BOLEHKAH WANITA HAID BERWUDHU?

Wallohu a’lam, berdasarkan keilmuan kami yang sedikit, kami tidak menemukan adanya hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjawab pertanyaan ini.

Namun perhatikan hal-hal berikut, semoga bermanfaat…

Ulama berbeda pendapat, apakah wanita haid dianjurkan berwuhud ataukah tidak.

1. An-Nawawi menyebutkan dua pendapat ini dalam Syarh Shahih Muslim,
Pertama, beliau nukil keterangan al-Maziri,
قال المازري ويجري هذا الخلاف في وضوء الحائض قبل أن تنام فمن علل بالمبيت على طهارة استحبه لها
Al-Maziri mengatakan, “Terdapat perbedaan pendapat tentang wudhunya wanita haid sebelum tidur. Bagi ulama yang memahami bahwa alasannya agar bisa tidur dalam kondisi punya thaharah, maka dia menganjurkan hal itu.”

Selanjutnya an-Nawawi menyebutkan pendapat ulama madzhab Syafiiyah,
أما أصحابنا فإنهم متفقون على أنه لا يستحب الوضوء للحائض والنفساء لأن الوضوء لا يؤثر في حدثهما فإن كانت الحائض قد انقطعت حيضتها صارت كالجنب


“Para ulama mazhab kami (Syafi’iyah) sepakat bahwa tidak dianjurkan bagi wanita haid atau nifas untuk berwudhu (sebelum tidur) karena wudhunya tidak berdampak pada statusnya, karena ketika darah haidnya sudah berhenti (sedangkan dia belum mandi suci), hukumnya seperti orang junub. (Syarh Shahih Muslim, 3/218)

 

2. Syaikh Al Fauzan berpendapat Orang junub dan wanita haidh bila akan pergi tidur disunnahkan (paling tidak) untuk berwudhu karena wudhu meringankan hadats.

Bila wudhunya tidak untuk menghilangkan hadats/ibadah melainkan wudhu yang tujuannya untuk ‘AADAH/kebiasaan seperti Tabarrud (menyejukkan dirinya) dan nazhoofah (kebersihan) maka sunnah karena fungsi rof’i alhadats (menghilangkan hadats) atau taqliil alhadats (meringankan/mengecilkan hadats tidak terjad dalam wudhu semacam inii dan tidak menimbulkan tanaaqud (fungsi wudhu bertentangan dengan keadaannya yang sedang hadats)

Terdapat dalil yang menunjukkan bahwa seorang yang sedang junub dibolehkan berwudhu saat mau tidur. Dan terdapat teks dari sebagian fuqaha bahwa seorang wanita yang sedang haidh diperbolehkan mandi janabah dan sesungguhnya mandi tersebut dapat mengangkatnya dari hukum junub meski tidak mengangkatnya dari hukum haidh.

Ibnu Qudamah mengatakan bahwa jika seorang mandi janabah di masa haidhnya maka mandinya itu dianggap sah. Ia menghilangkan hukum junubnya meski tidak menghilangkan hukum haidhnya sehingga darahnya berhenti karena salah satu dari kedua hadats tersebut tidaklah bisa menghalangi terangkatnya yang satunya lagi.” (al Mughni juz II hal 210)

http://www.piss-ktb.com/…/973-thaharoh-wudhu-dan-baca-al-qu…
https://konsultasisyariah.com/6677-wudhu-wanita-haid.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s