SYARAT-SYARAT SAH DAN RUKUN-RUKUN SHALAT

 

sholat-5-waktu-5-638

DEFINISI

Syarat ialah suatu yang harus dipenuhi sebelum mengerjakan sesuatu pekerjaan. Kalau syarat-syaratnya kurang sempurna maka pekerjaan itu tidak sah. Contoh: berwudhu sebelum sholat.

 

Rukun ialah sesuatu yang harus dikerjakan dalam melakukan suatu pekerjaan. Jadi, rukun berarti sebagai bagian yang pokok. Contohnya membaca Al-Fatihah dalam mendirikan sholat merupakan salah satu rukun (bagian yang pokok). Lebih jelasnya sholat tanpa membaca Al-Fatihah berarti tidak sah.

Sah ialah telah cukup syarat dan rukunnya serta sudah benar.

 

Batal ialah tidak cukup syarat dan rukunnya (tidak benar). Jadi suatu pekerjaan atau perkara yang tidak memenuhi syarat dan rukunnya berarti perkara itu tidak sah atau batal.

 

SYARAT SHALAT

Di dalam kitab Safinatun Najah disebutkan:

Syuruuthush-Sholaati Tsamaaniyyatun : Ath-Thohaarotu ‘Anil Hadatsaini Al-Ashghori Wal Akbari , Wath-Thohaarotu ‘Aninnajaasati Fits-tsaubi Walbadani Wal Makaani , Wasatrul ‘Auroti , Wastiqbaalul Qiblati , Wadukhuulul Waqti , Wal’ilmu Bifardhiyyatihaa , Wa An Laa Ya’taqida Fardhon Min Furuudhihaa Sunnatan , wajtinaabul Mubathilaati.   Al-Ahdatsu Itsnani : Ashghoru Wa Akbaru , Al-Ashghoru Maa  Awjabal Wudhuua Wal Akbaru Maa Awjabal Ghosla. Al-’Aurootu Arba’un: ‘Auroturrojuli Muthlaqon Wal Amati Fishsholaati Maa Bainassurroti Warrukbati , Wa ‘Aurotul Hurroti Fishsholaati Jamii’u BadanihaaMaa Siwal wajhi Wal Kaffaini Wa ‘Aurotul Hurroti Wal Amati ‘Indal Ajaanibi Jamii’ul Badani Wa ‘Inda Mahaarimihaa Wannisaai Maa Bainassurroti Warrukbati.

 

“Syarat-syarat sholat yaitu 8 : Suci dari 2 hadas yakni hadas kecil dan hadas besar ,dan suci dari segala najis pada pakaian dan badan dan tempat , dan menutup aurat ,dan menghadap kiblat ,dan masuk waktu ,dan mengetahui dengan fardhu-fardhunya ,dan bahwa jangan ia beri’tiqod akan yg fardhu daripada fardhu-fardhu sholat itu sunah, dan meninggalkan segala yg membatalkan sholat “.

 

  • Suci dari kedua hadats

Yaitu hadats kecil seperti kecing dan berak, dan hadats besar seperti keluar seperma (mani) akibat bersetubuh suami-istri atau dengan sebab yang lainnya, seperti bermimpi, dll., yang diharuskan mandi junub.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Allah tidak menerima Shalat (yang dikerjakan) tanpa bersuci (sebelumnya)” (HR. Muslim no.1, 204, Tirmidzi no.1)

 

  • Suci dari najis dalam pakaian, badan dan tempat seseorang yang melaksanakan shalat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila seseorang diantara kalian datang ke masjid, maka perhatikanlah (bagian bawah kedua sandalnya – ed), jika ia melihat kotoran atau najis pada kedua sandalnya, maka gosokkanlah (ke bumi/tanah), kemudian shalatlah dengan keduanya”. (HR. Abu Dawud no.650)

 

  • Menutup aurat.

Batasan menutup aurat dengan sekiranya kulit seseorang tidak dapat dilihat oleh mata orang lain. Ada perbedaan batasan aurat dalam shalat bagi laki-laki dan perempuan. Batasan aurat bagi laki-laki yang wajib ditutup adalah anggauta badan di antara pusar sampai dengan lutut. Sedangkan aurat bagi perempuan yang wajib ditutup adalah sekujur tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Allah tidak (akan) menerima Shalat wanita yang sudah (pernah) haidh, kecuali mengenakan kerudung (menutup aurat)” (HR.Abu Dawud no.641)

 

  • Menghadap Kiblat

Kewajiban menghadap Kiblat pada saat seseorang melaksanakan shalat berdasarkan ayat al-Quran yang memerintahkan menghadap Kiblat. Sebagaimana Allah berfirman;

“Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya…” (QS. Al Baqarah: 150)

 

  • Masuk waktu

Mengetahui masuknya waktu secara yakin benar-benar mengetahui secara persis, atau dengan praduga (dzan) melalui ijtihad yang sungguh-sungguh.

