MANDI BESAR, TAYAMUM DAN MENGUSAP KHUF

Materi Kajian  Rutin Kamis Pagi Karyawan/i Toserba

khuf-1

MANDI BESAR

Hukum dan Kedudukan Mandi Besar

Adapun yang berkaitan dengan mandi besar yaitu menyiram sekujur tubuh dengan air. Dasarnya dalah firman Allah Ta’ala : “Dan jika kamu junub maka mandilah” (Al Maidah : 6).

 

Dan firman Allah : “(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi” (An Nisa : 43).

Mandi besar itu terbagi kepada wajib dan sunnah :

1) Adapun mandi besar yang diwajibkan, adalah mandi yang dilakukan setelah bersetubuh, baik mani keluar atau tidak keluar, maka wajib baginya mandi disebabkan hanya semata masuk kemaluan suami kepada kemaluan isterinya walaupun sedikit dan sesaat,

Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila laki-laki telah duduk diantara anggota tubuhnya yang empat kemudian ia bersungguh- sungguh (memasukkan kemaluannya), maka wajiblah mandi” [HR.Bukhari no.287, Muslim no.348, pada riwayat Muslim ini ada tambahan:

(“Meskipun ia belum mengeluarkan (air mani).”)]

Begitu juga, wajib mandi dikarenakan seseoarang mimpi setubuh, lalu mendapati bekas mani, berdasarkan kepada hadits Ummu Salamah bahwasanya Ummu Sulaim istri Abi Thalhah, bertanya kepada Rasulullah, ia berkata: Sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, apakah mandi diwajibkan atas wanita bila ia bermimpi? Beliau bersabda: “Ya, apabila ia mendapati air (air mani/ basah)” [H.R. Bukhari dan Muslim]

 

2) Adapun mandi besar yang disunnahkan (mandi besar yang dianjurkan) diantaranya:

Mandi hari Jum’at, mandi untuk Shalat Jum’at ini hukumnya sunnah muakkadah (ditekankan), kecuali bagi orang yang punya bau yang tidak enak dan menusuk hidung, maka wajiblah untuk mandi,

Dari Abi said Al Khudri Radhiallahu’anhu ia berkata : telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mandi hari Jum’at adalah wajib atas setiap orang yang telah mimpi (baligh)” [H.R. Bukhari no.820, Muslim no.846, Ahmad no.11595, Abu Dawud no.341, Nasa-i no.1377, Ibnu Majah no.1089]

Dan berdasarkan hadits Samurah bin Jundub Radhiallahu’anhu ia berkata : telah bersabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang wudhu pada hari Jum’at maka itu adalah bagus, dan barangsiapa mandi, maka mandi itu adalah yang lebih afdhal’ [HR. Tirmizi no.497]

 

Tata Cara Mandi Besar

Adapun tata-tata cara mandi, maka ada dua macam :

– Tata cara yang mencukupi dan diterima (sah) ialah mencuci kepala dan seluruh badannya.

– Adapun tata cara yang sempurna adalah sesuai yang tercantum dalam hadits ‘Aisyah di Bukhari dan Muslim ia berkata :

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Biasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika mandi karena jinabat akan mulai dengan membersihkan kedua tangannya kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudlu lalu mengambil air kemudian memasukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut lalu menyiram kepalanya tiga genggam air kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dan mencuci kedua kakinya”. (HR. Muslim no.316)

 

Dari hadits Maimunah: Kemudian beliau menyiram kemaluannya dan membasuhnya dengan tangan kiri lalu menggosok tangannya pada tanah. (HR.Bukhari dan Muslim, lihat Bulughul Maram Kitab Thaharah Bab Mandi dan Junub no.129)

 

Adapun tata cara mandi yang sah dan diterima (minimal) tidak didahului wudhu. Kedua cara itu sah.

Tidaklah wajib bagi wanita untuk menguraikan kepang rambutnya saat mandi

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya wahai Rasulullah sungguh aku ini wanita yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku harus membukanya untuk mandi jinabat? Dalam riwayat lain disebutkan: Dan mandi dari haid? Nabi menjawab: “Tidak tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali.” (HR. Muslim, lihat Bulughul Maram Kitab Thaharah Bab Mandi dan Junub no.131)

 

TAYAMUM

Hukum dan Kedudukan Tayamum

Adapun yang berkaitan dengan bersuci tayamum, maka tayamum itu adalah pengganti air. Dalilnya adalah firman Allah Tabaroka wata’ala: “Maka jika kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan debu yang suci.” (Al Maidah : 6).

 

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Telah dijadikan bagiku bumi sebagai masjid dan alat untuk bersuci, maka siapapun dari umatku menemui waktu shalat hendaklah ia segera shalat.”  [HR.Bukhari no.328, Muslim no.521]

 

Maka bertayamaum dibolehkan dalam dua kondisi : saat tidak mendapati air dan saat tidak mampu untuk memakai air disebabkan sakit atau semisalnya. Bertayamum dilakukan untuk kedua macam hadats, hadats kecil seperti kencing, berak atau buang angin, dan hadats besar seperti bersetubuh atau keluar mani.

 

Dan dibolehkan bertayamum dengan setiap apa menjadi pemukaan bumi, seperti tanah, pasir dan selainnya, sampai-sampai kalau seandainya bumi itu terdiri dari batu yang tidak ada dipermukaannya sedikit tanah dan tidak juga pasir, maka ia boleh bertayamum dengannya.

 

Dari hadits Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu disebutkan:

“Dan debunya dijadikan bagi kami sebagai alat bersuci.” (HR. Muslim no.522)

 

Ia boleh melakukan Shalat dengan bersuci pakai tayamum berapapun yang ia inginkan, baik Shalat fardhu atau sunat, karena hukumnya adalah hukum air.

