ZIKIR SETELAH SHOLAT FARDU / QUNUT SUBUH

+62856535XXXX

Assalamu’alaikum..

Saya hamba Allah mau bertanya:

  1. Setelah selesai sholat fardhu, doa dan zikir itu berjamaah dipimpin imam atau sendiri-sendiri?
  2. Kalau saya sholat fardhu subuh sendiri tidak pake Qunut, tetapi kalau saya berjamaah imam pake Qunut apa saya ikuti imam atau tidak?

Jawab:

  1. Setelah selesai sholat fardhu, doa dan zikir itu berjamaah dipimpin imam atau sendiri-sendiri?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya sebagai berikut. “Apakah berdoanya imam dan makmum (secara bersama) setelah shalat wajib boleh atau tidak?”

Beliau menjawab, “Alhamdulillah, adapun doanya imam dan makmum secara bersama setelah shalat adalah (perkara) bid’ah, tidak pernah ada di masa Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam . Doa beliau hanya di pertengahan shalat, karena orang yang shalat bermunajat kepada Rabb-nya, sehingga, kalau ia berdoa saat bermunajat kepada-Nya, itu sangatlah cocok. Adapun doa setelah selesai bermunajat dan menghadap kepada-Nya tidaklah cocok, tetapi yang disunnahkan setelah shalat hanyalah berdzikir dengan yang ma’tsur ‘ada riwayatnya’ dari Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam berupa tahlil, tahmid dan takbir ….” Lihat Majmu’ Al-Fatawa 22/519-520.

Lalu pada jilid 22 hal. 512, beliau berkata, “Tidaklah Nabi shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam dan para makmum berdoa setelah shalat lima waktu, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang setelah shalat fajr dan ashar. Hal tersebut tidaklah dinukil dari seorang pun dan tidak pula disunnahkan oleh seorang pun dari kalangan imam, dan siapa yang menukil dari Asy-Syafi’iy bahwa ia menganggapnya sunnah, sungguh ia telah salah, karena lafazh beliau (Imam Syafi’iy-pent.) yang ada di buku-buku beliau menafikan hal tersebut, dan demikian pula Ahmad dan selainnya dari para imam, mereka tidak menganggapnya sunnah ….”

Doa dan zikir tersebut dikerjakan dengan suara yang lembut dan tidak dikeraskan kecuali pada lafaz takbir maka boleh diperdengarkan. Ibnu Hajar pun berpendapat demikian dalam Fathul Bari

Sufyan bin ‘Uyainah, dari ‘Amr bin Dinar, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu ‘Abbas radhallahu ‘anh, beliau berkata (dari lafazh riwayat Muslim), “Kami tidak mengetahui selesainya shalat Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa ‘ ala alihi wa sallam , kecuali dengan (mendengar) takbir.”

Adapun selain takbir, dalil-dalil dari Al-Qur`an dan Sunnah menunjukkan bahwa dzikir tidak dikeraskan. Banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya:

Firman Allah Ta’ala,

“Dan sebutlah (nama) Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai .”[ Al-A’raf: 205 ]

Lalu sabda Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa ‘ ala alihi wa sallam , “Wahai sekalian manusia, kuasailah diri-diri kalian dan rendahkan suara kalian, karena sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak ada. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kalian.” (Diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu)

Kemudian hadits Abu Sa’id Al-Khudry, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa ‘ ala alihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka jangan sekali-sekali sebagian dari kalian mengganggu sebagian yang lain, dan jangan (pula) sebagian dari kalian mengangkat suaranya terhadap sebagian yang lain dalam membaca, atau beliau berkata, dalam shalat.” ( Diriwayatkan oleh Ahmad 3/94, Abu Daud no. 1332, An-Nasa`i dalam Al-Kubra 5/32, Ibnu Khuzaimah no. 1162, Abdu bin Humaid no. 883, Al-Hakim 1/454, Al-Baihaqy 3/11 dan dalam Syu’abul Îman 2/543, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 23/318. Dishahihkan oleh Syaikh Muqbil rahimahullah di atas syarat Asy-Syaikhain dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shahihain )

Berkata Ibnu Katsir, “Dan demikianlah disunnahkan bahwa dzikir itu tidak berupa teriakan atau suara keras yang berlebihan.”

 

  1. Kalau saya sholat fardhu subuh sendiri tidak pake Qunut, tetapi kalau saya berjamaah imam pake Qunut apa saya ikuti imam atau tidak?

Tidak mengikuti imam adalah baik, namun mengangkat tangan dan mengaminkan doa imampun baik. Ini adalah perbedaan yang kita masih boleh bertoleransi dan tidak berlaku keras kepada saudara kita yang berbeda pendapat, maka silahkan pilih mana yang tidak menimbulkan fitnah dan perpecahan sesama muslim.

