TAFSIR AT TAKWiIR [81]: 15-29

فَلا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ

15. Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang,

Bintang-bintang bagi manusia tampak berulang-ulang, suatu saat terlihat di atas ufuk dan di waktu yang lain ada di ujung ufuk, manusia hanya dapat memperkirakan ketinggian dan jaraknya, sedangkan kepastiannya hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya.

الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

16. Yang beredar dan terbenam,

Beredar sesuai dengan orbitnya dan terbenam masuk ke tempat persembunyiannya. Allah Ta’ala bersumpah dengan menyebut bintang-bintang, dan hanya Allah yang boleh bersumpah dengan makhluk. Kemudian Allah Ta’ala bersumpah dengan menyebut siang dan malam:   وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ. وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ

17. Demi malam apabila Telah hampir meninggalkan gelapnya, 18.  Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,

Allah Ta’ala bersumpah demi malam ketika datang dan subuh ketika menyingsing dikarenakan keagungan keduanya yang merupakan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala, sehingga mengharuskan manusia bertanya, siapakah yang mendatangkan malam setelah siang dan mendatangkan siang setelah malam? Allah Ta’ala berfirman: “Dan Karena rahmat-Nya, dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”.   إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

19. Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),

Utusan yang mulia yang membawa firman Allah Ta’ala ialah malaikat Jibril, yang diutus kepada para Rasul dengan membawa wahyu yang diturunkan kepada mereka. Allah menyifatkan malaikat Jibril sebagai makhluk yang mulia karena akhlak yang terpuji dan keelokannya.   ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ

20. Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan Tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy,

Yang dimaksud adalah malaikat Jibril, sebagai makhluk yang memiliki kekuatan yang besar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melihatnya dalam bentuk asli seperti yang Allah ciptakan, dengan 600 sayap yang menutupi seluruh penjuru ufuk (Shahih Bukhari kitab Bad’ul Khalqi, bab Penyebutan para malaikat, semoga shalawat Allah terlimpah kepada mereka, no.3232&3235) Allah mengistimewakan malaikat Jibril dengan nikmat yang paling besar yang Allah turunkan kepada hambaNya, yaitu wahyu. Nikmat yang Allah turunkan terbagi menjadi 2:

  1. Nikmat yang dapat dirasakan oleh manusia dan binatang, yaitu kesehatan badan, kelezatan makanan dan minuman, menikah dan kenyamanan tempat tinggal.
  2. Nikmat yang hanya dapat dirasakan oleh manusia, yaitu nikmat syariat yang Allah turunkan melalui para Rasul agar kehidupan manusia dapat teratur dengan baik.

Hanya orang mukmin yang beramal shaleh saja yang akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Orang mukmin yang senantiasa beramal shalih, hatinya akan selalu bahagia, selalu berlapang dada, selalu ridha dengan keputusan Allah dan takdirNya. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur kepada Allah dan jika ditimpa musibah ia bersabar kepada Allah dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah ia lakukan. “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan”. (QS. An Nahl [16]:97)   “Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”. (QS. Az Zumar [39]: 15)   مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

21. Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.

Malaikat Jibril dipercaya dalam segala urusan yang diserahkan kepadanya. Jibril adalah malaikat yang ditaati oleh malaikat lain, karena Jibril membawa wahyu dari Allah, sebagaimana Rasul yang mendapat wahyu yang disampaikan melalui malaikat Jibril, mereka memimpin dan ditaati umat manusia.       وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ

22. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.

Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah menyebutkan dengan kata “temanmu” sebagai bentuk celaan dan hinaan kepada mereka ketika mereka menolak dakwah beliau. Seolah-olah Allah menyatakan: Muhammad adalah temanmu yang kalian semua mengenalnya dan selalu bersamanya selama 40 tahun di Mekkah sebelum ia diangkat menjadi Nabi dan Rasul, bahkan karena kejujuran dan amanahnya kalian menjulukinya Al Amin, maka setelah ia Allah angkat menjadi utusanNya kalian menolaknya. Padahal beliau bukanlah orang yang kurang waras, bahkan beliau adalah orang yang paling sehat dan sempurna akalnya serta paling tajam pemikirannya.  

وَلَقَدْ رَآهُ بِالأفُقِ الْمُبِينِ

23. Dan Sesungguhnya Muhammad itu melihat (Jibril) di ufuk yang terang.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat malaikat Jibril secara jelas, terang dan tinggi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak 2 kali:

  1. Di gua Hiraa (HR. Bukhari No.4, Muslim no. 160&252)
  2. Ketika beliau Mi’raj ke langit ke tujuh (HR. Bukhari no.349, Muslim no.162&259)

Yang dimaksud ayat ini adalah pertemuan yang pertama dengan malaikat Jibril dalam wujud aslinya.

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ

24. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.

Beliau bukanlah seseorang yang dicurigai menyembunyikan wahyu ataupun akan menyembunyikan wahyu. Beliau terkenal akan kejujurannya, beliau selalu menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepada beliau.

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ

25. Dan Al Qur’aan itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk,

Al Qur’an bukanlah perkataan setan-setan. Mereka adalah dukun-dukun yang mendapat bisikan dari setan-setan bangsa jin, mereka menyampaikan berita dusta kepada manusia yang menyangka bahwa berita yang dibawanya benar.

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ. إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ

26. Maka ke manakah kamu akan pergi? 27.  Al Qur’aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta Alam,

Allah menyebutkan bahwa manusia tidak akan dapat pergi kemana-mana. Al Qur’an merupakan peringatan bagi manusia sekaligus sebagai pelajaran, yakni manusia dapat mengambil pelajaran dan nasihat dari Al Qur’an, dan hal ini berlaku bagi semua manusia.

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

28. (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.

Ayat ini merupakan lanjutan ayat sebelumnya, sehingga orang-orang yang tidak mau menempuh jalan yang lurus, maka ia tidak akan bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari Al Qur’an. Sebagaimana firman Allah Ta’ala lainnya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaaf [50]: 37)

وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

29. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

Tidak ada satupun yang kita kehendaki akan terjadi melainkan setelah Allah menghendakinya, maka apabila sesuatu yang kita kehendaki terjadi berarti sebelumnya Allah telah menghendaki hal itu untuk terjadi, sedangkan manusia tidak memiliki kehendak tersebut. Namun bukan berarti manusia tidak bisa membuat pilihan. Allah berfirman: Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” demikian pulalah orang-orang sebelum mereka Telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta”. (QS. Al An’aam [6]: 148)   Maraji:

  • Tafsir ibnu Katsir jilid 8, Pustaka Imam Syafi’i
  • Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Pustaka At-Tibyan
  • Qur’an in word
  • Hadits Web3

Penyusun: Abu Ayyub Abdillah ibnu Syamsi › tirtakusuma2@gmail.com 085797432969

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s