KISAH NYATA: “BUKANKAH PUTERIKU SEDANG TIDUR?”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Keluarga hal. 47-50

 question-mark1.jpg

Di atas kuda pacuan terdapat istana yang indah. Itulah impian setiap orang yang mengais di balik gemerlapnya dunia. Telepon bordering menjelang adzan subuh. Dengan keheranan dia mengangkat pesawat telepon. Siapa gerangan yang menelepon pada jam seperti ini, di penghujung malam. Ternyata si penelepon adalah komandan polisi lalu lintas. Dia berkata, “Sampaikan kepada bapak puterimu agar menghubungi kami”. Ibu itu menjawab, “Siapa? Puteriku? Pasti kamu telah salah menekan nomor, karena puteriku sedang tidur di kamarnya”. Kemudian telepon itu ia (ibu) tutup begitu saja.

 

Setelah beberapa saat telepon kembali bordering, ternyata laki-laki yang sama. Dia kembali menekankan, “Bukankah ini adalah rumah bpaak Fulan?”. Ibu menjawab, “Benar”. Dia (polisi) melanjutkan, “Saya tidak salah, puteri ibu ada pada kami di rumah sakit”. Belum percaya, ibu ini menjawab, “Wahai bapak polisi, puteriku sedang tidur di kamarnya sejak semalam”.

Setelah menutup pesawat telepon, ibu ini naik ke kamar puterinya. Dia mengetuk pintu dengan keras. Memanggil-manggil puterinya, berteriak, menggedor pintu kamar dengan kakinya. Akan tetapi, orang yang dipanggil tidak mempunyai kehidupan (tidak ada jawaban dari dalam kamar puterinya).

 

Dia membangunkan suaminya. Pintu diketuk bersama-sama, akan tetapi tanpa hasil. Keduanya mencari kunci cadangan. Setelah menemukannya, dengan susah payah, keduanya membuka pintu kamar. Ternyata kamar itu kosong tak berpenghuni. Pada saat itu terjatuhlah si ibu. Kekuatannya luruh. Kedua kakinya tak mampu lagi menyangga tubuhnya. Si bapak bertanya, “Ada apa?” ibu menjawab, “Kita ditelepon oleh…”. Lalu ibu itu bercerita (tentang berita dari polisi lalu lintas).

 

Bergegas si bapak ke kantor polisi. Dia turun dari mobil dan berlari menuju petugas jaga. Dia langsung bertanya, “Apa beritanya?”. Dia (petugas jaga) menjawab, “Tenanglah sedikit”. Bapak itu berkata, “Saya bertanya apa beritanya? Cepat katakan!”. Dia menjawab, “Sesungguhnya apa yang diambil dan diberikan oleh Allah adalah milik Allah dan segala sesuatu di sisiNya terjadi dengan takdir”. Bapak itu menjawab, “Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Bagaimana puteriku bisa keluar rumah? Bagaimana dia meninggal? Di mana dia meninggal? Tolong katakan!”.

 

Bapak polisi bercerita, “Kisahnya memilukan. Beberapa orang pemuda berkumpul di villa, milik salah seorang dari mereka. Masing-masing begundal yang rendah dan hina, bercerita tentang “pengalaman” nya bersama wanita-wanita murahan dan rendahan. Apakah wanita-wanita dungu itu menyadari bahwa segala rahasianya bisa menjadi kisah bersambung, cerita yang terungkap, bahan perbincangan di perjalanan dan tema obrolan begadang?

 

Para pemuda rendahan itu bersantai, tiba-tiba salah satu dari mereka berkata, “Saya menantang siapa diantara kalian yang bersedia mendatangkan pacarnya ke sini, maka aku beri dia 10.000 real (Rp. 26,5 juta)”.

 

Salah satu dari mereka dengan cepat menyambar pesawat telepon menghubungi pacarnya. Sang pacar dengan cepat mengiyakan, agar kekasihnya menjadi joki taruhan dengan iming-iming hadiah. Karena dia memang telah tergila-gila padanya sampai tidak mampu menolak permintaan apapun darinya. Sang gadis berpakaian sejenak lalu keluar kamar dan bertemu dengan kekasihnya. Dan inilah keluar rumah untuk terakhir kalinya. Dia tidak mungkin mengulanginya kembali. Dia mengendap-endap keluar rumah. Hanya beberapa menit, kekasihnya telah menjemputnya dengan mobil mewah. Mobil langsung dipacu seperti peluru saja agar ia menjadi orang pertama yang membawa pacarnya sekaligus merebut 10.000 real. Di tengah jalan, karena kecepatan mobil yang sangat tinggi, ia lepas kendali dan menabrak tiang listrik. Hening sejenak, kecuali tape recorder yang berdentang dengan lagu-lagu. Si gadis yang hatinya telah dikuasai oleh cinta kepada pemuda di sampingnya telah mati. Begitu juga dengan kekasihnya. Akhir yang menyedihkan dan memilukan”.

 

Pejamkan kedua matamu wahai saudaraku, kemudian menengoklah ke belakang sejenak. Pejamkan kedua matamu, wahai gadis remaja, lalu letakkan dirimu, wahai gadis letakkan dirimu (bayangkan dirimu sebagai gadis yang tadi), wahai pemuda pada kejadian yang memilukan seperti ini. Lihatlah kepada akhir buruk itu. Peristiwa yang mengerikan terjadi tanpa bisa diduga-duga.

 

Alhamdulillah. Kita (masih) selamat dari perkara-perkara yang dengannya Dia (Allah) menguji banyak manusia. Dan Dia memberikan karuniaNya kepada kita, yang tidak Dia berikan kepada makhlukNya yang lain.

 

(website asy-syamsi.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s