KISAH NYATA: “SUMUR PENYESALAN”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Telepon hal. 96-98

sujud-shalat-2

“Aku adalah seorang wanita satu-satunya, cantik dan manja. Mainanku adalah emas, seperti anak kecil yang memiliki mainan. Semuanya ayah, ibu dan saudara-saudaraku dikondisikan untuk melayaniku. Perintah-perintahku dilaksanakan, dan keinginan-keinginanku dipenuhi.

 

Aku keluar dari rumah seolah-olah diriku adalah pengantin bari di minggu pertama pernikahannya. Aku berhias, berdandan dan berparfum. Menikmati hidup pada derajat tertinggi. Keinginanku adalah berhias dan menonjolkan tempat perhiasan. Betapa aku sangat berbahagia dan menikmati pandangan yang tertuju kepadaku. Betapa aku merasa bangga dan terhormat manakala mendengar kata-kata kekaguman dan pujian walaupun itu dusta.

Para pemuda di lingkungan tempat tinggalku berlomba-lomba, sebagian menantang sebagian yang lain untuk menjalin hubungan denganku. Barangnya diobral dengan harga sangat rendah. Salah satu dari mereka memenangkan tantangan itu dan dialah yang menjalin hubungan denganku.

 

Aku menerimanya di rumah. Bahkan di kamar pribadiku, setelah semuanya tidur. Aku menyambutnya seperti isteri menyambut suaminya. Semua yang dia inginkan aku berikan. Aku tidak mengetahui bahwa urusannya tidak lebih dari memenangkan hadiah taruhan.

 

Kondisi seperti ini terus aku jalani, dan aku berada dalam kelalaian. Aku belum tersadar kecuali setelah aibku terbongkar. Aib itu dengan cepat menyebar. Dunia terasa sempit bagi keluargaku. Kecintaan mereka dan kasih sayang mereka kepadaku berubah menjadi kebencian, kemarahan dan cibiran. Kepedihanku bertambah manakala laki-laki itu menjauhiku dan menghindar dariku.

 

Bagaimana aku menyia-nyiakan diriku? Bagaimana aku menjualnya kepada setan? Bagaimana aku kehilangan kesucianku? Dan janin yang bergerak-gerak di perutku ini, bagaimana dia keluar ke dunia, sementara dunia membencinya sejak hari pertama keberadaannya dalam rahimku?

 

Penyesalan demi penyesalan aku telan dan nafas panjangpun aku hembuskan. Akan tetapi apa guna penyesalan-penyesalan itu bagiku? Apa guna hembusan nafas panjang itu?

 

Aku mengetahui dan meyakini bahwa aku hidup tanpa tujuan. Hawa nafsuku mengendalikan, syahwatku mengiring. Bagaimana aku bisa tertipu dengan serigala egois ini, yang lari menghindariku di saat aku benar-benar membutuhkannya? Di mana kasih sayangnya yang selama ini tercurahkan kepadaku? Di mana kata-katanya yang indah? Di mana dia? Semuanya luruh dan lenyap ketika menabrak kepentingannya. Jika rayuannnya benar, niscaya dia menjadikanku isterinya dan semua akan memberikan doa restu terhadap hubungan ini.

 

Sekarang tidak ada hiburan bagiku dari musibah ini, kecuali sebuah nasihat yang kuberikan kepadamu, ukhti tercinta dan saudari-saudari lain sepertimu. Semoga hal ini membantuku di hadapan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) Tuhanku. Jauhilah -wahai ukhti tercinta- orang seperti ini, yang telah dijerumuskan oleh setan dan dia pun terjerumus. Aku katakana ini padamu sementara penyesalan mencabik-cabik hatiku dan rasa sedih menhancurkanku. Tidak ada jalan bagiku kecuali harapan agar Allah ‘Azza wa Jalla berlemah lembut kepadaku dan memperbaiki keadaanku. Aku memohon itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

 

(ibnati al Habibah Antil Mas’ulah, halaman 29-32)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s