KISAH NYATA: “TELEPON PEMBUNUH”

“Korban-korban Lelaki Hidung Belang” bab Telepon hal. 104-106

telepon pembunuh

Pada tahun pertama SMA pandangannya tertuju kepada sebuah nama yang tertulis di buku teman sebangkunya. Dia bertanya tentangnya, lalu dijawab, “Ini adalah nama kekasihku”.

Gadis, “Bagaimana kamu mengenalnya?”

Teman, “Dari telepon.”

Gadis, “Bagaimana caranya?”

Teman, “Ah kuno, tidur melulu. Kita coba nomor asal-asalan. Jika yang menerima adalah seorang pemuda maka kita ngobrol, menjalin hubungan dengannya. Kalau dia jelek, ya ditinggal saja. Cari yang lain, yang tampan dan memiliki kata-kata manis.”

Gadis, “Apa hubunganmu hanya sebatas telepon?”

Teman, “Jangan meragukanku. Tentu saja hanya telepon. Cuma sekedar ngobrol menghabiskan waktu.”

Setiba di rumah, gadis itu mencoba keberuntungannya. Di sisi lain seorang serigala telah menantinya. Serigala ini berhasi menyeretnya jatuh cinta kepadanya. Akan tetapi gadis ini belum merasa cukup. Dia mencoba lagi untuk yang kedua, ketiga, keempat kalinya dan seterusnya sampai dia berhasil menyaingi temannya. Ia punya banyak pemuda yang mengaguminya dan punya banyak nomor telepon. Kebiasaan buruk ini mengalir di dalam darahnya. Dia selalu berada di kamar yang pintunya terkunci rapat. Berjam-jam dia berbicara lewat telepon. Selesai dari si Anu, pindah ke si Fulan hingga tidurnya menjelang fajar.

 

Seorang pemuda dating kepada keluarganya untuk melamarnya. Seorang laki-laki yang tidak kurang sesuatu apapun. Dia mengaguminya dan juga keluarganya. Keluarga menerima lamarannya sebagaimana dia juga mengiyakan.

 

Akan tetapi wanita ini tidak membuang kebiasaan buruknya. Bulan madu belum selesai, tapi dia telah kembali mengulang kebiasaan lamanya,

 

Saudara suaminya, iparnya, memperhatikan kebiasaan ini. Dia bertambah yakin manakala di ujung sana pesawat telepon diangkat. Ipar ini merekam pembicaraannya dengan teman-teman laki-lakinya selama sebulan. Setelah itu ipar ini menemuinya dan mengancamnya dengan kaset tersebut. Dia memohon. Ipar ini bersedia memberikannya dengan syarat dia harus memberinya kenikmatan. Dia setuju, maka perbuatan nista pun terjadi. Akan tetapi ipar ini tidak memberikan kaset itu. Dia berhasil menguasainya berkali-kali dengan senjata kaset itu. Kemudian ipar ini mengancam akan membongkar rahasia, kecuali jika dia bersedia melayani temannya kali ini.

 

Dibawah ancaman, diapun menyetujuinya. Dia disetorkan kepada temannya. Suaminya pulang dan tidak mendapati isterinya di rumah. Ashar, maghrib dan isya sudah berlalu. Bahkan fajar hari berikutnyapun sang isteri belum pulang juga.

 

Iparnya khawatir lalu dia mengontak temannya untuk menanyakan keadaannya. Temannya mengatakan kalau dia belum puas menidurinya, padahal perbuatan nista telah dilakukan berkali-kali. Ipar ini memberitahukan jika dia tidak memulangkannya sekarang, niscaya aib ini akan terbongkar. Di sinilah setan memainkan peranannya. Keduanya bersepakat untuk menutupi jejak dengan jalan menghabisi dan menguburnya.

 

Akan tetapi perkara ini akhirnya terbongkar juga. Si ipar dan temannya ditangkap, hanya saja setelah “Kapak membelah kepala”. Nama baik keluarga isteri dan nama baik keluarga suami telah tercoreng, kecuali hanya menunduk di hadapan masyarakat.

 

Ini kisah nyata bukan khayalan. Penyebabnya adalah pendidikan yang salah terhadap anak gadis. Orang tua memberikan kebebasan sepenuhnya tanpa pengawasan, tanpa penanaman nilai-nilai, tanpa penanaman rasa takut kepada Allah dan rasa malu. Kisah ini juga merupakan pelajaran bagi orang yang hanya memilih ketampanan/kecantikan saja, melebihi agama dan akhlak mulia. Bel peringatan membangunkan para orang tua dari pertemanan yang buruk bagi anak-anak mereka.

 

Adakah kita mengambil pelajaran dan berhati-hati.

(Qishah Minal Waqi, halaman 30-32)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s