10 DOSA HARIAN (BAGIAN 2)

10 DOSA HARIAN

Yang sering diabaikan (bagian 2)

11.   BAI’UN NAJSH (MENAIKKAN TAWARAN HARGA BARANG TETAPI IA TIDAK BERMAKSUD MEMBELINYA)

Bai’un najsh yaitu menaikkan tawaran harga barang tetapi ia tidak bermaksud membelinya, untuk menipu orang lain yang ingin membeli sehingga ia mau menaikkan tawaran harga tersebut. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Janganlah kalian saling bersaing dalam penawaran barang (untuk tujuan menipu)” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Bari : 10/484).

Tak diragukan lagi, ini adalah salah satu bentuk penipuan. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Makar (tipu daya) dan penipuan adalah tempatnya neraka” (Lihat sisilatul Ahadits Ash Shahihah , 1057).

12.   BERJUALAN SETELAH ADZAN KEDUA PADA HARI JUM’AT.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

 “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Al Jumu’ah : 29).

Sebagian pedagang ada yang masih berjualan di toko-toko mereka meskipun adzan kedua sudah berkumandang. Bahkan diantara mereka berjualan di dekat atau di halaman masjid. Para pembelinya dalam hal ini juga ikut berdosa. Jual beli pada waktu tersebut, menurut pendapat yang kuat tidak sah.

“Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam berbuat maksiat kepada Allah” (HR Ahmad:1/129, Ahmad Syakir berkata, isnad hadits ini shahih, hadits no : 1065)

13.   JUDI (DENGAN SEGALA BENTUK DAN RAGAMNYA)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

 “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya  khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah:90).

Bentuk judi yang paling terkenal di zaman  jahiliyah adalah sepuluh orang berserikat membeli seekor onta dengan saham yang sama. Kemudian dilakukan undian. Dari situ, tujuh orang dari mereka mendapatkan bagian yang berbeda-beda, dan tiga orang lainnya tidak mendapatkan apa-apa, dan mereka wajib membayar harga unta.

Adapun di zaman kita saat ini maka bentuk perjudian sudah beraneka ragam, di antaranya :

A. Yanasib (undian) dalam berbagai bentuknya. Yang paling sederhana di antaranya adalah dengan membeli nomor-nomor yang telah disediakan, kemudian nomor-nomor itu diundi, termasuk taruhan ketika pertandingan

B. Membeli suatu barang yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dirahasiakan atau memberinya kupon ketika membeli barang, lalu kupon-kupon itu diundi untuk menentukan pemenangnya.

C. Termasuk bentuk perjudian di zaman kita saat ini adalah asuransi

D. Perdagangan dengan system piramida (MLM)

Adapun berbagai pertandingan yang kita kenal sekarang, itu ada tiga macam :

Pertama , untuk maksud syiar Islam, maka hal ini dibolehkan, baik dengan menggunakan hadiah atau tidak.

Kedua : perlombaan dalam sesuatu yang hukumnya mubah, seperti pertandingan sepak bola dan lomba lari, dengan catatan, tidak melanggar hal-hal yang  diharamkan seperti meninggalkan shalat, membuka aurat dan sebagainya, semua hal ini hukumnya jaiz (boleh) dengan syarat tanpa menggunakan hadiah.

Ketiga : perlombaan dalam sesuatu yang diharamkan atau sarana kepada perbuatan yang diharamkan, seperti lomba ratu kecantikan atau tinju.

14.   MENCURI

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa dan bijaksana. (Al Maidah: 38 ).

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Dan sungguh telah diperlihatkan api neraka, yaitu saat kalian melihatku terlambat karena aku takut hangus (oleh jilatannya) dan sehingga aku melihat di dalamnya pemilik mihjan (tongkat berkeluk kepalanya)  menyeret ususnya di dalam nereka. Dahulunya ia mencuri (barang milik) orang yang haji. Jika ketahuan, ia berkilah, Barang itu terpaut di mihjanku” tetapi jika orang itu lengah dari barangnya, maka si pencuri membawanya (pergi) “ (HR Muslim : 904).

