BERSIKAP BIJAK PADA AJARAN WALI SONGO (1/2)

BERSIKAP BIJAK PADA AJARAN WALI SONGO

Transkrip Ceramah Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin Syamsudin, Lc (Bekasi, 29 Juli 2012)

 

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kami memuji, mohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kami dan kesalahan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk Allah, maka tidak ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tiada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam adalah hamba dan utusan-Nya . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan memeluk Islam.” (Q.S. Ali Imran: 102)

 

 “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silahturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An Nisaa’ :1)

 

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang benar .” (Q.S. Al Ahzab :70-71)

 

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah, dan sebaik-baik ajaran adalah ajaran Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Sebaliknya sejelek-jelek perkara adalah apa yang diada-adakan dalam dien karena setiap yang diada-adakan dalam dien adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap yang sesat di neraka.

 

Selama ini kita membahas tentang biografi wali songo beritu juga perjalanan dakwahnya dan lebih khusus pada hal-hal yang berkaitan dengan dengan penyebaran wali, pengaruh wali songo, tempat konsentrasi dakwah dan juga kaitan dengan mistik yang ditebarkan sekitar kehidupan dakwah wali songo, dan ini tidak lepas dari ulah orang ahli klenik wa tahayul, makanya mungkin diantara antum penasaran kenapa ust.Zainal Abidin terlalu gencar bahas wali songo, saya ingin menjadi bagian sedikit sejarah, yang 99% ditulis imam oleh orang kafir dari kalangan orientalisme atau orang kejawen yang memang berbasis aliran kepercayaan terutama murid-muridnya Panji Notoroto.

 

Jika kita bicara wali songo sebetulnya hanya mengambil yang dianggap popular orang Jawa, padahal wali itu bukan hanya ada 9, itu hanya untuk melengkapi jumlah 9 arah, wali Barat, wali Timur, wali Utara, wali Selatan, Barat Daya, Barat Laut, Timur Laut, Tenggara, wali yang satunya adalah wali pancer, berarti ini (mirip) cerita Mahabarata.

 

Ada sebagian orang yang meyakini bahwa apabila seseorang telah menziarahi makam 9 orang wali sebanyak 9 kali maka sama dengan berhaji 1 kali.

 

Dimana sajakah wali-wali tersebut?

5 orang di Jawa Timur: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri (menantu Sunan Ampel), Sunan Drajat (Lamongan) dan Sunan Bonang (anak Sunan Ampel)

3 di Jawa Tengah: Sunan Kali Jaga, Sunan Muria, Sunan Kudus

1 di Jawa Barat: Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

 

Dikatakan oleh para ahli sejarawan Indonesia sebetulnya diawal dakwahnya para wali menginginkan Islam murni seperti yang dinyatakan oleh Bpk. Kuntowijoyo. Diantara dialog antara Sunan Ampel dengan Sunan Kalijaga ketika berdebat untuk mempertahankan acara selamatan, tahlilan, mitoni dan 7 bulanan.

 

Pada suatu ketika Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat orang Jawa seperti selamatan, bersaji dan lain-lain tidak langsung ditentang sebab orang Jawa akan lari menjauhi ulama jika ditentang secara keras, adat istiadat itu diusulkan agar diberi warna/di-islamisasi.

 

Pada saat Sunan Kalijaga mengusulkan kepada Sunan Giri agar pada saat memasuki Masji Demak diadakan pertunjukan wayang kulit, maka Sunan Giri marah, dalam salah satu versi Sunan Giri takluk akan tetapi menurut versi lain Sunan Giri tidak takluk (menentang diadakannya pertunjukan wayang kulit tersebut), setelah Sunan Kalijaga merubah bentuk wayang yang tidak mirip manusia, karena ketika itu Sunan Kalijaga dikatakan (oleh Sunan Giri), “Wahai Kalijaga, bagaimana kamu akan memasukkan patung-patung ke dalam Masjid?”. Berarti disini Islamnya Sunan Giri lurus, bahkan dia mengharamkan musik dan termasuk juga nanti bagaimana akan dibedah tentang buku Sunan Bonang. Bahkan Sunan Giri mau dijilat dan dimasukan kedalam tokoh pewayangan sebagai Dewa tertinggi Sang Hyang Girinoto, padahal dalam cerita Mahabarata tokoh Sang Hyang Girinoto itu tidak ada. Sang Hyang Girinoto itu maksudnya adalah Sunan Giri, karena Sunan Giri adalah wali yang paling disegani, setelah Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel, bahkan Sunan Giri dijuluki “Mufti Jawa”.

