TANYA JAWAB DENGAN Dr.ZAKIR NAIK

PERTANYAAN 4 : WAHABI, SALAFI, HANAFI, MALIKI. SYAFI’I, HAMBALI. APAKAH MUSLIM BINGUNG?

 

Pertanyaan:

Dr. Zakir Naik, pertanyaan dari teman saya non-muslim. Dia bertanya pada saya, “Di dalam muslim sendiri terdapat kebingungan seperti saat bertemu dan anda ditanya, apakah anda wahabi atau sunni atau apa?”. Terdapat kebingungan diantara kalian, apa yang sebenarnya ingin kalian ikuti?

 

Jawaban:

Saudari kita bertanya, ada saudari non-muslim yang bertanya, terdapat kebingungan pada muslim saat mereka ditanya, “Apakah kamu wahabi?”, atau “Apakah kamu seorang Hanafii, Syafi’I, Maliki?”. Jadi apakah terdapat kebingungan dalam (identitas kaum) muslim? Jadi apa jawabannya?

Saya setuju dengan saudari non-muslim ini bahwa sayangnya banyak muslim yang menyebut diri mereka dengan beberapa nama. Tetapi, sebagaimana saya memberitahu umat hindu untuk kembali pada weda, saya juga memberitahu muslim untuk kembali pada Al Qur’an. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran [3]: 103, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”.

 

Kita harus berpegang teguh pada tali Allah, tali Allah adalah Al Qur’an dan Hadits Shahih. Allah berfirman dalam surat Al An’Aam [6]: 159: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan*, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah”.

 

Membuat sekte, memecah belah agama dalam Islam adalah dilarang, haram. Saat kita bertanya kepada muslim, “Siapa kamu?”. Beberapa akan menjawab hanafi, syafi’i, hambali, salafi… (jika Islam bergolongan-golongan, maka) Siapa nabinya? Apakah nabinya hanafi, syafi’i, hambali, maliki? Siapa nabinya? Kalian adalah kaum muslim. Allah berfirman dalam surat Ali Imran [3]: 52, Nabi Isa ‘Alaihissalam adalah seorang muslim. Allah berfirman dalam surat Ali Imran [3]: 67, bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah seorang muslim. Allah berfirman dalam surat Fushshilat [41]: 33, Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslim)?”

 

Nabi kita tercinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah seorang muslim. Allah-lah yang menyuruh kita untuk menyebutnya sebagai seorang muslim. Tidak ada label yang lebih baik daripada muslim. Keempat imam yang termasyhur seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad ibnu Hambal, Imam Malik, semoga Allah merahmati mereka semua. Mereka adalah ulama yang hebat, saya mencintainya dan saya menghormati mereka semua. Mereka semua adalah ulama yang hebat, akan tetapi semua ulama hebat tersebut berkata, semua imam hebat tersebut berkata bahwa, “Apabila kalian menemukan fatwaku bertentangan dengan Allah dan RasulNya, maka lemparlah fatwaku ke dinding!”.

 

Dari sini kita bisa menganalisa bahwa semua keempat imam tersebut, mereka tidak datang untuk membuat sekte baru yang membingungkan, (melainkan) mereka datang untuk memberitahu irang-orang untuk kembali kepada original manuscript (sumber rujukan asli), yaitu al Qur’an dan Hadits Shahih.

 

Inilah yang perlu kita sadari. Saya tahu mungkin ada orang yang berkata, “Bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa nabi kita bersabda akan ada 73 golongan (dalam umatnya)?”. Itu adalah hadits Tirmidzi, hadits shahih no.171. Nabi bersabda, “…aka nada 73 golongan…”, Nabi tidak bersabda, “… harus ada…”. Yang terbaik adalah kembali kepada Allah dan RasulNya, dan label terbaik yang bisa kau miliki adalah muslim.

 

Ulama (ataupun Kiai/Ustadz) siapapun di muka bumi ini, ulama terbesar siapapun, (apabila mereka berfatwa) tanyalah buktinya (sumbernya), “Qul hatuu burhaanakum” jika benar. Jika benar beritahu buktinya (sumbernya), jika ada ulama yang berbeda pendapat, maka tanyalah buktinya (sumbernya). Dapatkan buktinya dan periksalah. Oleh karena itu (dalam ceramah saya), saya menyebutkan referensinya.

 

Apa yang saya katakana, apa yang Aakir katakana adalah sampah dalam Islam, zero, nol. Jadi karena firman Allah-lah (perkataan saya boleh anda ambil), seperti,

Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. (QS. Al Ikhlas [112]: 1)

 

Apa yang dikatakan Zakir adalah sampah, nol di dalam Islam. Jika firman Allah (yang disampaikan), maka ambillah. Jika sabda Rasulullah (yang disampaikan), maka ambillah. Oleh karena itu saudariku, muslim tidak boleh berpecah-belah. Kita harus menyebut diri kita sebagai muslim, dan ikuti Al Qur’an dan hadits shahih. Siapapun yang memecahbelah agama ini, maka ia bertentangan dengan Al Qur’an.

 

NB:

  1. Ali Imran [3]: 103

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

 

  1. Al An’Aam [6]: 159

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan*, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat.

* Maksudnya: ialah golongan yang amat fanatik kepada pemimpin-pemimpinnya.

 

  1. Ali Imran [3]: 52

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim).

 

  1. Ali Imran [3]: 67

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus* lagi berserah diri (kepada Allah/muslim) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.

* Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

 

  1. Fushshilat [41]: 33

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslim)?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s