TAFSIR AN-NABAA’: 17-30

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا

17. Sesungguhnya hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan,

Allah telah menetapkan batas waktunya hari Kiamat, “Dan kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu” (QS. Huud [11]: 104).

Disebut juga hari Keputusan, karena pada hari itu Allah memutuskan seluruh perselisihan diantara hamba-hambanNya dan seluruh perkara yang diperdebatkan, serta diputuskan antara yang beriman dan yang kufur, diputuskan pula para penguni Surga dan para penghuni Neraka.    

 

يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا

18. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangsakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok,

Malaikat Israfil akan meniup sangkakala sebanyak dua kali, tiupan pertama akan mematikan semua manusia, tiupan kedua semua manusia akan dibangkitkan dri kubur dan ruh akan dikembalikan ke dalam jasadnya.

Ibnu Jarir mengatakan: ‘Yakni masing-masing umat datang bersama Rasulnya sendiri-sendiri’. Sebagaimana firman Allah, ‘(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya’ (QS. Al Israa’ [17]: 71).

 

وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا

19. Dan dibukalah langit, Maka terdapatlah beberapa pintu,

Langit yang sebelumnya merupakan atap yang kokoh seolah tidak pernah ada, berubah menjadi pintu-pintu yang terbuka, yang dapat disaksikan oleh manusia, yang menjadi jalan turunnya malaikat.

 

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

20. Dan dijalankanlah gunung-gunung Maka menjadi fatamorganalah ia.

Yakni gunung-gunung yang tinggi menjulang akan digoncangkan dengan sangat keras sehingga menjadi debu. Allah berfirman: ‘Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (QS. An Naml [27]: 88). Dikhayalkan kepada orang yang melihatnya ada padahal bukan apa-apa yang setelah itu semua akan hilang tanpa bekas.

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا

21. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai,

Di neraka Jahannam ada suatu tempat yang dari tempat itu para Penjaga neraka mengintai dan Mengawasi isi neraka, yang disediakan bagi orang-orang yang melampaui batas. Jahanam merupakan salah satu diantara nama Neraka. Dinamai Jahannam karena memiliki kegelapan, kepekatan dan kedalaman.

لِلطَّاغِينَ مَآبًا

22. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,

Orang-orang yang melampaui batas terhadap hak-hak Allah dan hak-hak manusia itulah yang akan menjadi penduduk Neraka. Yakni mereka yang membangkang, bermaksiat, menentang dan kufur kepada Allah dan Rasulnya.

لابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا

23. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,

Yakni dalam waktu yang sangat lama, juga adanya keabadian tanpa batasan akhir waktu, sebagaimana pula Allah firmankan dalam QS. An Nisaa’ [4]: 168-169, Al Ahzab [33]: 64-65, Al Jin [72]: 23, dan lainnya.

Seorang mukmin wajib untuk mengimani bahwa Surga dan Neraka saat ini sudah ada namun penghuninya belum sempurna (QS. Ali Imran [3]: 131-133), serta meyakini bahwa  Surga dan Neraka adalah tempat yang abadi.

Barangsiapa yang masuk Surga maka tidak akan dikeluarkan selamanya (QS. Al Hijr [15]: 48)

Penghuni Neraka terbagi dua kelompok:

  1. Penghuni abadi/kekal, yaitu orang-orang yang tidak akan dikeluarkan dari Neraka, dari golongan orang kafir, munafik, musyrik, serta orang-orang yang sombong (sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan/ merendahkan manusia)
  2. Penghuni sementara, yaitu orang-orang beriman yang melakukan kemaksiatan, mereka masuk sesuai dengan ketetapan waktu yang telah Allah tentukan sebagai balasan atas dosa dan kemaksiatan mereka di dunia, yang ketika batas waktu tersebut telah berakhir mereka akan di keluarkan dari Neraka dan di masukkan ke dalam Surga dan tidak akan keluar dari Surga.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan dari kata ahqaaba, bahwa al hiqb berarti 70 tahun yang setiap harinya mencapai seribu tahun dari perhitungan waktu kalian. Bahwa ahqaaba adalah waktu yang tidak akan terputus, ketika satu hiqb telah selesai maka akan langsung dilanjutkan dengan hiqb yang selanjutnya.

لا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلا شَرَابًا

24.  Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,

Yakni tidak mendapat kesejukan yang mendinginkan bagian luar tubuh mereka dan tidak pulan mendapatkan minuman untuk mendinginkan bagian dalam tubuh mereka.

إِلا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا

25.  Selain air yang mendidih dan nanah,

Al hamiim berarti panas yang mencapai puncaknya, dan al ghassaaq berarti nanah, keringat, air mata dan luka para penghuni Neraka yang berkumpul, dengan rasa yang sangat dingin yang tidak bisa disentuh dan bau busuknya yang tidak dapat didekati.