 

Diantara dialog para wali Songo, Sunan Ampel mengatakan kepada Sunan Kalijaga, “Apakah adat istiadat lama itu nantinya tidak mengkhawatirkan bila dianggap ajaran Islam? Padahal yang demikian itu tidak ada dalam ajaran Islam. Apakah hal ini tidak akan menjadi bid’ah?”. Lihatlah prinsipnya Sunan Ampel, inilah pernyataan Sunan Ampel.

 

Pada bagian akhir kitab yang ditulis oleh Sunan Bonang, yang merupakan hasil dari pertemuan para wali songo, Sunan Bonang menyatakan, “Wahai saudaraku semua (sesame Muslim dan Seiman), kalian ini selagi masih hidup kita ini sama-sama Muslim, saya itu sayang kepada kalian, oleh karena itu didalam beragama hendaknya kalian menghindari/mencegah dholalah (kesesatan) dan bid’ah (perkara baru dalam agama)”.

 

Ada sebuah dokumen tentang wali songo yang disimpan dalam perpustakaan (museum) di Virara, yang disebut Kropak Virara, kropak adalah daun lontar yang biasa digunakan untuk menulis oleh raja-raja jawa zaman dahulu. Diakhir buku itu tertulis bahwa buku tersebut asli tulisan Sunan Bonang.

 

Bagaimana buku tersebut bisa sampai tersimpai di Italia (Virara)? Pada tahun 1598 misionaris romawi sering mondar-mandir ke Indonesia, terutama ke Pasuruan, dari sanalah disinyalir para misionaris itu menbawa dokumen-dokumen, termasuk mampir ke pesantrennya Sunan Bonang dan mengambil buku-buku Sunan Bonang, sebagaimana disebutkan Bpk. Hasanu Simon dalam bukunya Misteri Syeh Siti Jenar (Hasanu Simon, 2004, Peranan Walisongo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa Dalam Misteri Syekh Siti Jenar, Pustaka Pelajar, Jogjakarta)

 

Daftar pustaka dalam Het Book van Bonan (salah satu buku tulisan Sunan Bonang) yaitu Ihya Ulumuddin karya Al Ghazali, Tahmid karya Imam Al Hanafi, dan lainnya termasuk Futhul Qulub (salah satu kitab yang sering menjadi rujukan Ibnu Qayyim) karya Abu Thalib Al Maghdi, juga kitab Al Gun-yah karya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani

 

Orang Jawa zaman dahulu jika memberikan gelar kepada seseorang paling tertinggi adalah Panembahan, Pangeran, Susuhunan, Ki, kemudian Kyai. Sunan Giri, Pangeran Mojo Agung, Pangeran Kalijaga, Syaikh Bentong (salah satu murid Sunan Kalijaga), Maulana Magribi, Syaikh Lemah Abang; pada saat itulah terjadi dialog pada kumpulan (diskusi) para wali, yang dibuka pertama kali (berbicara) adalah Sunan Giri. Dari pernyataan para wali songo dapat kita nilai keyakinan dari masing-masing wali songo.

 

Sunan Giri mengatakan, “Saya minta kepada saudara sekalian para wali hendaknya membicarakan ma’rifat hendaknya mencapai saling mufakat tidak menjadi perdebatan, saling mengingatkan agar menuju satu pandangan, jangan ada yang menyembunyikan ilmunya, dengan demikian semua menatap pengetahuan terhadap Tuhan dan hendaklah semua memahaminya”

 

