Tafsir An-Naazi’aat: 27-41

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا

27. Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya,

Allah Ta’ala berfirman, menanyakan dan menunjukkan bukti kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan, menyangkut pengembalian makhluk setelah ketiadaannya.Namun Allah jelaskan bahwa penciptaan langit lebih sulit daripada penciptaan manusia.

Kata tanya dalam ayat ini merupakan penegesan adanya hari berbengkit, sebab kaum musyrikin mendustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setiap orang tentu tahu jawabannya bahwa langit lebih sulit penciptaannya. “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”. (QS. Al Mukmin [40]: 57)

Kalimat “Allah telah membangunnya” merupakan penegasan dari kalimat sebelumnya.

 

رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا

28. Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,

Ayat ini melengkapi kalimat “Allah telah membangunnya” pada ayat sebelumnya, menjadikannya sebagai bangunan yang sangat tinggi dan jauh dari daratan dihiasi bintang-bintang pada malam hari yang gelap.

Allah Ta’ala meninggikna langit dan bumi tanpa menggunakan tiang-tiang penyangga, namun demikian Allah menjadikannya tegak sempurna. Yakni menjadikan kamu seimbang dan sempurnya ciptaannya.

وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا

29. dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.

     Malam diciptakan malam gelap dengan segala fungsi dan manfaatnya, diantaranya agar manusia dapat beristirahat dengan sempurna, Allah jadikan siang terang benderang diantara manfaatnya adalah untuk memudahkan manusia dalam beraktifitas dan mencari penghidupan.

 

وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا

30. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

Ayat ini langsung Allah jelaskan dengan ayat selanjutnya.

 

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا

31. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.

Ayat ini dijelaskan dalam QS. Fushshilat [41]: 9-12, “Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Bumi diciptakan sebelum langit, akan tetapi penyempurnaan penghamparannya, pemancaran air dan penumbuhan tumbuh-tumbuhan di dalamnya terjadi setelah penciptaan langit.

 

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

32. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,

Allah Ta’ala menjadikan gunung sebagai patok bagi bumi, sebagai pasak di atas muka bumi yang menahannya agar tidak menggoyangkan makhluk yang berada di atasnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang lain: “Dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, (QS. An Nahl [16]: 15)

 

مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ

33. (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

Yakni Allah Ta’ala menciptakan semua itu sebagai kesenangan untuk manusia. Kita dapat menikmati makanan dan minumannya. Dan juga kesenangan untuk binatang-binatang ternak kita.

     Setelah Allah Ta’ala mengingatkan nikmat-nikmat tersebut kepada hamba-hambaNya yang menunjuk-kan ke-Mahasempurnaan kodrat dan kuasaNya, Allah mengingatkan mereka tentang tempat kembali yang pasti akan dilewati oleh manusia.

 

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى

34. Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang.

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengemukakan bahwa hari Kiamat disebut ath-Thaammah karena hari Kiamat tersebut memenuhi sesuatu yang menakutkan dan menyeramkan.

Hari Kiamat disebut malapetaka yang besar karena kedahsyatannya yang sangat hebat, menghancurkan segala sesuatu yang ada sebelumnya.

 

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ مَا سَعَى

35. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,

Pada saat itu manusia akan teringat seluruh amal perbuatannya yang baik ataupun yang buruk yang telah tertulis, dan manusia diperintahkan untuk membacanya sendiri, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tiap-tiap manusia itu Telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu Ini sebagai penghisab terhadapmu”. (QS. Al Israa’ [17]: 12-13).

Maka setelah membaca kitab catatan amalnya tersebut manusia akan teringat semua perbuatannya yang disengaja ataupun tidak, yang diketahui ataupun tidak, ataupun amal-amal yang terlupakan. Pada saat itulah orang-orang kafir akan berkata: “Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah”. (QS. An Nabaa [78]: 40)

 

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى

36. dan diperlihatkan neraka (Jahim) dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.

Semua orang yang dapat melihat Neraka akan melihat dengan mata kepalanya sendiri Neraka yang ditampakkan dan didatangkan dengan diikat oleh 70.000 tali kekang, dan setiap tali kekang ditarik oleh 70.000 malaikat (HR. Muslim, Shahih Muslim Kitab: al-Jannah Bab: Sifat Jahanam No.29, 2842).

 

فَأَمَّا مَنْ طَغَى

37. Adapun orang yang melampaui batas,

Yakni orang yang sombong dan sewenang-wenang, seperti Fir’aun dan orang-orang semisalnya

 

وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,

Yakni orang-orang yang lebih mendahulukan kehidupan dunia daripada urusan agama dan akhiratnya. Ayat ini dan ayat sebelumnya menyebutkan dua sifat penghuni neraka.

 

فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

39. maka sesungguhnya Neraka Jahimlah tempat tinggal (nya).

Yakni tempat kembali dan bermukim, dan seburuk-buruk tempat kembali adalah Neraka Jahanam.

 

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,

Yakni takut ketika berdiri di hadapan Allah Ta’ala, takut akan hukumNya yang diberlakukan, dan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsunya yang menyelisihi perintah Allah dan RasulNya, serta mau dan mampu mengarahkan hawa nafsu untuk selalu mentaati Tuhannya.

Manusia memiliki 3 macam nafsu:

  1. Nafsu Muthma’innah (mengajak manusia kepada kebaikan)

“Hai nafsu Muthma’innah (jiwa yang tenang). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku”. (QS. Al Fajr [89]: 27-30)

  1. Nafsu Ammaarah Bissuu’ (mengajak kepada keburukan)

“Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu (ammaarah bissuu’) itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang”. (QS. Yusuf [12]:53)

  1. Nafsu Lawwaamah (mengajak manusia untuk menyesali perbuatan dirinya sendiri, yang baik ataupun yang buruk)

Aku bersumpah demi hari kiamat, Dan Aku bersumpah dengan (nafsu Lawwaamah) jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”. (QS. Al Qiyamah [75]: 1-2)

     Maksudnya, bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal Kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.

 

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

41. maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggal (nya).

Yakni tempat yang penuh kenikmatan yang telah Allah persiapkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih yang diberikan rahmatNya.

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”. (QS. As Sajadah [32]: 17)

Dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman: “Aku telah menyediakan bagi hambaKu yang shalih, kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbesit dalam hati manusia” (HR. Bukhari, Shahih Bukhari, kitab Bad’ul Khalqi, bab Sifat Jannah No. 3244; dan Muslim, Shahih Muslim, kitab  al-Jannah wa Sifat Na’iimiha wa Ahliha, bab Sihat Jannah No.2824)

Para penghuninya telah diberi kabar gembira semenjak ruhnya dicabut ketika Malaikat memanggilnya dengan “Keluarlah wahai jiwa yang tenang”. “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang Telah kamu kerjakan”. (QS. An Nahl [16]: 32)

 

Maraji:

  • Al Qur’an dan terjemahannya
  • Tafsir ibnu Katsir jilid 8, Pustaka Imam Syafi’i
  • Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Pustaka At-Tibyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s