Tentang Bacaan Al Faatihah Makmum & Iftirasy/Tawaruk?

+62856535XXXX

Assalamu’alaikum..

Saya hamba Allah mau bertanya:

  1. Makmum itu membaca al Faatihah atau diam saja di rakaat 1 dan 2 pada waktu sholat yang di jahrkan (dikeraskan bacaannya)?
  2. Sholat dua rakaat yang diakhiri dengan salam itu duduk tasyahudnya iftirasy atau tawaruk?

Jawab:

  1. Makmum itu membaca al Faatihah atau diam saja di rakaat 1 dan 2 pada waktu sholat yang di jahrkan (dikeraskan bacaannya)?

Ketika imam mengeraskan bacaan maka hendaknya makmum diam, namun bila ada kesempatan, boleh membacanya ketika imam diam dengan suara yang tidak mengganggu orang lain Membaca Al Faatihah dalam sholat hukumnya adalah wajib bagi imam, orang yang shalat sendiri dan makmum ketika shalat siriyah (yang tidak dikeraskan bacaannya). Adapun makmum dalam shalat jahriyah (yang dikeraskan bacaannya), maka bacaan imam adalah bacaan bagi makmum. Dengan demikian, makmum tetap membaca Al Fatihah pada shalat yang imam tidak menjahrkan bacaannya, begitu pula pada shalat jahriyah ketika imam diam sejenak setelah baca Al Fatihah. Wallohu a’lam

Wajib Baca Al Fatihah di Belakang Imam

Dari ‘Ubadah b in Ash Shoomit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah”.[ HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394]

Dari Abu Hurairah, haditsnya marfu’sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat dan tidak membaca Al Fatihah di dalamnya, maka shalatnya itu kurang.” Perkataan ini diulang sampai tiga kali.[ HR. Muslim no. 395.]

Wajib Diam Ketika Imam Membaca Al Fatihah

Firman Allah Ta’ala, “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’rof: 204)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam ruku’, maka ruku’lah. Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika imam mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamd’. Jika imam sujud, sujudlah.”[ HR. Bukhari no. 733 dan Muslim no. 411.] Dalam riwayat Muslim pada hadits Abu Musa terdapat tambahan, “Jika imam membaca (Al Fatihah), maka diamlah.”

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Al Hasan, dari Abu Bakroh bahwasanya ia mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang ruku’. Lalu Abu Bakroh ruku’ sebelum sampai ke shof. Lalu ia menceritakan kejadian yang ia lakukan tadi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semoga Allah menambah semangat untukmu, namun jangan diulangi.”[ HR. Bukhari no. 783]. Pada hadits tersebut Nabi Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam tidak menyuruh Abu Bakrah untuk menambah rakaatnya, hal ini menunjukkan bahwa makmum yang mendapati ruku’ walaupun tidak sempat membaca Al Faatihah telah mendapat 1 rakaat.

  1. Sholat dua rakaat yang diakhiri dengan salam itu duduk tasyahudnya iftirasy atau tawaruk?

Boleh duduk iftirasy ataupun tawaruk, pilih mana saja yang lebih menenangkan hati dalam melaksanakannya.

Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa duduk pada setiap rakaat yang terakhir baik sholat yang memiliki dua tasyahhud (seperti sholat dhuhur, ashar, magrib, dan isyaa’) maupun sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud (seperti sholat subuh, sholat jum’at, sholat witir satu rakaat, atau sholat-sholat sunnah 2 rakaat) maka semuanya dilakukan dengan duduk tawarruk. Wallohu A’lam

Dalil yang dikemukakan oleh madzhab As-Syafi’i adalah hadits Abu Humaid As-Sa’idi

“Aku adalah orang yang paling menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’, beliau menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk diatas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk). (HR Al-Bukhari no 828).

Al-Imam An-Nawawi berkata, “Imam As-Syafi’i dan para sahabat kami (dari madzhab As-Syafi’i) berkata:

“Hadits Abu Humaid dan para shahabatnya jelas membedakan antara dua duduk tasyahhud, sedangkan hadits-hadits yang lainnya adalah hadits yang mutlak, sehingga wajib untuk dibawakan sesuai dengan hadits ini (hadits Abu Humaid-pen). Barang siapa yang meriwayatkan hadits duduk tawarruk, maka yang dimaksud adalah duduk pada tasyahhud akhir, dan yang meriwayatkan duduk iftirasy , yang dimaksud adalah tasyahhud awal. dan harus dilakukan untuk menggabungkan antara hadits-hadits yang shahih, terlebih lagi hadits Abu Humaid As-Sa’idi telah disetujui oleh sepuluh orang dari para pembesar shahabat radhiallahu anhum. Wallahu a’lam”. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 3/413)

Sisi pendalilan madzhab As-Syafi’i:

Sisi pendalilan mereka adalah keumumann dari lafal-lafal yang datang dalam hadits Abu Humaid As-Sa’idi diatas seperti ” dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir”, “sujud yang terakhir yang ada salamnya”, “sujud yang merupakan penutup sholat” dan “pada dua rakaat yang pada keduanya berakhir sholat”. Lafal-lafal ini umum mencakup seluruh tasyahhud di rakaat yang terakhir yang merupakan penutup sholat, apakah pada sholat yang memiliki dua tasyahhud ataukah sholat yang hanya memiliki satu tasyahhud seperti sholat subuh dan sholat jum’at.

Pendapat Madzhab Hanbali

Untuk sholat yang hanya ada satu tasyahhud (seperti sholat subuh dan sholat jum’at) maka duduknya adalah duduk iftirosy. Wallohu a’lam

Ibnu Qudaamah berkata, “Dan tidaklah dilakukan duduk tawarruk kecuali pada sholat yang memiliki dua tasyahhud yaitu pada tasyahhud yang kedua” (al-Mughni 2/227)

Dalil Madzhab Hanbali adalah

Hadits Aisyah –radhiyallahu ‘anhaa-, beliau berkata

“Adalah beliau (Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ) mengucapkan tahiyyat pada setiap dua raka’at, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” (HR. Muslim no 498).

Hadits Abdullah bin Az-Zubair

“Adalah Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – jika duduk pada dua raka’at, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan (duduk iftirasy, pent).” (HR. Ibnu Hibban no 1943).

“Aku melihat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ketika duduk dalam shalat, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” (HR. Ibnu Khuzaimah no 691)

Dalam lafal yang lain

“Maka tatkala beliau duduk untuk tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya , dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” (HR. Tirmidzi no 292).

Dalam lafal yang lain :

Dan jika Nabi duduk (dalam sholat-pent) beliau beriftirosy (HR At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir 22/33 no 78)

Sisi pendalilan madzhab Hanbali

Sisi pendalilan mereka adalah keumuman lafal-lafal hadits ini, dan semua lafal-lafal di atas termasuk lafal-lafal umum, seperti, “Ketika duduk”, “Jika duduk”, “Tatkala beliau duduk”

http://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/55-cara-duduk-tasyahhud-terakhir-sholat-subuh

serta sumber lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s