BERSIKAP BIJAK PADA AJARAN WALI SONGO (2/2)

25 Wejangan Syaikh Maulana Malik Ibrahim

Wejangan Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang dirangkum oleh Sunan Bonang dalam bukunya adalah sebagai berikut:

  1. menyesali sedalam-dalamnya setiap kesalahan yang dilakukan dengan cara bertaubat, mengembalikan harta orang lain yang telah diambil dengan cara yang tidak sah, bekerja dengan keras sesuai dengan kemampuan untuk melakukannya,
  2. hanya berkata untuk hal yang sangat perlu, tidak henti-hentinya menyebut nama Allah (dzikir);
  3. mau menyadari bahwa dirinya berhutang kepada Allah dan selalu ingat kepadanya;
  4. tetap teguh mematuhi peraturan meskipun dirayu oleh orang lain;
  5. rajin berguru sesuai dengan pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam;

Ini menunjukkan bahwa ke-Islaman mereka (para Wali Songo) pas-pasan. Makanya saya (Ust. Zainal Abidin) lebih setuju bahwa Wali Songo itu bukan ulama, tetapi mereka hanyalah orang yang diutus oleh Turki untuk membenahi Jawa. Dan dari penguasaan hadits-haditsnya memang sangat lemah, diantanya (hadits), “Barangsiapa tidak punya guru, maka syaithan akan bertindak sebagai gurunya”. Padahal tidak ada hadits seperti ini dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

  1. tidak berbeda antara hati dengan ucapan, tidak selalu berfikir tentang dunia;
  2. hendaknya menepati janji, terpercaya dalam tingkah laku dan selalu berbuat baik;
  3. selalu membatasi nafsu makan, pandangan mata dan ucapan;
  4. orang yang sering membual tidak akan punya kekuatan hati untuk menyesali perbuatan salahnya kepada Allah;
  5. melaksanakan hukum dan amaliah secara terang-terangan, dan tidak berdiskusi dengan pengikut Qodariyah, kecuali bila terpaksa;

Ternyata Sunan Bonang paham larangan para ulama untuk duduk berdiskusi/berdebat dengan ahli bid’ah, terutama Qodariyah.

  1. tidak makan dan minum kecuali benar-benar lapar dan haus, serta tidak tiduk kecuali benar-benar mengantuk; (nasihat ini kaitannya dengan urusan duniawi)
  2. tidak berdiskusi dengan wanita yang membangkitkan nafsu birahi;
  3. menjaga pandangan mata, tidak melihat kecuali yang di hadapan mata, tidak melihat/mengintip isi rumah sesame muslim, karena oleh Rasulullah hal itu dianggap munafik;
  4. selalu dalam keadaan suci,
  5. tidak berkawan dengan orang munafik, penghasut, pemfitnah, dan orang yang selalu melecehkan agama,
  6. tidak hanya membicarakan masalah dunia dan tidak kasar kepada sesama muslim;
  7. tidak mengatakan ‘pasti’ terhadap sesuatu yang akan dilakukan, karena memastikan itu adalah munafik, sebagai gantinya harus mengucapkan ‘Insya Allah’;
  8. tidak menipu orang, tidak berbohong, harus berkata terus terang, dan tidak mengadu domba menghancurkan orang lain, mencegah perbuatan jahat;
  9. tidak menuruti kehendak syaithan;
  10. tidak mendengarkan (membenarkan) setiap pengaduan kecuali diperiksa terlebih dahulu kebenarannya;
  11. mengikis nafsu marah, bersabar terhadap hal-hal yang mengecewakan;
  12. jangan takabur, jangan sombong dan meremehkan orang lain, dan mengagungkan diri sendiri karena kekuasaan dan harta yang dimiliki, dilarang mengatakan ‘Siapa yang menyamai saya, tidak ada yang saya takuti, tanda-tanda orang sombong adalah suka pada diri dan perkataan sendiri serta meremehkan orang lain;
  13. jangan memiliki iri terhadap nikmat yang diterima oleh orang lain;
  14. jangan banyak merenung, ‘Mengapa jauh dari Allah?’, tanpa solusi,
  15. berusahalah untuk mencapai perkataan dan yang lainnya

Pesan Kesucian dan Keteladanan

Syarat menjadi pemimpin menurut Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang ditulis dalam Kitab Sunan Bonang:

  1. memiliki pengetahuan hukum Islam/fikih yang bisa dinalar, baik mengenal hal-hal yang wajib ataupun yang diharamkan;
  2. jujur dalam bertindak dan mengikuti cara hidup muslim,
  3. tidak melindungi orang yang murtad dari Islam;
  4. berbudi baik, memperhatikan peraturan, berhati-hati dalam beragama dan bertindak bijaksana dalam hidup

karena setiap yang kita ucapkan pasti nanti akan dimintai pertanggung jawaban, namun kadang ada orang yang bangga menjadi/disebut sebagai ulama/ustadz, yang berbangga akan popularitasnya sebagai ulama/ustadz, bukan sebagai penerus dakwah para nabi

  1. berbuat baik, memperhatikan peraturan
  2. bersifat pemurah, penuh kasih sayang, dan selalu siap membantu orang lain yang sedang mendapatkan kesulitan
  3. selalu menghargai sikap/pandangan para murid, memperhatikan masalah makan dan tempat tinggalnya, hingga mempunyai kesempatan yang baik dalam menjalankan agama, dan membimbing mereka agar tidak ragu-ragu dalam beragama, hal yang sama juga berlaku untuk anak cucu ataupun karyawan yang bekerja kepadanya, karyawan hendaknya disantuni dan tidak disakiti, tidak dipaksa bekerja diluar batas kemampuan, jangan menyebabkan hatinya susah, dan berusaha menyenangkan hati orang lain, jika ada karyawan yang berbuat kesalahan jangan langsung dibentak akan tetapi diberi petunjuk sesuai dengan peraturan dengan penuh rasa kasih sayang, jika terpaksa baru kemudian diambil tindakan yang hendaknya lebih dari sekedar menakut-nakuti agar mendapatkan karunia dari Allah
  4. Bagian ke delapan dalam kitab Sunan Bonang yang ditulis pada daun lontar sudah tidak bisa dibaca.
  5. Bersikap sabar dan suka memaafkan orang lain,
  6. Berserah diri kepada Allah dan tidak putus asa dalam berusaha,
  7. Bertindak dengan tujuan murni mengerjakan keselamatan,
  8. Semua usaha berhasil atau tidak selalu disikapi dengan senang hati dan tawakal,
  9. Taat kepada perintah Allah tanpa berfikir panjang,
  10. Menerima dengan senang hati semua cobaan dari Allah,
  11. Tetap sabar dan tabah ketika sedang sakit atau mendapatkan kesulitan hati,
  12. Tetap teguh dan tidak goyah ketika hendak melaksanakan perbuatan baik,
  13. Bersyukur dan selalu taat kepada Allah,
  14. Merahasiakan amal sedekah sehingga seolah apa yang diamalkan oleh tangan kanan tidak diketahui oleh tangan kiri
  15. Menyembunyikan penderitaan/ujian yang ia terima dari Allah (tidak berkeluh kesah),
  16. Merahasiakan ibadah dari sesama manusia (tidak riya)

Tanda-tanda Orang Suci

Berpuasa, bangun dimalam hari, duduk menyendiri pada dasarnya apa yang dilakukan oleh para masyaikh (jamak dari syaikh) itu harus meniru apa yang telah dijalankan oleh Rasulullah, sikap membelakangi dunia karena taat terhadap perintah agama seperti yang dilakukan oleh Rasulullah dulu Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika melaksanakan tingkah laku masyaikh tetapi tidak berlaku seperti sunnah Rasulullah serta tidak mengikuti contoh para sahabat bahkan menyeleweng atau bercampur kufur dan bid’ah, maka dia tidak tergolong umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setelah seseorang berhasil melaksanakan semua perbuatan baik maka ia akan memiliki sifat yang terpuji, selalu mengagungkan nama Allah, dan lapang dada

Ciri-ciri/Tingkah Laku Orang Mukmin Menyangkut Kerohanian

Sikap yang sudah mempribadi

  1. Menyesali bila berbuat cela
  2. Bersikap sabar
  3. Berkasih sayang terhadap sesama makhluk Allah
  4. Menghayati keMahaKuasaan Allah
  5. Selalu ingat mati
  6. Bertaqwa kepada Allah
  7. Membelakangi dunia
  8. Mendambakan segera bertemu dengan Allah
  9. Tidak suka bersenang-senang
  10. Tidak melupakan ibadah
  11. Bersikap sabar terhadap musibah yang menimpa diri dan daerah sekitarnya
  12. Selalu tawakal dan bersarah diri kepada Allah
  13. Tidak terlintas sedikitpun pikiran untuk berbuat jahat dalam sanubari dan hanya berpikir tentang kebajikan
  14. Sangat merindukan Allah

