Bolehkah melarang wanita dan anak-anak ke masjid?

Datang sebuah pertanyaan dari saudaraku..

Pertanyaan : Saya mau tanya,kalau saya melarang anak anak saya ke musolah untuk sholat magrib,apakah tindakan saya salah atau tidak?karna anak anak saya wanita semua dan di musolah terlihat hanya pada becandaan dan main main saja.namun dengan larangan yang saya buat,saya memfasilitasi mereka( anak n Istri saya)Tempat ibadah/Sholat Berjamaah dirumah.adakah Hadis atau ayat yang melarang mereka/Wanita ke musolah,apakah tindakan saya termasuk berdosa karna melarang ke Musolah

 

Jawab:

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً (سورة الأحزاب: 5)

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 5)

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ. حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَـا

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallambersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla memaafkan kesalahan (yang tanpa sengaja) dan (kesalahan karena) lupa dari umatku serta kesalahan yang terpaksa dilakukan.” (Hadits ini shahih. HR. Ibnu Mâjah (no. 2045), al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (VII/356-357), ad-Dâraquthni (III/403), al-Hâkim (II/198), Ibnu Hibbân (no. 7175 –at-Ta’lîqâtul Hisân), al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afâ (IV/1298))

 

Sebaik-baik wanita yaitu yang tetap tinggal di rumahnya. Namun, ada kalanya wanita butuh atau ingin ke masjid untuk berbagai keperluan seperti shalat, bermajelis, mengambil barang dan sebagainya yang menganjurkan dia untuk ke masjid. Oleh karena itu butuh ilmu untuk mengetahui adab-adabnya sehingga tetap terjaga kemuliaan wanita berdasarkan adab yang dilakukan oleh para shahabiyah.

 

Tidak ada yang menghalangi seorang wanita untuk datang ke masjid, dan ia tidak sepantasnya dilarang jika ingin mendatanginya selama ia tidak melakukan sesuatu yang terlarang dalam tinjauan syari’at’. Hal tersebut sangat jelas disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiallaahuanhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Apabila isteri salah seorang di antara kalian meminta izin untuk pergi ke masjid maka janganlah ia melarangnya.” (HR. Bukhari)

 

Lajnah Da’ Imah menyatakan, “dibolehkan bagi seorang muslimah mengerjakan shalat di masjid. Dan apabila ia meminta izin kepada suaminya untuk mengerjakan shalat di masjid, maka suaminya itu tidak diperkenankan melarangnya dari keinginan itu, selama wanita itu berada dalam keadaan tertutup dan bagian badan yang haram terlihat oleh laki-laki asing pun tidak nampak…” kemudian setelah ‘Lajnah melampirkan beberapa dalil dari Al Quran dan As Sunnah, mereka melanjutkan: dan ini adalah nash-nash yang sangat jelas menunjukkan bahwa seorang muslimah yang berpegang teguh dengan adab-adab islam dalam berpakaian dan menghindari setiap perhiasan pemikat yang bisa menimbulkan fitnah dan menjadikan orang-orang yang lemah iman cenderung kepadanya, agar ia tidak dilarang mengerjakan shalat di masjid. Dan jika penampilan wanita tersebut menjadikan orang-orang jahat terpikat dan mendatangkan fitnah dari hati yang bimbang, maka wanita itu dilarang masuk ke dalam masjid, bahkan ia dilarang keluar dari rumahnya untuk mendatangi tempat-tempat umum…” (VII/330)

 

Beberapa Ketentuan Khusus yang Berlaku bagi Kaum Wanita yang Membedakannya dengan Kaum Laki-laku Ketika Hadir di Masjid

  • Tidak Memakai Wewangian dan Perhiasan yang Bisa Mengundang Fitnah

Seperti mengenakan pakaian yang memikat, atau mengenakan gelang kaki. Jika hal ini atau sebagiannya dijumpai pada hari ini atau sebagiannya dijumpai pada diri seorang wanita, maka terlarang mendatangi masjid. Adapun wangi-wangian, telah disebutkan dalam nash khusus.

Zainab isteri ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami:

“Apabila salah seorang diantara kalian (para wanita) mendatangi masjid, maka janganlah ia memakai wangi-wangian.” (HR. Muslim)

 

Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wanita mana saja yang memakai bakhur (sejenis wewangi-wangian berbentuk asap) maka janganlah ia mengerjakan shalat isya bersama kami.” (HR. Muslim)

 

Adapun perhiasan lainnya, ketika seorang wanita mengenakan perhiasan itu untuk berhias yang akan menimbullkan gairah syahwat dan mengobarkan fitnah, maka wanita tersebut dilarang mendatangi masjid untuk menghindari fitnah dan menutup setiap celah keburukan.