Kemudian Sunan Bonang mengatakan, “Memang demikianlah alam ma’rifat bagi mereka yang mencapainya dan memiliki suatu pemahaman yang jernih tidaklah mengenal keyakinan dan pengakuan ke-Esaan karena mereka telah terserap dalam ma’rifat, ilmunya sudah tenggelam dalam ma’rifat itu sendiri, jasad ini dengan segala tingkah lakunya disebabkan adanya ruh dan karena Allah, adapun yang dinamakan hati itu adalah pengetahuan dan kesadaran karena diterangi oleh Allah, sesungguhnya yang bernama Allah itu ialah menyebut namaNya sendiri, mengagungkanNya sendiri, dan tidak lain kecuali Allah Yang Maha Tahu, bukan karena menemukan atau ditemukan, tidak dapat dipastikan dimanapun, iman dan tauhid memang tidak terpisah dengan ma’rifat, tetapi tidak boleh disamakan dengan iman, tauhid, dan ma’rifat”

 

Kemudian setelah itu Sunan Pangeran Mojo Agung mengatakan, “Menurut pendapat saya, iman dan tauhid itu di Akhirat nanti tidak menjadi masalah lagi, karena tidak ada pemujaan dan penghambaan lagi, adapun yang menjadi pokok iman sekarang ini yaitu adanya pemujaan dan penghambaan, yang demikian itu tanda adanya hamba kawula dan Tuhan gusti, ya itulah hakikat ruh, adapun jika seseorang tidak memahami dua masalah itu, maka kosonglah pengetahuan itu, tetapi jika hatinya mendua maka dia syirik dan tidak sah imannya”

 

Kemudian Sunan Gunung Jati mengomentari, “Adapun orang yang telah mencapai ma’rifat itu ialah jika orang yang beriman sadar (ia) dikuasai dan diperintah oleh ma’rifat yang sempurna, ia tidak melihat dan tidak dilihat, tidak puji puja dan juga tidak memuja”

 

Kemudian berkata Pangeran/Sunan Kalijaga, “Pendapat saya, ma’rifat itu  tidak dapat diserupakan, Tuhan-lah Yang Sempurna Maha Tahu, tidak ada sesat apa saja yang diperintahkan Tuhan, kita tidak tahu tentang ruh, Tuhan juga wujud luar dan dalamnya”

 

Menyambung pernyataan itu, Syaikh Bentong mengomentari, “Dia tidak ada duanya”

 

Selanjutnya Maulana Maghribi, disinyalir dia bukanlah Sunan Gribik yang ada di Klaten yang Tembayat yang tidak lain adalah Pandan Areng. Tapi (Maulana Maghribi) yang dimaksud disini adalah Maulana Malik Ibrahim yang disebut juga Sunan Maghribi, ia mengatakan, “Apakah badan ini yang dimaksud, tetapikan bukan ini, bukankah ini jism?”

 

Pendapat Syaikh Bentong kemudian juga dikomentari oleh Lemah Abang (Syaikh Siti Jenar), ia mengatakan, “Aku ini adalah Tuhan, mana yang lain, memang tidak ada lagi selain aku ini”

 

Maulana Maghribi mengatakan, “Apakah yang anda maksud jasmani anda ini?”. Syaikh Lemah Abang mengatakan, “Tidaklah  saya berbicara soal jasmani lagi, apakah sebenarnya yang menjadi pokok masalah? Sebenarnya bukan masalah jasmani, pada tempatnya kita mengungkapkan rahasia pandangan masing-masing, karena itu jangan ada perasaan yang bukan-bukan, hendaklah saling mencapai pengertian”.

 

Maulana Maghribi langsung mengatakan, “Tuan memang benar, tetapi anda jangan menganggap bahwa pernyataan anda tidak akan didengar orang lain, sadarilah dengan hati-hati, makrifat yang anda ungkapkan kalau-kalau orang mendengarnya”. (maksudnya akan menyesatkannya).

 

Menanggapi perdebatan itu Sunan Giri mengatakan, “Tidak diragukan, bahwa Allah model corak pikiran syaikh Lemah Abang ini laksana penari gambo yang memukul pancang seraya berkata, ‘Siapa yang mengetahui namaku tanpa aku menyebutkannya sendiri?’.

 

Tidak mungkin ada orang bisa mengatahui nama (orang lain) tanpa diberitahu. Ini sudah menunjukkan makrifat yang diusung oleh Syaikh Siti Jenar/Lemah Abang ini sudah mulai nyeleneh.

