TATA CARA SHALAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM (takbiratul ihram – bersedekap)

Takbiratul Ihram

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memulai shalatnya (dilakukan hanya sekali ketika hendak memulai suatu shalat) dengan takbiratul ihrom yakni mengucapkan Allahu Akbar di awal shalat.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قُمْتُ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَفَكَبِّرُ

“Bila engkau berdiri untuk shalat, sempurnakanlah wudhu’mu, kemudian menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah (takbiratul ihrom)” (HR. Bukhari no.6290, Muslim no.397 dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu)

Takbirotul ihrom tersebut harus diucapkan dengan lisan (bukan diucapkan di dalam hati) dan tidak disyariatkan diucapkan dengan suara keras, kecuali bagi imam.

 

Dalam hadits riwayat Muslim dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membuka shalatnya dengan ucapan Allohu Akbar (Alloh Mahabesar). Beliaupun memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar dalam shalatnya, sebagaimana sabda Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam ”Tidaklah shalat seseorang itu menjadi sempurna sampai ia berwudhu dengan benar, lalu berkata Allohu Akbar”(HR Thabrani)

 

عَنْ عَلِي رضى الله تعالى عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُوْرُ وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمٌ

Dari Ali Radhiallahu ‘Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Kunci shalat adalah suci, tahrimnya* pengharamannya adalah takbir dan tahlilnya**, penghalalannya adalah salam.” (HR. Abu Daud no.61, Tirmidzi no.3,Ibnu Majah no.275, Hakim no.457).

* Yaitu melarang perbuatan-perbuatan yang dilarang Alloh

** Yaitu menghalalankan apa saja yang dilakukan diluar shalat

 

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat suaranya dalam takbir sehingga terdengar oleh orang-orang yang makmum dibelakangnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda ”Apabila imam mengucapkan Allohu Akbar, maka katakanlah Allohu Akbar” (HR Ahmad dan Hakim).

 

Mengangkat Kedua Tangan

Disunnahkan mengangkat kedua tangannya setentang bahu  ketika bertakbir dengan merapatkan jari-jemari tangannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radiyallahu anhuma, ia berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاَةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوْعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya setentang bahu jika hendak memulai shalat, setiap kali bertakbir untuk ruku’ dan setiap kali bangkit dari ruku’nya.” (HR.Bukhari no.702)

 

Atau mengangkat kedua tangannya setentang telinga, berdasarkan hadits riwayat Malik bin Al-Huwairits radhiyyallahu anhu, ia berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengangkat kedua tangannya setentang (kedua) telinga setiap kali bertakbir (didalam shalat).”  (HR. Muslim no.391)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dengan membuka jari-jarinya lurus ke atas (tidak merenggangkannya dan tidak pula menggengamnya)

 

Terkadang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan takbir [HR Bukhari no.702], dan terkadang mengangkatnya sebelum takbir [HR Abu Dawud no.730], dan terkadang (mengangkat tangan) setelah ucapan takbir [HR Bukhari & Nasa’i].

 

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya dengan jari terbuka rapat (tidak renggang dan tidak menggenggam) [HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Tamam & Hakim dan disahkan olehnya serta disetujui oleh Dzahabi]. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkatnya sampai sejajar dengan kedua bahunya dan terkadang sampai kedua telinganya [HR Bukhari & Abu Daud].

 

 

Tangan Bersedekap di Atas Dada

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan lengan kanan pada punggung telapak kirinya, pergelangan dan lengan kirinya  berdasar hadits dari Wail bin Hujur:

ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيَسَرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ

“Kemudian )Beliau) meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan kiri, pergelangan tangan kiri atau lengan kirinya.” (HR. Abu Dawud no727, Nasa’i no.889, Ibnu Khuzaimah no.480, Ibnu Hibban no.2256 dengan lafazh berbeda).

 

Beliau terkadang juga menggenggam pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanannya, berdasarkan hadits Nasa’i dan Daraquthni:

“Tetapi beliau terkadang menggenggamkan jari-jari tangan kanannya pada lengan kirinya.” (sanad shahih).

 

Bersedekap di dada

Dari Wail bin Hujur Radhiallohu ‘Anhu ia berkata :

صَلَيْتُ مَعَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدَهُ الْيَسَرَى عَلَى صَدْرِهِ

“Saya shalat bersama Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam, beliau meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan kiri di atas dada” (HR. Ibnu Khuzaimah no.479).

 

Khusyu’ dan Memandang Tempat Sujud

Pada saat mengerjakan shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke tempat sujud. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:

مَا خَلَفَ بَصَرُهُ مَوْضُعَ سُجُوْدَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengalihkan pandangannya dari tempat sujud (di dalam shalat).” (HR. Baihaqi no.9507, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

 

Larangan menengadah ke langit

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang keras menengadah ke langit (ketika shalat). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah sekelompok orang benar-benar menghentikan pandangan matanya yang terangkat ke langit ketika berdoa dalam shalat atau hendaklah mereka benar-benar menjaga pandangan mata mereka.” (HR. Muslim, Nasa’i dan Ahmad).

 

Rasulullah juga melarang seseorang menoleh ke kanan atau ke kiri ketika shalat, beliau bersabda: “Jika kalian shalat, janganlah menoleh ke kanan atau ke kiri karena Allah akan senantiasa menghadapkan wajah-Nya kepada hamba yang sedang shalat selama ia tidak menoleh ke kanan atau ke kiri.” (HR. Tirmidzi dan Hakim).

 

Juga dimakruhkan shalat dihadapan sesuatu yang bisa merusak konsentrasi atau di tempat yang ada gambar-gambarnya, diatas sajadah yang ada lukisan atau ukiran, dihadapan dinding yang bergambar dan sebagainya.

 

Dalam hadits riwayat Baihaqi dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam shalat menundukkan kepalanya dan pandangannya tertuju ke tanah. Rasulullah melarang mengangkat pandangannya ke langit sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud.

 

Larangan itu dipertegas dengan sabdanya ”Hendaknya orang-orang menghentikan mengarahkan pandangannnya ke langit pada waktu shalat atau tidak dapat kembali lagi kepada mereka (dalam riwayat lain disebutkan : atau mata-mata mereka tercolok)”. (HR Bukhari, Muslim & Siraj).

 

Dalam hadits lain disebutkan ”Apabila kalian melakukan shalat maka hendaknya janganlah menolah-noleh karena Alloh akan menghadapkan wajahNya kepada wajah hambanya ketika shalat selama ia tidak menolah-noleh.” (HR Tirmidzi dan Hakim)

 

Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Ya’la disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang 3 perkara dalam shalat. Yaitu shalat dengan cepat seperti ayam yang mematuk, duduk diatas tumit seperti duduknya anjing*, dan menolah-noleh seperti musang. Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda ”Shalatlah seperti halnya shalat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau melihat Alloh. Jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Thabrani, Ibnu Majah & Ahmad).

* duduk iq’a dengan posisi kedua telapak tangan menempel di lantai

 

Sumber:

  • Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnati wal Kitabil ‘Aziz (Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi)
  • Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
  • Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasaa-i, Shahih Ibnu Khuzaimah, Al Mustadrak Imam Hakim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s