TATACARA & ETIKA BERDO’A PADA ALLAH TA’ALA (1)

Allah Ta’ala berfirman dalam QS.Ghofir (40) ayat 60 :

Dan Robb-mu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdo’a) kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina“.

Juga Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 1490 dan Imaam At Turmudzy no: 3556 dan Imaam Ibnu Maajah no: 3865, yang dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany, dari Shohabat Salmaan رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

Sesungguhnya Robb kalian yang Maha Suci lagi Maha Tinggi itu Maha Malu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya yang jika dia mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).”

Juga Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3572, yang dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, dari Shohabat ‘Ubaadah bin Ash Shoomit  رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

Tidaklah seorang muslim diatas muka bumi ini berdoa kepada Allooh dengan suatu doa yang didalamnya tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Allooh akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga kemungkinan; (yaitu) dikabulkan segera doanya itu, atau Dia akan menyimpan baginya di akhirat kelak, atau Dia akan menghindarkan darinya keburukan yang semisalnya.”

Maka para Shohabat pun berkata, “Kalau begitu kita memperbanyaknya.”

Beliau صلى الله عليه وسلم pun bersabda, “Allooh lebih banyak (memberikan pahala).”

 

Do’a adalah Ibadah. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri yang telah mendefinisikannya. Karena merupakan Ibadah, maka harom hukumnya bagi siapa pun untuk mengarang, merekayasa ataupun menetapkan sediri tentang bagaimana tata caranya berdoa kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Do’a itu adalah Ibadah, maka ia termasuk kedalam apa yang dibawa oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan dengan demikian berarti berlakulah kaidah yang telah Rosusulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri sampaikan dalam suatu Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 4590, dari ‘Aaisyah رضي الله عنها, yakni:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalan tersebut tertolak.”

Oleh karena itu, berdoa hukumnya harom kalau tidak ada tuntunannya dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Maka agar doa kita benar dan insya Allooh akan diterima ataupun dipenuhi permintaan kita itu kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka hendaknya do’a tersebut haruslah kita jaga dan perhatikan agar memenuhi poin-poin berikut ini:

 

  1. Berdo’a haruslah ikhlas karena Allooh سبحانه وتعالى

Do’a harus dilandasi dan didorong oleh motivasi yang benar, berdo’a kita itu haruslah ikhlas karena Alloohسبحانه وتعالى. Allooh  سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Ghofir (40) ayat 65 :

Dialah Yang hidup kekal, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allooh Robb semesta alam.”

Juga Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Bayyinah (98) ayat 5:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allooh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”

 

Ikhlas berdo’a kepada Allooh سبحانه وتعالى itu ialah:

  1. a)  Meyakini bahwa hanya Allooh سبحانه وتعالى lah tempat kita meminta dan memohon
  2. b)  Meyakini bahwa yang bisa memenuhi permintaan dan permohonan kita itu hanyalah Allooh سبحانه وتعالى
  3. c)  Kita banyak punya kebutuhan, dengan kata lain adalah bahwa kita ini makhluk yang lemah dan banyak kekurangannya. Yang bisa memenuhi kebutuhan kita itu hanyalah Allooh سبحانه وتعالى, tidak ada yang lain selain-Nya.
  4. d)  Hanya berdo’a dengan tatacara yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

 

  1. Berdoa hendaknya (sebaiknya) dalam keadaan suci

Yakni bersuci atau suci dari hadats besar maupun hadats kecil dan suci daripada najis, walaupun ini hukumnya tidaklah Wajib. Tetapi kalau kita ingin mencari peluang agar doa kita dikabulkan oleh Allooh سبحانه وتعالى, maka penuhilah kode etiknya.

Kita tahu bahwa untuk menghadap manusia saja, kita berusaha untuk berapih diri dan berharum-harum, apalagi tentunya bila hendak menghadap kepada Allooh سبحانه وتعالى, tentulah harus lebih daripada itu.

 

  1. Berdoa dengan mengangkat kedua tangan

Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim رحمه الله no: 2111, bahwa:

Dari Anas رضي الله عنه berkata, “Aku melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengangkat kedua tangannya dalam berdoa, sehingga terlihat putih ketiaknya.”

