KISAH NYATA: “AKU MEMBUNUH DIRIKU”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Telepon hal. 99-103

siluet-wanita-muslimah

Pemuda: “Hallo”

Gadis : “Ya”

Pemuda : “Maaf, sebentar saja hanya beberapa kata”

Gadis : “Kamu mau apa?”

Pemuda : “Aku hidup dalam kecemasan memikirkan masa depan”

Gadis : “Baik, ada apa denganmu?”

Pemuda : “Sebenarnya aku menginginkan seorang gadis untuk merajut ikatan cinta bersamaku. Cinta tulus demi meringankan kepedihan dan luka-lukaku, aku kemudian akan menikahinya”

Gadis : “Akupun begitu. Seandainya ada pemuda jujur yang memenuhi janji dan ucapan-ucapannya”

Pemuda : “Kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Sayalah pemuda jujur itu. Setelah itu ayo kita menikah, kamu akan menjadi ibu dan aku menjadi ayah”

Gadis : “Akan tetapi aku tidak tidak mengenalmu”

Pemuda : “Sebagai permulaan, penjelasan sudah cukup. Namaku (…) umur (…) aku tampan, siapa saja yang melihatku pasti tertarik”

Gadis : “Benar?”

Pemuda : “Benar, demi Allah”

 

PERCAKAPAN LAIN

Pemuda : “Sebenarnya hati kita telah bertaut. Kita tinggal menikah saja”

Gadis : “Ya, dan aku akan menolak siapapun yang akan melamarku”

Pemuda : “Kita harus bertemu supaya jalinan ini lebih kuat”

Gadis : “Sulit, aku takut untuk bertemu”

Pemuda : “Harus bertemu. Perkenalan tulus. Jika tidak, maka tidak mungkin kita menikah. Pembicaraan kita ini terekam loh. Jika kamu menolak, maka aku akan menyebarluaskannya”

Gadis : “Itu berarti kamu ingin memutuskan hubungan dan menyudahi cinta antara diriku dengan dirimu”

Pemuda : “Bukan… aku hanya ingin bertemu dan berkenalan, seperti yang biasa dilakukan sebelum menikah”

Gadis itu menemuinya dan terjadilah bencana yang memilukan

 

PERCAKAPAN LAIN

Gadis : “Kamu telah menipuku dengan pertemuan tulus. Kamu telah menjerumuskanku ke dalam musibah”

Pemuda : “Kamu mau apa?”

Gadis : “Melanjutkan hubungan cinta dan mempersiapkan membangun mahligai rumah tangga”

Pemuda : “Akan tetapi dirimu tidak mengagumkanku. Rasa cinta itu tidak di dalam genggamanku”

Gadis itu meratap dan menangis, “Akan tetapi kamu telah mengambil milikku”

Pemuda : “Aku mohon pembicaraan ini cukup sekian. Aku tidak berhasrat menikahi gadis-gadis telepon”

Terdengar tangis seorang gadis dan sambungan telepon ditutup

 

Ini bukan cerita khayalan. Aku tidak melebih-lebihkan. Renungkanlah alur ceritanya. Banyak aib besar diawali dengan bermain-main dengan perkara yang dianggap remeh dan kecil. Banyak orang lupa bahwa hujan dimulai dari setetes  kemudian tertumpah ruah. Api berawal dari percikan kecil.

 

Perkara kecil mendorong untuk mengulanginya, menyeret kepada kemaksiatan yang lain. Kemaksiatan sebagian meremehkan sebagian yang lain. Barangsiapa tidak mengingkari kemungkaran yang kecil, niscaya dia akan terbiasa menerimanya. Jika itu kemungkaran yang lebih besar, maka pengingkarannya pasti ringan, karena sebelumnya dia telah menerima yang lebih kecil dan diikuti oleh yang lebih besar darinya.

 

Syariat Islam tidak sekedar mengharamkan zina dan perbuatan-perbuatan keji semata. Lebih dari itu ia mengharamkan semua sarana yang mengantarkan kepadanya. Ada larangan berkata genit, mesra dan lembut. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya” (QS. Al Ahzab [33]: 32)

 

Ada larangan menampakkan perhiasan, “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya” (QS. An Nuur [24]: 31)

 

Ada perintah menundukkan pandangan, “30.  Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. 31.  Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya”

(QS. An Nuur [24]: 30-31)

 

Di dalam sunnah terdapat laknat bagi kaum wanita yang keluar rumah supaya kaum laki-laki mencium wanginya. Ada pula ancaman khalwat (berdua-duaan) dalam sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Janganlah laki-laki berkhalwat dengan wanita, karena pihak ketiganya adalah setan” (Sunan Nasai) -hadits serupa diriwayatkan pula oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Thabrani dan Baihaqi-

 

Barangsiapa mengikuti syariat, niscaya dia akan selamat dan aman. Dan barangsiapa melanggar rambu-rambu pengaman ini, meremehkan dan menyepelekannya, maka dia beresiko terjerumus ke dalam kebinasaan yang memalukan.

 

Ada sebuah peribahasa bagi orang yang meremehkan: “Siapa yang menggali lobang, dia pasti terperosok ke dalamnya”

 

Hendaknya para keluarga berhati-hati dan para gadis waspada.

 

(Kasykulul Usrah, halaman 50-53)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s