TATA CARA SHALAT NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM (Istiftah/Iftitah – Basmalah)

Membaca Doa Istiftah

Doa istiftah yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermacam-macam. Dalam doa istiftah tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan pujian, sanjungan dan kalimat keagungan untuk Allah.

 

Beliau pernah memerintahkan hal ini kepada orang yang salah melakukan shalatnya dengan sabdanya:”Tidak sempurna shalat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian, mengucapkan kalimat keagungan (doa istiftah), dan membaca ayat-ayat al Quran yang dihafalnya…” (HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi).

Adapun bacaan doa istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya adalah:

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ.

“Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan- kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan air es”. [HR. Al-Bukhari no.711, Muslim no.598]

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ.

Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu, Maha Berkah akan nama-Mu, Maha Tinggi kekayaan dan kebesaranMu, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. [HR. Abu Dawud no.775,776, Nasa-i no.900, Ibnu Majah no.804, Tirmidzi no.242]

 

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ

“Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore” [HR. Muslimno.601]

 

Membaca Ta’awudz

Membaca doa ta’awwudz adalah disunnahkan dalam setiap raka’at, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl : 98).

Dan pendapat ini adalah yang paling shahih dalam madzhab Syafi’i dan diperkuat oleh Ibnu Hazm (Lihat al Majmuu’ III/323 dan Tamaam al Minnah 172-177).

 

Diantara lafazh ta’awwudz adalah:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”

 

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari semburannya (yang menyebabkan gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (HR. Abu Dawud no.775, Tirmidzi no.242, Hakim no.5726 dengan lafaz berbeda).

 

Membaca Al Fatihah

Membaca Al Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun shalat, jadi kalau dalam shalat tidak membaca Al-Fatihah maka tidak sah shalatnya berdasarkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ عُبَادَةِ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Dari Ubaidah bin ash-Shamit Radhiallahu ‘Anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak dianggap shalat (tidak sah shalatnya) bagi yang tidak membaca Al Fatihah” (HR. Bukhari no.723, Muslim no.394, Abu Dawud no.822, Tirmidzi no.247, Nasai no.910, Ibnu Majah no.837)

 

“Barangsiapa yang shalat tanpa membaca Al Fatihah maka shalatnya buntung, shalatnya buntung, shalatnya buntung…tidak sempurna” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).

 

Kapan Kita Wajib Membaca Surat Al-Fatihah

Jelas bagi kita kalau sedang shalat sendirian (munfarid) maka wajib untuk membaca Al Fatihah, begitu pun pada shalat jama’ah ketika imam membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan) yakni pada shalat Dhuhur, ‘Ashr, satu roka’at terakhir shalat Mahgrib dan dua roka’at terakhir shalat ‘Isyak, maka para makmum wajib membaca surat Al-Fatihah tersebut secara sendiri-sendiri secara sirr (tidak dikeraskan).

 

Lantas bagaimana kalau imam membaca secara keras…? sepertishalat maghrib, isya, subuh.Tentang ini Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa pernah Rasulullah melarang makmum membaca surat dibelakang imam kecuali surat Al Fatihah, “Betulkah kalian tadi membaca (surat) dibelakang imam kalian?” Kami menjawab: “Ya, tapi dengan cepat wahai Rasulallah.” Berkata Rasul: “Kalian tidak boleh melakukannya lagi kecuali membaca Al-Fatihah, karena tidak ada shalat bagi yang tidak membacanya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al Bukhori, Abu Dawud, dan Ahmad, dihasankan oleh At Tirmidzi dan Ad Daraquthni)

 

Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum membaca surat apapun ketika imam membacanya dengan jahr (diperdengarkan) baik itu Al Fatihah maupun surat lainnya. Hal ini selaras dengan keterangan dari Al Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal tentang wajibnya makmum diam bila imam membaca dengan jahr/keras. Berdasar arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:”Dijadikan imam itu hanya untuk diikuti. Oleh karena itu apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian, dan apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil memperhatikan bacaan imam itu)” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud no. 603 & 604. Ibnu Majah no. 846, An Nasai. Imam Muslim berkata: Hadits ini menurut pandanganku Shahih).