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An Nisaa’ : 103)

 

  • Mengetahui kefardhuan shalat

Artinya bahwa shalat lima waktu itu diketahui dan diyakini sebagai shalat yang wajib dilaksanakan bagi seluruh umat Islam.

 

  • Tidak meyakini shalat fardhu sebagai pekerjaan yang disunahkan.

 

  • Menjauhi segala sesuatu yang membatalkan shalat.

 

Niat, dalam kitabnya “Al Wajiz”, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi memasukkan niat sebagai syarat sahnya shalat, beliam mengatakan: “Orang yang hendak Shalat hendaklah menentukan niat Shalat yang hendak dilaksanakannya dalam hatinya, misalnya niat Shalat fardhu zhuhur, ashar, atau niat Shalat sunnah rawatib misalnya, dan tidak disyariatkan melafazkan niat, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah melafazkan niat, beliau hanya mengucapkan “ALLOHU AKBAR” tidak mengucapkan sesuatupun sebelumnya

 

RUKUN SOLAT

Di dalam kitab Safinatun Najah disebutkan:

Arkaanushsholaati Sab’ata ‘Asyaro : Al-Awwalu Anniyyatu ,Ats-Tsaani Takbiirotul Ihroomi , Ats-Tsaalitsu Al-Qiyaamu ‘Alal Qoodiri , Ar-Roobi’u Qirooatul Faatihati , Al-Khoomisu Ar-Rukuu’u , As-SaadisuAththuma’niinatu Fiihi , As-Saabi’u Al-’Itidaalu , Ats-Tsaaminu Aththuma’niinatu Fiihi , At-Taasi’u Assujuudu Marrotaini , Al-’Aasyiru Aththuma’niinatu Fiihi , Al-Haadi ‘Asyaro Aljuluusu Bainassajadataini , Ats-Tsaani ‘Asyaro Aththuma’niinatu Fiihi Ats-Tsaalitsu ‘Asyaro Attasyahhudul Akhiiru , Ar-Roobi’u ‘Asyaro Alqu’uudu Fiihi ,Al-Khoomisu ‘Asyaro Ashsholaatu ‘Alannabiyyi Shollallaahu ‘Alaihi Wasallama Fiihi , As-Saadisu ‘Asyaro Assalaamu , As-Saabi’u ‘Asyaro Attartiibu

 

“Rukun-rukun Sholat yaitu 17 : Yang pertama niat, yg kedua takbirotul ihrom, yg ketiga berdiri atas orang yg mampu, yg keempat membaca Fatihah, yg kelima ruku’ , yg keenam tuma’ninah di dalam ruku’, yg ketujuh i’tidal , yg kedelapan tuma’ninah di dalam i’tidal, yg kesembilan sujud 2 kali, yg kesepuluh tuma’ninah di dalam sujud , yg kesebelas duduk antara 2 sujud ,yg kedua belas tuma’ninah di dalam duduk antara 2 sujud , yg ketiga belas tasyahhud akhir , yg keempat belas duduk di dalam tasyahhud akhir , yg kelima belas sholawat atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yg keenam belas salam , yg ketujuh belas tertib”

 

  • niat.

Tempat niat adalah di hati. Dan niat dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan pertama dalam shalat, yaitu takbirat al-ihram. Sedangkan melafadzkan niat dengan lisan adalah disunahkan demi membantu kehadiran niat di dalam hati. Tapi melafadzkan dengan lisan tidak wajib dilakukan.

 

  • takbirat al-ihram.

Dinamakan takbirat al-ihram, sebab dengan memulai takbir maka secara otomatis segenap sesuatu yang halal sebelum shalat, seperti makan dan berkata-kata, telah diharamkan setelah memasuki takbir shalat tersebut. Al-ihram adalah pengharaman sesuatu yang halal disebabkan sedang mengerjakan shalat.

 

  • berdiri bagi orang yang mampu mengerjakan shalat fardhu dengan berdiri.

Dalil yang dijadikan sebagai dasar pijakan hukum bahwa berdiri adalah salah satu syarat shalat adalah sebuah perkataan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada ‘Imran bin Husyen pada saat ‘Imran terserang penyakit ambeyen; “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah. Jika tidak mampu duduk, maka tidur lah”. Hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasai ada tambahan redaksi bahwa, “jika tidak mampu, maka terlentanglah. Sebab Allah tidak membebani makhluknya, justru Allah memberikan leleluasaan dan kelapangan bagi hambanya untuk beribadah sesuai dengan kadar kemampuannya”. Jelas bahwa dalam Islam, sungguh sangat lentur dan kompromistis dalam menetapkan rumusan hukum dan kondisional.