Ciri-ciri Orang Shaleh

Tingkah laku orang shaleh mengenai kebajikan dan keburukan yang diharapkan menjadi pedoman hidup sehari-hari bagi umat Islam

  1. Tidak memperhatikan orang lain melebihi sikap laku kebajikannya sendiri (maksudnya jangan sampai seseorang itu lebih paham aib orang lain daripada aibnya sendiri, sementara kebaikannya sendiri masih lebih rendah dari kebaikan orang lain tersebut)
  2. Tidak berbicara pribadinya sendiri, semata-mata hanya berserah diri kepada Allah (maksudnya orang di dunia ini agar mengenal kebaikan dan keburukan, usahakan dalam hidup ini tidak selalu membicarakan tentang dirinya, yang terutama adalah kepentingan agama, kemudian kepentingan orang-orang secara umum, kemudian kepentingan keluarga)
  3. Kehendak Allah tidak dipersoalkan lagi (ini pulalah yang dikatakan oleh Imam Al Barbahari dalam Syahrus Sunnah, “Berpikirlah tentang masalah makhluk, jangan berpikir dan mencari-cari apa yang ada pada Pencipta” (tafakur tentang makhluk Allah, yang kaitannya dengan ayat-ayat kauniyah)
  4. Tidak mempersoalkan masalah dunia, sedang diri dan nyawanya sendiri juga tidak dipersoalkan (maksudnya kita sebagai seorang muslim di dalam dunia ini harus berserah diri kepada Allah, bahwa semuanya ini adalah ditakdirkan dan diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)
  5. Tingkah lakunya hanya ditujukan untuk mendapatkan ridho Allah semata

Ciri-ciri Orang Munafik

  1. Bila berbicara tidak dapat dipercaya
  2. Bila berjanji bohong
  3. Berkhianat (hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)
  4. Tamak dan mengangan-angankan yang bukan haknya
  5. Mengharap pemberian dari sesama (tidak berharap kepada Allah)
  6. Kikir dan takut miskin
  7. Senang harta yang banyak untuk bersenang-senang
  8. Tidak pemalu dan cenderung merendahkan orang lain
  9. Suka mencari muka (penjilat/bermuka dua)

Rasulullah bersabda: “Orang yang paling jelek di sisi Allah nanti di hari Kiamat adalah orang yang memiliki dua muka”

Inilah yang termasuk/disebut tokoh netral yang bisa hidup dengan bintang film, kalangan artis, tapi juga bisa hidup di kalangan santri. Bisa hidup dengan penjudi dan ahli maksiat, tapi juga bisa hidup dengan kalangan yang mengaji; ini bukanlah orang baik, bukan tokoh netral, bukan panutan/teladan, akan tetapi mereka ini adalah sejelek-jeleknya manusia

  1. Suka menghina orang miskin dan mengunggulkan diri sendiri
  2. Berambisi dihormati orang, dan berharap orang lain tunduk kepadanya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang senang dihormati orang lain dengan cara berdiri, maka hendaknya menempatkan dirinya di Neraka”

Janganlah seperti raja Persia dan Romawi yang bawahannya berdiri untuk menghormati ketika raja datang hingga duduk

  1. Suka mengambil hati (penjilat) dan menutup-nutupi kejelekan sendiri, dan menyebar luaskan cela/aib orang lain
  2. Senang bermusuhan, bertengkar dan mau menang sendiri (suka mengkambing hitamkan orang lain, paling sulit untuk disalahkan, paling sulit untuk melihat kesalahan diri sendiri tapi paling jeli dalam melihat kesalahan orang lain)

Oleh orang munafik ini, orang-orang yang tidak salah saja bisa salah apalagi orang yang salah. Diantara tanda munafik kata Rasulullah adalah, “Ketika bertengkar selalu lebih jahat”

  1. Suka memutuskan hubungan persaudaraan/silaturahmi, mudah susah (jengkel), busuk hati dan tidak bertanggungjawab
  2. Mudah jengkel karena orang munafik ketika beramal adalah untuk mencari pujian manusia, mencari kepentingan dunia
  3. Dengki dan terlalu banyak keinginan, Banyak bicara dan senang omong kosong, Tamak dan suka membual, Suka menyeleweng dan mengadu domba, Enggan berbuat baik dan suka berbuat apa saja yang tidak berguna (memerintahkan kemunkaran dan mencegah kebaikan, dakwah mereka bukan kepada Allah melainkan sesuai dengan selera mereka)

 

 

