TATA CARA SHALAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM (Menghadap Kiblat – Niat)

Menghadap Kiblat (Ka’bah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila berdiri untuk shalat fardhu atau shalat sunnah, beliau menghadap Ka’bah. Beliau memerintahkan berbuat demikian sebagaimana sabdanya kepada orang yang shalatnya salah:

إِذَا قُمْتُ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ

“Bila engkau berdiri untuk shalat, sempurnakanlah wudhu’mu, kemudian menghadaplah ke kiblat” (HR. Bukhari no.6290, Muslim no.397 dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu)

Tentang hal ini telah turun pula firman Allah dalam Surah Al Baqarah : 115: “Kemana saja kamu menghadapkan muka, disana ada wajah Allah.”

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat menghadap Baitul Maqdis, hal ini terjadi sebelum turunnya firman Allah: “Kami telah melihat kamu menengadahkan kepalamu ke langit. Kami palingkan kamu ke kiblat yang kamu inginkan. Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu ke sebagian arah Masjidil Haram.” (QS. Al Baqarah : 144). Setelah ayat ini turun beliau shalat menghadap Ka’bah.

 

Berdiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fardhu atau sunnah berdiri karena memenuhi perintah Allah dalam QS. Al Baqarah : 238.

Apabila bepergian, beliau melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya. Beliau mengajarkan kepada umatnya agar melakukan shalat khauf dengan berjalan kaki atau berkendaraan.

“Peliharalah semua shalat dan shalat wustha dan berdirilah dengan tenang karena Allah. Jika kamu dalam ketakutan, shalatlah dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Jika kamu dalam keadaa aman, ingatlah kepada Allah dengan cara yang telah diajarkan kepada kamu yang mana sebelumnya kamu tidak mengetahui (cara tersebut).” (QS. Al Baqarah : 238).

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah dengan berdiri, kemudian jika kamu tidak mampu, maka (Shalatlah) dengan duduk, kemudian jika kamu tidak mampu (lagi), maka (Shalatlah) dengan berbaring” (HR. Bukhari no.1066, Tirmidzi no.372, Abu Dawud no.952)

 

Menghadap Sutrah (Pembatas)

Sutrah (pembatas yang berada di depan orang shalat) dalam shalat menjadi keharusan imam dan orang yang shalat sendirian.

 

Sutrahnya imam adalah sutrahnya makmum, makmum tidak perlu menggunakan sutrah, sehingga apabila ada orang yang melintas di hadapannya maka dibiarkan saja dan tidak perlu dicegah.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةِ وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ. فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

“Janganlah kamu shalat tanpa menghadap sutrah dan janganlah engkau membiarkan seseorang lewat di hadapan kamu (tanpa engkau cegah). Jika dia terus memaksa lewat di depanmu, bunuhlah (pukullah) dia karena sesungguhnya bersamanya ada teman (syaithan)” (HR. Ibnu Khuzaimah no.800 dari hadits Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma dengan sanad yang jayyid (baik), Hakim no.921).

 

Beliau juga bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى سُتْرَةٍ، فَلْيَدْنُ مِنْهَا، لاَ يَقْطَعُ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلاَتَهُ

“Bila seseorang di antara kamu shalat menghadap sutrah, hendaklah dia mendekati sutrahnya sehingga setan tidak dapat memutus shalatnya.” (HR. Nasa-i no.748, Abu Dawud no.695, Hakim no.922)

 

Dan hendaklah sutrah itu diletakkan tidak terlalu jauh dari tempat kita berdiri shalat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِدَارِ ثَلاَثَةِ أَذْرُعٍ

“Bahwa jarak antara beliau (ketika Shalat) dengan sutrah (pembatas) di depannya 3 (tiga) hasta.” (HR. Ahmad no.23946, Bukhari no.484, 1522 dengan lafazh berbeda)

 

عَنْ مُوْسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤَخِّرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ وَلاَ يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ

Dari Musa bin Thalhah dari ayahnya ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang diantara kalian meletakkan di hadapannya (sutrah) seperti (besarnya) kayu penyanggah di belakang penunggang unta*, maka shalatlah, dan jangan peduli terhadap orang yang lewat di belakang (sutrah) itu”. (HR. Muslim no.499, Tirmidzi no.335)

 

Adapun yang dapat dijadikan sutrah antara lain: tiang masjid, tombak yang ditancapkan ke tanah, hewan tunggangan, pelana, tiang setinggi pelana, pohon, tempat tidur, dinding atau apapun yang memiliki tinggi minimal satu hasta atau semisal tinggi pelana, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Sutrah Imam adalah Sutrah Makmum

عَنْ بِنْ عَبَّاسٍ قَالَ: أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ اْلاِحْتِلاَمَ وَرَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيْ بِالنَّاسِ بْمِنَى فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَي الصَّفِّ فَنَزَلْتُ فَأَرْسَلْتُ اْلأَتَانَ تَرْتَعَ وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ

Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: “Saya datang dengan menunggang kuda keledai betina. Pada waktu itu usiaku hampir mendekati ihtilam (masa puber), sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang shalat di Mina bersama para sahabat menghadap ke dinding. Kemudian aku lewat di depan shaf, kemudian aku turun (dari atas keledai) lalu kulepaskan keledai tersebut agar mencari makan. Aku masuk ke dalam shaf namun tak seorangpun yang menegurku (karena perbuatan) itu.” (HR.Bukhari no.471,823, Muslim no.504 ini adalah lafaznya, Abu Dawud no.715)

 

Niat

Niat berarti menyengaja untuk shalat, menghambakan diri kepada Allah Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Semua amal tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapat (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari no.1, Muslim no.1907)

 

Niat tidak dilafadzkan

Dalam kitab Safinah an-Najah disebutkan dalam bab Rukun Solat bahwa Tempat niat adalah di hati. Dan niat dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan pertama dalam shalat, yaitu takbirat al-ihram. Sedangkan melafadzkan niat dengan lisan adalah disunahkan demi membantu kehadiran niat di dalam hati. Tapi melafadzkan dengan lisan tidak wajib dilakukan.

 

Dan tidaklah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan.

 

 

 

Abu Dawud bertanya kepada Imam Ahmad. Dia berkata, “Apakah orang shalat mengatakan sesuatu sebelum dia takbir?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak.” (Masaail al Imam Ahmad hal 31 dan Majmuu’ al Fataawaa XXII/28).

 

AsSuyuthi berkata, “Yang termasuk perbuatan bid’ah adalah was-was (selalu ragu) sewaktu berniat shalat. Hal itu tidak pernah diperbuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun para shahabat beliau. Mereka dulu tidak pernah melafadzkan niat shalat sedikitpun selain hanya lafadz takbir.”

 

Asy Syafi’i berkata, “Was-was dalam niat shalat dan dalam thaharah termasuk kebodohan terhadap syariat atau membingungkan akal.” (Lihat al Amr bi al Itbaa’ wa al Nahy ‘an al Ibtidaa’).

 

 

Sumber:

  • Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnati wal Kitabil ‘Aziz (Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi)
  • Safinah an-Najah (Syaikh Salim bin Samir Hadromi)
  • Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
  • Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasaa-i, Shahih Ibnu Khuzaimah, Al Mustadrak Imam Hakim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s