RINGKASAN JUAL BELI YANG DIHARAMKAN (1)

Jual beli yang dilarang dan diharamkan ada 4, yaitu:

1) Jual beli yang dilarang dengan sebab yang berakad (penjual dan pembeli)

2) Jual beli yang dilarang dengan sebab shigat akad/ kontrak

3) Jual beli yang dilarang dengan sebab ma’qud ‘alahi/objek jual beli

4) Jual beli yang dilarang dengan sebab ada sifat atau syarat atau ada larangan (Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah, Masu’ah al-Fiqh al-Islami,3: 404)

 

1) Jual beli yang dilarang dengan sebab yang berakad

Jual beli yang dilarang dengan sebab yang berakad (penjual dan pembeli) adalah:
a) Jual beli orang gila dan sedang mabuk

  1. b) Jual beli anak kecil baik yang sudah tamyiz maupun tidak, sampai baligh.

 

Tamyiz yakni anak yang sudah bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak (sekitar 7 tahun) sudah mengerti tentang beribadah.

 

Catatan tentang hukum jual beli anak  kecil yang belum baligh namun sudah tamyiz.

Para ulama sepakat bahwa jual beli anak kecil yang belum tamyiz tidak sah, namun yang sudah tamyiz tapi belum baligh ada yang mengatakan jual belinya sah ada juga yang mengatakan tidak sah. Penulis berpendapat bahwa jual beli anak kecil yang sudah tamyiz namun  belum baligh adalah sah jika mendapat izin dari orang tua/wali namun jika tidak mendapat izin maka tidak sah.

 

Menurut Abdul Aziz Mabruk, dkk, bahwa salah satu syarat sahnya jual beli adalah bahwa penjual dan pembeli harus orang yang baligh, berakal, bukan hamba saya dan rasyid. (al-Fiqh al-Muyassar, 1424 H, hlm. 214 )

 

Sedangkan menurut Wahbah az-Zuhaili bahwa akad jual beli yang dilakukan oleh anak kecil yang berakal, yaitu tamyiz yang telah mencapai usia tujuh tahun adalah sah. Dalam hal ini Mazhab Hanafi tidak mensyaratkan baligh dalam jual beli (Fiqh al-Islam Wa Adillatuhu, Damaskus: Jil. 5, hlm. 3317). Begitu juga menurut Sayyid Sabiq syarat sah jual beli adalah berakal dan tamyiz oleh karena itu tidak sah jual beli orang gila, yang sedang mabuk dan anak kecil yang belum tamyiz. (al-Fiqh al-Sunnah, 3:51)

 

Oleh karena itu seorang anak kecil yang sudah tamyiz (dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya), adapun usia tamyiz adalah 7 tahun, namun belum baligh maka  jual belinya adalah sah apabila ia mendapat izin dari orang tua/wali dan karena menempati tempat orang tua sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Nisa: 6: dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanyapen). Namun, jika tidak ada izin wali/orang tua maka jual belinya tidak sah.

 

  1. c) Jual beli terpaksa

Terpaksa ada dua macam
Pemaksaan karena hak seperti seorang hakim memaksa seseorang untuk menjual tanahnya untuk membayar hutang, memaksa menjual rumah untuk memperluas mesjid, jalan atau kuburan. Maka pemaksaan ini jual belinya sah. Keridhoan syara menggantikan keridhoannya

  • Pemaksaan bukan karena hak, maka akad jual beli ini sah, seperti diancam akan dibunuh atau dipukul. Pemaksaan itu menghilangkan keridhoan yang merupakan syarat sah jual beli.
  1. d) Jual beli yang ditahjir (orang yang ditahan hartanya). Ditahjir yaitu orang yang dilarang untuk mengelola dan membelanjakan hartanya. Seperti orang yang bodoh atau karena ada bagian orang lain seperti orang yang punya hutang . orang yang bodoh yang boros tidak sah jual belinya. Begitu juga orang yang bangkrut yang punya hutang tidak diperbolehkan membelanjakan hartanya karena padanya ada hak-hak kreditur.
  2. e) Jual beli taljiah (berlindung). Seperti seseorang takut serangan orang zalim atas sebagian apa yang dimiliki. Ia pura pura membelinya untuk menyelamatkan hartanya. Akad seperti ini tidak sah karena dia penjual dan pembeli tidak bermaksud jual beli

 