 

Yang Membatalkan Tayamum

Tayamum batal dengan perkara-perkara yang membatalkan wudhu, dan ditambah dari itu adalah kalau ada air. Jika ada air, maka wajiblah baginya untuk berwudhu, walaupun tayamumnya tidak batal disebabkan oleh hal-hal yang membatalkan wudhu.

 

Berdasarkan hadits Abi Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “As sha’iid adalah wudhunya muslim, walaupun ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun, jika air ada, maka bertakwalah (takutlah) kepada Allah, dan basahilah air itu ke kulitnya.” [H.R Bazzar dan hadits ini mempunyai syahid dari hadits Abi Dzar semisalnya, lihat Bulughul Maram Kitab Thaharah Bab Tayamum no.139]

 

Maka dengan hadits Abi Dzar ini maka hadits Abu Harairah menjadi shaih, hanya saja Shalat-Shalat yang sudah dilakukan dengan tayamum tidak diulang lagi.

 

Tata Cara Tayamum

Cara melaksanakan tayamum adalah:

– Orang yang ingin bertayamum berniat berdasarkan hadits “Hanya saja amal-amal itu tergantung kepada niatnya”

– Membaca bismillah

– Memukulkan tangannya ke tanah (permukaan bumi) satu kali pukulan

– Menyapukan tangan kirinya ke telapak tangan kanan serta menyapu kedua punggung telapak tangannya

– Menyapu mukanya

 

Dari Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu ‘anhu menceritakan:

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan lalu aku junub dan tidak mendapatkan air maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “sesungguhnya engkau cukup dengan kedua belah tanganmu begini.” Lalu beliau menepuk tanah sekali kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya punggung kedua telapak tangan dan wajahnya. (HR. Muslim no.368)

 

MENGUSAP KHUF  

Hukum dan Syarat Menyapu Khuf(adalah alas kaki yang menutupi mata kaki)

Adapun yang berhubungan dengan menyapu atas kedua khuff sesungguhnya menyapunya itu pengganti dari mencuci atau membasuh kedua kaki, apabila kaki tertutup oleh khuff atau kaus kaki/sepatu, meskipun khuff atau kaus kaki/sepatu itu sedikit robek atau bolong, selama ia dinamakan khuff atau kaus kaki dan bisa dipakai untuk berjalan.

 

Adapun kalau bolongnya atau robeknya besar sekali, dimana kakinya lebih kelihatan maka tidaklah boleh untuk menyapunya, karena keberadaannya dan kondisi ini seakan-akan tidak diakui keberadaan khuff atau kaus kaki.

 

Syaratkan untuk menyapu khuff adalah hendaklah memakai kedua khuff itu setelah bersuci (wudhu sempurna),

Dari ‘Urwah bin Al Mughirah dari bapaknya (Al Mughirah bin syu’bah) Radhiallahu’anhu berkata : Bahwa aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar lantas aku membungkukkan badan untuk membuka kedua khuff beliau, lalu beliau bersabda: “Biarkanlah kedua khuff itu, sesungguhnya saya memasukkan dua kaki saya dalam keadaan suci, lantas beliau menyapu atas keduanya.” (HR. Bukhari no.203, Muslim no.274)

 

Menyapu itu dilakukan hanya pada bagian atas khuff saja, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkata : “Kalaulah agama ini berdasarkan logika niscaya alas/telapak khuff lebih utama untuk disapu daripada atasnya (punggungnya), dan sungguh saya telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyapu atas punggung kedua khuffnya (sepatunya)” [HR Abu Daud no.162]

Bagi orang yang mukim (tidak safar) tidak dibolehkan untuk menyapunya lebih dari satu hari satu malam (24 jam), berdasarkan hadits Ali Radhiallahu’anhu ia berkata:

“Rasulullah menentukan tiga hari tiga malam untuk orang musafir dan satu hari satu malam untuk yang mukim”. [H.R. Muslim no.276]

 

Permulaan manyapu dihitung dari sapuan yang pertama, contoh kalau seandainya seseorang memakai kedua khuffnya untuk Shalat fajar, dan dia tidak menyapu atas khuff tadi kecuali saat ingin mengerjakan Shalat zhuhur maka waktu atau masa berlaku untuk menyapu akan habis besoknya saat ingin mengerjakan Shalat zhuhur. Maka ia telah menyapu pada lima waktu, zhuhur, ashar, maghrib, isya dan fajar.

 

Kemudian dengan menyapu ini, dibolehkan baginya untuk mengerjakan apa yang dikehendakinya dari mengerjakan Shalat sunat sampai waktu zhuhur berikutnya, dimana pada waktu seperti itu kemarennya ia menyapu sepatu untuk pertama kali, barulah ia melakukan wudhu lagi dan membasuh kakinya.

 

Apa bila ia datang dari berjalan ke negerinya, jikalau masih tersisa waktu dari masa satu hari satu malam, maka ia melanjutkan waktu yang msih tersisa itu di negerinya, tapi jika waktu satu hari satu malam itu sudah berlalu dalam memakai khuff, maka wajiblah baginya untuk mencopot (membuka) dan membasuh kakinya hanya disebabkan sampainya (ke rumah), karena safar telah habis dan hukum- hukumnya pun sudah hilang, sebagiamana kalau seandainya ia menyapu khuffnya dalam keadaan mukim (tidak bersafar) kemudian ia safar, maka ia akan melanjutkan hukum menyapu itu hukum musafir.

 

Hadits-hadits yang kami tuliskan nomor haditsnya insya Allah sudah kami rujuk kepada kitab haditsnya sekemampuan kami Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s