PEMBAHASAN TENTANG WUDHU

 AL-UMM KARYA IMAM SYAFI’I Bagian 4

Hal-hal yang Mewajibkan wudhu dan yang Tidak

Imam Syafi’i berkata: Allah Subhanahu wa Ta ‘ala berfirman, “Hal orang-orang yang beriman, apubila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu” (Qs. Al Maa’idah(5): 6)

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallalu anhu bahwa Nabi shallallahu alaiIu wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu bangun dari tidur, maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali, karena ia tidak mengetahui di manakah tangannya bermalam.” (diriwayatkan pula oleh Imam Abu Dawud, pembahasan tentang wajibnya wudhu, bab “Seorang lelaki yang memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum mencucinya”, hadits no.203, Aun Al Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud jilid 1 hal 177)

Imam Syafi’i berkata: Barangsiapa tidur dengan terlentang, maka wajib atasnya berwudhu kembali, karena ini berarti bangun dari tidur. Tidur dapat menghilangkan fungsi akal. Barangsiapa akalnya tidak berfungsi akibat gila atau sakit, baik ia tidak terlentang ataupun tidak, maka wajib atasnya berwudhu, karena keadaannya lebih banyak menyerupai orang tidur. Bahkan, orang yang tidur bisa sadar dengan sebab tergeraknya sesuatu atau tanpa sebab apa-apa. Sementara orang yang akalnya tidak berfungsi akibat gila atau sebab lainnya, ia tidak akan bergerak (yakni tidak sadar).

Imam Syafi’i berkata: Apabila seseorang tidur dalam keadaan duduk, maka saya lebih suka jika orang tersebut berwudhu kembali.

Imam Syafi’i berkata: Apabila ia tidur pada posisi duduk tegak, maka saya memandang bahwa ia tidak wajib berwudhu, sebab orang yang tidur dengan posisi terlentang tidak sama dengan orang yang tidur dalam keadaan duduk, dikarenakan tidur dengan posisi terlentang akan terasa lebih nyenyak, sehinggn akalnya akan terasa lebih tidak berfungsi dibanding orang yang tidur dalam keadaan duduk.

Imam Syafi’i berkata: Apabila ia telah bergeser dari posisi duduk tegak saat tidur, maka ia wajib mengulang wudhunya, karena orang yang tidur dalam keadaan duduk itu menekan dirinya pada lantai dan hampir tidak keluar sesuatu kecuali ia akan menyadarinya. Apabila ia telah bergeser dari dudukmya yang tegak, maka ia berada dalam batasan tidur dengan terlentang yang rawan terjadi hadats. Apabila seseorang tidur dengan posisi ruku atau sujud, maka saya wajibkan atasnya untuk berwudhu, sebab posisi ini lebih rawan lagi dimana hadats dapat keluar tanpa disadari dibandingkan orang yang tidur dengan posisi terlentang.

Imam Syafi’i berkata: Yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu kembali karena tidur ialah hilangnya fungsi akal, baik tidur ringan maupun tidur nyenyak. Adapun orang yang fungsi akalnya tidak hilang, baik tidur dengan posisi terlentang, menganggukkan kepala karena mengantuk atau adanya bisikan hati, maka hal itu tidak mewajibkan untuk berwudhu kembali, sehingga ia yakin bahwa ia telah berhadats.

Berwudhu Karena Menyentuh wanita dan Buang Air Besar

Imam Syafi’i berkata: Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tangamnu sampai ke siku.” (Qs. Al Maaidah(5): 6)

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla menyebutkan wudhu bagi orang yang berdiri hendak mengerjakan shalat. Maksud yang lebih dominan adalah orang yang berdiri (baca: bangun) dari tidur talentang.

Allah Subhanahu wa Ta ‘ala juga menyebutkan bersuci dari janabah. Kemudian setelah menyebutkan besuci dari janabab, Allah Subhanahu wa Ta ‘ala berfirman, “Dan jika kamu junub, maka mandilah; dan jika kamu sukit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air maka bertayamumlah.” (Qs. Al Maa’idah(5): 6)

Imam Syafi’i berkata: Telah sampai kepada kami dari Ibnu Mas’ud yang mendekati makna ucapan Ibnu Umar: Apabila seorang laki-laki menyentuhkan tangannya kepada istrinya, atau bersentuhan sebagian tubuhnya pada sebagian tubuh istrinya dimana tidak ada pembatas antara dia dan istrinya baik dengan nafsu birahi atau tidak, maka wajib atas keduanya berwudhu.

