KISAH NYATA: “BETAPA KAMPUNGANNYA DIRIKU”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Telepon hal. 90-92

flower-316437_640

Keluarganya menuruti segala kebutuhannya. Harta dikucurkan untuknya agar dia bahagia. Akan tetapi dia seperti gadis-gadis muda lainnya, berhasrat untuk menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, yang (menurutnya) akan menghiasi hidupnya dengan kasih sayang.

 

Suatu malam telepon berdering. Tangannya menjulur mengangkatnya. Dia mendengar suara laki-laki yang begitu ahli memancing pembicaraan dengannya hingga membuyarkan kantuk dari kedua matanya. Suaranya gagap, karena dia tidak terbiasa melakukan perbuatan seperti ini. Sebuah kesempatan yang tidak disia-siakan oleh lelaki (serigala) itu. Jarring dibentangkan dan perangkap dipasang untuk menangkap gadis ini. Dia menutup gagang telepon, setelah sebelumnya meninggalkan nomornya untuk si gadis jika dia ingin menghubunginya.

Akal sehat gadis ini luruh dikarenakan tekanan psikologis yang ada pada dirinya, dan tentu saja karena kemahiran pemuda itu dalam membujuk dan merayunya.

 

Esok malamnya gadis ini mengangkat sendiri teleponnya dengan tangan gemetaran. Dia menekan nomor si pemuda. Begitu mendengar suara pemuda itu dan sebaliknya, maka dia langsung yakin bahwa gadis itu telah masuk ke dalam jaring yang ditebarkannya. Pemuda itu mulai merayu, member janji-janji, memuji dirinya sendiri dengan uang dan kedudukannya. Kemudian apa? “Aku ingin melihat wajahmu”. Begitulah tanpa rasa malu pencuri ini meminta. “akan tetapi kamu tidak dating untuk melamarku. Tidak… dan tidak… saya khawatir… mungkin”. Dengan kata-kata polos dan kampungan, gadis ini menjawab. Akan tetapi si maling ini mengancamnya dengan tidak akan menghubunginya kembali, jika dalam dua hari dia tidak memenuhi permintaannya. Lalu telepon ditutup.

 

Gadis ini telah terjerat oleh jebakan pemuda itu. Dia mengira angan-angannya luruh. Dia telah memberkan pemuda impiannya melayang. Dia sedih karena tidak bisa memenuhi permintaan sang pemuda. Esok hari gadis ini mengangkat telepon. Ia menyatakan kesediannya untuk memenuhi permintaan itu, akan tetapi hanya dari balik jendela rumah. Pemuda itu tidak menolak, karena dia telah menyapkan umpan baru untuk menjebak si gadis. Ketika keinginannya tercapai, maka dia memintanya untuk keluar bersamanya. Jika tidak, maka dia akan memutuskan hubungan dengannya dan membeberkan di depat keluarganya. Sesudah itu dia akan mencari pendamping lain yang benar dan lebih berani bagi hidupnya. Begitulah dia bermain. Dalam kebimbangan, ketakutan dan kedunguannya, akhirnya si gadis pun keluar bersamanya. Ke mana? Kepada kenistaan. Benar, kepada kenistaan, dengan segala makna yang dikandung oleh kata ini. Gadis itu pun hilang. Hilang pula kehormatannya. Pemuda itu mencampakkannya dengan berkubang aib.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s