PEMBAHASAN TENTANG BERSUCI (THAHAROH) Bagian 3

AL-UMM KARYA IMAM SYAFI’I

Air Sisa yang Dipakai oleh Orang yang Junub dan Selainnya.

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dan Aisyah Radhiallahu ‘Anh, Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi dari Al Qadah (yaitu Al Faraq).” Saya dan beliau pernah mandi dari satu bejana”. (diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pembahasan tentang Haid, bab “Mandi dengan air sisa orang lain”, hadits nomor 41)

Al Qadah/Al Faraq adalah bejana/tempat air yang berukuran sekitar 3 sha’. Namun sebagian ulama Syafi’iyyah mengatakan bahwa 1 sha’ air untuk mandi sama dengan 8 liter air.

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Maimunah, Bahwa la dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mandi dari satu

bejana.” (diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pembahasan tentang Haid, bab “Laki-laki dan perempuan boleh mandi dalam satu wadah”)

Maimunah adalah salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dinikahi pada saat penaklukan kota Mekah, nama lengkapnya adalah Barra binti Maimunah Al Harits Al Hilaliyah Al Mu’ziyah.

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dari Qasim, dan Aisyah, ia berkata, “Saya dan Rasulullah mandi dari satu bejana karena janabah.” (diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pembahasan tentang Haid, bab “Laki-laki dan perempuan boleh mandi dalam satu wadah”)

Imam Syafi’i berkata: Demikian yang menjadi pegangan kami, bahwa seseorang diperbolehkan mandi dengan menggunakan air sisa yang dipakai oleh seseorang yang mandi karena junub atau haid, sebab Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Aisyah pernah mandi dari satu bejana yang mana keduanya dalam keadaan junub, masing-masing dari keduanya mandi dengan menggunakan sisa air mereka. Haid tidak terletak pada tangan, dan orang mukmin bukanlah orang yang najis. Mandi hanya bersifat ta‘abbudi (ibadah), dimana pada sebagian keadaan seseorang diharuskan menyentuh air (mandi) namun tidak pada kesempatan yang lain.

Air Orang Nasrani dan Berwudhu Dengan Air itu

Imam Syafi’i berkata: Sesungguhnya Umar bin Khaththab pernah berwudhu menggunakan air milik wanita Nasrani yang ada dalam kendi.

Imam Syafi’i berkata: Diperbolehkan untuk berwudhu dengan menggunakan air orang musyrik dan sisa air wudhunya sendiri, selama tidak diketahui ada najis padanya, karena air memiliki kesucian bagi siapa saja dan di mana saja hingga diketahui najis yang bercampur dengannya.

BAB: Bejana Yang Boleh Digunakan Sebagai Wadah Untuk Berwudhu dan Sebaliknya

Imam Syafi’i berkata: Dan Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melewati bangkai seekor kambing yang telah diberikannya kepada mantan budak Maimunah, istri Nabi sh,allallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertanya, ‘Apakah kamu tidak mengambil manfaat dari kulitnya?’. Para sahabat menjawab, ‘Itu adalah bangkai’. Kemudian Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya yang diharamkan hanyalah memakannya “ (diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pembahasan tentang haid, bab “Menyucikan kulit dari hewan yang sudah mati, dengan cara menyamak”, no.102)

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila kulit ielah disamak. Maka ia telah suci.” (diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, pembahasan tentang haid, bab “Menyucikan kulit dari hewan yang sudah mati, dengan cara menyamak”, no.106)

Nb: Cara menyamak kulit binatang :

  • Terlebih dahulu hendaklah disisit kulit binatang daripada anggota badan binatang (setelah disembelih)
  • Dicukur semua bulu-bulu dan dibersihkan segala urat-urat dan lendir-lendir daging dan lemak yang melekat pada kulit.
  • Kemudian direndam kulit itu dengan air yang bercampur dengan benda-benda yang menjadi alat penyamak sehingga tertanggal segala lemak-lemak daging dan lendir yang melekat di kulit tadi.
  • Kemudian diangkat dan dibasuh dengan air yang bersih dan dijemur. (https://irfanirsyad.wordpress.com/2011/02/21/menyamak-kulit-binatang/)

Imam Syafi’i berkata: Apabila kulit bangkai (dari hewan apapun) telah disamak, maka diperbolehkan berwudhu dengan menggunakannya. Demikian halnya dengan kulit binatang-binatang buas yang tidak dimakan dagingnya, karena dianalogikan dengan kulit hewan yang telah menjadi bangkai.