Namun haruslah kita ketahui bahwa berdoa dengan cara mengangkat kedua tangan ini adalah Mutlaq. Maka tidak bisa dikhususkan untuk doa-doa tertentu saja. Jadi kapan saja, dimana saja, kebutuhan apa saja, boleh kita berdoa dengan mengangkat kedua tangan dan boleh juga dengan tidak mengangkat kedua tangan.

Hendaknya dipahami bahwa bukan berarti mengangkat kedua tangan itu harus dilakukan dalam setiap doa. Tidak demikian hukumnya, karena tidak ada yang me-muqoyyat-kan hadits tersebut. Oleh karenanya, hukum berdoa dengan mengangkat kedua tangan itu sifatnya adalah Mutlaq.

Dalam Hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imaam Abu Daawud رحمه الله no: 1488 dan dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, dari Shohabat Maalik bin Yasar رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

Jika kalian memohon kepada Allooh, maka mintalah kepada Allooh dengan telapak tanganmu, tetapi tidak dengan punggung tanganmu.”

Bahkan dalam Hadits yang lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Imaam Ahmad رحمه الله no: 21994, kata Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth sanadnya shohiih, bahwa:

Dari ‘Umair Maulaa Abi Al Lahm رضي الله عنه, bahwa beliau melihat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memohon hujan di batu minyak dekat dengan Az Zauroo’ dalam keadaan berdiri berdo’a sembari mengangkat kedua telapak tangannya, tidak melampaui tinggi kepalanya, menghadapkan telapak tangannya ke wajahnya.

  1. Memulai berdoa hendaknya dengan mengucapkan Hamdalah

Bila kita memulai berdoa hendaknya dengan mengucapkan Hamdalah atau dengan memuji Allooh سبحانه وتعالى terlebih dahulu. Sanjunglah dan pujilah Allooh سبحانه وتعالى, walaupun Allooh سبحانه وتعالى sesungguhnya tidak memerlukan pujian ataupun sanjungan kita, tetapi itu adalah bagian dari penghambaan diri kita kepada-Nya.Kita memuji dan menyanjung Allooh سبحانه وتعالى itu karena memang Allooh سبحانه وتعالى berhaq untuk disanjung dan dipuji.

Dalam suatu Hadits Shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Abu Daawud رحمه الله no: 1483 dan Imaam At Turmudzy رحمه الله no: 3477, yang dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, dari Shohabat Fadhoolah bin ‘Ubaiid رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pada suatu hari mendengar seseorang yang berdoa dalam sholatnya tetapi ia tidak memuji Allooh سبحانه وتعالى terlebih dahulu, juga tidak mengucapkan sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun bersabda, “Orang ini telah tergesa-gesa.”

Dan setelah selesai sholatnya, dipanggillah orang tersebut, lalu beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Artinya:

Jika salah seorang dari kalian berdoa kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka mulailah kalian dengan memuji (menyanjung) Allooh سبحانه وتعالى, kemudian mengucapkan sholawat atas Nabi, kemudian berdoa setelahnya dengan apa yang kalian mau.”

 

  1. Mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم

Didalam suatu Atsar dari Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه, bahwa beliau berkata:

Setiap doa akan terhalang dari langit sampai dia mengucapkan sholawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.” (Hadits Riwayat Imaam Al Baihaqy no: 1575 di-hasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Kitab Shohiih Al Jaami’ush Shoghiir no: 8652)

Juga ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه berkata:

Doa itu terhenti antara langit dan bumi, tidak naik kecuali dengan sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.”

  1. Ketika berdoa, mulailah dengan berdoa untuk diri sendiri terlebih dahulu

Contohnya adalah dalam QS Nuh (71) ayat 28 sebagai berikut:

Ya Robb-ku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.”

Pada ayat tersebut, doa yang pertama adalah ditujukan untuk diri sendiri, baru sesudahnya untuk ibu bapak, dan sesudahnya barulah untuk orang selainnya.