 

“Barangsiapa shalat mengikuti imam (bermakmum), maka bacaan imam telah menjadi bacaannya juga.” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, Ad Daraquthni, Ibnu Majah, Thahawi dan Ahmad lihat kitab Irwaul Ghalil oleh Syaikh Al- Albani).

 

Hadits-hadits tersebut merupakan dalil yang tegas dan kuat tentang wajib diamnya makmum apabila mendengar bacaan imam, baik Al Fatihahnya maupun surat yang lain. Selain itu juga berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan apabila dibacakan Al Quran hendaklah kamu dengarkan ia dan diamlah sambil memperhatikan (bacaannya), agar kamu diberi rahmat.” (Al-A’raaf : 204).

Ayat ini asalnya berbentuk umum yakni dimana saja kita mendengar bacaan Al Quran, baik di dalam shalat maupun di luar shalat wajib diam mendengarkannya walaupun sebab turunnya berkenaan tentang shalat. Tetapi keumuman ayat ini telah menjadi khusus dan tertentu (wajibnya) hanya untuk shalat, sebagaimana telah diterangkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Adh Dhohak, Qotadah, Ibarahim An Nakhai, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lain. Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/280-281.

 

Akan tetapi, bagi yang berpendapat wajibnya makmum membaca Al Fatihah, hendaknya tidak membacanya bersamaan dengan bacaan imam atau malah mendahului imam. Dalam hal ini para ulama memberikan beberapa beberapa alternatif:

 

  1. Jika ada saktah (jeda antara bacaan ayat) dalam bacaan Al Fatihah imam, maka ketika itu makmum membaca Al Fatihah. Misal, jika antara alhamdulillahirabbil ‘alamin dan ar rahmanirrahim ada saktah, maka ketika itu makmum membaca alhamdulillahirabbil ‘alamin.
  2. Jika ada saktah dalam bacaan ayat Al Qur’an imam (setelah amin), maka ketika itu makmum membaca Al Fatihah. Alternatif pertama dan kedua ini afdhal, karena tetap mengamalkan dalil yang memerintahkan makmum mendengarkan bacaan imam.
  3. Jika dua alternatif di atas tidak memungkinkan maka makmum boleh membaca Al Fatihah ketika imam sedang membaca ayat Al Qur’an (setelah amin).
  4. Jika tiga alternatif di atas tidak memungkinkan juga maka makmum boleh membaca Al Fatihah bersamaan dengan imam.

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata, “jika anda menjadi makmum, maka disyariatkan membacanya secara langsung setelah imam membaca Al Fatihah. Maka bacalah Al Fatihah walaupun ketika itu imam sedang membaca. Dan terkadang itu memang menimbulkan kesulitan karena anda membaca sementara imam juga membaca. Lebih lagi jika imam membacanya dengan menggunakan pengeras suara. Namun kami katakan, lalui saja dan bersabarlah, karena barangsiapa yang bersabar ia akan menang” (Majmu Fatawa War Rasail, 13/128).

 

Lalu bagaimana dengan makmum masbuq, yang mendapati imam sudah rukuk atau sudah akan rukuk? Apakah ia tetap membaca Al Fatihah? Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, “masbuq jika ia masuk ke dalam shalat ketika imam sudah rukuk, atau sebelum rukuk namun tidak memungkinkan lagi untuk membaca Al Fatihah, maka dalam keadaan ini kewajiban membaca Al Fatihah gugur darinya” (Majmu Fatawa War Rasail, 13/128).

 

 

 

Pendapat Hati-Hati

Syaikh Sholeh Al Fauzan memilih pendapat yang hati-hati dalam masalah ini. Dalam Al Mulakhosh Al Fiqhi, beliau mengatakan, “Apakah membaca Al Fatihah itu wajib bagi setiap yang shalat (termasuk makmum ketika imam membaca Al Fatihah secara jahr, pen), ataukah hanya bagi imam dan orang yang shalat sendiri?” Kemudian jawab beliau hafizhohullah, “Masalah ini terdapat perselisihan di antara para ulama. Pendapat yang hati-hati, makmum tetap membaca Al Fatihah pada shalat yang imam tidak menjahrkan bacaannya, begitu pula pada shalat jahriyah ketika imam diam setelah baca Al Fatihah”

 

Cara Membaca Al Fatihah dan Basmalah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Fatihah pada setiap roka’at. Membacanya dengan berhenti pada setiap akhir ayat (waqof), tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya (washol) berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, Sahmi dan ‘Amr Ad Dani, dishahihkan oleh Hakim, disetujui Adz Dzahabi.

