrak Al Hakim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s