MENYIKAPI AYAH YANG “KERAS”

siluet-muslimah-_150430083110-289

Pertanyaan dari: devyulxxxxx@gmail.com

Assalamualaikum..

Saya ingin bertanya.. Saya mempunyai ayah, beliau orangnya rajin beribadah, namun akhlaqnya kurang baik.. Secara garis besar (maaf; kurang bertanggung jawab terhadap keluarga istri dan anak) suka menghina ibu saya.. kemudian saya menegurnya, adapun dengan cara halus via e.mail, dengan orang ke-3, dan dengan bicara secara langsung, tidak ada satupun yang mempan. Yang ada saya malah kena caci maki, bahkan disumpahi sebagai anak durhaka dan hidup sengsara.. Itu bagaimana ya pak hukumnya, apakah beliau termasuk orang yang terdzalimi karena karakter negatif beliau, dan apakah saya se dosa dan se durhaka itu hanya karena membela ibu saya? Apakah sumpah serapah beliau akan dikabulkan oleh Allah? bahkan saya minta maaf pun tak di dengarkan.. Terimakasih..

 

Jawab:

Wa’alaikum salam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan saudari dalam menghadapi ujianNya dan memudahkan untuk saudari jalan keluar yang terbaik.

 

Dari pertanyaan saudari, kami pahami adanya pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1. Bagaimana sikap yang harus dilakukan menghadapi orang tua yang “keras”?
  2. Bagaimana cara menasihati orang tua yang “keras” tersebut?
  3. Apakah isteri dan anak termasuk orang-orang yang terzhalimi?
  4. Apakah anak menjadi anak durhaka kepada ayahnya ketika ia membela ibunya yang terzhalimi dan apakah sumpah ayah yang “keras” akan terkabul?

 

Insya Allah akan saya jawab satu-persatu, semoga ada manfaatnya bagi penanya ataupun bagi kaum muslimin lain yang membaca Tanya jawab ini, semoga penanya, kami dan pembaca mendapat manfaat di dunia dan akhirat.

Yang paling utama untuk saudari lakukan pertama kali adalah menuntut ilmu agama berlandaskan al Qur’an dan sunnah/hadits-hadits yang shahih, berdasarkan penjelasan para ulama madzhab ahlus sunnah.

 

  1. Sikap yang harus dilakukan adalah bersabar dan mendoakan orang tua.

Sabar dan harapkan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa seorang muslim adalah ujian baginya yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat.

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.  Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk [78]: 1-2)

 

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az Zumar [39]: 10)

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad. Shahih)

 

“Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka (tidak suka pada cobaan tersebut, pen), maka baginya murka Allah.”( HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik. Hasan shahih)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

 

Kemudian doakanlah ayah saudari dengan doa yang baik. Kenapa demikian? Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Membolak-balikan hati, Allah-lah yang merubah hati manusia yang jahat menjadi baik, bukankah ada contohnya pada kisah masuk Islamnya sahabat Umar bin Al Khaththab Radhiallahu ‘Anhu, banyak lagi contoh Allah merubah hati manusia yang kafir menjadi beriman, maka tentunya sangat mudah sekali bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki hati hambaNya yang sudah beriman. Doakanlah ayah saudari dengan doa yang baik terus-menerus, jangan merasa bosan dan jangan merasa bahwa doa saudari tidak dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan setiap doa. Perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut:

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad, dari Abu Sa’id. Dengan sanadnya jayyid)

 

Bahkan jika saudari tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan marah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta pada Allah, maka Allah akan murka padanya.” (HR. Tirmidzi. Hasan)

 

  1. Cara terbaik menasihati orang tua menurut kami adalah dengan berbakti kepadanya

a). Berbakti kepada orang tua dalam bentuk ucapan.

Allah Ta’ala berfirman:

“….. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Isrâ [17]:23)

 

  1. b) Bakti kepada orang tua juga dalam bentuk perbuatan, yaitu dengan cara seorang anak menghinakan diri di hadapan orang tuanya, dan tunduk patuh kepada mereka dengan cara-cara yang dibenarkan syariat dalam rangka menghormati kedudukan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”” (QS. Al-Isrâ [17]:24)

 

c). Berbakti juga dapat dilakukan dengan pemberian materi kepada orang tua.