15.   MEMBERI ATAU MENERIMA SUAP

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

 “Dan janganlah sebagaian kamu memakan harta kalian di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah)  kamu memberikannya kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda sebagian orang, dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Al Baqarah : 188).

Adapun jika tak ada jalan lain lagi selain suap untuk mendapatkan kebenaran atau menolak kezhaliman maka hal itu tidak termasuk dalam ancaman tersebut.

Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Semoga laknat Allah atas penyuap dan orang yang disuap” (HR Ibnu Majah, 2313; shahihul jam’ : 5114).

16.   MERAMPAS TANAH MILIK ORANG LAIN

Dalam hadits marfu’ dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu disebutkan :

“Barang siapa mengambil tanah (orang lain) meski sedikit dengan tanpa hak niscaya dia akan ditenggelamkan dengannya pada hari kiamat sampai ke (dasar) tujuh lapis bumi” (HR Al Bukhari).

Ya’la bin Murrah Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Siapa yang menzhalimi (dengan mengambil) sejengkal dari tanah (orang lain) niscaya Allah membebaninya dengan menggali tanah tersebut (dalam riwayat Ath Thabrani : menghadirkannya) hingga akhir dari tujuh lapis bumi, lalu Allah mengkalungkannya (di lehernya) pada hari kiamat sehingga seluruh manusia diadili” (HR Ath Thabrani dalam Al Kabir, 22/270).

 Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Allah melaknat orang yang mengubah tanda-tanda (batasan) tanah” (HR Muslim, syarah Nawawi, 13/141).

17.   MENERIMA HADIAH SETELAH MENOLONG

Tidak boleh mengambil upah dari pertolongan dan perantaraan yang ia berikan. Ini berdasarkan hadits marfu’ dari Abu Umamah:

“Barangsiapa memberi pertolongan kepada seseorang, lalu ia diberi hadiah (atas pertolongan itu) kemudian (mau) menerimanya, sungguh ia telah mendatangi pintu yang besar di antara pintu-pintu riba” (HR Ahmad, 5/261, shahihul jami’ : 6292).

Sebagian orang menggunakan pangkat dan jabatannya untuk mengeruk keuntungan materi. Misalnya dengan mensyaratkan imbalan dalam pangangkatan kepegawaian seseorang, atau dalam memindahtugaskan pegawai dari satu daerah ke daerah lain, atau juga dalam mengobati pasien yang sakit, dan hal lain yang semacamnya.

18.   TIDAK MEMENUHI HAK-HAK PEKERJA

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya” [HR Ibnu Majah, 2/817; Shahihul Jami’ 1493] walaupun Syaikh bin Baz berpendapat hadits ini dhaif (lemah)

Bentuk kezhaliman dalam hal ini beragam di antaranya :

1. sama sekali tidak memberikan hak-hak pekerja, sedang si pekerja tidak memiliki bukti.

2. mengurangi hak pekerja dengan cara yang tidak dibenarkan.

3. memberi pekerjaan atau menambah waktu kerja (lembur), tetap hanya memberikan gaji pokok dan tidak memperhitungkan pekerjaan tambahan dan waktu lembur.

4. mengulur-ulur pembayaran gaji, sehingga tidak memberikan gaji kecuali setelah melalui usaha keras pekerja, baik berupa pengaduan, tagihan, hingga usaha lewat pengadilan.

Dalam riwayat dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Tiga jenis (manusia) yang aku menjadi musuhnya kelak pada hari kiamat, laki-laki yang memberi dengan namaKu lalu berkhianat, laki-laki yang menjual orang merdeka (bukan budak) lalu memakan harga uang hasil penjualannya dan laki-laki yang mempekerjakan, sedang ia memenuhi pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan upahnya” (HR Al Bukhari, Fathul Bari :5/211).

