SEMINAR NASIONAL BERSAMA PERWAKILAN MUI PUSAT “FENOMENA ALIRAN SESAT DAN KEUTUHAN NKRI” (2)

Prinsip-Prinsip Dasar Ahlu Sunnah wa Al-Jama’ah tentang Tauhid

20150303_112420

  1. Ahlu Sunnah meyakini bahwa Allah itu Esa tidak memiliki sekutu dalam ke-Rububiyahan-Nya, keuluhiyahan-Nya maupun nama dan sifat-sifat-Nya.
  1. Ahlu Sunnah meyakini bahwa Allah memiliki seluruh sifat sempurna sebagaimana yang Ia sifati terhadap dirinya sendiri dan terhindar dari segala sifat yang tercela. Tanpa tahrif (distorsi), tasybih (penyerupaan), ta’wil (penakwilan) dan ta’thil (penolakan) atau meyakini bahwa Allah memiliki sifat sempurna yang dapat disimpulkan dalam 20 sifat serta terhindar dari sifat tercela tercela yang dapat disimpulkan ke dalam 20 sifat, dengan menafsirkan ayat-ayat mutasyabih sesuai dengan keagungan dan kesucian Allah. (Khalaf)
  2. Melakukan segala perbuatan yang bernuansa ibadah kepada selain Allah seperti: Do’a, shalat, dzikir, memohon pertolongan, nadzar, menyembelih/ berkorban, tawakkal, takut, pengharapan, kecintaan dll., menurut Ahlu Sunnah merupakan bentuk kemusyrikan, apapun tujuan dan maksudnya.

  1. Dan berhukum kepada selain hukum Allah dalam pandangan Ahlu Sunnah mengeluarkan yang bersangkutan dari Islam, jika meyakini kebolehannya serta menolak berhukum kepada hukum Allah, selalu berhukum dengannya. Dan tidak kafir jika tidak meyakini kebolehannya serta tidak berhukum dengan hukum selain Allah dalam kondisi tertentu karena didorong oleh hawa nafsu namun secara umum masih tetap menerima dan mengikuti syariat Allah lainnya.
  1. Menurut Ahlu Sunnah membagi agama kepada hakekat yang dikhususkan untuk orang tertentu, dan syariat untuk kaum awam, atau memisahkan masalah sosial-politik-ekonomi dari agama adalah pandangan yang keliru. Dan apapun yang bertentangan dengan syari’at baik hakekat maupun politik-sosial-ekonomi dan lainnya termasuk kesesatan sesuai dengan derajatnya.
  1. Menjadi keyakinan Ahlu Sunnah bahwa siapapun tidak akan mengetahui yang ghaib kecuali Allah, kecuali beberapa Rasul yang diberi informasi tentang sebagian kecil dari alam ghaib tersebut. Mayakini bahwa seseorang bisa mengetahu yang ghaib adalah kekufuran.
  1. Mempercayai kebenaran peramal dan dukun termasuk kemusyrikan, dan mendatangi mereka termasuk dosa besar.

Prinsip-Prinsip Dasar Ahlu Sunnah wa Al-Jama’ah tentang Keimanan

  1. Ahlu Sunnah meyakini bahwa keimanan tidak hanya berupa keyakinan saja, namun terdiri dari: Keyakinan dengan hati, kesaksian dengan lisan, dan perbuatan dengan badan (dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan). Oleh karennya Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
  1. Pelaku dosa besar -menurut Ahlu Sunnah- tidak keluar dari keimanannya, di dunia ia termasuk mukmin yang kurang imannya, di akherat kelak berada di dalam kehendak Allah, jika Ia berkehendak akan diampuni, jika tidak akan disiksa. Sementara orang-orang yang beriman pada akhirnya akan dimasukkan ke sorga setelah mengalami penyiksaan di neraka, namun mereka tidak kekal selamanya di dalamnya.
  1. Kekafiran termasuk lafal yang sesuai dengan syariat dan dibagi menjadi dua: kekafiran yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam (agama), dan kekafiran yang kecil yang tidak mengeluarkannya dari agama (biasanya disebut kekafiran praktek)
  1. Mengkafirkan orang lain merupakan hukum syariat yang asas dan pelaksanaanya harus dikembalikan kepada Kitab dan Sunnah, maka tidak dibolehkan mengkafirkan Muslim yang bersyahadat La ilaha illallah Muhammadan Rasulullah (Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah); baik dengan perkataan maupun perbuatan, jika tidak berdasarkan dalil-dalil tersebut. Untuk itu seorang Muslim atau kelompok tertentu tidak diperkenankan untuk melakukan penkafiran terhadap Muslim lainnya atau kelompok lainnya, kecuali jika syarat-syaratnya benar-benar telah terpenuhi serta seluruh mawani’ (hal-hal yang menghalanginya) telah hilang. Pengkafiran merupakan salah satu proses hukum yang sangat berbahaya, karena itu perlu berhati-hati dalam menkafirkan seorang muslim. Kesalahan karena tidak mengkafirkan 1000 muslim lebih ringan dari mengkafirkan satu orang walaupun benar.

Bersambung insya Allah…

Sumber:

“STRATEGI MENGHADAPI ALIRAN-ALIRAN SESAT DI SEKITAR KITA”

Materi SEMINAR NASIONAL “FENOMENA ALIRAN SESAT DAN KEUTUHAN NKRI” Oleh FAHMI SALIM, LC. MA (Perwakilan MUI Pusat), 12 Jumadil Awal 1436H/03 Maret 2015M. Aula Lembah Ciremai, Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s