KISAH NYATA: “AYAH, ENGKAU MENGHANCURKANKU DAN KINI KAU DATANG DENGAN MENANGIS”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Keluarga hal. 53-56

air-mata-taubat1.jpg

Gadis ini mengenal hubungan bebas (hubungan ala setan yang menyeret kepada kenistaan dan pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah) melalui antena parabola. Maka apa yang bisa dipetiknya.

 

Gadis perawan ini memetik janin di perutnya setelah melewati sebuah kisah berdarah yang sangat memilukan.

Gadis ini bersama kekasihnya ditangkap oleh pihak berwenang. Ayahnya datang setelah dipanggil untuk melihat peristiwa yang menyesakkan itu.

 

Ayahnya berdiri di depan puterinya, setelah sebelumnya ia mengharapkan lebih baik mati daripada melihat anaknya dalam kondisi seperti itu.

 

Ayahnya berteriak di hadapan pihak berwenang, “Biarkan aku membunuhnya. Dia telah merusak nama baikku, telah menghancurkan kehormatanku, dan mencoreng namaku di depan masyarakat”.

 

Gadis itu mendongakkan (mengangkat) kepalanya dan memandang ayahnya dengan bersenandung,

 

“Cukuplah sebagai celaan bagiku, wahai ayah, engkau adalah celaan, cukuplah bagimu, karena celaan tidak lagi bermanfaat

Dengan kata-kata penderitaan apa aku mengadu, ayahku? Darimana ucapanmu bisa membantuku?

Kesucianku mengadu, kehormatanku merintih sedih, memejamkan mata pilu menanggung derita

Ayah, dahulu kesucian adalah hiasan mataku, maka hiasan itu sekarang mengucurkan air mata

Memikul beban penderitaan, sementara tidur menjauhi mata pemikulnya

Saya gadis, wahai ayahku, berada di atas kenistaan, orang-orang mulia mengetahuinya

Anak panah kenistaan mengoyak kehormatanku, tahukah kamu apa anak panah itu?

Ayahku, siapakah yang berkenan menutup mata dan memaafkan, sementara di perutku tumbuh sesuatu yang haram?

Luka badan akan sembuh dengan diobati, tetapi kehormatan yang terluka tidak bisa ditutupi

Ayahku, dahulu aku mempunyai kekeliruan, kesucianku dikelilingi oleh senyuman

Dengan mainanku aku bercanda dengan kalian, aku melayang dengan mimpi yang membuat tidur menjadi indah

Rumah tegak kokoh dengan keimanan, rasa malu mengantarkannya kepada kesucian

Jawablah diriku, wahai ayahku, apa kesalahan besarnya? Kegelapan tidak mungkin untuk dipikul

Jawablah di mana senyumannya, mengapa mulutnya menjadi terkunci oleh kepedihan?

Dengan kesalahan apa dan dengan dosa yang mana orang-orang mulia dijerumuskan di lumpur kenistaan

Ayah, inilah kehormatanku, jangan mencelaku, dari kedua telapak tanganmu ia dikotori sesuatu yang haram

Engkau menanamkan bibit-bibit kefasikan di rumah kami, hasil yang dipetik wahai ayahku, adalah racun yang mematikan

Engkau tumbuhkan kekufuran dan pengingkaran bagai api yang membakar mata hari fitrah kami

Kami melihat cerita-cerita asmara, lalu benih-benih nafsu tumbuh di dalam jiwa kami, apa itu asmara?

Mereka menguasai cara membangkitkan nafsu dengan baik, dengannya hati para pemirsa dikuasai

Kami melihat rayuan, penari dan gelas, serta kemesuman yang tidak layak diucapkan

Seolah-olah engkau telah mendatangkan wanita nakal bagi kami, dia merayu kami ketika semuanya sedang tidur

Seandainya batu itu memiliki hari, wahai ayahku, niscaya ia akan memberontak, lalu bagaimana manusia wahai ayahku

Engkau menyalahkanku atas lenyapnya kesucianku, padahal hari ini kesalahan ada pada dirimu jika kamu mengetahuinya

Engkau telah menanam duri di jalanku, maka ia mengalirkan darah di kaki dan menggoncangkan pondasi

Itulah hasil yang kamu petik, dan aku tidak membebaskan diriku darinya, dan aku tidak bersedih dengan apa yang kamu petik

Ayah, ini adalah peringatan, dan itu adalah hatiku, ia merasakan rasa sakit karena kepedihanku

Aku menyesal dengan penyesalan, seandainya mereka membaginya di atas penyelewengan kaumku niscaya mereka menjadi lurus

Aku menengadahkan kedua telapak tanganku kepada Tuhan Pemilik Arsy, tulang-tulangku telah luruh menahan kepedihan

Tuhanku, jika Engkau memaafkan, maka aku tidak peduli walau aku harus menerima cibiran dari manusia

Ayahku, janganlah engkau menundukkan kepalamu karena kesedihan, sebagaimana burung unta menundukkan kepalanya di lubang

Pemetik anggur memiliki gelas anggur yang manis, dan hasil yang dipetik dari hanzhal yang pahit adalah kebinasaan

Apabila engkau tidak menerima takdir, maka memohonlah akhir kehidupan, jika akhir kehidupan memang baik

Bertakbirlah empat kali dengan kedua tanganmu dan berbisiklah, “Pada hari ini wahai dunia, selamat tinggal untukmu”

Ayahku, engkau menghancurkanku dan kini kau datang dengan menangis? Di atas reruntuhan, kehancuran apakah ini?

Ayahku, inilah hasil yang engkau petik, darah kesucianku, lalu siapa diantara kita, wahai ayahku yang berhak disalahkan

 

(bait-bait ini adalah karya penyair Muhammad bin Abdur Rahman Al Muqrin dengan judul “Abi Hatthamtani wa Ataita Tabki”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s