HUKUM-HUKUM SEPUTAR PUASA

materi kajian karyawan Toserba Ummat. Kamis, 19 Mei 2016

MOTIVASI MENGERJAKAN PUASA RAMADHAN

  1. Pengampunan Dosa

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه dari Nabi صلی الله عليه وسلم, (bahwasanya) beliau bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”(Hadits Riwayat Bukhari 4/99, Muslim 759)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه juga, -Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah bersabda:

“Shalat yang lima waktu, Jum’at ke Jum’at. Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu tersebut jika menjauhi dosa besar” (HR. Muslim  233)

 

  1. Dikabulkannya Do’a dan Pembebasan Api Neraka

Rasullullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo’a akan dikabulkan do’anya“(HR. Bazzar 3142, Ahmad 2/254)

 

  1. Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada

Dari ‘Amr bin Murrah Al-Juhani رضي الله عنه, ia berkata : Datang seorang pria kepada Nabi صلی الله عليه وسلم kemudian berkata:

“Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, engkau adalah Rasulullah, aku shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku?” Beliau menjawab. “Termasuk dari shidiqin dan syuhada” (HR. Ibnu Hibban [no.9 Zawaa-id] sanadnya Shahih)

 

ANCAMAN BAGI ORANG YANG MEMBATALKAN PUASA RAMADHAN DENGAN SENGAJA

Dari Abu Umamah Al-Bahili رضي الله عنه, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

Ketika aku tidur, datanglah dua orang pria kemudian memegang dua lenganku, membawaku ke satu gunung yang kasar (tidak rata), keduanya berkata, “Naik”. Aku katakan, “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, ‘Kami akan memudahkanmu’. Akupun naik hingga sampai ke puncak gunung, ketika itulah aku mendengar suara yang keras. Akupun bertanya, ‘Suara apakah ini?’. Mereka berkata, ‘Ini adalah teriakan penghuni neraka’. Kemudian keduanya membawaku, ketika itu aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki di atas, mulut mereka rusak/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya, ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka (sebelum tiba waktu berbuka puasa).” (An-Nasa’i dalam Kitab Al-Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 4/166 dan Ibnu Hibban (no.1800-Zawaidnya) dan Al-Hakim 1/430)

 

MENENTUKAN AWAL BULAN RAMADHAN/SYAWAL

Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

Berpuasalah kalian karena melihat hilal, berbukalah (Idul Fitri) kalian karena melihatnya, berhajilah kalian karena melihat hilal, jika kalian tertutup awan, maka sempurnakanlah (bilangan bulan Sya’ban menjadi) tiga puluh hari, jika ada dua saksi berpuasalah kalian dan berbukalah” (HR. An-Nasa’i 4/133, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni 2/167)

 

Tidak diragukan lagi, bahwa diterimanya persaksian dua orang dalam satu kejadian tidak menunjukkan persaksian seorang diri itu ditolak, oleh karena itu persaksian seorang saksi dalam melihat hilal tetap teranggap (sebagai landasan untuk memulai puasa), dalam suatu riwayat yang shahih dari Ibnu Umar رضى الله عنهما, ia berkata : “Manusia mencari-cari hilal, maka aku khabarkan kepada Nabi صلی الله عليه وسلم bahwa aku melihatnya, maka Rasulullah صلی الله عليه وسلم-pun menyuruh manusia berpuasa.2 (HR. Abu Dawud 2342, Ad-Darimi 2/4, Ibnu Hibban 871, Al-Hakim 1/423, Al-Baihaqi 4/212)

 

NIAT

Wajibnya Niat Puasa Sebelum Terbit Fajar

Jika telah jelas masuknya bulan Ramadhan dengan penglihatan mata atau persaksian atau dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari, maka wajib atas setiap muslim yang mukallaf untuk niat puasa di malam harinya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم.

Barangsiapa yang tidak niat untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya” (HR. Abu Dawud 2454, Ibnu Majah 1933, Al-Baihaqi 4/202)

Dan sabda beliau صلی الله عليه وسلم.

