PEMBAHASAN TENTANG BERSUCI (THAHAROH) Bagian 2

AL-UMM KARYA IMAM SYAFI’I

Apabila anjing dan babi meminum bejana itu, maka cara mensucikannya dengan mencucinya sampai 7 (tujuh) kali dimana pada cucian yang pertama atau yang terakhir menggunakan tanah, karena ia (bekas jilatan babi dan anjing) tidak suci selain dengan cara seperti itu.

Apabila seseorang berada di laut dan tidak mendapatkan tanah, lalu orang tersebut mencucinya dengan sesuatu yang dapat menggantikan tanah seperti abu gosok, sikat atau yang lain, maka dalam permasalahan ini ada dua pendapat:

Pertama: bejana itu tetap tidak suci, karena mensucikannya tidak boleh dengan sesuatu yang lain kecuali dengan tanah.

Kedua: bejana itu dapat disucikan dengan sesuatu yang menggantikan tanah atau yang dapat lebih membersihkan daripada tanah.

Imam Syafi’i berkata: apabila seseorang bertanya, “Apakah alasan anda mengatakan bahwa apabila seekor anjing atau babi meminum dari suatu bejana, maka bejana itu tidak akan disucikan kecuali dengan tujuh kali cucian, sedangkan bangkai atau darah yang masuk ke dalam bejana itu cukup dengan sekali cuci saja, meski semuanya tidak memberi perubahan apapun pada air itu?”. Maka katakan kepada orang itu bahwa yang demikian itu mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Imam Syafi’i berkata: Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila seekor anjing menjilat suatu bejana salah seorang diantara kalian, maka hendaklah ia mencucinya sampai tujuh kali”. [Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim kitab Thoharoh]

Imam Syafi’i berkata: kita mengatakan bahwa hukum anjing adalah najis berdasar kepada sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan babi tidak lebih buruk keadaannya daripada anjing, maka kami mengatakan hukumnya juga sama, karena dianalogikan kepada anjing.

Imam Syafi’i berkata: Berdasarkan berita yang dikabarkan kepada kami oleh Ibnu Uyainah dari Hisyam bin Urwah. Ia mendengar dari isterinya (Fathimah binti Al Munzir), dari Asma ia berkata: Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu jika salah seorang diantara kami pakaiannya terkena darah haid?”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Apabila kain salah seorang diantara kalian terkena darah haid, hendaklah ia mengeriknya dengan kuku, kamudian dipercikkan air, lalu ia shalat dengannya”. [Diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari, pembahasan tentang haid, Bab Membasuh Darah Haid]

Imam Syafi’i berkata: Tidak najis hukumnya apabila binatang yang hidup menyentuh air yang kadarnya sedikit, baik dengan cara meminumnya atau masuk ke dalam air itu, atau memasukkan salah satu anggota tubuhnya (kecuali anjing dan babi); hanya saja binatang yang telah mati adalah najis.

Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa apabila seseorang menunggangi seekor keledai, keledai itu sampai mengeluarkan keringat, sedangkan ornag itu tetap berada di atasnya dan ia halal menyentuhnya? Apabila seseorang bertanya, “Apakah dalil tentang kehalalan ini?”. Jawabannya yaitu hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Ibrahim bin Muhammad, dari Daud bin Husain, dari Bapaknya, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya, “Apakah seseorang berwudhu dari sisa keledai?”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Ya, ia juga berwudhu dari air sisa seluruh binatang buas itu”. [diriwayatkan pula dalam Musnad asy-Syafi’i]

Imam Syafi’i berkata: diriwayatkan dari Kabsyah binti Ka’ab bin Malik, dari Ibnu Abi Qatadah, bahwa Abu Qatadah menuangkan air untuk berwudhu, lalu tiba-tiba seekor kucing datang da meminum dari bejana itu. Abu Qatadah melihatku sedang memandanginya, maka ia bertanya, “Apakah engkau heran wahai anak saudaraku? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya kucing itu tidak najis, dan sesungguhnya ia adalah binatang yang mengelilingi kamu”. [diriwayatkan pula oleh Imam Abu Dawud tentang bersuci bab Air Liur Kucing; Musnad Imam Ahmad bin Hambal; Tirmidzi bab Wudhu; dan Ibnu Majah tentang bersuci dan kesunnahannya]

Imam Syafi’i berkata: Apabila air yang sedikit atau banyak telah berubah sehingga membusuk atau berubah warnanya dikarenakan bercampur dengan sesuatu yang tidak haram, maka air itu dikategorikan sebagai air yang suci.

Imam Syafi’i berkata: Apabila sesuatu yang halal terjatuh pada air dan merubah bau dan rasanya, akan tetapi air tidak menjadi rusak olehnya, maka seseorang bisa menggunakannya untuk berwudhu, seperti apabila yang jatuh ke dalam air itu adalah kayu sehingga menimbulkan aroma tersendiri.

Adapun jika air bercampur dengan susu, madu, tepung atau yang lainnya, lalu air itu didominasi (dirubah zatnya) oleh benda-benda tadi, maka air itu tidak dapat digunakan untuk berwudhu dikarenakan air yang didominasi oleh benda-benda itu dinisbatkan (disebut) kepada apa yang mendominasinya, seperti dikatakan; air tepung, air susu, atau air madu yang bercampur.

Akan tetapi apabila sesuatu yang mempunyai kadar rendah dimasukkan ke dalam air tersebut, baik berupa tepung, susu, atau madu, lalu benda-benda itu tampak pada air tersebut, maka air yang suci dan tidak berubah rasanya ini boleh digunakan untuk berwudhu, sebab air itu tidak berubah.

Imam Syafi’i berkata: demikian halnya jika dituangkan minyak kayu cendana di atas air sehingga air tersebut menimbulkan aroma minyak kayu cendana, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Akan tetapi jika tidak menimbulkan bau, maka diperbolehkan untuk menggunakannya, karena apabila minyak kayu cendana atau air mawar dicampur dengan air, maka keduanya tidak dapat dibedakan.

Jika minyak wangi, minyak ambar, kayu cendana atau sesuatu yang mempunyai aroma dituangkan ke dalam air, namun tidak dapat melebur di dalamnya melainkan menimbulkan bau, maka dibolehkan berwudhu dengan air itu, karena tidak ada sesuatupun dari benda-benda tersebut yang bercampur dengannya.

Jika dituangkan minyak kasturi atau dzarirah (sejenis wangi-wangian) atau sesuatu yang larut dalam air sehingga air itu melebur dan tidak dapat dibedakan, lalu timbul bau padanya, maka tidak boleh berwudhu dengan air itu, karena ia bukan air lagi, tapi air yang bercampur dengan benda.

Insya Allah bersambung…. tentang Air Sisa yang Dipakai oleh yang Junub dan Selainnya… apakah boleh dipakai berwudhu atau tidak?

Maraji:

Ringkasan Kitab Al Umm karya Imam Syafi’i

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s