KISAH NYATA: “SIAPA YANG BERTANGGUNGJAWAB”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Keluarga hal. 60-67

Arrow SIgns - Not My Fault Shifting Blame

Kring… kring… kring… ibunya menghubunginya di kantor sesaat sebelum zhuhur.

 

“Ahmad, kami kehilangan adikmu. Baru saja ibu ingin membangunkannya, tetapi dia tidak ada di kamarnya. Cepatlah kemari!”

 

Ahmad pergi ke rumah bapaknya. Tidak biasanya adik perempuannya pergi dari rumah tanpa memberitahu siapapun. Ahmad tinggal di rumahnya sendiri bersama isteri dan anak-anaknya. Meskipun demikian dia mengenal betul adik perempuannya.

 

Ahmad merenung, “Saya telah berkali-kali menyarankan kepada bapak agar menikahkannya, karena dia sudah besar, tetapi bapak selalu menolak. Saya berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan”.

Ahmadpun tiba di rumah bapaknya. Mereka menggeledah setiap tempat dan setiap sudut rumah, tetapi tidak juga menemukannya. Ahmad memutuskan untuk masuk ke kamar adik perempuannya, mungkin dia bisa menemukan sesuatu (sebagai petunjuk) di sana. Kamar adiknya bersih dan tertata rapi. Ahmad menengok ke sana ke mari. Di atas meja, Ahmad melihat amplop pos yang tertutup. Ahmad memeriksanya, dan ternyata isinya adalah benda keras. Ahmad membukanya, sebuah kaset. Ahmad menyimpannya di saku dan berniat akan mengorek isinya setelah melapor terlebih dahulu kepada pihak yang berwenang.

 

Ashar telah tiba, tetapi belum ada kabar tentang adiknya, padahal Ahmad telah melapor ke pihak berwenang sebelum zhuhur. Ahmad memutuskan mendengarkan kaset. Ia memanggil bapak dan ibunya supaya ikut mendengarkan kaset tersebut. Ahmad lantas memasukkannya ke dalam tape recorder. Dia sangat khawatir jangan-jangan isi kaset itu adalah sesuatu yang buruk baginya dan bagi keluarganya, lebih-lebih kedua orang tuanya akan ikut menyimak isinya. Tetapi dia juga sangat ingin mengetahui apa yang terjadi, atau setidaknya memperoleh sedikit informasi tentang keberadaan adiknya saat ini.

 

Kaset ini harus didengarkan, karena mungkin ia bisa memberi petunjut. Ahmad membaca sampul kaset, “Lagu-lagu cinta. Lagu-lagu penyanyi ternama S*** M****”. Apakah kaset ini berisi lagu-lagu saja? Mengapa adikku meletakkannya di atas mejanya di dalam amplop pos? Semoga hasilnya tidak mengecewakan. Ahmad menekan tombol “on”. Maka melesatlah suara penyanyi meliuk-liuk disertai alunan musik yang menderum.

 

“… kamu, sementara gelas di tanganku.

Untuk siapa dirimu di hari esok

Maka dia terpancing karena ucapanku

Kemarahannya, dengan meronta-ronta

Dan dia memalingkan wajahnya

Dan mengatakan diriku adalah orang yang hina

Dia berdusta dalam merinduku

Dan berkhianat dalam…”

 

Suara penyanyi itu terputus, lalu terdengar suara tangan yang menekan tombol tape recorder. Hening sejenak, tiba-tiba terdengar suara yang pelan, sangat pelan tidak begitu jelas. Amhad memaksimalkan volume tape, suara itu terdengar agak jelas dari sebelumnya, itu suara adiknya.

