KISAH NYATA: “JALAN PENYELEWENGAN”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Keluarga hal. 74-75

salah-jalan-g

Semasa muda dia telah mengenyam kepedihan. Hingga dia memimpikanseandainya dia bisa pergi meninggalkan dunia ini, maka dia bisa mengistirahatkan diri dan dirinya bisa beristirahat. Hubungannya dengan orang lain berantakan, bahkan dengan keluarganya dia tidak bisa merasa betah dan nyaman.

Pada usia 19 tahun, beberapa tahun terakhir, dia memikul beban karena perselisihan dan percekcokannya yang terus menerus dengan ayahnya. Akan tetapi dia membekali diri dengan ketakwaan. Dia terus belajar dan akhirnya dia masuk perguruan tinggi.

Tidak diketahui apa yang memalingkannya dari shalat. Tiba-tiba saja dia meninggalkannya. Dia merasa dirinya najis, tidak bisa membaca al Faatihah di dalam shalatnya. Suaranya mengganggu orang-orang di sekelilingnya, dia berkata, “Ini adalah godaan setan”. Dia bersabar, akan tetapi kesabarannya tidak berguna.

Di bangku kuliah dia mengenal seorang pemuda. Pemuda ini memintanya untuk menjadi “temannya”. Dia setuju dan beralasan bahwa ini adalah cara lari dari kenyataan dan melupakan kesedihan. Dia tidak menyadari bahwa dia telah meletakkan kedua kakinya di jalan kenistaan.

Dia menemukan jalan penyelewengan. Dia telah menempuh beberapa langkah. Kemudian dia sadar, tapi bingung antara menyendiri, menyepi, kemudian gila, atau meneruskan meniti jalan penyelewengan dan kenistaan. Dia merasa akalnya tidak bekerja di jalan yang benar.

Kelemahan wanita ini dan ketidakberdayaannya membuatnya tersesat, hingga menyeretnya ke jalan penyelewengan.

Akan tetapi rahmat Allah sangatlah luas. Dia semestinya bertaubat dengan benar dan bertekad bulat untuk tidak kembali mengulang kesalahan-kesalahannya. Hendaknya ia kembali kepada Allah, berdoa kepadaNya dengan hati khusyu agar Dia memberi kekuatan kepada dirinya dan bisa terhindar dari bujuk rayu setan. Agar Dia memberikan pertolonganNya untuk melawannya dan menjauhinya, kembali kepada Allah dan berdoa merupakan senjata ampuh yang jarang diketahui oleh banyak orang.

Bersungguh-sungguh menjaga shalat pada waktunya, menunaikan kewajiban, membaca al Qur’an, dzikir, mendengarkan kaset-kaset yang berguna juga termasuk sarana terbaik untuk menghindari penyelewengan dari jalan kebenaran…”

(Lahazhaat Ya Banat, Muhammad Rasyid Al Uwayyid)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s