Haramkah mengerjakan yang sunnah jika meninggalkan yang wajib (kewajiban)?

Haramkah mengerjakan yang sunnah jika meninggalkan yang wajib (kewajiban)?

Hukum mengerjakan ibadah yang bersifat wajib adalah mutlak harus dikerjakan, dan jika kita meninggalkannya maka kita akan mendapat dosa. Sedangkan mengerjakan ibadah yang bersifat sunnah sifatnya adalah anjuran sebagai penambah atau penyempurna ibadah wajib. Jika seorang muslim mengerjakan ibadah sunnah maka tidak hanya mendapatkan pahala tetapi juga memperoleh kesempurnaan nilai atau hakikat ketaatan pada Allah Ta’ala.

Dan jika meninggalkan ibadah sunnah maka tidak diganjar dengan dosa apapun. Sementara jika kita meninggalkan ibadah wajib, ancaman dosa akan menyertai bagi siapapun yang melanggarnya.

Seorang muslim yang hanya mengerjakan ibadah sunnah dan meninggalkan ibadah wajib dapat diilustrasikan bahwa Ia akan mendapat pahala dari ibadah sunnah yang dikerjakan namun Ia juga akan mendapat dosa dari kewajiban-kewajiban yang ditinggalkannya.

Yang paling penting dan semestinya diutamakan oleh seorang hamba adalah ibadah wajib, sebab ancaman dosa selalu menyertai bagi siapa pun yang meninggalkan atau melanggarnya. Amalan sunnah memang penting juga dilakukan mengingat hakikat fungsinya yang dapat menyempurnakan nilai ibadah wajib. Akan tetapi, tidak semestinya seorang Muslim lebih mengutamakan amalan sunnah daripada amalan wajib. Jika demikian, maka sesungguhnya ia terbalik dalam memahami ibadah.

Seorang Muslim yang hanya mengerjakan ibadah-ibadah sunah dan meninggalkan ibadah-ibadah wajib hakikat pahala dan dosanya hanya Allah yang mengetahui. Namun, kalau boleh diilustrasikan, ia akan mendapatkan pahala-pahala dari ibadah sunah yang ia kerjakan tetapi ia juga mendapatkan dosa dari kewajiban-kewajiban yang ia tinggalkan. Tentu saja, nilai pahala ibadah wajib lebih tinggi daripada pahala ibadah sunnah. Ibadah wajib tidak boleh ditinggalkan. Konsekuensi bagi yang meninggalkannya adalah dosa. Sedangkan ibadah sunnah, ketika kondisi memang tidak memungkinkan untuk melakukannya, maka tidak ada ancaman dosa bagi pelakunya.

Sesuai dengan kaidah fiqih

فإذا تزاحم عدد المصالحِ  يُقدَّم الأعلى من المصالحِ

Jika dalam suatu masalah bertabrakan antara manfaat satu dengan yang lainnya maka di dahulukan & diambil manfaat yang paling besar / tinggi

Lihat:

http://www.lazuardibirru.org/duniaislam/ngobraz/apa-hukumnya-bagi-seseorang-yang-giat-mengerjakan-ibadah-sunnah-saja-sedangkan-yang-wajib-ditinggalkan/#.UdSoBNjTrYo

4 Comments

    • Wallohu a’lam… saya belum pernah temukan orang yang seperti itu… yang wajib saja ditinggalkan apa lagi yang sunnah… kalau memang terjadi demikian, perlu diteliti dulu mengapa orang tersebut meninggalkan sholat wajib, apabila ia meninggalkan sholat 5 waktu karena tidak tahu bahwa sholat 5 waktu adalah fardhu ‘ain atau karena ia malas tetapi tetap berkeyakinan bahwa sholat 5 waktu adalah fardhu ‘ain, maka ia telah melakukan dosa yang sangat besar, akan tetapi ia masih mendapatkan pahala sholat sunnahnya. Namun bila ia meyakini bahwa sholat 5 waktu tidak wajib, maka ia telah keluar dari agama Islam, karena telah mengingkari salah satu dari rukun Islam, dan otomatis sholat tahajud/sunnah lainnya tidak mendapat pahala, karena orang kafir tidak mendapat pahala apapun dari kebaikan yang ia kerjakan… akan tetapi apabila ia tobat/masuk kembali ke agama Islam dengan benar, maka seluruh amal ibadah dan kebaikannya akan dihitung… wallohu a’lam

    • Seseorang yang tidak shalat terancam kafir, apabila dia menyengaja tidak shalat dan menentang kewajiban shalat atau ia hanya shalat hanya di bulan Ramadhan saja maka ‘Abdullah bin Syaqiq –rahimahullah- (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara shalat.” [Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari ‘Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy ,seorang tabi’in. Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab]. Para sahabat menganggap apabila seseorang meninggalkan shalat maka ia telah kafir, sehingga bagaimana mungkin puasanya, tarawihnya ataupun amalan ibadah yang lainnya sah???
      Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah rodhiallohu ‘anhu, bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
      ” إن بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة “.
      “Sesungguhnya ( batas pemisah ) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” ( HR. Muslim, dalam kitab al iman ).

      Diriwayatkan dari Buraidah bin Al Hushaib rodhiallohu ‘anhu, ia berkata : aku mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
      ” العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر “.
      “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya maka benar benar ia telah kafir.” ( HR. Abu Daud, Turmudzi, An Nasai, Ibnu Majah dan Imam Ahmad ).

      wallohu a’lam. semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s