Tafsir An-Naazi’aat: 42 – 26

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا

42.(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?.

Manusia bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seperti yang disebutkan dalam ayat lain: “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu Hanya di sisi Allah”. dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”.” (QS. Al Ahzab [33]: 63)

Pertanyaan manusia tentang hari Kiamat ada dua jenis:

  1. Pertanyaan yang berisi ketidakpercayaan dan pengingkaran (kekufuran). Pertanyaan seperti ini haram hukumnya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang musyrik yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hari Kiamat, mereka ingin hari Kiamat disegerakan saja kalau memang hari Kiamat benar akan terjadi. “Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa Sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh”. (QS. Asy Syuura [42]: 18)

 

  1. Pertanyaan tentang hari Kiamat untuk mempersiapkan diri menghadapinya, pertanyaan seperti ini dibolehkan.

Ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, kapankah terjadinya hari Kiamat?”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya (hari Kiamat)?”. Lelaki itu berkata: “Cinta kepada Allah dan RasulNya”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya, seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai”. (HR. Bukhari, Shahih Bukhari, kitab: al Adab, bab: Orang yang mengucapkan “Wailaka!”, no.6167. Muslim, Shahih Muslim, bab: al Birr wash Shilah, bab: Seseorang akan bersama orang yang ia cintai, no.161, 2639)

 

Apapun bentuk pertanyaannya, namun yang jelas, ilmu tentang ketentuan waktu datangnya hari Kiamat hanya Allah Ta’ala yang tahu, karena itu Allah Ta’ala berfirman:

فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا

43. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)?

Yakni, Allah Ta’ala memberitahukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau tidak akan dapat memberitahukan kepada mereka yang bertanya tentang kapan waktu terjadinya hari Kiamat, karena ilmu tentang itu hanya ada di sisi Allah, hanya Allah saja yang mengetahui kapan terjadinya Kiamat dan tidak ada satupun makhluk yang mengetahuinya, tidak pula dengan malaikat Jibril.

 

إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا

44. Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).

“Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu Hanya di sisi Allah”.” (QS. Al Ahzab [33]: 63). Jika malaikat dan manusia yang paling alim saja tidak dapat mengetahui kapan terjadinya Kiamat, apalagi makhluk yang lebih rendah tingkatannya. Dengan demikian maka pengakuan sebagian orang yang menetapkan tanggal sekian dan sekian sebagai waktu terjadinya hari Kiamat adalah bohong besar.

 

إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا

45. Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit).

Yakni, engkau tidak akan tahu kapan terjadinya hari berbangkit. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam “hanyalah seorang pemberi peringatan” yang bertugas menyampaikan wahyu berupa peringatan dari Allah Ta’ala “bagi siapa saja yang takut kepada hari berbangkit”, mereka yang takut adalah orang-orang yang beriman. Adapun orang-orang yang mengingkari dan tidak beriman dan tidak mempercayainya, serta mendustakannya, maka peringatan tidaklah berguna bagi mereka.

 

Tentang mereka yang tidak beriman, Allah berfirman: “Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS.Yunus [10]: 101)

Janganlah bertanya kapan akan mati? Atau dimana akan mati? sebab itu adalah permasalahan yang tidak perlu dipermasalahkan, karena Allah sudah putuskan kapan dan dimana seseorang akan mati.

 

Kematian adalah sesuatu yang sudah pasti meski sepanjang apapun usia seseorang, namun seakan-akan seseorang merasa tinggal di dunia hanya sehari saja atau sebagaimana firman Allah Ta’ala:

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

46. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.

Pertanyaan yang harus ditanyakan kepada setiap kita adalah bagaimana keadaan kita saat menghadapi kematian? Bukanlah dalam keadaan kaya, miskin, kuat, lemah, banyak keturunan atau tidak punya keturunan, akan tetapi amal apa yang akan dibawa saat menghadapi kematian, karena kita tidak tahu kapan kematian akan datang kepada kita.

 

Oleh karena itu, kita harus banyak-banyak mengucapkan istighfar semampu kita, sebab istighfar merupakan pelipur segala macam kesedihan dan jalan keluar dari segala macam kesempitan, karena dosa dapat menghalangi seseorang dari hidayah. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat, Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nisaa [4]: 105-106)

 

Ayat Ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu’mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. hal Ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu’mah kepada nabi s.a.w. dan mereka meminta agar nabi membela Thu’mah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu’mah, nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu’mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.

 

Allah Ta’ala juga berfirman: “Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya”. (QS. Muhammad [47]: 17)

 

Oleh karena itu hendaklah kita selalu muroqobah (merasa diawasi oleh Allah), memperbanyak istighfar dan senantiasa muhasabah diri sendir sehingga kita selalu dalam keadaan siap, karena dikhawatirkan kematian menjemput kita secara tiba-tiba. Kita memohon kepada Allah agar diberikan akhir yang baik (husnul khatimah).

 

     “mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari”. Dihadapan manusia ada tiga masa:

  1. Masa lalu yang telah berlalu.

Adalah masa yang telah berlalu, dan yang telah berlalu sudah hilang.

  1. Masa kini yang menjadi tanggungjawabnya sekarang.

Masa sekarang yang sedang dihadapi dan akna dipertanggungjawabkan.

  1. Masa mendatang yang ia tidak tahu apakah masih sempat menjalaninya atau tidak.

Masa mendatang yang tidak dapat diketahui, apakah masih sempat engkau jalani ataukah tidak.

 

Kita memohon kepada Allah agr memberi kita kesudahan yang baik dan terpuji serta memberi kita kesudahan yang baik dan terpuji, serta memberi kita akhir yang bahagia. Sesungguhnya Allah Mahadermawan lagi Mahamulia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s