KISAH NYATA: “AWAL DARI PENGHABISAN”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Telepon hal. 93-95

Livia

Aku mengenal seorang pemuda melalui telepon. Dia bertanya tentang rumah si Fulan. Aku jawab, “Salah sambung”. Sambil aku melembutkan suara dan menampakkan ucapan yang baik. Perhatikanlah, agar kalian tahu bagaimana berbicara denganucapan lembut kepada laki-laki, serta pengaruhnya di hati mereka.

 

Kemudian dia menelepon kembali untuk yang kedua, ketika, dan keempat kalinya. Mulailah terjalin hubunganku dengannya. Dia mengaku mencintaiku. (Katanya) Cintanya mulia (bagaimanakah sesuatu bisa menjadi mulia sementara dia menyelisihi Allah dan RasulNya?)

Benar-benar gadis dungu dan patut dikasihani. Ia tertipu oleh ucapan bermadu. Setan menghiasi untuknya perkara yang mencoreng dan mengotori wajahnya. Keduanya saling berjanji, bertemu lebih dari satu kali. Surat menyurat, perbincangan lewat telepon dan pertemuan sembunyi-sembunyi.

 

Sementara pemuda ini terus menampakkan kecintaan dan kesuciannya. Dia menyatakan tidak bisa jauh darinya, walaupun sesaat. Dia telah mengambil foto-fotonya. Foto mereka berdua. Empat tahun berlalu dihabiskannya bersama serigala ini. Benar-benar serigala. Setelah itu serigala ini berkata, “Serahkan dirimu kepadaku”. Tidak penting baginya apakah itu terjadi sekarang atau dikemudian hari. “Karena kita akan menikah”. Begitulah ia beralasan. Tiba-tiba cahaya iman pada dirinya menyala. Hatinya tergerak bangun setelah terbuai dalam kelalaian yang panjang. Dia berkata, “Pernikahan pertama-agama-keluarga-kehormatan-neraka-manusia-kemuliaan-keperawanan-dan aib”.

 

Serigala berkata, “Jika kamu tidak menyerahkan dirimu maka aku akan membeberkan aibmu kepada keluargamu. Aku mempunyai bukti-buktinya. Foto-fotomu, pembicaraan melalui telepon yang terekam dan aku mengetahui rahasiamu serta rahasia keluargamu”.

 

Gadis merana ini akhirnya hidup dalam penderitaan yang dia ciptakan sendiri. Apa yang dia dapatkan? Apa yang dihasilkan? Kehinaan dan kenistaan.

 

Ini adalah satu kisah dari jutaan kisah. Satu korban dari sekian banyak korban lainnya.

 

Ketahuilah, wahai saudari-saudariku muslimah, bahwa lelaki asing adalah serigala bagimu. Kamu seperti domba betina. Menjauhlah darinya seperti domba betina yang berlari dari serigala.

 

Serigala tidak menginginkan dari domba kecuali dagingnya. Yang diinginkan oleh lelaki adalah sesuatu yang paling berharga bagimu, lebih berharga daripada daging domba dan lebih buruk baginya daripada kematian domba.

 

Mereka mengincar sesuatu yang paling berharga pada dirimu. Kesucian yang kamu banggakan agar hidupmu terhormat. Kehidupan seorang gadis yang direnggut kesuciannya labih buruk seratus kali daripada domba yang dagingnya dicabik-cabik oleh serigala.

 

Inilah wanita hari ini. Ia meremehkan kehormatannya, menjerumuskan dirinya kepada resiko. Dia berkata, “Saya bisa menjaga diri dan melindungi kehormatanku”.

 

Kehormatannya dan keluarganya tercemar. Begitu pula nama baiknya dan keluarganya. Dia tidak peduli dan tidak pernah menyesal kecuali ketika penyesalan tiada lagi berguna. Perkaranya tidak hanya sebatas telepon, lebih dari itu. Surat-surat, pertemuan-pertemuan dan fitnah semakin hari semakin bertambah.

 

Dengan inilah gadis-gadis kita menjerumuskan diri mereka kepada kebinasaan dan neraka, tanpa peduli, demi menuntaskan nafsu mereka, sekalipun mengorbankan agama.

 

(Ihdzari at-Telefun ya Fatatal Islam, halaman 5-7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s