SEMINAR NASIONAL BERSAMA PERWAKILAN MUI PUSAT “FENOMENA ALIRAN SESAT DAN KEUTUHAN NKRI” (1)

PRINSIP-PRINSIP DASAR AHLU SUNNAH WA AL-JAMA’AH

20150303_112420 

PENGERTIAN SESAT

Do’a Yang Setiap Hari Kita Panjatkan:

(أهدنا الصراط المستقيم * صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين)

(Ya Allah! tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus jalan orang-orang yang engkau berikan kenikmatan kepada mereka bukan jalan yang engkau murkai, bukan pula jalan yang sesat)

 

Arab= Dhalla-dhalal = Suluku thariqin la yuwasshilu ila al-mathlub (Melewati jalan yang tidak menyampaikannya kepada tujuan).

Ad-dhal (Sesat) = Kullu man inharafa ‘an dinillah al-hanif (Setiap orang yang menyimpang dari jalan Allah yang lurus). (Mu’jam al-Washith, (Kairo, Cet. IV, 2004), Hal. 542)

PRINSIP AHLUSUNNAH WAL JAMAAH DALAM PENGAMBILAN SUMBER HUKUM

  1. Ahlu Sunnah berkeyakinan bahwa sumber dalam memahami Islam adalah al-Quran, sunnah dan Ijma’ salaf shaleh dan Qiyas.

 

  1. Al-Quran menurut Ahlu Sunnah Kalam (Perkataan) Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara sempurna tidak ada perubahan di dalamnya. Dan apa yang termaktub di dalamnya merupakan syariat (ajaran atau tuntunan) bagi umat Islam yang wajib diikuti secara total tanpa terkecuali, demikian pula apa yang datang dari Rasulullah termasuk di dalamnya hadis ahad yang shaheh.

 

  1. Untuk memahami ayat-ayat al-Quran dan sunnah, Ahlu Sunnah mengharuskan kembali kepada teks-teks yang menjelaskannya dalam bingkai pemahaman salaf shaleh serta orang-orang yang mengikuti metodologi (jalan) mereka sepanjang sejarah. Berdasarkan qawathi’ al-wahyi wa allughah wa al-aqly (berdasarkan wahyu, bahasa dan akal yang pasti).

 

  1. Ahlu Sunnah juga berkeyakinan bahwa prinsip-prinsip dasar agama (dalam aqidah, syariah (ibadah dan muamalat) serta akhlak) telah dijelaskan oleh Rasulullah secara tuntas dan paripurna, sehingga siapapun tidak berhak untuk menambahkan atau mengurangi apapun dalam hal ini, demikian pula tidak diperkenankan untuk mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian.

 

  1. Setiap pribadi menurut Ahlu Sunnah harus menyerahkan diri secara total (penuh) kepada Allah dan Rasul-Nya baik secara dhahir maupun batin, dengan tidak mempertentangkan apa yang ada dalam al-Quran dan sunnah yang (shaheh) dengan qiyas, dzauq atau kasf (ilmu yang diterima melalui ilham), perkatan syaikh maupun imam, tidak pula dengan perkataan lainnya.

 

  1. Akal yang shareh (jelas/logis/tidak rancu) dalam pandangan Ahlu Sunnah, tidak bertentangan sama sekali dengan naql yang (shaheh), jika ada gejala atau dirasa ada pertentangan antara keduanya, maka naql harus didadulukan.

 

  1. Kemaksuman menurut Ahlu Sunnah hanya dimiliki oleh Rasul, demikian pula umat secara keseluruhan juga dijaga oleh Allah untuk tidak bersepakat dalam kesesatan (laa yajtami’u ummati ala dhalalah), dan tidak ada jamiman kemaksuman bagi individu. Jika terjadi perselisihan antara individu, solusinya adalah dengan selalu kembali kepada kitab dan sunnah, serta mentolelir kesalahan pendapat yang dilakukan oleh para mujtahid yang kompeten di bidang tersebut.

 

  1. Dalam menjelaskan masalah-masalah aqidah ahlu sunnah hanya menggunakan lafal yang masyru’ah (legal) atau tauqifiyah (dari al-Quran dan sunnah), serta menjauhkan dari pemakaian lafal yang baru (al-bid’iyyah) .

