KISAH NYATA: “PERNIKAHAN”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Telepon hal. 79-81

Foto Tirta Kusuma.

Saudariku yang budiman, menikah adalah harapan mulia. Betapa ia sering mempermainkan khayalan seorang gadis. Berpindah-pindah dalam pikiran dan mimpinya secara sadar. Seorang raja (suami) dating, dia ditunggu-tunggu oleh seorang gadis untuk menjadikannya ratu di kerajaan kecil. Seolah-olah dunia berada di tangannya.

Ia adalah air jernih dari sungai cinta yang tulus. Aroma harum semerbak, memenuhi kedua telapak tangan. Dia adalah mutiara di hati suaminya. Dia bersabar untuk mendapatkannya walaupun harus menunggu lama, dia berjuang karenanya walaupun banyak di kalangan mereka yang mundur untuk menjadi pencetak generasi, ibu para syahid (syuhada) dan pahlawan.

Menikah bagi seorang gadis berarti pikiran yang luas dan khayalan yang mengembara di alam model-model busana pengantin. Pakaian warna-warni dan perhiasan dengan model termewah. Mana hadiah-hadiahnya? Apa bentuknya? Kapan saatnya memasuki dunia yang diidam-idamkan ini? Padahal ada yang lebih indah dari pada lautan mimpinya dan sungai pikirannya. Firman Allah Ta’ala: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu kasih sayang.sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (QS. Ar Ruum: 21)

Menikah bukanlah pesta dansa. Bukan pula perjalanan sepintas dimana seorang gadis memilih seorang pemuda berwajah mempesona, senyum manis, berperawakan atletis, berpenampilan menawan, yang modalnya hanya ketampanan dan kelembutan. Bukan, bukan begitu. Akan tetapi menikah adalah kehidupan sakral. Perjalanan panjang penuh dengan bahaya dan kesulitan. Di dalamnya seorang gadis membutuhkan seorang pemuda yang teguh, sukses, kuat dan jujur yang bisa menjaganya dari marabahaya, memberikan ketenangan dan rasa aman kepadanya. Dia menjadi ayah terbaik bagi anak-anaknya. Kepadanya juga dia menumpahkan angan-angannya. Bersamanya dia menceritakan imipan-imipannya dan merencanakan cita-citanya.

Menikah bukanlah busana indah yang dibangga-banggakan di depan teman-temannya. Bukan pula sekedar perlengkapan rumah tangga kehidupan seorang gadis sesudah Allah. Apabila dia adalaah laki-laki yang kuat dan teguh menghadapi kesulitan-kesulitan, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan hakiki bersamanya. Akan tetapi, jika keistimewaannya hanyalah perhiasan, bisana, dan penampilan semata, maka dia adalah orang yang paling sengsara bersamanya walaupun ketampanan dan penampilannya mempesona.

Maaf, menikah bukanlah dengan seorang Arjuna impian yang dikenal seorang gadis melalui pembicaraan lewat telepon, surat cinta, sosial media ataupun foto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s