2) Jual beli yang terlarang dengan sebab sighat akad/kontrak

  1. a) Tidak ada kesepakatan ijab dan Kabul
  2. b) Jual beli dengan korespondensi atau utusan. Jual beli ini sah selama masih berada dalam masjlis (tempat menjual dan membeli, pen). Jika ijab dan qabul terjadi setelah mereka berpisah dari majelis maka tidak sah akadnya.
  3. c) Jual beli dengan orang yang tidak ada pada pada majlis akadnya adalah tidak sah. (mis, membeli krupuk pada sebuah warung saat penjual tidak ada, pen)
  4. d) Jual beli yang belum selesai. Seperti jual beli yang digantungkan dengan syarat atau disandarkan kepada waktu yang akan datang, jual beli ini tidak sah.
    Jual beli yang digantungkan dengan syarat, seperti saya jual rumah ini kepadamu dengan harga sekian jika ayah saya datang dari perjalanannya. Jual beli ini adalah gharar, karena penjual dan pembeli tidak tahu apakah akan terjadi apa yang digantungkan dan kapan?
  • Jual beli yang disandarkan dengan waktu seperti saya jual kendaraan ini awal bulan depan. Jual beli ini adalah gharar karena tidak akan diketahui bagaimana barang pada waktu yang akan datang.

 

3) Jual beli yang terlarang dengan sebab m’aqud ‘alaih

Ma’qud ‘alaih adalah barang yang dijual, dan harga (alat tukar)

Jual beli yang dilarang dengan sebab ma’qud ‘alaih ada lima macam:

  1. a) yang dilarang dengan sebab gharar (penipuan) dan jahalah (ketidak tahuan)
    b) yang dilarang dengan sebab riba
    c) yang dilarang dengan sebab merugikan dan penipuan
    d) yang dilarang dengan sebab dzatnya haram
    e) yang dilarang dengan sebab yang lainnya

 

  1. a) Jual beli yang dilarang dengan sebab gharar dan jahalah

1) Jual beli mulamasah, yaitu seseorang menyentuh baju/kain dan tidak mengeluarkannya atau membelinya pada waktu gelap. Jual beli ini tidak boleh karena ada unsur gharar dan jahalah
2) Jual beli munabadzah, yaitu penjual dan pembeli saling melemparkan pakaiannya tanpa melihat, keduanya berkata ini dengan ini.
3) Jual beli al-hashah, yaitu penjual atau pembeli melempar batu, seperti baju yang terkena batu itulah yang dijual atau dibeli, tanpa dilihat dan dipilih
4) Jual beli hablu al-habalah, jual beli anak

binatang atau anak unta dengan harga yang ditangguhkan maka apabila unta itu melahirkan, penjual mengatakan tunggulah hingga ia hamil dan melahirkan.
5) Jual beli al-madhamin (yang dikandung), yaitu jual beli yang dikandung oleh induk binatang betina yang masih berupa janin
6) Jual beli al-malaqih, yaitu jual beli yang ada di tulang punggung hewan jantan

 

7) Jual beli ‘asb al-fahl, yaitu jual beli dengan mengawinkan pejantan baik kuda, unta maupun kambing dan yang lainnya. Mengambil upah dari mengawinkan binatang adalah haram, padanya ada gharar, ia itu tidak diketahui dan apakah mampu untuk diserahkan, betinanya bisa hamil juga bisa tidak.
8) Jual beli buah-buahan yang belum matang/belum layak dipanen
9) Jual beli yang majhul (yang tidak diketahui), baik itu barang, ukuran, harga, waktunya dan yang tidak bisa diserahkan seperti ikan yang masih dilaut, atau burung yang masih ada di udara.
10) Jual beli tsunya, yaitu jual beli yang dikecualikan dari sesuatu yang tidak diketahui. Seperti jual beli makanan atau pakaian dan dikecualikan sebagiannya tanpa ada rincian. Jual beli ini batil dan tidak boleh, karena mengandung jahalah dan gharar serta memakan harta orang lain dengan batil. Namun jika yang dikecualikannya diketahui maka sah jual belinya seperti jual beli pohon dan dikecualikan pohon-pohon tertentu yang diketahui rinciannya.
11) Jual beli yang tidak ada pada penjual. Seperti menjual sesuatu yang tidak dimiliki, menjual barang yang belum diterima, menjual unta yang hilang dan lain-lain.


 

koneksi-indonesia.org/2014/jual-beli-yang-dilarang-dan-diharamkan-3/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s