Dakwah Kepada Syahadat Laa Ilaaha Illallah dan Jenis-jenis Kesyirikan

Firman Allah Ta’ala:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf [12]: 108 )

 

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anh berkata : ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda kepadanya :

“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab ( Yahudi dan Nasrani) maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah – dalam riwayat yang lain disebutkan “supaya mereka mentauhidkan Allah”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu da‟wahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah” ( HR. Bukhori dan Muslim ).

Dalam hadits yang lain, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radhiallahu ‘Anh, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disaat perang khaibar bersabda :

“Sungguh akan aku serahkan bendera (komando perang) ini besok pagi kepada orang yang mencintai Allah dan RasulNya, dan dia dicintai oleh Allah dan RasulNya, Allah akan memberikan kemenangan dengan sebab kedua tangannya”, maka semalam suntuk para sahabat memperbincangkan siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera itu, di pagi harinya mereka mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. masing masing berharap agar ia yang diserahi bendera tersebut, maka saat itu Rasul bertanya : “di mana Ali bin Abi Tholib ?, mereka menjawab : dia sedang sakit pada kedua matanya, kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya, dan datanglah ia, kemudian Rasul meludahi kedua matanya, seketika itu dia sembuh seperti tidak pernah terkena penyakit, kemudian Rasul menyerahkan bendera itu kepadanya dan bersabda : “melangkahlah engkau ke depan dengan tenang hingga engkau sampai ditempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam*, dan sampaikanlah kepada mereka akan hak hak Allah dalam Islam, maka demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab kamu itu lebih baik dari onta-onta yang merah**

 

* Ajaklah mereka kepada Islam, yaitu kepada pengertian yang sebenarnya dari kedua kalimat syahadat, yaitu : berserah diri kepada Allah, lahir dan batin, dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, yang disampaikan melalui RasulNya.

** onta merah adalah harta kekayaan yang sangat berharga dan menjadi kebanggaan orang arab pada masa itu.

 

Allah Ta’ala menjelaskan pula tentang lawan ahli tauhid,

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan ( mereka mempertaruhkan pula ) Al Masih putera Maryam; padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada satu sembahan, tiada sembahan yang haq selain Dia. Maha suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” (QS. Al Taubah, 31 ).

 

“Diantara sebagian manusia ada yang menjadikan tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah.” ( QS. Al Baqarah, 165 ).

 

Diriwayatkan dalam Shoheh Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

Barang siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, adapun perhitungannya adalah terserah kepada Allah

 

 

JENIS-JENIS KESYIRIKAN

  1. 1.       MEMAKAI GELANG DAN SEJENISNYA UNTUK MENANGKAL BAHAYA

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (hai Muhammad kepada orang-orang musyrik) : terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemadhoratan kepadaku, apakah berhala berhala itu dapat menghilangkan kemadhorotan itu ?, atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku apakah mereka mampu menahan rahmatNya ?, katakanlah : cukuplah Allah bagiku, hanya kepadaNyalah orang orang yang berserah diri bertawakkal.” (QS. Az zumar, 38 )

 

Imron bin Husain Radhiallahu ‘Anh menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya : “Apakah itu ?”, orang laki-laki itu menjawab : “gelang penangkal penyakit”, lalu Nabi bersabda : “lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama lamanya.” (HR. Ahmad)

 

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ia melihat seorang laki-laki yang ditangannya ada benang untuk mengobati sakit panas, maka dia putuskan benang itu seraya membaca firman Allah Ta’ala :

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan sesembahan lain ). ( QS. Yusuf, 106 )

 

  1. 2.       RUQYAH, TAMIMAH DAN TIWALAH

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anh menuturkan : aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud )

 

TAMIMAH adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal dan menolak penyakit „ain. Jika yang dikalungkan itu berasal dari ayat-ayat Al Qur‟an, sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini ; dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, diantaranya Ibnu Mas‟ud.

RUQYAH yaitu : yang disebut juga dengan istilah Ajimat. Ini diperbolehkan apabila penggunaannya bersih dari hal hal syirik, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati ‘ain atau sengatan kalajengking.

 

TIWALAH adalah sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Barang siapa yang menggantungkan sesuatu (dengan anggapan bahwa barang tersebut bermanfaat atau dapat melindungi dirinya) maka Allah akan menjadikan orang tersebut selalu bergantung kepadanya.” (HR. Ahmad dan At Turmudzi )

 

  1. 3.       MENGHARAPKAN BERKAH DARI PEPOHONAN, BEBATUAN ATAU YANG SEJENISNYA

“Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap Al lata dan Al Uzza dan Manat yang ketiga. Apakah ( patut ) untuk kamu ( anak ) laki- laki dan untuk Allah (anak ) perempuan ? yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang diada-adakan oleh kamu dan bapak-bapak kamu; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka; padahal sesungguhnya tidak datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka.” ( QS. An najm, 19 – 23 )

 

Al Lata, Al Uzza dan Manat adalah nama berhala berhala yang dipuja orang arab jahiliyah dan dianggapnya sebagai anak anak perempuan Allah.

 

Abi Waqid Al Laitsi menuturkan :

“Suatu saat kami keluar bersama Rasulullah menuju Hunain, sedangkan kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran ( masuk Islam ), disaat itu orang-orang musyrik memiliki sebatang pohon bidara yang dikenal dengan dzatu anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon tersebut, disaat kami sedang melewati pohon bidara tersebut, kami berkata : “ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami dzat anwath sebagaimana mereka memilikinya”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab : “Allahu Akbar, itulah tradisi ( orang orang sebelum kalian ) demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, kalian benar-benar telah mangatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa :“buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan, Musa menjawab : sungguh kalian adalah kaum yang tidak mengerti ( faham )” kalian pasti akan mengikuti tradisi orang orang sebelum kalian.” (HR. Turmudzi, dan dinyatakan shoheh olehnya)

 

Demikian semoga ada manfaatnya, agar kita dapat menegakkan dakwah kepada Tauhid Laa Ilaaha Illallah dan melawan segala bentuk kesyirikan, bukan dakwah kepada selain Allah, bukan pula berdakwah untuk dicintai manusia, mendapatkan harta, popularitas dan lainnya sehingga itu menjadi bentuk lain berhala yang disembah, na’udzu bilaahi min dzaalik.

 

Insya Allah mengenai jenis-jenis syirik akan kami tambahkan pada pembahasan-pembahasan mendatang. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita, meluruskan niat kita, menguatkan kita dalam menegakkan tauhid dan memerangi kesyirikan. Wallohu a’lam

 

Sumber: Kitab Tauhid karya Muhammad At-Tamimi

Disarikan oleh: Abu Ayyub Abdillah ibnu Syamsi as-Salafi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s