Jadi bunyinya:

BISMILLAHIRRRAHMANNIRRAHIMkemudian berhenti,

ALHAMDULILLAHIRABBIL’ALAMINkemudian berhenti,

ARRAHMANIRRAHIMBegitulah seterusnya sampai selesai ayat yang terakhir.

 

Imam Syafi’i mengatakan bahwa basmalah merupakan tujuh ayat dari surat al-Fatiاah. Apabila ditinggalkan atau tidak dibaca sebagian ayatnya, maka raka’atnya tidak cukup. (Al-Umm, juz I, haL 129)

 

Anas pernah ditanya, “Bagaimankah bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia pun menjawab, “Bacaan beliau adalah panjang.” Lalu ia pun membaca: “BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM.” Anas menjelaskan, “Beliau memanjangkan bacaan, ‘BISMILLAH’ dan juga memanjangkan bacaan, ‘ARRAHMAAN’ serta bacaan, ‘ARRAHIIM.'” (HR.Bukhari no.4658)

 

Terkadang beliau membaca: (MAALIKI YAUMIDDIIN) Atau dengan memendekkan bacaan ‘maa’ menjadi: (MALIKI YAUMIDDIIN), Berdasarkan riwayat yang mutawatir dikeluarkan oleh Tamam Ar Razi, Ibnu Abi Dawud, Abu Nu’aim, dan Al Hakim. Hakim menshahihkannya, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.

 

Dibolehkan pula membaca Basmalah dengan suara pelan (bukan tidak membaca Basmalah)

Dalam membaca Al Faatihah ataupun surat setelahnya hendaknya seorang imam membaca “Bismillahir-rahmaanir-rahiim” dengan suara pelan pada setiap shalat.

Dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Aku shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka mereka memulai sholat dengan (membaca) “alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin”. Mereka tidak membaca bismillaahir-rahmaanirrahiim baik pada awal bacaan maupun akhirnya.(HR.Muslim no.399, Bukhari no.710)

 

Dari Anas bin Malik Radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Aku shalat di belakang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka mereka tidak membaca “bismillaahirrahmaanirrahiim” dengan suara keras.(HR.Ahmad no.12868,Ibnu Khuzaimah no.495)

 

Hadits-hadits yang menyebutkan bacaan Basmalah dikeraskan dan tidak ketika shalat jahr tidaklah bertentangan, akan tetapi merupakan pilihan. Karena banyak lagi riwayat tentang masalah ini yang dapat dijadikan sebuah pembelajaran bahwa perbedaan dalam masalah ini adalah pilihan, bukan perpecahan.

 

Syaikh Ibnu Baz juga melanjutkan dengan sebuah nasehat yang indah: “Tidak semestinya masalah ini menjadi bahan perselisihan, semestinya perkara ini dianggap perbedaan yang ringan saja. Yang afdhal adalah lebih memilih sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan tidak men-jahr-kan basmalah. Namun jika dalam sebagian kesempatan di-jahr-kan karena dasar hadits Abu Hurairah, atau dalam rangka pengajaran, yaitu mengajarkan orang-orang bahwa basmalah itu hendaknya dibaca, maka ini semua tidak masalah. Dan sebagian sahabat Nabi radhiallahu’anhum biasa men-jahr-kan basmalah” (Fatawa Nurun ‘ala Ad Darb, http://www.binbaz.org.sa/mat/15120)

 

Sumber:

  • Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnati wal Kitabil ‘Aziz (Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi)
  • Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)
  • Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasaa-i, Shahih Ibnu Khuzaimah, Al Mustadrak Imam Hakim

Berbagai situs tentang membaca al Faatihah dan Basmalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s