 

 

 

  • membaca al-Fatihah.

Cara membaca al-fatihah boleh dengan hafalan, melihat langsung Mushaf, atau dengan cara mengikuti bacaan sang guru yang melatih atau mengajarinya. Membaca al-fatihah diwajibkan bagi setiap orang yang mekalsanakan shalat, baik shalat berjamaah atau sendirian (munfaridl), baik sebagai imam atau makmum. Meskipun ada pula yang berpendapat bahwa tidak wajib bagi makmum untuk membaca al Faatihah pada shalat jahr ketika rakaat imam membaca keras

 

Terdapat banyak hadits Nabi yang menegaskan akan kewajiban membaca al-fatihah dalam shalat. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang menyatakan bahwa Nabi berkata “Tidak ada shalat (baca tidak sah) bagi seseorang yang tidak membaca al-fatihah”.

 

  • ruku’.

Tata cara ruku’ yaitu pertama, meletakkan kedua tepalak tangannya pada kedua lutut. Kedua, kedua telapak tangan menekan kedua lutut. Ketiga, merenggangkan jari-jemarinya. Keempat, merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya. Kelima, membentangkan dan meluruskan punggung sampai selurus papan tulis atau dapat diibaratkan jika punggung itu dituangkan air dari atasnya maka tidak akan tumpah. Keenam, membungkukkan punggung tidak terlalu kebawah dan tidak pula mendongkak terlalu ke atas. Tapi di tengah-tengah di antara keduanya.

 

  • tuma’ninah (diam dan bersahaja) dalam ruku’.

Pada saat tuma’ninah, seseorang disunahkan membaca subhana rabbiya al-‘adhim wa bihamdihi (maha suci Tuhanku yang maha agung) minimal satu kali bacaan, dan lebih baiknya dibaca sebanyak tiga kali bacaan.

 

  • i’tidal.

Yang dimaksud i’tidal adalah kembali berdiri dari ruku’. Disunahkan pada waktu i’tidah tepat pada saat mengangkat pundak untuk berdiri dari ruku’ membaca doa “sami’alLahu li-man hamidah” (Allah maha mendengar hamba yang telah memujiNya).

 

  • tuma’ninah dalam i’tidal,

yaitu diam dan bersahaja berdiri sambil disunahkan membaca doa “Rabbana laka al-hamdu mil’us-samawati wa mil’ul-ardhi wa mil’u ma sy’tha min syai’in ba’dhu” (Tuham kami, hanya bagiMu segala puji yang memenuhi langit, bumi, dan segala sesuatu yang telah Engkau inginkan). Ada yang berpendapat membaca sami’allahu li-man hamidah adalah wajib bagi imam, tapi langsung membaca “Rabbana laka al-hamdu…”

 

  • sujud sebanyak dua kali.

Disunahkan pada waktu sujud dengan membaca doa “Subhana rabbiyal-a’la wa bi-hamdihi” (Maha suci Tuhanku yang maha tinggi, dan dengan menujimu).

 

  • tuma’ninah (diam dan bersahajah) dalam sujud.

 

  • duduk di antara dua sujud.

Pada saat duduk di antara dua sujud disunahkan membaca doa

 

  • tuma’ninah dalam duduk di antara dua sujud.

 

  • tasyahhud al-akhir.

 

  • duduk dalam tasyahhud.

 

  • membaca shalawat pada Nabi dalam tasyahud.

 

  • membaca salam.

Ada dua cara, yaitu salam pertama dengan memalingkan wajah ke samping kanan dan salam kedua dengan memalingkan wajah ke samping kiri. Salam pertama hukumnya wajib, karena termasuk syarat shalat. Sedangkan salam kedua hukumnya sunnah. Salam paling minimal diucapkan; “Assalamu’alaikum”, dan maksimalnya diucapkan; “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”.

 

  • tartib.

Artinya menjalankan shalat harus secara tartib (berurutan) mengerjakan satu syarat ke syarat yang lain. Kewajiban mengerjakan shalat secara tartib sebab dalam hadits disebutkan “Shalluu kama ra’aytumuny ushally” (shalatlah kalian seperti kalian melihat langsung saya shalat). Jadi segenap pekerjaan shalat harus sesuai dengan shalat Nabi. Sedangkan shalat yang dikerjakan Nabi dilaksanakan secara tartib. Maka setiap orang yang mengerjakan shalat pun harus tartib sebagaimana Nabi mengerjakan shalat.

 

Sumber :

– “Al Wajiz”, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

– “Safinatun Najah”, Syekh Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al hadhrami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s