 

  • Wanita Haid dan Nifas Tidak Boleh Diam di Dalam Masjid

Wanita yang sedang haid, nifas, dan junub tidak boleh memasuki masjid, kecuali jika sekedar melintas saja, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“(Jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi…” (QS. An Nisa: 43)

 

  • Shalat di belakang Shaf Laki-Laki dan Tidak Bercampur dengan Mereka

Shaf kaum wanita di dalam masjid berada di belakang shaf kaum laki-laki, dan semakin jauh shaf wanita dari shaf laki-laki maka akan semakin baik dan lebih utama bagi kaum wanita tersebut. Seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu ’anhu, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

”Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling pertama (terdepan) dan seburuk-buruk shaf laki-laki adalah yang paling terakhir (belakang), serta sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan seburuk-buruk shaf wanita adalah yang paling depan.” (HR. Bukhari)

 

Dari Ummu Salamah radhiallahu ’anha, istri Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, bahwa apabila kaum wanita di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengucapkan salam dalam shalat wajib, mereka langsung berdiri. Rasululah shalallahu ‘alaihi wasallam dan kaum laki-laki yang ikut mengerjakan shalat tetap diam di tempat hingga waktu yang Allah kehendaki. Apabila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berdiri maka merekapun berdiri. (HR. Bukhari)

 

Akan tetapi jika tempat keluarnya wanita berjauhan dengan tempat keluarnya laki-laki, dan dengan begitu tidak akan terjadi campur baur, maka tidak mengapa kaum laki-laki keluar dengan segera setelah imam berpaling, atau kaum wanita menunggu sejenak di tempat shalat mereka, sebab larangan telah tertiadakan. Wallahu a’lam.

 

KESIMPULAN

  • Boleh wanita dan anak-anak hadir dalam shalat berjamaah di masjid.

Aisyah radliyallahu ‘anha mengabarkan :

“Mereka wanita wanita Mukminah menghadiri shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berselimut dengan kain kain mereka. Kemudian para wanita itu kembali ke rumah rumah mereka hingga mereka (selesai) menunaikan shalat tanpa ada seorangpun yang mengenali mereka karena masih gelap.” (HR. Bukhari 578)

 

“Sesungguhnya aku berdiri untuk menunaikan shalat dan berkeinginan untuk memanjangkan shalat itu. Lalu aku mendengar tangisan bayi maka akupun memendekkan shalatku karena khawatir (tidak suka) memberatkan ibunya.” (HR. Bukhari 868, Abu Daud 789, Nasa’i 2/94 95 dan Ibnu Majah 991)

 

  • Berikan Izin bagi wanita untuk keluar ke masjid.

Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid. Namun tidak berarti wanita dilarang dan harus dicegah bila ingin hadir berjamaah di masjid.

 

Salim bin Abdullah bin Umar menceritakan bahwasanya Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah kalian melarang istri istri kalian dari masjid bila mereka meminta izin untuk mendatanginya.” (HR. Bukhari dan Muslim 442 dan hadits yang disebutkan di sini menurut lafadh Muslim)

Salim berkata : Bilal bin Abdullah bin Umar lalu berkomentar: “Demi Allah, kami benar benar akan melarang mereka.”

(Mendengar ucapan seperti itu, pent.) Abdullah bin Umar memandang Bilal kemudian mencelanya dengan celaan yang buruk yang aku sama sekali belum pernah mendengar celaannya seperti itu terhadap Bilal. Dan Abdullah berkata : “Aku kabarkan kepadamu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu engkau menimpali dengan ucapanmu, ‘demi Allah, kami benar benar akan melarang mereka!’”

 

  • Syarat syarat yang harus dipenuhi.

Wanita dibolehkan menghadiri shalat berjamaah di masjid namun harus memenuhi ketentuan ketentuan yang ditetapkan syariat seperti tidak memakai wangi wangian sebagaimana dikabarkan oleh Zainab Ats Tsaqafiyah, istri Abdullah bin Mas’ud radliallahu anhuma. la berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami :

“Bila salah seorang dari kalian (para wanita) ingin menghadiri shalat di masjid maka janganlah ia menyentuh wewangian.” (HR. Muslim 4/163, Ibnu Khuzaimah 1680, dan Al Baihaqi 3/439)

 

“Wanita mana saja yang memakai wangi wangian maka janganlah ia menghadiri shalat lsya yang akhir bersama kami.” (HR. Muslim 4/162, Abu Daud 4175, dan Nasa’i 8/154)

 

  • Dituntunkan kepara para wanita yang hadir dalam shalat berjamaah di masjid untuk bersegera kembali ke rumah setelah menunaikan shalat. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu ‘anha :

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat shubuh ketika hari masih gelap. Maka para wanita Mukminah berpaling (meninggalkan masjid) dalam keadaan mereka tidak dikenali karena gelap atau sebagian mereka tidak mengenali sebagian lainnya.” (HR. Bukhari 872)

 

  • Sebaik baik shaf wanita.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sebaik baik shaf pria adalah shaf yang pertama dan sejelek jelek shaf pria adalah yang paling akhir. Sebaik baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan sejelek jeleknya yang paling depan.” (HR. Muslim nomor 440, Nasa’i 2/93, Abu Daud 678, Tirmidzi 224 dan ia berkata : “Hadits hasan shahih.” Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits ini nomor 1000)

 

Catatan penting: Apabila tempat shalat wanita terpisah dengan tempat shalat laki-laki, maka sebaik-baik shaf wanita ketika itu adalah yang paling depan, dan seburuk-buruk tempat adalah shaf paling akhir. Hal itu karena alasan yang menjadikan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa seburuk-buruk shaf wanita adalah yang paling depan telah tertiadakan dengan terpisahnya shaf laki-laki dari shaf wanita, maka keutamaan shaf dalam shalat kembali kepada shaf terdepan.

 

http://muslimah.or.id dan lainnya

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s