Barangsiapa tidak niat untuk melakukan puasa pada malam harinya, maka tidak ada puasa baginya” (HR. An-Nasa’i 4/196, Al-Baihaqi 4/202, Ibnu Hazm 6/162)

 

Dalam kitab Safinatun Najah disebutkan Definisi niat menurut kebahasaan adalah menyengaja (qashdu), dan menurut istilah niat adalah menyengaja sesuatu bersamaan dengan mengejakannya. Sebab, jika pekerjaannya diakhirkan maka dinamakan ‘azam (cita-cita), jadi bukan niat lagi. Tempatnya niat adalah di hati. Berarti jika niat dalam konteks wudlu, maka niat dihadirkan dalam hati ketika mengerjakan pekerjaan.

 

SAHUR

  1. Hikmahnya

Dari Amr bin ‘Ash رضي الله عنه, Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur” (HR. Muslim 1096)

 

  1. Keutamaannya
  2. Makan Sahur Adalah Barokah.

Dari Abdullah bin Al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah صلی الله عليه وسلم : Aku masuk menemui Nabi صلی الله عليه وسلم ketika itu beliau sedang makan sahur, beliau bersabda: “Sesungguhnya makan sahur adalah barakah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan’”  (HR. Nasa’i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya SHAHIH)

 

  1. Allah dan Malaikat-Nya Bershalawat Kepada Orang-Orang yang Sahur

Dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

Sahur itu makanan yang barakah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk setengah air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur” (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/8, Ahmad 3/12, 3/44)

 

ORANG YANG PUASA WAJIB MENJAUHI PERKATAAN DUSTA DAN PERBUATAN SIA-SIA DAN KOTOR

Dari Abu Hurairah, صلی الله عليه وسلم bersabda:

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tetap) mengamalkannya, maka Allah Azza wa Jalla tidaklah butuh (atas perbuatannya meskipun) meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhari 4/99)

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda.

Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa ” (HR. Ibnu Khuzaimah 1996, Al-Hakim 1/430-431, sanadnya SHAHIH)

 

YANG BOLEH DILAKUKAN OLEH ORANG YANG PUASA

  1. Memasuki Waktu Subuh Dalam Keadaan Junub

Di antara perbuatan صلی الله عليه وسلم adalah masuk fajar dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, beliau mandi setelah fajar kemudian shalat.

Dari Aisyah dan Ummu Salamah رضى الله عنهما, keduanya berkata:

“Sesungguhnya Nabi صلی الله عليه وسلم memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, kemudian ia mandi dan berpuasa” (HR. Bukhari 4/123, Muslim 1109)

 

  1. Bersiwak

Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudlu” (HR. Bukhari 2/311, Muslim 252 semisalnya).

 

Rasulullah صلی الله عليه وسلم tidak mengkhususkan bersiwak untuk orang yang puasa ataupun yang lainnya, hal ini sebagai dalil bahwa bersiwak itu diperuntukkan bagi orang yang puasa dan selainnya ketika wudlu dan shalat. (Inilah pendapat Bukhari رحمه الله, demikian pula Ibnu Khuzaimah dan selain keduanya. Lihat Fathul Bari 4/158, Shahih Ibnu Khuzaimah 3/247, Syarhus Sunnah 6/298)

 

Demikian pula hal ini umum di seluruh waktu sebelum zawal (tergelincir matahari) atau setelahnya. Wallahu ‘alam.

 

  1. Berkumur Dan Istinsyaq

Karena beliau صلی الله عليه وسلم berkumur dan beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam keadan puasa, tetapi melarang orang yang berpuasa berlebihan ketika beristinsyaq.

 

Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

“Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa” (HR. Tirmidzi 3/146, Abu Daud 2/308, Ahmad 4/32, Ibnu Abi Syaibah 3/101, Ibnu Majah 407, An-Nasaai no. 87 dari Laqith bin Shabrah, sanadnya SHAHIH.)