Kecuali kulit anjing dan babi, keduanya tidak bisa disucikan meskipun telah disamak, karena najis yang ada pada keduanya ada sejak keduanya hidup. Adapun kulit hewan yang dapat disucikan dengan disamak hanyalah hewan yang tidak najis ketika masih hidup. Sementara itu, proses

menyamaknya dcngan menggunakan alat samak yang telah dipakai oleh orang Arab; seperti daun salam atau alat lain yang dapat menggantikan kedudukannya, sehingga dapat mengeringkan lendir-lendirnya, membaguskan serta mencegahnya dari kerusakan apabila terkena air. Kulit bangkai tidak akan suci dengan disamak, kecuali setelah melewati proses yang telah kami

jelaskan.

Jika kulit itu berbulu, maka bulunya adalah najis. Apabila disamak dan bulunya dibiarkan lalu meneyntuh air, maka airnya dihukumi najis. Namun jika air itu ada di bagian dalam kulit, sementara bulunya di sisi luarnya maka air tersebut tidak dihukumi najis, sebab tidak bersentuhan dengan bulunya.

Adapun kulit setiap binatang yang disembelih dan diperbolehkan untuk

memakan dagingnya, maka tidak mengapa minum dan berwudhu darinya walaupun tidak disamak, karena penyuciannay cukup dengan disembelih.

Imam Syafi’i berkata: Tidak diperbolehkan berwudhu dan minum dengan memakai tulang bangkai yang disembelih namun tidak dimakan dagingnya seperti tulang gajah, singa dan yang sejenisnya, karena proses

penyamakan dan pencucian tidak dapat menyucikan tulang tersebut.

Imam Syafi’i berkata: Barangsiapa berwudhu darinya, maka hendaklah ia mengulangi wudhunya dan membasuh apa yang disentuh oleh air yang ada dalam tulang itu.

Bab: Bejana Yang Bukan Kulit

Imam Syafi’i berkata: Saya tidak memandang makruh bejana yang terbuat dan batu, besi, tembaga dan sesuatu yang tidak bernyawa.

Adapun emas dan perak, saya memandang makruh bagi seseorang yang berwudhu dengan memakainya.

Imam Syafi’i berkata: Telah diriwayatkan dari Ummu Salamah (istri Nabi) bahwa Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang minum dalam (dengan menggunakan bejana) yang terbuat dari perak, sesungguhnya ia menuangkan api Jahanam

ke dalam perutnya.”

Imam Syafi’i berkata: Saya memandang makruh berwudhu dan meminum dari bejana perak, namun saya tidak memerintahkannya untuk mengulangi wudhu. Saya tidak berpendapat bahwa air yang diminum dan makanan yang dimakannya menjadi haram, hanya saja perbuatan itu dikategorikan maksiat. Apabila ditanyakan, ‘Bagaimana anda melarang yang demikian itu, sementara air yang ada padanya tidak diharamkan?” Maka katakan kepada orang itu (insya Allah), “Sesungguhnya Rasul hanya melarang perbuatan (berwudhu dan meminum) dan tidak metarang kepingan bejana perak itu, karena sesungguhnya zakat telah diwajibkan pada bejana perak itu, dan kaum muslimin menjadikannya sebagai harta. Seandainya bejana perak itu najis niscaya tidak ada seorang pun yang mau mengambilnya sebagai harta dan pasti tidak halal diperjual-belikan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s