Orang tua berhak memperoleh infak dari anaknya. Bahkan ini termasuk bentuk infak yang agung. Sebab Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” Engkau dan kekayaanmu adalah milik bapakmu” [HR. Abu Dâwud no. 3530, Ibnu Mâjah no. 2292]

 

d). Bentuk bakti kepada orang tua yang lain adalah dengan dengan melayani mereka dalam menyelesaikan atau membantu urusan maupun pekerjaan mereka. Namun bila meminta tolong dalam perkara yang diharamkan, saat itu tidak boleh bagi anak untuk menyambut permintaan mereka. Justru, penolakannya menjadi cermin bakti anak kepada orang tua.

 

Nasehati orang tua dengan cara yang baik dan tepat:

  1. Perhatikan waktunya
  2. Carilah persamaan antara saudari dengan orang tua
  3. Gunakan metode bertanya/meminta pendapat, bukan metode memberitahu.

Jangan katakan, “Wahai ayah/ibu, solatlah, sesungguhnya solat itu wajib”, akan tetapi katakanlah, “Wahai ayah/ibu, bagaimana pendapatmu tentang hukum solat?”

Jangan katakan, “Sesungguhnya hukum mendatangi dukun adalah syirik besar”, akan tetapi katakanlah, “Bagaimana menurutmu hukum meminta kesembuhan kepada selain Allah?”

  1. Lemah lembutlah dalam menyampaikan nasihat, karena sesungguhnya kita tidak lebih baik dari Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan ayah kita tidak lebih jahat dari Fir’aun

“Sudah sampaikah kepadamu (Ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah Suci ialah lembah Thuwa; “Pergilah kamu kepada Fir’aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas, Dan Katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. An Naaziaat [79]: 15-19)

 

  1. Apakah isteri dan anak terzhalimi?

Zalim adalah kegelapan, bisa juga berarti melanggar hak orang lain, zalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan. Maka orang yang dilanggar haknya atau diperlakukan secara kejam dapat disebut sebagai orang yang terzhalimi.

 

Saya tidak berani mengatakan apakah ibu dan saudari termasuk terzhalimi atau tidak, karena saudari dan ibu saudari sendirilah yang mengalami dan lebih mengetahuinya. Wallohu a’lam

 

  1. Apakah anak menjadi anak durhaka kepada ayahnya ketika ia membela ibunya yang terzhalimi dan apakah sumpah ayah yang “keras” akan terkabul?

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam : “Tolonglah saudaramu saat berbuat zhalim atau teraniaya. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, kalau menolong orang yang teraniaya kami sudah mengerti, bagaimana dengan menolong saudara yang berbuat zhalim?” Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dengan menghalang-halanginya berbuat zhalim”. [HR Al-Bukhâri, Muslim dan Ahmad]

 

Misalnya, orang tua memerintahkan membeli sesuatu yang diharamkan, kemudian si anak menolaknya. Anak ini tidak disebut sebagai anak durhaka, akan tetapi merupakan putra yang berbakti kepada orang tuanya, karena telah menahan orang tuanya dari berbuat yang haram.

Perlu dipahami bahwa karakter orang tua pada umumnya adalah sangat sulit untuk menerima nasihat, terutama dari anak, kecuali orang-orang yang Allah berikan rahmat.

 

Berdasarkan hadits yang sebelumnya telah kami sebutkan,

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal….”

 

Maka yang kami pahami adalah bahwa sumpah ayah saudari tersebut tidak akan terkabul jika mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi. Wallohu a’lam.

 

Berbakti kepada orang tua, hukumnya adalah wajib, apapun kondisi orang tua, bahkan kepada orang tua yang kafir sekalipun, maka seorang muslim dan muslimah tetap wajib berbuat baik kepada kedua orang tua.

 

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu*, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah [2]: 153)

* ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s