Perhatikanlah juga dalam QS Al A’roof (7) ayat 151 :

Musa berdo`a: “Ya Robb-ku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para Penyayang“.

Juga dalam Hadits Shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Abu Daawud رحمه الله no: 3986 dan Imaam At Turmudzy: 3385 رحمه الله dan Imaam Ibnu Hibban رحمه الله, no: 988, dari Shohabat ‘Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه, yaitu:

Bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم jika ingat seseorang dan mendoakannya, beliau صلى الله عليه وسلم memulai dari dirinya sendiri.”

  1. Berdoa hendaknya dengan penuh keyakinan dan kepastian

Janganlah berdoa dengan ragu-ragu. Dalam suatu Hadits Shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory رحمه الله no: 7477 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

Janganlah kalian mengatakan:Ya Allooh, ampunilah aku jika Engkau mau, sayangilah aku jika Engkau mau, berikanlah rizki padaku jika Engkau mau. Bersungguh-sungguhlah engkau dalam meminta kepada Allooh سبحانه وتعالى. Allooh سبحانه وتعالى melakukan apa yang Dia mau, tidak ada yang bisa memaksa”..”

Janganlah berdoa dengan menggunakan kata-kata pengecualian, seperti “Jika Engkau (Allah) mau”, “Jika Engkau (Allah) kehendaki”, dan sejenisnya. Karena Allooh سبحانه وتعالى justru cinta kepada orang yang meminta pada-Nya, sehingga perkataan doa “Jika Engkau kehendaki” itu adalah tidak tepat.

Justru kita meminta kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan kerendahan hati.

  1. Ketika berdoa hendaknya hati kita hadir dalam doa itu

Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam At Turmudzy رحمه الله no: 3479 dan Imaam Al Haakim رحمه الله no: 1817, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

Berdoalah kalian kepada Allooh سبحانه وتعالى dan kalian yakin benar bahwa Alloohسبحانه وتعالى akan mengabulkan. Dan ketahuilah oleh kalian bahwa Allooh tidak akan memenuhi doa seseorang yang hatinya ghofil (lalai) dan lahin (kata-kata yang tidak bermakna).”

  1. Berdoa harus jelas kalimatnya, membacanya harus benar, dan paham artinya

Hati kita harus betul-betul menuju kepada apa yang kita minta kepada Allooh سبحانه وتعالى. Jangan sampai kita berdoa tetapi tidak memahami apa yang kita minta.

Dalam suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 212 dan Imaam Muslim no: 1871, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

Jika salah seorang dari kalian mengantuk, padahal dia sedang sholat, maka tidurlah, sehingga menghilang kantukmu. Maka sesungguhnya, jika salah seorang dari kalian sholat, padahal dia mengantuk, maka dia tidak tahu, jangan-jangan dia meminta ampunan padahal mencaci dirinya sendiri.”

  1. Berdoa dengan meyakini bahwa Allooh سبحانه وتعالى pasti memberikannya

Selama suatu doa tidak mengandung unsur dosa atau pemutusan silaturahmi, maka yakinlah bahwa Allooh سبحانه وتعالى akan memberikan apa yang kita minta. Kalau berdoa tetapi hatinya tidak yakin, bahkan buruk sangka bahwa sepertinya apa yang kita minta tidak akan diberi oleh Allooh سبحانه وتعالى, maka percuma saja berdoa atau memintanya.

Oleh karena itu, bila kita datang untuk memohon kepada Allooh سبحانه وتعالى, hendaknya kita yakin betul bahwa Allooh سبحانه وتعالى lah yang bisa dan mampu untuk memenuhi doa kita.

Dalam Hadits yang telah dijelaskan diatas, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

Berdoalah kalian kepada Allooh سبحانه وتعالى, dalam keadaan kalian yakin bahwa Allooh سبحانه وتعالى akan memenuhi apa yang kalian minta.”

Dinukil dengan editing dari:

http://ustadzrofii.wordpress.com/2011/01/11/etika-berdoa-pada-allooh/

Sumber:

AADAABUD DU’A (TATACARA & ETIKA BERDO’A PADA ALLOOH سبحانه وتعالى)

Oleh : Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s