Hal-hal yang Membatalkan Ke-Islaman

Perkara yang apabila dilakukan seseorang maka akan kufur

  1. Ikut menyembah berhala dan mengikuti acara keagamaan orang kafir
  2. Merendahkan wahyu Tuhan, menolak/menyelewengkan dalil Allah, memaki kebenaran firman Allah dan memaki kebenaran utusan Allah;(merupakan ijma, bahwa barangsiapa yang menghujat wahyu, mengolok-olok wahyu, firman Allah, sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka keIslamannya batal
  3. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal;(ini adalah sebuah pernyataan yang tinggi, yang juga sudah dibahas oleh para ulama ahlussunnah terdahulu)
  4. Menganggap yang sunnah sebagai wajib dan menganggap yang wajib sebagai sunnah
  5. Mengaku utusan Allah setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (bahwa bukanlah Nabi Muhammad itu bapak salah seorang diantara kalian melainkan adalah seorang utusan Allah dan penutup para Nabi)
  6. Menganggap kafir saudaranya yang Islam tanpa ada bukti yang nyata (barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya ‘hai kafir’, maka akan kembali kepada salah satu dari keduanya)
  7. Merasa senang bila dianggap kafir (meragukan kekafiran orang kafir/musyrik, tidak meu mengkafirkan orang kafir)

Perbuatan yang Dianggap Kafir

Orang akan menjadi kafir jika melakukan hal-hal berikut:

  1. Jika ada seorang muslim sayang kepada orang kafir/berfikir sebagai orang kafir, mengikuti tingkah laku dan membantu perbuatan orang kafir (berlaku lebih baik kepada orang kafir daripada kepada sesama muslim)
  2. Jika ada orang kafir ingin masuk Islam secara sadar, lalu meminta bimbingan tetapi tidak dibimbing, dengan alasan tidak mampu padahal sesungguhnya dia mampu
  3. Jika ada orang berkata “10 tahun lagi saya akan kafir” (atau mengatakan suatu saat akan kafir)
  4. Jika ada orang Islam menolak memberi pelajaran tentang Islam atas permintaan temannya yang muslim
  5. Jika seseorang melaksanakan shalat tanpa berwudhu atau menggunakan pakaian najis dan meyakini perbuatan tersebut halal
  6. Jika seorang muslim diajak mengikuti sunnah Rasul tetapi tidak mau ikut
  7. Jika seseorang mendengar adzan tetapi artinya diselewengkan, atau meminum minuman keras dengan mengucapkan “Bismillah”. Mengatakan “Saya tidak percaya hari Kiamat”, atau tidak percaya bahwa semua orang akan meniti shirotol mustaqim (jembatan menuju Surga)
  8. Jika seseorang mengatakan (meyakini) bahwa bertapanya orang Islam itu sama dengan bertapanya orang kafir (orang Islam yang bertapa sama dengan cara orang kafir maka dia kafir, seperti orang yang bertapa berdiam diri selama 40 hari)
  9. Jika seseorang berbuat dosa kepada Allah dan diminta oleh orang lain untuk bertaubat tetapi orang itu tidak mau
  10. Jika seseorang mengatakan “susah menjadi orang Islam” atau “susah melaksanakan shalat” atau “saya akan shalat jika mengetahui bahwa shalat itu bermanfaat”
  11. Jika seseorang mengatakan (meyakini) telah melihat Tuhan dengan mata kepala sendiri (menurut pandangan Sunan Bonang tentang ‘melihat Allah’: Allah tidak bisa dilihat di dunia dan hanya bisa dilihat di akhirat)
  12. Jika seseorang mengatakan (meyakini) tidak ada Surga dan Neraka
  13. Jika seseorang membujuk orang lain untuk memakan dan meminum barang haram
  14. Jika seseorang mengatakan (meyakini) bahwa di dunia tidak ada perintah dan larangan (Allah) kepada manusia
  15. Jika seseorang mencari cacat al Qur’an dan membuat permainan dengan kata-katanya atau meremehkannya
  16. Jika seseorang mengatakan (bersaksi) tidak akan mentaati Rasulullah, jika terlibat masalah hukum tidak mau diselesaikan dengan syariat Islam
  17. Jika seseorang mengatakan “Si fulan itu lebih baik ketika kafir” (memuji orang kafir)
  18. Jika seseorang baik hanya di mulutnya saja tetapi hatinya berkhianat
  19. Jika seseorang bertanya “Mana yang lebih baik antara orang Islam dengan orang Jawa?”
  20. Memuji berhala, bahwa berhala (jimat) itu akan dapat memberi kekuatan
  21. Jika seseorang mencela Rasulullah atau sahabat Rasulullah
  22. Jika seseorang mengatakan (meyakini) dirinya sebagai Tuhan
  23. Jika seseorang mengatakan (meyakini) Tuhan tidak tahu apa yang belum terjadi
  24. Jika seseorang mengatakan (meyakini) pernah melihat bidadari (semisal cerita Joko Tarub dan 7 bidadari), memakan buah-buahan dari Surga
  25. Jika seseorang mengatakan (meyakini) Islam itu tidak masuk akal tanpa bukti
  26. Jika seseorang meyakini para wali/ulama lebih tinggi (utama) dibandingkan dengan para wali
  27. Jika seseorang mengatakan (meyakini) bahwa shalat atau tidak sama saja
  28. Jika seseorang mengatakan (meyakini) bahwa suka menumpuk harta
  29. Jika seseorang mengatakan (meyakini) bahwa dengan amaliah (ibadahnya semata) ia pasti sudah masuk Surga
  30. Jika seseorang mengatakan (meyakini) bahwa Tuhan itu kejam
  31. Jika seseorang mengatakan “kalau Nabi benar saya mau mentaati”
  32. Jika seseorang selalu cenderung berbuat maksiat dan jahat

