ADAB BERPAKAIAN DAN BERHIAS

 

berhias

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. Hal itu semua merupakan ayat-ayat Allah, supaya mereka berdzikir mengingat-Ku.” (QS. al-A’raf : 26).

 

Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memperhatikan ada-adab yang berkaitan dengan pakaian, diantaranya :

 

Wajib menutup aurat

Menutup aurat merupakan adab mulia yang diperintahkan dalam agama islam. Bahkan, seseorang dilarang melihat aurat orang lain, karena hal tersebut dapat menimbulkan kerusakan, dimana syariat menutup semua celah terjadinya kerusakan. Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya. ….” (HR. Muslim, 338) Jumhur ulama mengatakan bahwa aurat laki-laki ialah dari lutut hingga pusar.

 

Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan

pakaian jelek : ”Apabila Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas nikmat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu”. (HR.

Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

 

Mengenakan pakaian sederhana

Hal ini dapat menjauhkannya dari sifat sombong, suka berfoya-foya, serta perasaan iri dan dengki dari sesama muslim. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meninggalkan suatu pakaian dengan niat tawadhu’ karena Allah, sementara ia sanggup mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lantas ia diperintahkan untuk memilih perhiasan iman mana saja yang ingin ia pakai.” (HR. Ahmad, dan Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahaadist ash-Shahiihah : 718)

 

 

 

Memulai dari sebelah kanan

Ummul mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan bagian kanan daripada bagian yang kiri ketika mengenakan sandal, bersisir, bersuci, dan dalam semua urusannya (yang mulia).” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Memakai pakaian Putih

Pakaian berwarna putih lebih baik dari pakaian berwarna lain, walaupun itu tidak terlarang. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pakailah pakaian berwarna putih, karena pakaian berwana putih lebih suci dan lebih baik. Kafankanlah jenazah kalian dengan kain putih” (HR. Ahmad, an-Nasaa’i, dan selain keduanya, lihat Shahiihul Jaami’ : 1235)

 

Tidak mengenakan pakaian syuhrah 

Dikatakan pakaian syuhrah (sensasional) karena pakaian tersebut membuat pemakainya menjadi pusat perhatian, baik karena jenis pakaian tersebut sangat mewah, atau sangat berbeda dengan kebanyakan orang, atau pakaian tersebut sudah sangat lusuh dan compang-camping, atau pakaian tertentu yang dipakai agar menjadi terkenal.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memakai pakaian syuhrah, maka Allah akan memakaikan pakaian yang serupa pada hari kiamat nanti. Kemudian, dalam pakaian tersebut akan dinyalakan api Neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, lihatShahiihul Jaami’ : 6526)

 

Tidak memanjangkan pakaian hingga melewati mata kaki (isbal)

Hadis-hadis yang melarang isbal (bagi laki-laki) sangat banyak, bahkan mencapai batas hadis mutawatir maknawi. Hadits-hadits dalam masalah ini diriwayatkan dari banyak shahabat, seperti : Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Huraira, Anas, Abu Dzar, dan selain mereka radiyallahu ‘anhum ajma’iin.

 

Diantara hadis-hadis tersebut ialah

  • Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Kain sarung yang terjulur di bawah mata kaki tempatnya ialah di neraka.” (HR. Bukhari : 5787)
  • Beliau juga bersabda, “Tiga macam orang yang pada hari kiamat nanti Allah tidak akan mengajak bicara, tidak melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” Kemudian beliau melanjutkan, “(Yaitu) musbil (orang yang isbal), mannaan (orang yang mengungkit-ungkit pemberian), dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh al-Albaaniy)

Oleh karena itu, pengharaman isbal secara umum bagi laki-laki merupakan perkara yang disepakati oleh para ulama.

 

Terdapat perbedaan pendapat tentang hukum isbal jika tidak sombong, kami persilahkan kembali pada dalil yang dimiliki. Adapun bagi kami, isbal merupakan dosa besar jika disertai dengan kesombongan dan isbal juga tetap diharamkan walaupun tanpa disertai kesombongan, karena isbal itu sendiri merupakan kesombongan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hati-hatilah kamu dari isbal, karena sesungguhnya isbal merupakan kesombongan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, lihat Shahiih Abi Dawud : 3442)

 

Dimanakah sebaiknya ujung sarung / celana?

  1. Tepat di tengah betis. ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhuberkata, “Sarung Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam ialah sampai di tengah betis beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi). Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sarung seorang mukmin ialah sampai di tengah betis.” (HR. Muslim)
  2. Sedikit di atas tengah betis. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sarung seorang mukmin ialah sampai sedikit di atas tengah betis, kemudian sampai tengah betis, kemudian sampai dua mata kaki. Maka barangsiapa di bawah kedua mata kaki, maka dia di Neraka.” (HR. Ahmad dan Abu ‘Awwaanah)

 

Menggunakan parfum

“Sesungguhnya sebaik-baik parfum laki-laki adalah yang tampak baunya dan tersembunyi warnanya. Dan sebaik-baik parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tersembunyi baunya.” (Hasan lighoirih. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud)

 

Parfum bagi wanita juga dibolehkan dan kebolehan disini adalah untuk menyenangkan suaminya bukan untuk diumbar ke seluruh laki-laki sebagaimana banyak wanita yang melakukan hal ini. Dan jika wanita keluar dari rumahnya, maka dia wajib untuk menghilangkan aroma dari parfum tersebut bahkan Rasulullah menganggap wanita seperti ini sebagai pezina sebagaimana dalam hadits berikut :

“Siapa saja wanita yang memakai minyak wangi, kemudian ia melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, maka ia pezina.” (Shahih. HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jika salah seorang dari kalian (wanita) datang ke masjid untuk shalat, maka janganlah ia memakai parfum.”(Shahih. HR. Muslim dan Nasa’i)

 

Tidak bolehnya menolak parfum sebagai hadiah

“Barangsiapa yang ditawari wewangian, maka janganlah ia menolaknya, karena ia ringan dibawa dan harum baunya.” (Shahih. HR. Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i).