Minuman dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka, yang memotong-motong usus (QS. Al Kahfi [18]: 29 dan Muhammad [47]: 15)

Disuguhkan kepada mereka minuman yang sangat panas dan sangat dingin adalah merupakan tambahan dari adzab yang dilipatgandakan atas mereka.

 

جَزَاءً وِفَاقًا

26.  Sebagai pambalasan yang setimpal.

Semua hukuman yang diberikan sebanding dengan amal kejelekan yang mereka lakukan di dunia, hukuman yang adil tanpa sedikitpun mereka dizhalimi. Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia Itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri” (QS. Yunus [10]: 44). Adzab yang pedih adalah akibat dari penyimpangan mereka yang Allah sebutkan pada ayat selanjutnya.

 

إِنَّهُمْ كَانُوا لا يَرْجُونَ حِسَابًا

27.  Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,

Mereka tidak meyakini bahkan mengingkari adanya alam tempat penghisaban dan pembalasan. Mereka mengingkari hari Kebangkitan “Dan mereka berkata: ‘Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, (QS. Al Jaatsiyah [45]: 24). Inilah penyimpangan aqidah mereka.

 

وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا

28.  Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh- sungguhnya.

Yakni bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan Allah atas makhlukNya yang diturunkan berupa wahyu kepada para RasulNya disambut oleh para penghuni Neraka dengan pendustaan dan penentangan. Inilah penyimpangan mereka dalam perkataan, yakni mereka berdusta kepada manusia, mereka katakan bahwa Rasul adalah ahli sihir, penyair ataupun orang gila, “Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: ‘Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila’.” (QS. Adz Dzaariyaat [51]: 52). “Bahkan mereka mengatakan: ‘Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu Kecelakaan menimpanya’.” (QS. Ath Thuur [52]: 30)

 

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا

29.  Dan segala sesuatu Telah kami catat dalam suatu kitab.

Yang dimaksud dengan kitab di sini adalah buku catatan amalan manusia. Allah telah mengetahui amal perbuatan semua makhluk yang dicatat untuk selanjutnya diberikan balasan sesuai dengan amalannya, diantara kitabNya adalah ‘illiyin dan sijjin yang tertuang dalam surat al Muthaffiffin. Seluruh perkara yang terjadi hingga hal yang sekecil-kecilnya telah tertulis dan kejadiannya tidak akan keliru. Bahkan hingga perkataan yang sekecil-kecilnya,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf [50]: 18)

Yang dimaksud Raqiibun ‘Atiidun bukanlah nama malaikat Raqib dan Atid yang mencatat amal manusia disebelah kanan dan kiri. Raqiib maksidnya adalah malaikat yang mengawasi, dan ‘Atiid adalah malaikat yang selalu hadir.

فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلا عَذَابًا

30.  Karena itu rasakanlah. dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.

Perintah adzab pada ayat ini merupakan bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap mereka. Adzab kepada penghuni Neraka tidak akan dihentikan, tidak akan dikurangi, bahkan adzab tersebut akan ditambah menjadi lebih dahsyat, lebih lama dan lebih beraneka ragam.

Bahkan di Nerakapun mereka masih juga menyimpang, perhatikanlah ucapan mereka, “Dan orang-orang yang berada dalam neraka Berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya dia meringankan azab dari kami barang sehari’.” (QS. Al Mukmin/Gafir [40]: 49)

Pada ayat tersebut ada empat penyimpangan:

  1. Mereka tidak meminta langsung kepada Allah melainkan mereka memintanya melalui penjaga Neraka.
  2. Mereka mengatakan, “Mohonkanlah kepada Rabb-mu”, tidak mengatakan “Mohonkanlah kepada Rabb-kami” karena mereka merasa cacat dan hina sehingga mereka tidak merasa pantas.
  3. Karena sudah berputus asa mereka tidak mengatakan, “Angkatlah/hilangkanlah adzab tersebut dari kami”, namun mereka mengatakan, ”Ringankanlah adzab tersebut dari kami
  4. Telah jelaslah adzab dan kehinaan yang menimpa mereka, mereka tidak mengatakan, “Ringankanlah adzab ini selama-lamanya”, namun mereka mengatakan, “Ringankanlah adzab ini barang sehari saja”.

 

Demikianlah semoga Allah menyelamatkan kita dari hal-hal tersebut.

 

Maraji:

  • Al Qur’an dan terjemahannya
  • Tafsir ibnu Katsir jilid 8, Pustaka Imam Syafi’i
  • Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Pustaka At-Tibyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s