Tafsir ‘Abasa: 1-16

عَبَسَ وَتَوَلَّى

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,

Orang yang bermuka masam pada ayat ini adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Makna ‘Abasa adalah rona merah pada wajah yang menunjukkan ketidaksukaan terhadap sesuatu, kemudian karena tidak suka tersebut ia berpaling.

أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى

2. karena telah datang seorang buta kepadanya.

Orang buta yang dimaksud adalah Abdullah bin Amru bin Ummi Maktum Radhiallahu ‘Anh. Ia datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebelum hijrah saat beliau masih di Makkah, beberapa tokoh dan pembesar Quraisy yang beliau harapkan ke-Islaman mereka saat berbicara dengan beliau, jika para tokoh dan pembesar masuk Islam, maka akan menjadi Islamnya orang-orang yang berada di bawah kekuasaan mereka.

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, ia berkata, “Diturunkan (surah) Abasa ketika Ibnu Ummi Maktum Al A’ma yang mendatangi Rasulullah Shallallau ‘Alaihi wa Sallam, kemudian berkata, ‘Ya Rasulullah, tunjukanlah aku.’ Sementara itu, di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada seorang lelaki yang merupakan pembesar kaum musyrikin. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian berpaling darinya dan menghadap kepada yang lain. Beliau bersabda, ‘Menurutmu, apakah yang akan aku sabdakan (ini) berbahaya.” Sosok yang lain ltu menjawab, Tidak.’ Pada peristiwa itulah (surah Abasa) diturunkan.” Sanad-nya shahih. (Sunan Tirmidzi, Kitab: Tafsir Al Qur’an, Bab: Surat ‘Abasa, nomor: 3331)

Beliau bermuka masam dan berpaling adalah karena dua hal:

  1. Mengharap ke-Islaman para pembesar Quraisy.
  2. Agar mereka tidak memandang remeh beliau karena melayani orang buta yang hina dalam pandangan para pembesar Quraisy tersebut.

Ini merupakan ijtihad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan karena beliau memandang rendah Ibnu Ummi Maktum, bagi beliau semua manusia sama kedudukannya, akan tetapi beliau memprioritaskan tersebarnya dakwah di tengah-tengah manusia.

 

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى

3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).

Yakni, Allah Ta’ala menanyakan adakah sesuatu yang membuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ragu bahwa Ibnu Ummi Maktum benar-benar ingin mensucikan dirnya dari dosa dan akhlak yang tida terpuji dan menguatkan keimanannya.

 

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى

4. atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

Yakni, mungkin pula Ibnu Ummi Maktum ingin mendapat pengajaran atau nasihat, dan nasihat itu dapat memberi manfaat baginya, karena beliau lebih memprioritaskan dan lebih berharap agar para pembesar Quraisy masuk Islam.

 

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى

5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,

Yakni, serba cukup dengan hartanya yang melimpah serta dengan jabatan yang membuatnya kuat.

 

فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى

6. maka kamu melayaninya.

Yakni kepada para pembesar Quraisy yang serba cukup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berharap mereka mau menerima dakwah beliau dan beliau mau menerima mereka.

 

وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى

7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Ibnu Ummi Maktum Radhiallahu ‘Anh lebih dekat kepada pembersihan diri daripada mereka, bahkan kalaupun para pembesar Quraisy tidak mau membersihkan diri, maka tidak ada celaah sedikitpun atas beliau, karena dosanya kembali pada mereka dan kewajiban beliau hanyalah menyampaikan.

 

وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى

8.  Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

Yakni bersegera karena ingin memanfaatkan peluang dan kesempatan menghadiri majelis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

وَهُوَ يَخْشَى

9. sedang ia takut kepada (Allah),

Yakni, hatinya takut kepada Allah karena pengetahuan dia akan Keagungan-Nya.

 

فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى

10. maka kamu mengabaikannya.

Yakni, mengacuhkannya karena sibuk melayani para pembesar Quraisy dengan harapan mereka mau menerima hidayah.

 

 

كَلا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,

كَلا merupakan kata yang dipakai untuk memberi teguran, yakni jangan seperti itu. Ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan Allah dan Rasul-Nya adalah suatu peringatan, mengingatkan kepada perkara yang bermanfaat dan menganjurkan manusia untuk melakukannya, serta mengingatkan kepada perkara yang membawa mudharat dan memperingatkan manusia agar tidak melakukannya, dan peringatan lain yang berguna bagi hati manusia.

 

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ

12. maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,

Yakni, bagi yang menghendaki mendapat hidayah, tentu ia akan mempelajari ajaran yang diturunkan Allah Ta’ala kepadanya, sedangkan bagi yang tidak menghendaki tentu ia tidak akan mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”.”. (QS. Al Kahfi [18]: 29)

Secara takdir kauni, Allah telah memberi pilihan bagi manusia mau beriman atau tidak, akan tetapi secara takdir syar’i, Allah memerintahkan dan mewajibkan manusia untuk beriman. Beriman atau tidak adalah pilihan manusia sendiri, bukan terpaksa karena takdir Allah ia beriman atau kafir. Orang yang ditunjuki kepada jalan kebenaran adalah orang-orang yang mendapat taufiq dari Allah Ta’ala setelah mereka menghendaki, mempelajari dan berusaha untuk mendapatkan hidayah tersebut.

 

فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ

13. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,

مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ

14. yang ditinggikan lagi disucikan,

Yakni, yang diagungkan di sisi Allah.

 

بِأَيْدِي سَفَرَةٍ

15. di tangan para penulis (malaikat),

Yakni, malaikat yang bertugas untuk mencatat, yang menjadi perantara bagi manusia. Mereka bertugas menuliskan amal perbuatan manusia untuk disampaikan kepada Allah Ta’ala, yang catatan amal ini nantinya akan ditampakkan kepada manusia. Allah Ta’ala Maha Mengetahui saat penulisannya dan sebelum penulisannya.

 

كِرَامٍ بَرَرَةٍ

16. yang mulia lagi berbakti.

Yakni, mulia akhlak mereka dan mulia pula bentuk dan rupa mereka, karena mereka (para malaikat) diciptakan dalam sebaik-baik bentuk dan dengan sebaik-baik akhlak. Para malaikat itu tidak menyombongkan diri dan tidak enggan beribadah kepadaNya, serta tidak pula merasa penat dan letih, mereka bertasbih kepadaNya siang dan malam tanpa putus dan tiada henti.

 

Ayat-ayat di atas berisi bimbingan dari Allah Ta’ala kepada semua makhluk agar cita-cita dan tujuannya jangan hanya terpaku kepada hal-hal yang bersifat manusiawi. Janganlah dalam berdakwah kepada agama Allah manusia lebih mengutamakan orang yang terpandang karena kedudukannya, kebesarannya, dan karena kedekatannya. Namun hendaklah memandang semua manusia dalam dakwah ini sama, baik yang miskin ataupun kaya, besar ataupun kecil, kerabat dekat ataupun jauh. Ayat-ayat di atas juga menunjukkan kelembutan Allah Ta’ala kepada RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni dengan tidak memberi teguran langsung kepada Rasulullah dengan kata “Engkau” tetapi Allah menegur beliau dengan kata “Dia”. Teguran yang halus dan berlaku secara umum, bukan teguran yang diarahkan langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ayat-ayat tersebut juga menunjukkan bolehnya mensifatkan seseorang dengan jasmaninya yang kurang, seperti pincang, buta, dan sebagainya, apabila tujuannya adalah untuk memperkenalkan identitasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s