KISAH NYATA: “SESUNGGUHNYA TUHANMU BENAR-BENAR MENGAWASI”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Keluarga hal. 76-78

Foto Tirta Kusuma.

Cerita ini dimulai ketika kantor polisi lalu lintas tiba-tiba menerima laporan tentang kecelakaan yang menewaskan seorang laki-laki dan seorang gadis. Setibanya di lokasi kejadian, para petugas mendapati sebuah mobil terperosok jauh di bawah jembatan sehingga mereka kesulitan untuk mengangkatnya.

 

Mereka benar-benar terkejut tatkala mendapati seorang gadis berusia dua puluh tahun telah mati, memakai baju yang sangat sempit, setengah telanjang. Kecantikannya telah tercoreng oleh kosmetik yang telah tercampur dengan debu, sementara dia dalam posisi duduk qurfusha (duduk dengan melipat paha dan betis di depat dada lalu melingkarkan kedua tangannya ke betisnya). Mulutnya terbuka dan mengeluarkan aroma minuman keras. Rambutnya telah bercampur dengan darah.

Adapun si laki-laki kira-kira berumur 50 tahun. Uban telah terlihat di rambutnya. Dia mati, sementara bau minuman keras menyembur darinya. Wajahnya berantakan.

 

Para polisi meneliti mobil dan menemukan botol minuman keras, beberapa makanan khusus dugem dan kaset berisi lagu-lagu gila. Terungkap sebuah kenyataan yang sangat pahit. Ternyata si gadis tidak ada hubungan apapun dengan laki-laki tua itu. Terungkap pula bahwa serigala tua ini memangsa buruannya untuk dibawa ke salah satu tempat peristirahatan. Keduanya menghabiskan malam dengan mabuk-mabukan, pesta, dansa dan lagu-lagu. Itulah yang diketahui. Adapun yang tidak diketahui, mkaa pastilah jauh lebih buruk.

 

Pada akhir malam, setelah serigala itu menuntaskan nafsunya, dia pulang untuk mengantarkan mangsanya ke rumah. Akan tetapi, karena mabuk dia salah arah dan mengambil jalan yang salah.

 

Mobil tidak terkendali, hingga menghantam pembatas besi di pinggir jalan. Keduanya menemui ajalnya dengan aib buruk yang terbongkar. Keluarga korban yang mestinya mendoakannya agar dia diberi rahmat, justru mendoakannya dengan adzab Neraka akibat aib dan kehinaan yang dilakukannya.

 

Mereka dan anak-anaknya yang telah dewasa mengutuk laki-laki itu, karena dia telah mempermalukan mereka, menodai kehormatan mereka, mencoreng nama baik mereka, dan mengubur masa depan mereka.

 

Adapun ayah si gadis, maka dia membela anaknya. Dia menyatakan puterinya adalah gadis baik-baik. Mushaf selalu ada di sakunya, dan mukena selalu ada di dalam tasnya.

 

Barangsiapa mati di atas sesuatu, niscaya di atasnyalah dia akan dibangkitkan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

 

(Fatayat Dha’iaat, halaman 210-211)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s