 

Lalu Pangeran Cirebon berkata, “Janganlah ikuti pikiran itu, kamu nanti akan dihukum mati”. (Kemudian) Syaikh Lemah Abang marah sambil meninggalkan majelis ia berkata, “Nah, mana lagi yang lain? Jangan dikira ada duanya, Tuhan hanya aku”.

 

Ini adalah pembicaraan awal yang ditulis pada Kropak Virara/Kitab Sunan Bonang yang ditulis pada daun lontar/rontal. Didalam kitab itu terdapat panduan kehidupan dan etika beragama, yang mana kitab ini di awali dengan Bissmillah. Penulisan kitab Sunan Bonang ini setiap bab diawali dengan Bissmillah             kemudian diakhiri dengan Hamdalah dan salawat, berarti Sunan Bonang sangat mengerti tata cara menulis buku, seperti yang ditulis para ulama dari Jazirah Arab.

 

Hidzaifah bin Yaman Radhiallahu ‘Anh pernah berkumpul bersama beberapa kawannya, kemudian ia menumpukkan dua batu, lalu ia bertanya kepada kawannya, “Wahai saudara-saudaraku, apakah kalian melihat diantara tumpukkan dia batu ini ada sinar?”. Kata mereka, “(Kami) tidak melihatnya kecuali hanya sedikit”. Kemudian Hudzaifah Radhiallahu ‘Anh berkata, “Akan dating suatu zaman, bid’ah menyebar dan kebenaran surut/meredup, tidaklah tersisa kebenaran kecuali seperti cahaya diantara dua batu ini, hingga sampai nanti suatu zaman ketika bid’ah ditinggalkan orang akan mengatakan ‘sunnah telah ditinggalkan’.”

 

Lihatlah perkataan Hudzaifah Radhiallahu ‘Anh tersebut, padahal yang ditinggalkan adalah bid’ah, akan tetapi orang-orang mengatakan bahwa sunnah telah ditinggalkan. Sekarang kenyataannya di beberapa kampung yang menjadikan tradisi selama ini tahlilah, yasinan, manakiban dan macam-macamnya. Setelah anak-anak muda merantau dan sudah banyak yang tidak baca Barzanji, sudah banyak tidak ada acara salawatan/manakiban; orang-orang banyak mengatakan bahwa syi’ar Islam sudah tidak bagus di kampung ini. Berarti benarlah apa yang dikatakan oleh Hudzaifah bin al Yaman Radhiallahu ‘Anh, bahwa ketika bid’ah ditinggalkan orang akan mengatakan sunnah telah ditelantarkan.

 

Tentang kesempurnaan Islam, Sunan Bonang dalam bukunya menuliskan suatu konsep akan perbuatan yang harus dilakukan orang Islam adalah menunaikan lima rukun Islam secara benar dan sungguh-sungguh, diantaranya ialah orang Islam dilarang berdagang alat musik.

 

Di dalam kitab itu Sunan Bonang juga menulis, ‘Orang Islam dilarang berdagang alat-alat musik, karena itu hukumnya haram’. Inilah pendapat Sunan Bonang, pendapat Wali Songo, yang ini adalah hasil sarasehan/dialog kumpulnya para wali.

 

Orang Islam dianjurkan untuk berderma/sedekah, mandi jinabat, membaca Al Qur’an, menjauhi perbuatan mesum, pergi ke masjid, dan berkumpul dengan orang banyak untuk melaksanakan shalat Jumat, amalan yang dilaksanak untuk memperbaiki niat, tidak serakah, tidak membunuh dan semacamnya, amalan-amalan yang baik.

2 Comments

    • maaf, buku yang admin punya ga ada di percetakan, karena kebanyakan admin cuma kumpul2 ilmu dari buku2 para ustad ato ulama, kemudian admin rangkum, termasuk juga sedang mengumpulkan materi2 tertentu dari kitab2 hadits. Kalo untuk materi “Bersikap bijak pada ajaran wali songo” ini admin ketik dari audio ceramah Ust. Zainal Abidin Syamsuddin, LC. tapi kalo butuh materi sesuatu insya Allah dengan senang hati jika mampu akan admin bantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s