Sumber dalil tentang urusan ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Hanyalah dijadikan imam adalah untuk diikuti, maka jika imam sholat berdiri maka sholatlah kalian (wahai para mekmum-pent) berdiri juga, jika imam ruku’ maka ruku’lah kalian, dan jika imam bangkit maka bangkitlah, dan jika imam berkata “Sami’allahu liman hamidahu” ucapkanlah “Robbanaa wa lakalhamdu”. Jika imam sholat berdiri maka sholatlah berdiri, dan jika imam sholat duduk maka sholatlah kalian seluruhnya dengan duduk” (HR Al-Bukhari no 657)

  • Qunut Shubuh secara terus-menerus (selama-lamanya) tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedang amalan yang tidak ada dasar contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti menyelisihi Sunnahnya. Adapun hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan qunut pada shalat Shubuh hingga beliau meninggal dunia. (HR Ahmad dalam Musnadnya no. 12196, maka hadits tersebut adalah dha’if!) Hadits di atas derajatnya lemah, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu Ja’far Isa bin Abu Isa ar-Razi, dia dilemahkan oleh sejumlah ulama ahli hadits di antaranya adalah Imam Ahmad, Abu Zur’ah, al-Fallas, Ibnul Madini, Ibnu Hibban, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim.” (al-Masail 1/235-236, Ust. Abdul Hakim Ab-dat, dinukil secara ringkas)

Dari Sa’id bin Thariq al-Asyja’i: ‘Aku berkata kepada ayahku: Wahai ayah, sungguh engkau telah pernah shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah semenjak 5 tahun. Apakah mereka melakukan qunut[3] di dalam shalat fajar (Shubuh)? Maka ia (bapakku) menjawab: Wahai anakku, (qunut Shubuh itu) adalah perbuatan yang diada-adakan’ (HR. Ahlus-sunan dan Ahmad).” (Zaadul Ma’ad 1/194-195)

Setelah seseorang mengetahui bahwa qunut Shubuh terus-menerus tidak ada sunnahnya, maka sikap makmum yang mendapati imamnya demikian hendaknya ia tidak mengikutinya. Adapun hadits “Dijadikan imam adalah untuk diikuti…” adalah dalam hal-hal yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang beliau memerintahkan umatnya agar menetapi sifat dan tata cara shalat seperti yang be-liau shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan.

Seyogyanya bagi makmum -jika berilmu- untuk memberi nasehat kepada imamnya dengan cara yang baik supaya meninggalkan hal itu (qunut Shubuh terus-menerus). Jika imam mau meninggalkannya maka Alhamdulillah, jika tidak maka sebagai makmum ketika imam tengah berqunut maka ia tetap diam saja, tidak mengangkat tangan dan tidak mengaminkan qunutnya imam. Wallohu a’lam.

 

  • Ibnu Taimiyyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Hanyalah dijadikan imam untuk diikuti” dan juga bersabda “Janganlah kalian menyelisihi imam-imam kalian”, dan telah valid juga dalam shahih bahwasanya beliau bersabda “Mereka (para imam) sholat bagi kalian, jika mereka benar maka pahalanya buat kalian dan buat mereka, dan jika mereka salah maka pahalanya bagi kalian dan kesalahan bagi mereka”. Bukankah jika imam membaca surat setelah membaca Al-Fatihah pada dua rakaat yang terakhir dan memanjangkan bacaan surat tersebut maka wajib bagi makmum untuk mengikutinya (menunggunya-pent)?. Adapun mendahului imam maka hal ini tidak diperbolehkan, maka jika imam qunut maka tidak boleh makmum mendahuluinya, akan tetapi harus mengikuti imam. Oleh karenanya Abdullah bin Mas’uud mengingkari Utsman karena sholat empat rakaat (tatkala safar-pent) akan tetapi beliau sholat empat rakaat diimami oleh Utsman. Maka dikatakan kepada beliau kenapa beliau berbuat demikian, maka beliau berkata الخِلاَفُ شَرٌّ Perselisihan itu buruk” (Al-Fataawa Al-Kubro 1/229)

Beliau juga berkata, “Wajib bagi makmum untuk mengikuti imam pada perkara-perkara yang diperbolehkan ijtihad msekipun sang makmum tidak sependapat. Sebagaimana jika imam qunut subuh atau menambah jumlah takbir tatkala sholat janazah hingga tujuh kali. Akan tetapi jika sang imam meninggalkan satu perkara yang perkara tersebut menurut makmum adalah rukun atau syarat sholat maka ada khilaf (apakah makmum tetap mengikuti imam atau tidak?-pent)” (Jaami’ul Masaail 5/388)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Lihatlah para Imam (kaum muslimin) yang benar-benar memahami nilai persatuan. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat qunut shalat Subuh adalah bid’ah. Meskipun demikian beliau berkata, “Jika engkau shalat di belakang Imam yang qunut maka ikutilah qunutnya, dan aminkanlah doa imam tersebut.” Semua ini demi persatuan barisan dan hati, serta agar tidak timbul kebencian antara sebagian kita terhadap sebagian yang lain.” (Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ 4/86)

 

 

http://abuayaz.blogspot.com/2010/05/hukum-dzikir-bada-shalat-fardhu.

https://maktabahabiyahya.wordpress.com/2013/02/27/bermakmum-di-belakang-imam-yang-selalu-melakukan-qunut-subuh/

http://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/70-jika-imam-qunut-subuh-apakah-makmum-harus-ikut-qunut-kapankah-makmum-harus-sesuai-imam-dan-kapankah-boleh-berbeda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s