 

“Ayah… ayah… akhirnya aku memutuskan… aku memutuskan… dan memilih keputusan yang sulit untuk pergi dari rumah. Terus terang, ayah dan ibu tidak pernah melalaikan diriku dalam urusan makan, minum dan pakaian. Bahkan sebaliknya kalian berdua menyediakannya untukku secara melimpah… akan tetapi aku berharap agar engkau, wahai ayah mengingat, begitu pula engkau wahai ibu. Berapa lama aku tinggal di rumah ini, tetap akan datang suatu hari di mana aku harus keluar dari rumah”.

 

Diam… hening untuk beberapa lama. Tidak ada suara yang keluar dari tape itu. Ahmad meresa heran, kenapa diam? Ataukah masih ada sesuatu yang tersisa di kaset tersebut? Dari yang diucapkan adiknya menunjukkan bahwa dia pergi dari rumah atas dasar keinginannya. Ya, keinginan dia. Akan tetapi, kemana? Masalahnya masih saja samar. Suara penyanyi kembali mengalun, maka terpaksa Ahmad mengecilkan volumenya/

 

“…dia berkata cinta itu abadi

Saya berkata tidak ada yang abadi

Apakah kamu masih mencintaiku apabila

Ketenaran dan kemasyhuranku lenyap?

Lalu dengan cepat dia menjawab

Kamu, bukan ketenaranmu tujuanku

Aku berkata, apakah…”

 

Suara penyanyi terputus untuk kedua kalinya dengan tekanan kedua kalinya di tape recorder. Ahmad memandang wajah ibu dan bapaknya. Suara dari tape itu terdengar kembali, “Ayah, aku telah lama menunggumu meninggalkan pendapatmu meminta mas kawin pernikahanku yang begitu mahal. Aku telah lama menunggumu menyetujui salah seorang pemuda yang ingin menikahiku. Tapi engkau menolak menikahkanku. Aku menunggu sampai aku bosan menunggu dan keputusasaan menghinggapiku. Maka aku mengambil keputusan, walaupun itu berbahaya, tetapi lebih baik daripada menjadi perawan tua. Maafkan aku, aku betul-betul terpaksa… terpaksa melakukannya”

 

Suaranya melemah diiringi tangisan. Dia diam untnuk melanjutkan ucapannya. Pada saat itu ibu menarik baju suaminya, Abu Ahmad. Dia berkata dengan tangisan yang memilukan, “Engkaulah penyebabnya. Engkau selalu menolak untuk menikahkannya. Apa yang engkau harapkan darinya? Saya sudah katakana kepadamu, nikahkan dia… nikahkan dia!”

 

Suaminya terdiam. Pandangannya tertunduk ke bawah. Kata-katanya adalah tamparan yang keras yang menyadarkannya. Terpaksa Ahmad mematikan tape recorder, dia memegang tangan ibunya dan berkata, “Ibu, aku mohon… bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Kita dengarkan kembali kasetnya agar kita mengetahui di mana dia sekarang? Kemana dia pergi?”

 

Ibunya terdiam, Ahmad menghidupkan kembali tape. Terdengar suara adiknya “Ayah, ibu… jangan mencemaskan diriku. Saya telah mengenal seorang pemuda. Dia mencintaiku dan akupun mencintainya. Aku mengenalnya melalui telepon. Setiap malam dia berbicara denganku melalui telepon setelah kalian berdua tidur. Dia berjanji kami akan menikah di dalam waktu dekat ini dan tinggal di sebuah apartemen. Aku mempercayainya, dia pemuda yang baik. Aku tidak memintanya melamarku, karena aku mengetahui ayah pasti menolaknya. Ibuku, sebentar lagi aku akan merasakan kehidupan rumah tangga yang telah lama aku impikan. Seandainya ibu berada di sampingku untuk memberi restu untukku dan kekasihku, suami masa depan (Abid). Setelah kami melaksanakan pesta pernikahan kecil-kecilan begitulah yang kami sepakati, aku akan berusaha menghubungi kalian agar kalian tidak mencemaskanku. Ibu… ayah… selamat tinggal dalam waktu dekat…”

 