Demikian halnya apabila sentuhan itu dari pihak istri, maka keduanyapun wajib berwudhu. Jadi, mana saja dari badan keduanya yang tersentuh pada yang lain, baik dari pihak laki-laki yang menyentuh kulit wanita atau wanita yang menyentuh kulit lelaki, keduanya wajib berwudhu.

Apabila laki-laki menyentuhkan tangannya pada rambut wanita, namun tidak sampai menyentuh kulitnya, maka tidak wajib atas orang itu berwudhu, baik terdorong oleh nafsu birahi atau tidak. Demikian juga halnya apabila ia bernafsu kepada istrinya, namun ia tidak menyentuhnya, maka tidak waiib baginya berwudhu kembali. Nafsu tidak dapat dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum, sebab ia hanya ada dalam hati. Bahkan yang mesti dijadikan pegangan adalah perbuatan, sementara rambut berbeda dengan kulit.

Imam Syafi’i berkata: Seandainya seseorang lebih berjaga-jaga dan berhati-hati, misalnya ketika ia menyentuh rambut wanita kemudian ia berwudhu, niscaya hal itu lebih saya sukai. Jika seseorang menyentuh dengan tangannya apa yang dikehendaki dari badan wanita baik dilapisi kain tipis maupun yang tebal atau selainnya, disertai rasa nikmat ataupun tidak, dan hal itu diperbuat juga oleh wanita, maka tidak wajib bagi mereka untuk berwudhu, karena masing-masing dan keduanya tidak saling bersentuhan. Hanya saja, setiap salah seorang dari keduanya menyentuh lawan jenisnya.

Berwudhu Karena Buang Air Besar, Air Kecil, dan Keluar Angin

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid, bahwa seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam tentang sesuatu yang mengganggunya dalam shalat, lalu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallan menjawab, “Janganlah ia beranjak sehingga ia mendengar suara atau mendapati angin.”(Diriwayatkan pula oleh Nasa’i, pembahasan tentang bersuci, bab “Wudhu yang Disebabkan Keluar Angin; dan Bukhari, juz 1, pembahasan tentang wudhu’, bab Tidak Harus Bawudhu bagi yang Ragu”.)

Imam Syafi’i berkata: Tatkala Sunnah menunjukkan bahwa orang itu meninggalkan shalat disebabkan keluar angin (kentut) dari tempat keluarnya kotoran, maka buang air lebih jelas daripada sekedar buang angin (batalnya wudhu karena buang air besar lebih jelas -penerj).

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dari Ibnu Shammah, “Bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam membuang air kecil (kencing) lalu bertayamum.”(Diriwayatkan pula pada Tartib Musnad Imam Syafi’i, pembahasan tentang bersuci, bab tayammum”, hadits no.132, hal 44, jilid)

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dari Miqdad bin Aswad bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyuruhnya untuk bertanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang mengeluarkan madzi apabila mendekati istrinya, maka apakah yang harus ia lakukan? (Ali berkata, “Ada bersamaku putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, aku malu menanyakan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. “). Miqdad melanjutkan, maka aku menanyakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menjawab, “Apabila salah seorang di antara kalian nenemukan hal yang demikian, maka hendaklah ia memercikkan air pada kemaluannya lalu ia berwudhu untuk shalat.” (Diriwayatkan pula oleh Muslim, pembahasan tentang haid, bab “Air Madhi dan Hukumnya”. hadits no. 19, jilid I, hal. 599; juga dalam Al Muwaththo Imam Malik, Pembahasan tentang bersuci bab “Wudhu karena keluar Air Madhi’ hadits no.53, jilid l, hal. 40)

Sunnah (hadits) telah memberi keterangan wajibnya wudhu yang disebabkan oleh keluarnya madhi dan kencing. Keterangan lain yang mewajibkan untuk berwudhu adalah karena keluarnya angin. Maka, tidak ada maksud lain kecuali segala yang keluar dari qubul (kemaluan depan) dan dubur (anus), baik laki-laki maupun wanita, yang merupakan jalur hadats itu mewajibkan adanya wudhu. Demikian pula halnya cacing, batu serta segala yang keluar dari salah satu di antara kedua jalan tersebut. Begitu juga angin yang keluar dan kemaluan laki-laki atau wanita, wajib adanya wudhu

Imam Syafi’i berkata: Tidak ada wudhu kembali karena muntah, keluar darah dari hidung (mimisan), bekam, atau sesuatu yang keluar dari tubub selain yang dikeluarkan oleh kemaluan yang tiga; yaitu qubul, dubur dan dzakar (kemaluan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s