Menurut hakikat iman dan ilmu bahwa orang yang gelap hati/imannya ada 8:

  1. Orang yang tahu kewajiban berbakti kepada Allah tetapi tidak mau melakukan
  2. Membaca Al Qur’an tetapi tidak mau mengamalkan isinya
  3. Mengatakan (mengaku) cinta kepada Nabi tetapi tidak mau melaksanakan Sunnahnya
  4. Mengatakan (mengaku) takut mati tetapi tidak mau bersiap-siap mencari bekalnya
  5. Mengatakan (mengaku) setan adalah musuhnya tetapi berbuat jahat seperti kelakuan setan
  6. Berkata (mengaku) takut api Neraka tetapi membakar dirinya dengan api Neraka itu
  7. Berkata (mengaku) senang kepada Surga tetapi tidak mau berbuat yang mendekatkan diri kepada Surga
  8. Berkeinginan mengetahui keburukan orang lain tetapi keburukan diri sendiri tidak tahu

Kebalikannya bahwa hati akan menjadi cerah apabila melaksanakan hal-hal berikut:

  1. Melaksanakan shalat secara tertib dan teratur
  2. Membaca Al Qur’an
  3. Duduk di masjid untuk bertafakur
  4. Memperdalam ilmu agama dengan ulama
  5. Memiliki kawan dari kalangan orang shaleh
  6. Menyendiri dan mengurangi makan
  7. Mencegah omong kosong
  8. Banyak bertaubat
  9. Memberikan sandang kepada anak yatim
  10. Selalu bersikap sabar
  11. Selalu dalam keadaan wudhu
  12. Banyak minum air
  13. Banyak bersujud dan menyadari bahwa manusia diciptakan dari tanah
  14. Menahan nafsu amarah itu lebih baik dari perang (sabil) yang amat sukar dilaksanakan (perkataan ini menukil ucapan Ali bin Abi Thalib)
  15. Pemurah ketika masih kaya, memanfaatkan waktu ketika masih sehat, memaafkan ketika sedang marah, waspada ketika berada di tempat sunyi dan berkata jujur

Hal-hal yang menghalangi seseorang takut kepada Allah:

  1. Merasa badannya kuat tetapi tidak melaksanakan ibadah karena kuatir badannya akan menjadi lemah
  2. Menganggap mudah (meremehkan) ilmu agama
  3. Menganggap dirinya tidak mampu (melaksanakan syariat)

Setelah wali songo generasi pertama, terutama generasi sunan kali jaga, ajaran wali songo yang asli mulai terkikis/tercampur, terutama setelah meninggalnya Raden Fatah, kerajaan Islam dirubah oleh Sultan Trenggono, apalagi setelah dipegang oleh Joko Tingkir yang ketika itu guru besarnya adalah Sunan Kali Jaga, maka Islamnya adalah Islam Kejawen (memasuki ajaran-ajaran budaya jawa kepada ajaran Islam/mengIslamisasi ajaran Jawa)

Penutup penyusun:

Demikian semoga bermanfaat untuk kita dunia dan akhirat, adapun kekurangan, kekeliruan dan kesalahan dalam transkrip ini, saya mohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s