19.   TIDAK ADIL DI ANTARA ANAK

Allah Subhanahu wata’ala:

 “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa, dan bertakwalah kepada Allah” (Al Maidah : 8)

Perbuatan tidak adil kepada anak ini kelak akan kembali kepada orang tua itu sendiri. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Bukankah akan menyenangkanmu jika mereka sama-sama berbuat baik kepadamu“ (HR Ahmad, 4/269: Shahih Muslim : 1623)

20.   MEMINTA-MINTA DI SAAT BERKECUKUPAN

Sahl bin Hanzhaliyah Radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:

“Barangsiapa meminta-minta sedang ia dalam keadaan berkecukupan, sungguh orang itu telah memperbanyak (untuk dirinya) bara api jahannam” mereka bertanya, “apakah (batasan)  cukup sehingga (seseorang) tidak boleh meminta-minta?” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “yaitu sebatas (cukup untuk) makan pada siang dan malam hari” (HR Abu Dawud:2/281, shahihul Jami’ :6280)

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

“Barangsiapa meminta-minta sedang ia dalam kecukupan, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan wajah penuh bekas cakaran dan garukan” [HR Ahmad 1/388, Shahihul Jami’ 6255]

 

dikutip dari “Dosa-dosa yang dianggap biasa” – Muhammad bin Shalih al Munajjid

10 DOSA HARIAN

Yang sering diabaikan (bagian 2)

11.   BAI’UN NAJSH (MENAIKKAN TAWARAN HARGA BARANG TETAPI IA TIDAK BERMAKSUD MEMBELINYA)

Bai’un najsh yaitu menaikkan tawaran harga barang tetapi ia tidak bermaksud membelinya, untuk menipu orang lain yang ingin membeli sehingga ia mau menaikkan tawaran harga tersebut. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Janganlah kalian saling bersaing dalam penawaran barang (untuk tujuan menipu)” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Bari : 10/484).

Tak diragukan lagi, ini adalah salah satu bentuk penipuan. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Makar (tipu daya) dan penipuan adalah tempatnya neraka” (Lihat sisilatul Ahadits Ash Shahihah , 1057).

12.   BERJUALAN SETELAH ADZAN KEDUA PADA HARI JUM’AT.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

$pkš‰r¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãZtB#uä#sŒÎ)š”ÏŠqçRÍo4qn=¢Á=Ï9`ÏBÏQöqtƒÏpyèßJàfø9$#(#öqyèó™$$sù4’n<Î)̍ø.ό«!$#(#râ‘sŒuryìø‹t7ø9$#4öNä3Ï9ºsŒ×ŽöyzöNä3©9bÎ)óOçGYä.tbqßJn=÷ès?ÇÒÈ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Al Jumu’ah : 29).

Sebagian pedagang ada yang masih berjualan di toko-toko mereka meskipun adzan kedua sudah berkumandang. Bahkan diantara mereka berjualan di dekat atau di halaman masjid. Para pembelinya dalam hal ini juga ikut berdosa. Jual beli pada waktu tersebut, menurut pendapat yang kuat tidak sah.

“Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam berbuat maksiat kepada Allah” (HR Ahmad:1/129, Ahmad Syakir berkata, isnad hadits ini shahih, hadits no : 1065)

13.   JUDI (DENGAN SEGALA BENTUK DAN RAGAMNYA)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

$pkš‰r¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä$yJ¯RÎ)ãôJsƒø:$#çŽÅ£øŠyJø9$#urÜ>$|ÁRF{$#urãN»s9ø—F{$#urÓ§ô_͑ô`ÏiBÈ@yJtãÇ`»sÜø‹¤±9$#çnqç7Ï^tGô_$$sùöNä3ª=yès9tbqßsÎ=øÿè?

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya  khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah:90).

Bentuk judi yang paling terkenal di zaman  jahiliyah adalah sepuluh orang berserikat membeli seekor onta dengan saham yang sama. Kemudian dilakukan undian. Dari situ, tujuh orang dari mereka mendapatkan bagian yang berbeda-beda, dan tiga orang lainnya tidak mendapatkan apa-apa, dan mereka wajib membayar harga unta.