  1. Bercengkrama dan Mencium Isteri

Aisyah رضي الله عنها pernah berkata:

“Adalah Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah mencium dalam keadaan berpuasa dan bercengkrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri” (HR. Bukhari 4/131, Muslim 1106)

 

“Kami pernah berada di sisi Nabi صلی الله عليه وسلم, datanglah seorang pemuda seraya berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ?” Beliau menjawab, “Tidak“. Datang pula seorang yang sudah tua dan dia berkata: “Ya Rasulullah, bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ?”. Beliau menjawab: “Ya” sebagian kami memandang kepada teman-temannya, maka Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

Sesungguhnya orang tua itu (lebih bisa) mengendalikan nafsunya“. (HR. Ahmad 2/185,221 dari jalan Ibnu Lahi’ah dari yazid bin Abu Hubaib dari Qaushar At-Tufibi darinya. Sanadnya dhaif karena dhaifnya Ibnu Lahi’ah, tetapi punya syahid (pendukung) dalam riwayat Thabrani dalam Al-Kabir 11040 dari jalan Habib bin Abi Tsabit dari Mujahid dari Ibnu Abbas, Habib seorang mudallis dan telah ‘an-‘anah, dengan syahid ini haditsnya menjadi hasan, lihat Faqih AL-Mutafaqih 192-193 karena padanya terdapat hadits dari jalan-jalan yang lain.)

 

  1. Mengeluarkan Darah dan Suntikan Yang Tidak Mengandung Makanan

Hal ini bukan termasuk pembatal puasa, lihat pada pembahasan selanjutnya. (Lihat Risalatani Mujizatani fiz Zakati washiyami hal.23  Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه الله.)

 

  1. Berbekam

Dahulu berbekam merupakan salah satu pembatal puasa, namun kemudian dihapus dan telah ada hadits shahih dari Nabi صلی الله عليه وسلم, bahwa beliau berbekam ketika puasa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas رضى الله عنهما:

“Sesungguhnya Nabi صلی الله عليه وسلم berbekam, padahal beliau sedang berpuasa” (HR. Bukhari 4/155-Fath, Lihat Nasikhul Hadits wa Mansukhuhu 334-338 karya Ibnu Syahin)

 

 

 

  1. Mencicipi Makanan

Hal ini dibatasi, yaitu selama tidak sampai di tenggorokan berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas رضى الله عنهما:

“Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaan puasa, selama tidak sampai ke tenggorokan” (HR. Bukhari secara mu’allaq 4/154-Fath, dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah 3/47, Baihaqi 4/261 dari dua jalannya, hadits ini Hasan. Lihat Taghliqut Ta’liq 3/151-152)

 

  1. Bercelak, Memakai Tetes Mata Dan Lainnya Yang Masuk Ke Mata

Benda-benda ini tidak membatalkan puasa, baik rasanya yang dirasakan di tenggorokan atau tidak. Inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnya yang bermanfaat dengan judul Haqiqatus Shiyam serta murid beliau yaitu Ibnul Qayim dalam kitabnya Zadul Ma’ad, Imam bukhari berkata dalam shahihnya  “Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakha’i memandang, tidak mengapa bagi yang berpuasa”.

 

  1. Mengguyurkan Air Ke Atas Kepala Dan Mandi

Bukhari menyatakan dalam kitab Shahihnya1 Bab: Mandinya Orang Yang Puasa, Umar membasahi  bajunya (Membasahi dengan air untuk mendinginkan badannya karena haus ketika puasa) kemudian dia memakainya ketika dalam keadaan puasa. As-Sya’bi masuk kamar mandi dalam keadaan puasa. Al-Hasan berkata: “Tidak mengapa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa”.

 

Dalam satu riwayat disebutkan:

Rasulullah صلی الله عليه وسلم mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa karena haus atau kepanasan. (HR. Abu Daud 2365, Ahmad 5/376,380,408,430 sanadnya shahih)

 

 

 

Sumber:

SIFAT SHAUM NABI صلي الله عليه وسلم FII RAMADHAN

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali خفظه الله

Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid خفظه الله

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s