 

  1. Ar-Ru`yah as-shalehah (mimpi yang baik) adalah benar adanya, karena merupakan bagian dari kenabian. Sementara firasat yang benar juga benar ada, karena merupakan bagian dari karamah dan pemberi kabar baik, dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat, namun bukan merupakan sumber hukum baik akidah maupun syariah.

 

  1. Ahlu sunnah juga berkeyakinan bahwa setiap yang baru (bid’ah) dalam urusan agama adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka.

 

  1. Ahlu sunnah juga meyakini tentang keharusan berpegang teguh kepada manhaj (matode) wahyu dalam menjawab berbagai syubhat, namun tidak diperkenankan untuk menolak bid’ah dengan bid’ah semisal, tidak pula menolak ekstrimitas (al-ghuluw) dengan at-tafrith (sikap meremehkan), tidak pula sebaliknya.

 

  1. Berdebat kusir (bukan untuk mencari kebenaran dan yang tidak ada ujung pangkalnya) dalam masalah agama menurut pandangan Ahlu Sunnah merupakan hal yang tercela, adapun perdebatan dengan cara yang baik termasuk hal yang diperbolehkan bahkan terkadang dianjurkan.

 

PRINSIP DALAM AQIDAH

  1. Ahlu Sunnah mempercayai rukun iman yang enam yaitu: Beriman kepada Allah yang esa, tiada sekutu bagi-Nya dalam kerububiyahan-Nya, keuluhiyahan-Nya maupun nama dan sifat-sifat-Nya, beriman kepada Malaikat-Nya (Nama-namanya, sifat-sifatnya, tugas dan pekerjaannya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an), beriman kepada Kitab-kitab-Nya (yang diturunkan kepada para Rasul. Al-Quran adalah kitab yang terbesar diturunkan kepada Rasulullah Saw, yang isinya mencakup seluruh kitab-kitab terdahulu, termasuk kalamullah bukan makhluk serta mu’jizat yang menunjukkan kebenaran Rasulullah, dan dijaga dari perubahan hingga hari akhir), beriman kepada para Rasul-Nya (Utusan Allah), beriman kepada hari akhir beserta seluruh rentetan yang terkait dengannya seperti; (balasan-siksa kubur, kebangkitan, mahsyar, hisab (perhitungan/peradilan), timbangan, syafaat, haudh (kolam), sirath (jembatan), sorga dan neraka), termasuk diantaranya percaya terhadap adanya arys, kursi, dst., serta mempercayai adanya Qadla dan Qadar (ketetapan Allah yang baik maupun buruk).

 

  1. Ahlu Sunnah juga meyakini bahwa Allah Swt memiliki semua sifat kesempurnaan seperti yang Ia sifati terhadap diri-Nya sendiri, tanpa tasybih (menyerupakan) dengan lainnya, dan tanpa ta’thil (menolak)nya. Disamping itu Ahlu Sunnah meyakini bahwa Allah benar-benar terhindar dari seluruh sifat yang tercela.

 

  1. Ahlu Sunah juga meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para Rasul, dan Nabi terakhir.

 

  1. Manusia -menurut Ahlu Sunnah- bebas menentukan pilihannya dengan segala kesadaran, namun apapun yang diperbuatnya tidak terlepas dari kekuasaan Allah serta kehendak-Nya.

 

  1. Menurut Ahlu Sunnah orang-orang shaleh serta wali terkadang diberikan oleh Allah karamah, namun tidak semua hal luar biasa yang terjadi diluar kebiasaan itu karamah, karena bisa saja datang dari Setan. Untuk mengetahui hal itu standar kebenarannya adalah Kitab dan Sunnah.

 

Bersambung insya Allah…

Sumber:

STRATEGI MENGHADAPI ALIRAN-ALIRAN SESAT DI SEKITAR KITA

Materi SEMINAR NASIONAL “FENOMENA ALIRAN SESAT DAN KEUTUHAN NKRI” Oleh FAHMI SALIM, LC. MA (Perwakilan MUI Pusat), 12 Jumadil Awal 1436H/03 Maret 2015M. Aula Lembah Ciremai, Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s