Adapun di zaman kita saat ini maka bentuk perjudian sudah beraneka ragam, di antaranya :

A. Yanasib (undian) dalam berbagai bentuknya. Yang paling sederhana di antaranya adalah dengan membeli nomor-nomor yang telah disediakan, kemudian nomor-nomor itu diundi, termasuk taruhan ketika pertandingan

B. Membeli suatu barang yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dirahasiakan atau memberinya kupon ketika membeli barang, lalu kupon-kupon itu diundi untuk menentukan pemenangnya.

C. Termasuk bentuk perjudian di zaman kita saat ini adalah asuransi

D. Perdagangan dengan system piramida (MLM)

Adapun berbagai pertandingan yang kita kenal sekarang, itu ada tiga macam :

Pertama , untuk maksud syiar Islam, maka hal ini dibolehkan, baik dengan menggunakan hadiah atau tidak.

Kedua : perlombaan dalam sesuatu yang hukumnya mubah, seperti pertandingan sepak bola dan lomba lari, dengan catatan, tidak melanggar hal-hal yang  diharamkan seperti meninggalkan shalat, membuka aurat dan sebagainya, semua hal ini hukumnya jaiz (boleh) dengan syarat tanpa menggunakan hadiah.

Ketiga : perlombaan dalam sesuatu yang diharamkan atau sarana kepada perbuatan yang diharamkan, seperti lomba ratu kecantikan atau tinju.

14.   MENCURI

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

ä͑$¡¡9$#urèps%͑$¡¡9$#ur(#þqãèsÜø%$$sù$yJßgtƒÏ‰÷ƒr&Lä!#t“y_$yJÎ/$t7|¡x.Wx»s3tRz`ÏiB«!$#3ª!$#ur͕tãÒOŠÅ3ymÇÌÑÈ

 “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa dan bijaksana. (Al Maidah: 38 ).

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Dan sungguh telah diperlihatkan api neraka, yaitu saat kalian melihatku terlambat karena aku takut hangus (oleh jilatannya) dan sehingga aku melihat di dalamnya pemilik mihjan (tongkat berkeluk kepalanya)  menyeret ususnya di dalam nereka. Dahulunya ia mencuri (barang milik) orang yang haji. Jika ketahuan, ia berkilah, Barang itu terpaut di mihjanku” tetapi jika orang itu lengah dari barangnya, maka si pencuri membawanya (pergi) “ (HR Muslim : 904).

15.   MEMBERI ATAU MENERIMA SUAP

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

Ÿwur(#þqè=ä.ùs?Nä3s9ºuqøBr&Nä3oY÷t/È@ÏÜ»t6ø9$$Î/(#qä9ô‰è?ur!$ygÎ/’n<Î)ÏQ$¤6çtø:$#(#qè=à2ùtGÏ9$Z)ƒÌsùô`ÏiBÉAºuqøBr&Ĩ$¨Y9$#ÉOøOM}$$Î/óOçFRr&urtbqßJn=÷ès?ÇÊÑÑÈ

“Dan janganlah sebagaian kamu memakan harta kalian di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah)  kamu memberikannya kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda sebagian orang, dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Al Baqarah : 188).

Adapun jika tak ada jalan lain lagi selain suap untuk mendapatkan kebenaran atau menolak kezhaliman maka hal itu tidak termasuk dalam ancaman tersebut.

Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Semoga laknat Allah atas penyuap dan orang yang disuap” (HR Ibnu Majah, 2313; shahihul jam’ : 5114).

16.   MERAMPAS TANAH MILIK ORANG LAIN

Dalam hadits marfu’ dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu disebutkan :

“Barang siapa mengambil tanah (orang lain) meski sedikit dengan tanpa hak niscaya dia akan ditenggelamkan dengannya pada hari kiamat sampai ke (dasar) tujuh lapis bumi” (HR Al Bukhari).

Ya’la bin Murrah Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Siapa yang menzhalimi (dengan mengambil) sejengkal dari tanah (orang lain) niscaya Allah membebaninya dengan menggali tanah tersebut (dalam riwayat Ath Thabrani : menghadirkannya) hingga akhir dari tujuh lapis bumi, lalu Allah mengkalungkannya (di lehernya) pada hari kiamat sehingga seluruh manusia diadili” (HR Ath Thabrani dalam Al Kabir, 22/270).

 Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Allah melaknat orang yang mengubah tanda-tanda (batasan) tanah” (HR Muslim, syarah Nawawi, 13/141).

17.   MENERIMA HADIAH SETELAH MENOLONG

Tidak boleh mengambil upah dari pertolongan dan perantaraan yang ia berikan. Ini berdasarkan hadits marfu’ dari Abu Umamah:

“Barangsiapa memberi pertolongan kepada seseorang, lalu ia diberi hadiah (atas pertolongan itu) kemudian (mau) menerimanya, sungguh ia telah mendatangi pintu yang besar di antara pintu-pintu riba” (HR Ahmad, 5/261, shahihul jami’ : 6292).

Sebagian orang menggunakan pangkat dan jabatannya untuk mengeruk keuntungan materi. Misalnya dengan mensyaratkan imbalan dalam pangangkatan kepegawaian seseorang, atau dalam memindahtugaskan pegawai dari satu daerah ke daerah lain, atau juga dalam mengobati pasien yang sakit, dan hal lain yang semacamnya.

18.   TIDAK MEMENUHI HAK-HAK PEKERJA

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya” [HR Ibnu Majah, 2/817; Shahihul Jami’ 1493] walaupun Syaikh bin Baz berpendapat hadits ini dhaif (lemah)

Bentuk kezhaliman dalam hal ini beragam di antaranya :

1. sama sekali tidak memberikan hak-hak pekerja, sedang si pekerja tidak memiliki bukti.

2. mengurangi hak pekerja dengan cara yang tidak dibenarkan.

3. memberi pekerjaan atau menambah waktu kerja (lembur), tetap hanya memberikan gaji pokok dan tidak memperhitungkan pekerjaan tambahan dan waktu lembur.

4. mengulur-ulur pembayaran gaji, sehingga tidak memberikan gaji kecuali setelah melalui usaha keras pekerja, baik berupa pengaduan, tagihan, hingga usaha lewat pengadilan.

Dalam riwayat dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Tiga jenis (manusia) yang aku menjadi musuhnya kelak pada hari kiamat, laki-laki yang memberi dengan namaKu lalu berkhianat, laki-laki yang menjual orang merdeka (bukan budak) lalu memakan harga uang hasil penjualannya dan laki-laki yang mempekerjakan, sedang ia memenuhi pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan upahnya” (HR Al Bukhari, Fathul Bari :5/211).

19.   TIDAK ADIL DI ANTARA ANAK

Allah Subhanahu wata’ala:

(#qä9ωôã$#uqèdÜ>tø%r&3“uqø)­G=Ï9

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa, dan bertakwalah kepada Allah” (Al Maidah : 8)

Perbuatan tidak adil kepada anak ini kelak akan kembali kepada orang tua itu sendiri. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Bukankah akan menyenangkanmu jika mereka sama-sama berbuat baik kepadamu“ (HR Ahmad, 4/269: Shahih Muslim : 1623)

20.   MEMINTA-MINTA DI SAAT BERKECUKUPAN

Sahl bin Hanzhaliyah Radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam:

“Barangsiapa meminta-minta sedang ia dalam keadaan berkecukupan, sungguh orang itu telah memperbanyak (untuk dirinya) bara api jahannam” mereka bertanya, “apakah (batasan)  cukup sehingga (seseorang) tidak boleh meminta-minta?” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “yaitu sebatas (cukup untuk) makan pada siang dan malam hari” (HR Abu Dawud:2/281, shahihul Jami’ :6280)

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

“Barangsiapa meminta-minta sedang ia dalam kecukupan, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan wajah penuh bekas cakaran dan garukan” [HR Ahmad 1/388, Shahihul Jami’ 6255]

 

dikutip dari “Dosa-dosa yang dianggap biasa” – Muhammad bin Shalih al Munajjid

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s