 

Tidak memakai emas dan pakaian sutra

Emas dan pakaian sutra haram dipakai oleh kaum laki-laki, tetapi boleh bagi kaum wanita. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Emas dan sutra dihalalkan bagi kaum wanita dari umatku, dan diharamkan bagi kaum laki-laki.” (HR. Ahmad dan Nasaa’i, lihatShahiihul Jaami’ : 209)

 

Tidak menyerupai pakaian orang kafir

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Syakh al-Albani mengatakan, “hasan shahiih”)

 

Tidak menyerupai lawan jenis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki, dan laki-laki yang menyerupai wanita.” (HR. Bukhari 5885)

 

Disunnatkan kepada orang yang mengenakan pakaian baru

membaca : “Alhamdulillaahilladzii hadzaattauba wa razaqaniihi min ghairi haulin minnii wa laa qawwatin”

“Segala puji bagi Allah yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya dan kekuatan dariku”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

 

ADAB BERHIAS LAINNYA

BERHIAS DIRI SESUAI SUNNAH

Khitan, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak dan memotong kumis

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullahu Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Fitroh itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kumis dan memotong kuku.” (HR. Bukhari)

 

 

Merapikan rambut berselang hari

Abdulullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melarang sering menyisir dan merapikan rambutnya melainkan berselang sehari.” (HR. an Nasa’i, dishohihkan oleh al –Albani)

 

Menumbuhkan jenggot

Imam An Nawawi (Madzhab Syafi’i):

Imam Nawawi -rohimahulloh- mengatakan: Yang benar adalah dibencinya perbuatan memangkas jenggot secara mutlak, tapi harusnya ia membiarkan apa adanya, karena adanya hadits shohih “biarkanlah jenggot panjang“. Adapun haditsnya Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: “bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mengambil jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya”, maka hadits ini telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah. (al-Majmu’ 1/343)

 

Imam Nawawi juga mengatakan: Pendapat yang kami pilih adalah membiarkan jenggot apa adanya, dan tidak memendekkannya sama sekali (Syarah Shahih Muslim, hadits no: 260)

 

Pasang gigi palsu

Pasang gigi palsu menurut hukum asalnya boleh untuk pria dan wanita, hanya saja tidak diperbolehkan bila terbuat dari emas, baik untuk laki-laki atau perempuan. Untuk lebih jelasnya lihat Fatawa wa Rosa’il Syaikh Muhammad bin Ibrohim 4/69.

 

BERHIAS DIRI YANG DILARANG

Haram Berdandan seperti orang musyrik

Umar radhiallahu’anhu berkata:

“Dan jauhkan dirimu dari bersenang-senang dan meniru model dan gaya orang musyrik.” (HR.Muslim)

Contohnya mengalungkan kalimat “Alloh” di leher, hal ini meniru orang Nasrani menggantungkan salib di lehernya. Atau berbaju batik atau motif lain yang ada gambar salib namun tersamar.

Haram Meratakan gigi dan mencukur bulu alis mata

Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melaknat orang yang menghilangkan bulu alis mata dan yang meratakan gigi untuk keindahan.” (HR. an Nasa’i, dishohihkan oleh al-ALbani)

 

 

Haram Menato badan

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melaknat orang yang minta ditato yang merubah ciptaan Alloh. (HR.an-Nasa’i, dishohihkan oleh al-Albani)

 

Makruh Mewarnai uban dengan warna hitam

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Rubahlah (rambut dan jenggot) yang putih dengan pewarna, dan hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim)

 

Makruh Mencabut uban

Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya radhiallahu’anhu dia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Janganlah kamu mencabut uban, tidaklah seorang muslim yang beruban satu uban di dalam Islam melainkan uban itu cahaya baginya besok pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud, dishohihkan oleh al-Albani)

 

Makruh Membiarkan kuku dll, lebih dari 40 hari

Anas radhiallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menentukan waktu buat kita untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, menyukur bulu kemaluan, hendaknya kita tidak membiarkannya lebih dari pada empat puluh malam.” (HR. Muslim)

 

Makruh Hanya mengenakan satu sandal

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Jika putus tali sandal salah satu di antara kamu maka janganlah berjalan dengan salah satunya sedangkan kaki yang lain tidak, hendaklah melepas kedua sandalnya atau memakai keduanya.” (HR. Bukhari)

 

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian kepada kita sebagai rezeki dari-Nya, tanpa daya dan kekuatan dari kita.

 

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, shahabat, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat nanti.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s