Suara penyanyi kembali mengalum bersama alunan musik,

“… saya berkata, dan keraguan datang dan pergi silih berganti di dalam hatiku

Dan apabila kematian mendatangiku dan pada hari esok aku menjadi mayat yang tertimbun tanah

Di dalam kegelapan untuk selama-lamanya, cacing datang mengerubuti di sekelilingnya

Memakan dan menyerang…”

 

Ahmad mematikan tape setelah melihat ayahnya terpaku sambil mengusap air yang menggenangi pelupuk matanya. Ayah berlalu, diam seribu bahasa, lalu ia masuk kamar dan menutup pintunya. Ahmad memandang ibunya. Air mata telah membasahi pipinya, dia menangis tersedu dengan suara terisak-isak, pelan tapi terdengar. Penampilan ibu mengundang rasa iba dan belas kasihan. Ahmad mengumpulkan tenaganya lalu berdiri dan berkata kepada ibu, “Hendaknya apa yang kita dengar tetap menjadi rahasia. Kita berikan kesempatan kepada kepolisian untuk mencarinya, kita hanya bisa menunggu”.

 

Empat hari kemudian polisi menghubungi Ahmad di rumahnya. Adik perempuannya telah ditemukan. Ahmad langsung bergegas ke kantor polisi. Di sana dia diterima oleh komandan yang menenangkannya dengan ucapan, “Adikmu baik-baik saja… Alhamdulillah… tetapi…”

 

“Tetapi apa?”. Ahmad menyela tidak sabar.

 

“Adikmu sekarang berada di rumah sakit. Tenang saja, kondisinya tidak mengkhawatirkan. Dia hanya mengalami beberapa tekanan kecil…”

 

Ahmad terhenyak. Rumah sakit? Mengapa? Bukankah dia telah mengatakan agar kami tidak mencemaskannya? Apa yang terjadi? Bukakah dia mengatakan akan menikah? Ahmad tidak mampu melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi ini kepada Pak Komandan. Dia berusaha menutupi kegelisahannya agar tidak membongkar masalah adik perempuannya.

 

Akan tetapi Ahmad tetap saja bertanya, “Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana bapak menemukannya?”

 

“Sepertinya seorang preman busuk berhasil menculiknya, lalu dia (preman) menyekapnya di apartemen tersendiri. Sangat disesalkan dia (preman) lalu memanggil teman-temannya untuk menodainya dengan imbalan materi dari mereka. Hal itu berlangsung selama 4 hari sampai akhirnya Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Pihak Berwenang) berhasil memata-matai dan membongkar kejahatan kereka”.

 

Keterangan Pak Komandan ini laksana pedang tajam dan panas yang dibenamkan di dada Ahmad. Tidak tahu bagaimana menerima berita seperti ini, namun secara spontan mulutnya bertanya, “Siapa preman busuk itu?”.

 

Sambil mengingat-ingat Pak Komandan menjawab, “Namanya… namanya… Abid”. Nama itu di telinga Ahmad seperti petir. Jadi dialah orang yang menipu adiknya melalui telepon. Orang yang hina lagi rendah.

 

Sambil menenangkan Ahmad, Pak Komandan berkata, “Jangan terlalu bersedih, bisa saja seandainya kami terlambat sedikit saja, adikmu hanya meninggalkan nama”,

 

Ahmad tidak tahu harus bicara apa. Tetapi dia masih bisa berterima kasih Pak Komandan atas bantuannya. Ahmad memutuskan untuk pergi meninggalkan kantor polisi, dan pergi ke rumah sakit untuk melihat adiknya. Di tengah jalan dia bertanya-tanya: Siapa yang harus menanggung dosa dari kejahatan yang buruk ini? Apakah ayahnya yang menuntut mahar tinggi? Ataukah adikku yang berkasak-kusuk lewat telepon? Atau keduanya?

 

(website al islam al yaum, ditulis oleh Ibrahim Al Manshur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s